Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Menarik perhatian


__ADS_3

Kembali ke aktivitas biasa, aku kembali bekerja setelah mengantarkan Gloria kedepan rumah yang dia katakan sebagai tempat tinggalnya. Ya, setidaknya aku jadi tahu dimana dia tinggal dan kemana aku akan memulangkannya jika kejadian seperti tadi malam terulang kembali.


Tapi, kalau dipikir-pikir, sebenarnya tadi malam aku bisa saja mengantarkannya pulang karena identitas dan alamatnya di kota ini sudah ku ketahui dengan jelas melalui latar belakangnya yang lebih dulu diselediki oleh Jared. Namun, entah kenapa aku justru membawanya ke Apartemenku. Alhasil, aku harus mendapatkan hidangan tanpa bisa mencicipinya. Nasibku terkadang memang sesial itu.


Itu semua karena prinsip yang aku anut, aku tidak bisa menjamahh tubuh wanita yang dalam keadaan tidak sadar, mabuk atau semacamnya. Jika saja prinsip itu tidak ada dalam diriku, sudah dapat ku pastikan jika Gloria akan habis ditanganku malam tadi.


"Tuan, kita akan rapat satu jam lagi, saya akan siapkan segala keperluan untuk presentasi hari ini, permisi ..." Suara Jared mengalihkan pikiranku yang sejak tadi berkutat pada wanita bernama Gloria, bukannya memikirkan pekerjaan, lagi - lagi aku malah memikirkan perempuan yang sama. Padahal pertemuan kami masih bisa dihitung sebelah tangan.


Inilah aku yang tampak sempurna dimata orang lain, tanpa celah dan tanpa kekurangan, padahal kekuranganku sangat payah. Aku mengakui itu karena kekuranganku terletak pada selera wanitaku dan perasaanku sendiri. Aku sulit jatuh cinta, namun ketika aku jatuh dalam hal itu, aku juga tak bisa menepis seorang perempuan yang sudah berhasil mengusik perhatianku.


Seperti pada saat aku bertemu Zahra dulu, aku bahkan hanya bertemu sekali dengannya dan aku sudah bisa mengikrarkan cinta dalam hatiku untuk gadis itu.


Sekarang Gloria, entahlah bagaimana perasaanku pada wanita itu. Entah aku yang tidak berani berikrar soal rasa pada perempuan itu mengingat statusnya yang sudah menikah, atau aku memang tidak memiliki rasa sejauh itu pada Gloria. Entahlah...


Tapi, aku memang berharap tidak jatuh cinta pada wanita yang sudah bersuami seperti Gloria. Terlebih, pertemuan pertama kami bisa dibilang tak memiliki kesan sama sekali selain dia yang memuntahi hampir keseluruhan bajuku pada malam itu.


Sampai Jared kembali membawa berbagai materi untuk pembahasan rapat, aku masih juga memikirkan wanita yang sama. Wanita yang malam tadi menemani tidurku namun tidak terjadi sesuatu hal diantara kami. Benar-benar aneh, bisa-bisanya aku tidak melakukan apapun padahal mangsa sudah didepan mata. Ck!


Apa aku terlalu menghargainya? Entah aku hanya berkelit dengan prinsip yang ku anut sehingga aku tak menjamahhnya sama sekali, aku tak tahu.


"Bagaimana menurut Anda, Tuan Zwart?" Seorang Staff bernama Diego mengajukan pertanyaan padaku. Aku sampai tak sadar jika sudah berada ditengah-tengah ruang rapat dan dikelilingi para staff bawahanku.


"Ah ya, aku sudah mempercayakan semuanya pada Jared," kataku mengelak, padahal aku tidak tahu pembahasan apa yang tengah dibahas dirapat kali ini. Sialann!


Aku menatap Jared. "Jared, berikan ulasan pada Diego. Jika kau sudah setuju dengan konsep yang dia berikan, maka persiapkanlah project selanjutnya sesuai dengan konsep itu!" titahku pada Jared.


Jared mengangguk, dia sudah memahami jika aku sudah 'lempar batu' seperti ini. Pria dengan wajah datar itu segera berdiri dan menyampaikan ulasan yang menurutnya bisa memperjelas konsep yang tadi diutaran Diego didepan ruang rapat.


#####


Pukul 3 sore, aku sudah kembali ke Mansion. Aku ingat jika malam ini akan kedatangan tamu istimewa, Richard Jensen dan istrinya yang tak lain adalah Gloria. Entah kenapa aku tak sabar untuk bertemu lagi dengan wanita berperawakan manis itu.

__ADS_1


"Kak, apa akan ada tamu? Aku dengar para pelayan sibuk menyiapkan hidangan untuk makan malam tamu Kakak," kata Oxela menghampiri ku diruang kerja padahal aku tak menyentuh pekerjaan sama sekali.


"Ya, seorang rekan kerjaku."


"Apa aku harus ikut dalam jamuan makan malam ini?" tanya Oxela lagi.


"Tak perlu, jika kau ada kegiatan atau ingin keluar malam ini tak apa-apa." Aku sedikit was-was jika Oxela mengetahui dan bisa membaca niat serta gelagatku terhadap Gloria.


"Oh, baiklah... aku akan pergi bersama Damian."


"Apa dia kekasihmu?"


"Ya?"


"Apa pria bernama Damian itu kekasihmu?"


"Bukan, Damian itu temanku, Kak."


Oxela tertawa. "Jade tidak akan cemburu pada Damian. Justru jika Damian pergi bersama Jade barulah aku yang akan cemburu," kata Oxela masih terkikik.


"Maksudmu?"


"Damian itu straight... dia tidak tertarik pada wanita sepertiku."


"Oh..." Aku hanya ber-oh ria, karena kasus seperti ini banyak ditemukan di Negara bebas seperti di Negaraku. Untunglah aku bukan termasuk dalam kubu menyimpang seperti itu.


#####


Aku menunggu kedatangan Richard dan istrinya dengan harap-harap cemas, entah kenapa aku takut mereka tak datang memenuhi undangan makan malamku. Padahal, jika menilik dari kalangan relasi yang ku miliki dan Richard yang terbilang baru dalam dunia kerja sama kami, seharusnya aku tidak perlu terlalu berharap begini dengan kedatangannya ke kediamanku.


Tapi entah kenapa lagi dan lagi aku mengharapkan kedatangan mereka. Tentu bukan untuk melihat Richard. Sudah tahu kan, ini hanya akal-akalanku saja untuk bertemu Gloria yang kesekian kalinya.

__ADS_1


Bel Mansion terdengar berbunyi beberapa kali, beberapa pelayan rumah berjalan menuju pintu untuk menyambut kedatangan tamuku malam ini.


Tak berselang lama dari itu, muncul sosok tinggi dengan rambut kecokelatan yang ditata dengan pomade, penampilannya sangat rapi, bahkan menggunakan jas slimfit yang terlihat formal, seakan-akan undangan makan malam ini begitu dinantikannya untuk bisa berpenampilan seperti itu. Dialah Richard Jensen, yang datang dengan lengan diapit oleh seorang wanita. Wanita yang tak lain adalah Gloria. Tepat seperti dugaanku jika Richard Jensen yang bekerja sama denganku adalah orang yang sama dengan Richard Jensen-- suami Gloria.


Gloria tampil dengan gaun berwarna hitam model sabrina, tidak begitu terbuka namun cukup membuatku meneguk saliva karena melihat rambut hitamnya yang digulung keatas, menampakkan lehernya yang mulus dan jenjang.


Bagaimana rasanya jika wajahku tenggelam didalam ceruk lehernya itu? Pasti rasanya akan sangat hangat dan memabukkan karena aku suka dengan aroma kulit wanita itu.


Jangan tanyakan kenapa aku tahu aromanya, sudah jelas karena kemarin malam aku menyempatkan untuk mengendus harum tubuhnya itu. Jangan ragukan kemampuanku soal yang satu itu, aku tak mau pulang dengan tangan hampa, setidaknya aku jadi tahu dan mencoba menghafal aroma tubuhnya meski tak bisa menikmatinya, bukan?


"Tuan Zwart, tamu anda sudah tiba..." ucap seorang pelayan yang menghampiriku, padahal aku sudah dapat melihat dengan jelas kedatangan para tamuku itu tanpa diberitahu.


Aku datang dengan pelan, menghampiri keduanya yang sejak tadi belum bsia melihat keberadaanku karena aku berada di sisi ruangan yang lain-- yang bukan menjadi atensi mereka.


"Selamat malam," sapaku ramah pada Richard Jensen dan istrinya.


Richard Jensen berbalik melihat ke arahku, begitupun istrinya yang kini menatapku dengan mata membola dan tampak terkesiap.


"Tuan Jensen..." Aku mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan rekan baruku itu.


"Tuan Zwart, terima kasih sudah mengundang saya ke Mansion Anda yang megah ini," puji Richard sembari masih menggenggam jemariku.


"Ya, sama-sama. Terima kasih sudah memenuhi undanganku." Aku menoleh pada istri Richard Jensen yang tampak menatapku dengan takut-takut dari balik tubuh tegap suaminya. "Apa ini istri anda?" tanyaku berlagak tak mengenali Gloria.


"Iya, Tuan. Ini istri saya. Gloria Jensen," kata Richard dan secara perlahan-lahan tubuh kecil Gloria keluar dari tempat persembunyiannya itu.


"Selamat malam Nyonya Jensen," sapaku pada sosok Gloria.


"Se-selamat malam," jawab Gloria tampak gugup.


Aku menyeringai, jelas saja ini momen yang ku tunggu, melihat raut dan ekspresi Gloria ketika bertemu lagi denganku dalam keadaan seperti ini. Bukankah ini menarik? Apalagi setelah kejadian kemarin malam yang kami lewati semalaman? Yah, meski tak terjadi apapun tetap saja kami sudah tidur bersama, bukan?

__ADS_1


*****


__ADS_2