Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Jared-Lily / 14


__ADS_3

Jared kembali ke kamar hotel dan mendapati Lily yang sudah segar dan rapi. Gadis itu tampak cantik dengan dress selutut berwarna kuning cerah yang dikenakannya.


"Kenapa?" tanya Lily yang melihat Jared terdiam diambang pintu sambil menatapnya.


"Tidak ada, baju itu cocok kau kenakan," akui Jared tak sepenuhnya berbohong. Padahal, sejak hari pernikahannya kemarin bersama dengan Lily, entah kenapa ia melihat Lily berubah menjadi gadis yang cantik.


Harus Jared akui jika sebelum menjadi istrinya, Lily memang sudah cantik, tapi kecantikan Lily sejak diatas altar kemarin semakin memikatnya saja. Namun, Jared urung untuk mengutarakan kebenaran itu didepan Lily. Cukup sudah dia memuji Lily kemarin, hari ini jangan dimulai lagi karena ia takut Lily menganggapnya sebagai perayu ulung.


"Kau darimana?" tanya Lily.


"Aku membelikan mu ini, barangkali kau membutuhkannya," kata Jared menunjukkan sebuah bungkusan ditangannya.


"Apa ini?" Lily membuka bungkusan yang sudah diserahkan Jared kepadanya. "Roti keju?" ujar Lily sedikit terkejut.


Jared mengangguk. "Aku tahu kau suka sarapan dengan roti keju, jadi aku membelikannya di supermarket tadi."


Lily tercengang beberapa saat. "Darimana kau tahu hal itu? Apa ibu yang memberitahumu?"


"Tidak," jawab Jared sekenanya.


"Lalu?" Lily menuntut agar Jared memberi jawaban mengenai hal ini. Darimana Jared tahu jika bukan ibunya yang memberitahu, sedangkan mereka juga belum terlalu dekat setelah pertemuan kembali beberapa waktu ini.


"Mungkin kau lupa, dulu aku suka membelikan mu roti keju," akui Jared sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal. Saat ia dan Rose berpacaran, Lily selalu suka saat ia membawakan roti keju. Jared masih mengingatnya.


Sementara itu, Lily tertunduk malu. Sebenarnya dulu dia tak begitu menyukai roti keju, ia lebih memilih roti cokelat, tapi karena dulu Jared sering memberinya roti keju ia selalu menerimanya dengan senang hati. Sederhana, tapi Lily menyimpan roti itu untuk ia nikmati sebagai menu sarapan pagi. Bukan apa-apa, roti keju pemberian Jared adalah semacam penyemangat untuknya memulai hari. Sejak itulah ia suka sarapan dengan roti keju yang menjadi menu pembukanya.


Lily tidak menyangka jika Jared masih mengingat bahwa dulu sering memberinya roti keju.


"Kenapa? Kau tidak suka? Atau seleramu sudah berubah?"


"Aku suka...." jawab Lily.


"Ya sudah, makanlah...." Jared mendekat pada Lily dan mengelus puncak kepala gadis itu sekilas kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Lily menikmati roti kejunya dengan hati yang menghangat. Sekali ini ia kembali merasakan sarapan dengan roti keju pemberian Jared, sama seperti sepuluh tahun silam--saat ia masih sekolah. Bedanya, sekarang Jared justru berstatus suaminya. Tidak disangka, bukan?


Tak berapa lama Jared keluar kamar mandi sekaligus sudah berpakaian rapi.


"Apa kau tidak mau sarapan roti?" tanya Lily sambil menunjukkan rotinya pada Jared.


Jared menggeleng. "Aku tidak biasa sarapan dengan roti. Aku lebih suka sarapan dengan makanan berat."


Lily mengangguk tapi kemudian dia mendekat pada Jared. "Aku juga dulunya tidak suka roti keju, aku lebih suka roti cokelat, tapi berkat seseorang yang selalu rutin memberiku roti keju, lama-lama aku terbiasa memakannya. Cobalah, siapa tahu kau akan menyukainya jika memakannya dari tanganku."

__ADS_1


Lily menyodorkan roti kearah Jared bersiap untuk menyuapinya. Bagaimanapun, mereka sudah menikah sekarang jadi mau tak mau Lily harus memenangkan hati Jared. Kalau bukan dia, lantas siapa lagi? Tak mungkin ia membiarkan hati suaminya dimenangkan wanita lain, bukan?


Melihat kesungguhan di wajah Lily, akhirnya Jared membuka mulutnya menerima suapan dari Lily.


"Bagaimana, enak tidak?" tanya Lily menatap Jared.


"Not bad, setidaknya jika kau mau aku terbiasa sarapan roti seperti ini kau harus meluangkan waktu untuk menyuapiku setiap hari. Apa kau mau direpotkan dengan hal seperti itu?" tantang Jared.


Lily tersenyum simpul. "Tak masalah, menyuapi suami sendiri justru membuatku merasa berguna menjadi istrimu," tukasnya.


Entah kenapa mendengar penuturan Lily yang mengatakan bahwa Jared adalah suaminya dan Lily mengakui sebagai istrinya membuat hati Jared menghangat.


"Selain sikap bar-barnya ternyata dia juga memiliki sikap ini. Sepertinya aku menyukai sikap manisnya ini," batin Jared.


"Apa yang kau pikirkan, Jared?" tanya Lily.


Jared menatap Lily, menyembunyikan rasa tertarik yang sempat ia batinkan tadi.


"Aku memikirkan, sepertinya kau sangat menyukaiku...." Jared berujar sambil menyunggingkan seulas senyuman mencibir membuat Lily memutar bola matanya.


"Sekalipun aku sangat menyukaimu, aku tidak akan menyerahkan diri sebelum kau mencintaiku!" tukas Lily tak mau kalah.


Jared merasa ucapan Lily sekarang benar-benar menunjukkan bahwa gadis itu telah kembali menjadi Lily yang seperti biasanya.


"Benarkah? Buktinya kau mau ku nikahi...."


"Bilang saja itu karena kau sangat menyukaiku, mengaku saja apa susahnya!"


"Terserah kau saja!" Lily mengabaikan Jared dan hendak berjalan keluar kamar mereka.


"Kau mau kemana? Kenapa tidak mengajakku?" tanya Jared menghentikan langkah Lily.


"Memangnya kau mau ku ajak?"


"Tergantung kau mengajakku atau tidak!"


"Haisss kau ini.... menyebalkan!"


Jared terkekeh mendengar gerutuan Lily, ia menyusul berdiri disamping Lily. "Kita baru saja menikah, bukankah lebih baik jika kita keluar bersama-sama," katanya.


"Oh begitu, ya? Sekalian saja kau bilang kita lebih baik bergandengan tangan dan berciuman!" sarkas Lily.


"Ide bagus! Kau ternyata pintar juga!" Jared mengacak rambut Lily hingga membuatnya kusut lagi.

__ADS_1


"Kau ini! Sangat sangat menyebalkan!" Lily berujar sambil merapikan rambutnya tapi dia terkekeh juga karena Jared juga tertawa dengan lepas.


Mereka benar-benar keluar kamar besama. Jared menggenggam tangan Lily membuat Lily mengadah pada pria disampingnya dan bolak-balik menatap pada genggaman erat tangan Jared di jemarinya.


"Kenapa?" tanya Jared sambil mereka berjalan memasuki lift hotel.


"Kau benar-benar mau membuat semua orang mengira kita ini pasangan romantis dan serasi?"


"Kenapa tidak? Bukankah itu bagus, agar siapapun yang memata-matai hubungan pernikahan kita langsung menyadari jika kita bahagia," tukas Jared.


Lily menghentikan langkah. Ia merasa aneh dengan ucapan Jared barusan.


"Memata-matai? Memangnya siapa yang melakukan itu pada kita?" tanya Lily.


Jared terdiam, tak mungkin ia mengatakan soal Rose yang sempat ia temui tadi pagi didepan kamar mereka layaknya orang yang sedang ingin tahu kehidupan pernikahannya bersama Lily.


"Tidak, aku berpikir mungkin ada mantan pacarmu yang ingin tahu hubungan kita, memastikanmu bahagia atau tidak bersamaku," alibi Jared.


"Mantan pacarku atau mantan pacarmu?" tanya Lily sarkasme.


"Hahaha, kau ini. Aku sedang membicarakan mu bisa-bisanya kau balik menyerang ku!" Jared berkilah dengan tertawa, menutupi hal yang ia tak mau Lily ketahui tentang kedatangan Rose tadi. Atau, Lily memang tahu Rose berkunjung dan mereka sempat bertemu?


"Aku tidak punya mantan pacar!" kata Lily. "Kau yang punya, dan itu adalah Rose, kakakku!" pungkas Lily.


Jared menekan tombol Lift setelah mereka masuk kedalamnya. Setelah lift tertutup Jared mengurung Lily didalam kungkungannya.


"Jangan membahas mantan kekasihku, aku tidak menyukainya lagi dan tidak mau membahas tentangnya juga. Mungkin kau tidak mempunyai mantan kekasih, tapi aku tidak menyukai jika kau menjalin hubungan dengan lelaki manapun disaat kau sekarang sudah berstatus sebagai istriku, kau paham?" ujar Jared menekankan kata-katanya.


"Aku paham, tapi aku tidak tahu apa maksudmu dengan menjalin hubungan dengan lelaki lain... aku tidak melakukannya!" ujar Lily takut-takut karena hujaman tatapan Jared ke arahnya membuatnya merinding sebab terintimidasi.


"Pria yang waktu itu sempat ku temui di Rumah Sakit. Aku tidak mau kau menjalin hubungan dengannya."


"Kami hanya berteman."


"Walaupun hanya hubungan pertemanan," tukas Jared membuat Lily bungkam seketika.


Lily tahu jika Jared belum mencintainya, tapi kenapa mendadak jadi membatasinya seperti ini? Apa hanya karena status mereka? Tapi, bukankah seharusnya Lily juga berhak mengatur Jared juga.


"Ba--baiklah, aku tidak akan berhubungan dengan Hary. Tapi, apa kau juga bisa tidak berhubungan dengan Rose, sekalipun dia telah menjadi kakak iparmu?" tantang Lily.


"Tak masalah! Aku memang tak mau bersangkutan dengannya lagi. Jika bisa tidak melihatnya lagi."


"Apa itu karena kau takut perasaan cintamu tumbuh kembali?"

__ADS_1


Jared mendengkus. "Kau ini, tadi kau yang melarangku berhubungan dengannya, setelah ku iyakan malah kau yang berpikiran tidak-tidak!" Jared pun menarik hidung Lily sampai gadis itu mengaduh kesakitan.


######


__ADS_2