
Keributan yang terjadi di Mansion Jade membuat semua penghuni terbangun dari tidur. Tak terkecuali Gloria.
Jade yang sebelumnya sudah mengetahui akan adanya serangan ini, buru-buru mengajak Oxela, Briel dan Gloria untuk segera menuju ruang rahasia yang ada di Mansionnya--hanya untuk berjaga-jaga.
"Astaga, mereka belum menyerah juga mencari keberadaanmu, Gloria!" gerutu Oxela.
"Ku pikir Richard tidak akan mencarimu lagi setelah Paman Markus meninggal," kata Jade.
"Tidak mungkin, Sayang. Justru Richard lah yang sangat menginginkan agar Gloria bisa segera tertangkap," timpal Oxela menjawab suaminya, kemudian beralih menatap Gloria. "Ku rasa dia sangat terobsesi padamu, Glo!" ujarnya lagi.
Gloria hanya tersenyum masam mendengar hal itu sebab tak tahu harus memberi pernyataan apa mengenai sikap Richard. Padahal dulu Richard sudah mengabaikannya terlalu lama diawal-awal pernikahan mereka. Gloria juga tak tahu kenapa sekarang Richard ingin sekali menangkapnya. Mungkin ada rencana yang sudah Richard susun untuk dirinya, entahlah.
Beberapa saat berada dalam ruang persembunyian itu. Ponsel Jade berdering.
"Ada apa, Jared?" Jade menjawab teleponnya yang ternyata dari Jared. Jared tiba dikediaman Jade beberapa saat sebelum orang-orang Richard datang.
"Tuan Zwart terkena pintasan peluru," terang Jared.
"Apa? Bagaimana bisa?" Jade terbelalak, jelas ia terkejut, ini diluar prediksi mereka semua.
"Ini tidak disengaja, akibat tembakan senjata dari kubu Tuan Jensen, bukan dari orang-orang kita. Kemana saya harus membawanya?" tanya Jared.
Jade tak mungkin menyuruh Jared membawa Owen ke ruang persembunyian yang kini ada Oxela dan Gloria juga disana. Jade kebingungan, tak tahu harus menjawab hal mendesak seperti ini. Sementara Jared menunggu keputusannya dari seberang sana.
"Ke kamar tamu di lantai dua!" jawab Jade random. Ia mengira lebih baik Owen berada di kamar tamu. Disana juga terdapat obat-obatan lengkap agar sekalian bisa mengobati luka yang diderita Owen.
"Maksud anda di sebelah kamar Nyonya Gloria?"
"Iya, disana. Cepat bawa dia sebelum terjadi apa-apa!"
Panggilan terputus, Jade langsung mendapat sorotan penuh selidik dari dua orang wanita dihadapannya.
"Jared kenapa?" tanya Oxela ingin tahu.
"Apa Jared berada di Mansion?" Kini giliran Gloria yang ikut bertanya.
"Tidak, tidak terjadi apapun," kilah Jade.
"Lalu? Untuk apa dia meneleponmu sayang? Ekspresimu juga aneh tadi...." timpal Oxela yang diangguki Gloria.
__ADS_1
Jade menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tak apa, Jared hanya sedang mengurus orang-orang Richard. Sepertinya banyak dari mereka yang tertembak oleh para sniper kita," kata Jade akhirnya.
Baru saja Jade bisa mengembuskan nafas lega karena dua orang wanita didepannya tampak percaya dengan alasannya, tapi setelah itu ujaran Gloria membuat Jade kembali bingung.
"Ah, ya, bagaimana rencana kita?" tanya Gloria pada Oxela.
"Rencana?" Jade yang menyahut.
"Iya, soal Nico! Mungkin malam ini dia ada diantara orang-orang Richard itu." Gloria menatap Jade.
"Ah, kalau soal itu aku tidak tahu," jawab Jade sambil menelan saliva dengan berat. "Sudahlah, lagipula.... aku kan sudah memberi pesan pada penjaga, jika mereka melihat sosok Nico, mereka akan menangkapnya. Jadi, serahkan saja semua pada mereka." Jade mengangguk-anggukkan kepalanya demi meyakinkan Gloria. Padahal ia sudah sangat gugup saat ini.
"Apa aku tidak boleh mengintip keluar?" tanya Gloria.
"Untuk apa?"
"Aku ingin mencari sosoknya diantara orang-orang itu."
"Astaga, Gloria. Kau pikir itu tidak berbahaya? Kita berada disini sekarang untuk melindungi diri dan kau malah mau mengintip keluar. Aneh!" gerutu Jade tak habis pikir.
"Aku cuma ingin memastikan saja."
"Lagipula didepan sangat gelap. Kau tidak bisa melihat yang mana kubu lawan. Serahkan saja semua pada mereka. Mereka semua sudah terlatih untuk melindungi kita, jadi kita akan keluar setelah semuanya usai." Jade memberi penjelasan pada Gloria dan akhirnya wanita itu sependapat juga dengannya.
______
Sementara itu di ruangan lain, Jared sedang sibuk mengobati luka pintasan peluru yang mengenai lengan Owen. Pelurunya meleset, tidak menembus bagian lengan Owen tapi Owen sempat terkena bagian peluru itu.
Jared membalutnya dengan sebuah kain kasa agar tidak mengeluarkan darah lagi.
"Dimana istriku?" tanya Owen disaat sela-sela kegiatan itu.
"Tuan Jade membawa mereka semua ke ruangan anti peluru di sayap kanan."
Owen menghela nafas lega mendengar hal itu.
"Apa setelah ini Anda akan kembali ke Mansion Tuan Markus lagi?"
"Ya, jika aku tak kembali, maka Richard akan mencurigai ku."
__ADS_1
"Baiklah, di luar sepertinya sudah mulai lengang. Banyak anak buah Tuan Jensen yang tertembak," terang Jared.
"Hmmm, biarkan saja."
"Bagaimana dengan rencana anda, Tuan?"
"Belum ku jalankan. Aku masih memantau keberadaan Sean."
"Dia pasti akan cepat kembali setelah tahu jika Tuan Markus sudah meninggal."
"Itu pasti, lagipula aku mendengar Pengacara Paman Markus telah datang ke Mansion kemarin. Pasti dia sudah menghubungi Sean untuk membahas harta peninggalan Paman Markus." Owen tersenyum miring. Dia tahu siapa Sean. Sean tak mungkin melepaskan bagiannya dari harta itu.
"Jadi rencana anda?"
"Sepertinya pertikaian Sean dan Richard akan lebih menarik. Aku akan menyaksikan itu dulu sebelum melawan mereka satu persatu."
Jared ikut menyunggingkan senyum dengan rencana adu domba yang akan Owen lakukan selanjutnya.
Suasana diluar benar-benar telah senyap. Owen meyakini jika para clan musuh yang masih selamat sudah kembali ke Mansion Richard karena telah kalah untuk menerobos masuk ke Mansion Jade.
"Jared, aku harus kembali..." Owen bangkit dan beranjak menuju pintu keluar kamar.
Bersamaan dengan itu, rupanya Gloria juga kembali ke kamarnya. Ia hampir berpapasan dengan Owen, tapi untungnya Owen menyadari itu sebab ia sudah mendengar langkah kaki seseorang yang terasa mendekat. Owen kembali masuk dan bersembunyi, sampai akhirnya Gloria benar-benar masuk ke dalam kamar yang ada disebelah kamar yang saat ini Owen tempati.
"Ada apa, Tuan?" tanya Jared yang melihat Owen kembali masuk.
"Gloria...." jawab Owen lirih.
Jared menghela nafas berat. Ia cukup bersimpati dengan hubungan suami istri ini, yang sekarang harus terpisah bahkan saat bertemu pun harus berlagak tak mengenali.
"Saya harap semua ini cepat selesai, Tuan. Sepertinya Nyonya Gloria tidak siap menjadi janda."
Ucapan Jared membuat Owen memelototinya. "Jaga ucapanmu! Aku masih hidup! Gloria belum menjanda, Jared!" peringatnya tegas.
Jared mengulumm senyum. Sudah lama ia tak berdebat hal-hal kecil dengan atasannya ini. Ia cukup merindukan momen-momen dahulu saat keadaan masih baik-baik saja. Dimana ia bisa menggoda Tuan Zwart-nya yang terkadang bersikap hangat atau juga tempramental.
"Maaf, Tuan. Maksud saya, yang diketahui Nyonya Gloria saat ini seperti itu, bukan?"
"Ada baiknya kau tutup mulutmu itu, Jared! Sudahlah, aku harus pergi sekarang!"
__ADS_1
******