Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Jangan pergi dariku


__ADS_3

Aku menatap Gloria yang sudah terlelap disampingku. Wajahnya begitu teduh, baru kalli ini aku merasakan rasa seperti ini. Rasa 'memiliki' yang begitu kuat terhadap seorang wanita. Jika dulu aku pernah jatuh cinta pada sosok Zahra, rasanya hanya ingin mengejarnya lalu mendapatkannya.


Sedangkan dengan Gloria, aku sadar jika dia telah ku dapatkan, namun tetap saja, sejatinya dia bukanlah kepunyaanku.


Apa aku telah menaruh rasa yang lebih terhadap wanita ini? Atau ini hanya karena kebersamaan kami di belakangan hari?


Aku tidak mau terlalu cepat mengartikan perasaan, tapi aku juga tak mau terlambat menyadari semuanya.


Untuk saat ini, biarlah kami menjalani yang sudah terjalin baik seperti air yang mengalir, tapi dilain kesempatan aku harus membuat sebuah keputusan untuk memberi komitmen dalam hubungan kami.


Apa aku ingin tetap hidup bersama Gloria atau kembali menyendiri seperti dulu. Bagaimanapun aku akan menghabiskan sisa umur dalam pilihan yang akan ku buat nantinya.


Dalam tidurnya, tiba-tiba Gloria menggeliat pelan dan aku segera merengkuhnya kedalam pelukan.


Apa aku rela jika nantinya keadaan ini tidak akan bisa ku rasakan lagi? Jujur, aku mulai terbiasa dengan kehadirannya di tempat tidur yang sama denganku.


Gloria yang masih tertidur membalas perlakuanku dengan melingkarkan tangannya di perutku. Aku tersenyum merasakannya. Keadaan ini membuat sisi kosong dalam hidupku terasa terisi dan ya, Gloria yang mengisinya.


Aku menciumi pucuk kepala wanita ini berkali-kali, menghirup aroma rambutnya yang selalu terasa wangi diindera penciumanku. Karena kebiasaan ini, lambat laun akupun mulai mengantuk dan terhanyut dalam tidur.


Didalam tidurku, aku melihat Gloria datang kepadaku. Dia sangat cantik, seperti mengenakan pakaian pengantin berwarna putih, rambut cokelatnya digerai indah. Dia berlari kecil kearahku. Sementara disisi lain, aku yang memang menunggunya langsung menatap kedatangannya sembari membentang kedua tangan demi menyambutnya dalam pelukan.


Aku masih melihat Gloria yang tersenyum, aku pun membalas senyumannya. Kami saling melempar pancaran kebahagiaan dari wajah masing-masing.


Gloria yang berlari, semakin mendekat kearahku. Sedikit lagi dia akan sampai dalam dekapanku. Namun, sudut mataku menangkap ke arah lainnya. Tepat dibelakang tubuh Gloria, berdiri seorang pria, dia adalah Richard.


Richard tampak menodongkan sebuah pistol kearah punggung Gloria. Gloria tidak bisa melihatnya, karena posisi Gloria membelakangi pria itu, sementara aku dapat melihatnya dengan sangat jelas.


"Gloria?!!" pekikku kencang. Aku ingin berlari, menggapai posisi Gloria demi melindungi wanita itu, namun kakiku terasa tak bisa bergerak. Aku diam ditempat, hanya tanganku yang menggapai-gapai namun tidak juga bisa menyentuh Gloria.


Gloria menatapku heran, karena aku hanya bisa menjeriti namanya tanpa bisa memberitahunya apa yang terjadi. Aku juga tak bisa berkata agar Gloria segera menghindar, karena entah kenapa bibirku hanya bisa menyebut namanya tanpa bisa mengucap kata lainnya.


"Gloria?!!!"


Dor ...


DOR ...


Semuanya terasa cepat sekali. Entah berapa kali peluru dari pistol milik Richard menembus punggung Gloria. Aku bisa melihatnya dengan jelas didepan kedua mataku sendir. Aku menjadi saksi dalam kejadian nahas ini, tapi aku sama sekali tidak bisa mencegah atau melindungi Gloria, sama sekali.


"Gloria!!"


"Gloria!!!!!"


Hanya namanya yang terus ku sebutkan berkali-kali.


Aku menatap tubuh Gloria yang langsung terhuyung sebab tembakan itu, kemudian kejadian selanjutnya seperti slow motion yang terasa bergerak lambat.


Gloria terjatuh di rerumputan dimana tempat kaki kami berpijak. Gaun pengantinnya sudah bersimbah darah, tubuh mungil wanita itu menggelepar seperti ikan yang baru saja dikeluarkan dari air. Gloria mulai kekurangan oksigen, ia mencari-cari udara untuk bernafas. Hatiku terenyuh melihatnya.


Namun, senyuman dibibirnya tidak surut juga, dia tetap menatapku dengan senyumnya yang hangat. Posisinya yang terbaring miring--tampak melambaikan tangan seolah ingin menggapaiku.


Pemandangan itu amat memilukan dimataku. Aku tahu jika Gloria tidak akan selamat, ini adalah momen terakhirku untuk melihatnya, namun kakiku tetap tidak bisa bergerak bahkan hanya untuk menghampiri Gloria yang jaraknya tak begitu jauh dari posisiku.


Aku melihat Richard berbalik arah setelah memastikan Gloria mengembuskan nafas terakhir. Demi apapun, aku akan mengeyahkan ke parat breng sek itu, yang telah tega menghabisi nyawa Gloria ku.


Aku terduduk diposisiku, menatap tubuh Gloria yang tergeletak miring dan tidak bergerak lagi.


"Gloriaaaaaa!!!!" Tangisku pecah. Dalam momen ini aku tersadar bahwa Gloria adalah wanita yang telah berhasil membuatku menangis sejadi-jadinya.


Aku meringkuk sambil merutuki diriku sendiri, aku membenci diriku yang tidak bisa menyelamatkan nyawa Gloria, bahkan melindunginya pun sama sekali tidak bisa.


Disaat seperti ini, aku merasa tubuhku berguncang. Lebih tepatnya diguncang-guncangkan oleh seseorang.


"Owen..."

__ADS_1


"Owen, kau mimpi buruk?"


Suara itu terasa sangat ku kenal. Aku langsung membuka mata dan mendapati Gloria yang tampak gusar kini berada tepat dihadapanku. Dia memegangi pipiku dan sesekali mengelusnya.


Aku terduduk seketika, nafasku tersengal. Aku menyadari bahwa tadi aku hanya bermimpi.


Gloria segera memberiku air minum yang diambilnya dari atas nakas.


"Minumlah dulu," katanya lembut.


Aku meminum air dalam gelas itu sampai tandas dalam sekali tegukan.


"Kau sudah lebih tenang?' tanya Gloria menatapku khawatir.


Aku mengangguk.


"Baiklah, sekarang tidurlah lagi, kau hanya bermimpi buruk." Gloria mengambil gelas dari tanganku, lalu meletakkannya kembali ke tempat semula.


"Glo..."


"Ya?"


"Aku memimpikanmu!"


"Ya aku tahu," kata Gloria tenang.


"Darimana kau tahu?"


"Kau memanggil-manggil namaku, kau tahu... kau berisik sekali." Gloria tertawa pelan, tapi aku tidak bisa ikut tertawa karena aku masih terbayang akan mimpi yang baru saja terjadi.


"Owen, apa kau baik-baik saja?" Gloria menatapku lekat.


"Ya, i'm fine."


"Oke," kata Gloria seraya ingin beranjak.


"Aku mau ke toilet sebentar," jawabnya.


"Jangan tinggalkan aku!" Aku menatapnya dengan serius, Gloria tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya ke toilet, Owen..."


"Biar ku antarkan." Aku membuka selimut dan langsung berdiri.


Gloria menatapku heran. "Kenapa? Ada apa?"


"Tak ada, aku hanya tidak mau kau pergi sendirian."


Gloria tertawa. "Sebenarnya kau bermimpi apa? Kenapa jadi berlebihan sekali," katanya sambil lalu menuju dimana toilet berada.


Aku mengikuti langkahnya dan menunggu didepan pintu kamar mandi yang sudah ia tutup.


"Aku tidak kemana-mana, Owen." Gloria masih saja tertawa dari sebalik pintu.


Beberapa saat menunggu, tak lama Gloria keluar dari toilet. Akupun segera menghadangnya.


"Apa lagi?" Gloria mengulumm senyum, mungkin aneh dengan sikapku yang seperti anak ayam sedang mengikuti induknya.


Aku langsung memeluknya, menghirup aroma tubuhnya yang entah kenapa ku rindukan padahal sejak tadi kami tidur diranjangg yang sama.


"Katakan padaku apa yang tadi kau mimpikan?" tuntut Gloria sembari memegang kedua sisi wajahku.


Aku menggeleng, aku tidak mau menceritakan detail mimpi burukku tadi kepadanya.


"Kau mimpi apa?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Buruk, sangat buruk."


"Ya, apa?"


"Intinya... kau harus berjanji padaku satu hal."


"Apa itu?"


"Jangan pergi dariku, hmm?"


Gloria tampak tertegun beberapa saat, sampai akhirnya ia mengangguki juga permintaanku itu.


Aku mengusak rambutnya sekilas. "Ayo tidur lagi," kataku sembari menggandeng tangannya menuju arah tempat tidur kami.


Gloria menurut. Aku menyelimutinya dan memeluk tubuhnya dari samping.


Hening.


Ku pikir Gloria sudah tidur, aku sendiri tidak bisa tertidur lagi setelah mimpi yang tak mengenakkan tadi.


"Owen, apa akhir-akhir ini kau ada bertemu Richard?"


Pertanyaan dari Gloria membuatku tersentak, ini kali pertamanya kembali menanyakan tentang Richard lagi. Padahal, aku sama sekali tak menceritakan padanya tentang pertemuanku dengan Richard sore tadi. Aku juga tak mengatakan pada Gloria tentang luka disudut bibirku ini karena ulah Richard. Tapi, kenapa dia menanyakan pria itu? Apa dia mulai merindukan suaminya sekarang? Ah, kenapa rasanya aku kesal menyebut Richard adalah suami Gloria! Damned!


"Kenapa kau menanyakannya? Kau merindukannya?" sarkasku tak senang.


"Bu-bukan begitu!" sanggah Gloria.


"Lalu? Kau ingin bertemu dengannya?"


"Tidak!"


"Jadi kenapa kau menanyakan dia?"


"Owen, kenapa jadi marah? Aku hanya... hanya--"


"Hanya apa?" potongku cepat, bagaimana aku tidak marah, aku baru saja bermimpi Gloria diberikan tembakan betubi-tubi oleh pria itu, sekarang kenapa Gloria harus menanyakannya.


"Aku hanya merasa kalau lukamu ada kaitannya dengan Richard," kata Gloria pelan sembari menundukkan pandangan. "Aku juga merasa di mimpimu tadi kau bertemu dengan Richard," sambungnya tampak hati-hati.


Ya, harus ku akui jika dugaan Gloria benar adanya. Namun, haruskah aku mengakui apa yang terjadi antara aku dan Richard sore tadi? Dan soal mimpiku? Aku takut Gloria menjadi was-was karena sikap Richard yang berniat membahayakanku.


"Aku tidak bertemu dengannya. Luka ini karena insiden kecil di kantorku. Dan di mimpi tadi, tidak ada kaitannya dengan Richard. Aku hanya bermimpi kau meninggalkan aku."


Gloria mengangguk paham. Sedetik kemudian dia bersuara kembali.


"Jadi, kau benar-benar tidak mau aku meninggalkanmu, ya?" cicit Gloria.


"Iya, tidak boleh!" kataku serius.


"Lalu, kalau kau yang meninggalkanku, apa boleh?"


Aku terdiam, aku juga tidak berniat meninggalkan Gloria, paling tidak untuk saat ini aku memang tak memiliki niat itu. Entahlah jika nanti.


"Boleh saja jika aku mau."


"Dan kau mau?"


"Untuk saat ini belum."


"Belum artinya akan." Gloria langsung tampak murung.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan." Aku berusaha menenangkannya dengan membelai rambutnya berulang-ulang.


Gloria mengangguk lemah, sedetik kemudian dia menatapku dengan tatapan matanya yang lentik. "Aku paham, sejak awal posisiku adalah untuk kau tinggalkan. No problem... aku pasti bisa menerimanya. Setidaknya kau sudah memperlakukanku dengan sangat baik, thanks, Owen." Gloria tersenyum tipis, kemudian dia bergerak untuk tidur dengan memunggungi posisiku.

__ADS_1


Ucapan Gloria sebenarnya membuatku berpikir bahwa aku amat egois. Dia ku minta berjanji agar tidak meninggalkan aku, sementara aku tidak bisa memberikan janji yang serupa kepadanya. Wajar jika Gloria menaruh kecewa padaku. Tapi, aku memang tidak bisa menjanjikan apapun untuknya. Biarlah dia kecewa sejak awal agar dia tidak menaruh harapan lebih kepadaku.


*****


__ADS_2