
"Hallo my cousin ...."
Suara yang terdengar ramah itu, membuat Owen menoleh. Owen segera menutup pintu ruangan dimana istrinya dirawat, sebab ia memang baru saja keluar dari ruangan itu ketika sebuah suara terdengar menyapanya.
Owen menatap datar pada seseorang yang tersenyum ramah padanya, Owen tahu senyuman itu tidak seramah kelihatannya sebab pasti ada niat tersembunyi dibalik senyuman itu.
"Sudah ku duga, kau pasti membawa Gloria kesini ...." ucapnya lagi.
Owen merotasi bola matanya, merasa jengah.
"Sean .... katakan apa tujuanmu berada disini? Lalu, untuk apa kau mengikutiku sampai ke Rumah Sakit?"
"Aku hanya ingin memastikan jika Gloria baik-baik saja," jawab Sean tersenyum smirk.
Owen menggeleng samar, tak begitu menggubris, hanya saja dia cukup speechless karena Sean mengetahui nama istrinya. Apa mereka sempat berkenalan saat di Lift tadi?
"Tidak usah heran karena aku mengetahui nama istrimu. Jangankan nama, aku juga sudah tahu bagaimana rasa manis dari bibirnya itu," ucap Sean seolah tahu isi pikiran Owen, ia pun sengaja memancing kemarahan Owen dengan ucapannya.
Sayangnya, Owen tidak memedulikannya. "To the point, katakan apa tujuanmu ke kota ini? Seharusnya kau tidak berada disini, Sean. Ini bukan tempatmu!"
"Aku bebas mengunjungi tempat ini, apalagi ini adalah kota kelahiran Ayahku."
"Begitukah? Baiklah, terserah kau saja!" kata Owen malas.
"Saat Oxela menikah, aku tidak tahu... bahkan saat kau menikah pun aku tidak diundang. Betapa menyedihkan. Apakah aku masih dianggap sepupu oleh kalian?" Sindir Sean saat Owen hendak beranjak dari hadapannya.
__ADS_1
Owen menghentikan langkah, ia sudah lama tidak menganggap Sean ada, meski semuanya bukan murni karena kesalahan Sean, tapi mau tak mau Owen dan Oxela memang harus menghindari pria yang masih memiliki hubungan darah dengannya ini.
Ayah Owen dan Sean adalah saudara kandung, kakak beradik. Sepeninggal Ayah Owen, tahta kerajaan gelap yang dikuasai ayahnya harusnya jatuh pada Owen, hanya saja Owen tidak tertarik dengan dunia itu, dia menyerahkannya pada sang Paman, Paman Markus--Ayah Sean--secara mudah, karena ia tahu ambisi kuat yang dimiliki pamannya itu. Sedangkan ia sendiri, justru fokus membalas dendam pada orang yang telah membunuh ayahnya, serta memperkuat sisa bisnis yang tidak terikat tangan mafia alias bisnis yang jernih. Semua bisnis kotor sudah ia pindah tangankan kepada Paman Markus, sepenuhnya.
Owen tidak mau berebut kekuasaan, ia tahu keserakahan pamannya, sehingga ia memutuskan menyerahkan segalanya dengan mudah tapi dengan syarat hidupnya dan Oxela tidak terganggu oleh belenggu dan segala kaitan dari dunia mafia lagi. Paman Markus menyetujui. Namun Sean, Owen tak mengerti kenapa sepupunya selalu bersikap sarkasme padanya sejak dulu. Seakan-akan Sean tak senang dengan keputusan yang telah Owen pilih.
"Ku pikir kau tidak perlu mengetahui tentang kehidupan pribadiku dan Oxela."
Sean terkekeh hambar. "See? Sepupuku ini memang arrogant sekali. Bahkan beberapa waktu lalu aku baru saja menyelamatkan nyawa istrimu, bukankah kau sangat menyebalkan," ucapnya.
"Terserah kau saja," jawab Owen.
"Hah, dari sekian banyaknya wanita didunia ini, aku dipertemukan dengan istrimu. Bukankah itu suatu kebetulan? Kebetulan yang membuatku jadi tahu titik kelemahanmu?"
"Apa maksudmu?"
"Jangan menyangkut-pautkan dia dengan kekisruhan kita, aku bahkan tidak tahu apa maumu sebenarnya?"
Sean duduk tepat dihadapan Owen yang tengah berdiri. Dia bersedekap santai dikursi tunggu yang berbaris didepan ruang perawatan Gloria. Dia menatap Owen tajam.
"Kau ingin tahu apa sebab kekisruhan kita?"
"Ya.... dan aku ingin tahu apa yang kau inginkan!"
"Semuanya karena kau memberikan tahta itu pada ayahku!"
__ADS_1
"Bukannya kau seharusnya senang? Itu keinginan dan kepuasan bagi Paman Markus, bukan?" Owen mengernyit heran, ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Sean.
Sean menggeleng. "Itu keinginannya, bukan keinginanku! Bisakah kau tarik semua itu menjadi milikmu kembali? Sebab Ayahku semakin rakus dan tamak, persis seperti mendiang Ayahmu!"
Owen menggeram keras, bukan karena ia tak senang mendiang Ayahnya diungkit kembali, namun ia kesal ternyata semua yang ia berikan tidak membuat Sean bahagia. Sejatinya, ia memahami Sean sama seperti dirinya yang mungkin memiliki pilihan hidup sendiri.
"Jadi, kau ingin bagaimana?" Owen memilih ikut duduk disisi Sean.
"Ambil alih semua itu.... aku tidak mau Ayah menjadi orang yang kejam. Bertahun-tahun aku menyaksikan dia membunuh orang lain. Aku tidak mau hidup seperti dirinya. Aku punya impian dan aku tidak mau dituntut menjadi pewaris tahtanya. Bukankah seharusnya itu milikmu?" Sean menatap Owen dalam, baru kali ini Owen merasakan beban besar tengah ditanggung oleh sepupunya itu.
"Sorry, aku tidak bisa menariknya kembali. Selain itu sudah ku alihkan, Paman Markus juga akan sangat marah jika aku mengusiknya kembali. Kami sama sama berjanji untuk tidak saling mengusik dan lagi....."
"Apa?" tanya Sean dengan nada lesu.
"Gloria tidak mau aku masuk dalam dunia itu dan aku menghargai istriku, aku mencintai keluargaku...." lirih Owen.
Sean mengangguk pelan. Bagaimanapun ia tak bisa memaksa Owen.
"Bisakah kau memikirkan ini? Membantuku menghentikan pak tua itu?" tanya Sean lagi.
Owen tertawa pelan. "Akan ku pikirkan," ucapnya.
"Semoga Gloria baik-baik saja. Kapan-kapan izinkan aku mengunjungi Oxela dan melihat puteramu," kata Sean menepuk pundak Owen dengan akrab.
"Lain kali, maybe..."
__ADS_1
Dengan langkah gontai, akhirnya Sean pun meninggalkan koridor rumah sakit itu, meski dikepalanya masih tidak menemukan jalan keluar untuk menghentikan kekejaman Ayahnya yang kini menjadi bos mafia. Kelak, jika ayahnya mati, ia tidak tahu harus melakukan apa jika kekuasaan itu diharuskan jatuh kepadanya. Ia tak punya pilihan. Semua karena keputusan Owen yang membuatnya sempat kesal. Entahlah, sekarang ia harus bagaimana.
*******