Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Konsekuensi


__ADS_3

*Owen Pov


Aku mengetuk pintu kamar Gloria, karena setelah pergumulan kami beberapa saat lalu, kami memutuskan untuk membersihkan diri di kamar masing-masing.


Tok Tok Tok


Sampai beberapa kali aku mengetuk, barulah Gloria membukakan pintu dengan gerakan yang seakan ragu-ragu karena ia hanya membuka sedikit celah sebatas untuk melihat wajahku saja--seperti tidak memmbolehkan aku masuk ke dalam ranah pribadinya. Astaga, padahal kamarnya masih bagian dari Apartmen ku, bukan? Kenapa dia jadi terkesan menutup diri setelah kejadian yang baru saja terjadi diantara kami beberapa saat lalu?


"Boleh aku masuk?"


Gloria menggeleng cepat dari posisinya. Aku pun tersenyum kecil melihat reaksinya itu.


"Jadi, tidak boleh, ya?" kataku tenang. "Baiklah, apa kau mau bicara di sofa lagi?" Aku merujuk pada sofa yang sempat menjadi saksi bisu perbuatan panas kami tadi. Sengaja menekankan kata 'lagi' agar ia memahami maksudku.


Gloria kembali menggeleng keras.


"Kau kenapa? Apa aku menyakitimu?" tanyaku mengulumm senyum melihat tingkahnya yang lucu dipenglihatanku itu.


"Ti-tidak," jawab Gloria sembari menundukkan kepala.


"Kalau begitu, aku ingin bicara denganmu. Bisakah? Katakan dimana kita bisa berbicara!"


Dengan perlahan dan kebingungan, akhirnya Gloria membuka lebar pintu kamarnya, ternyata dia lebih memilih bicara dikamar daripada kembali ke sofa tempat dimana kami berbagi peluh sebelumnya. Lucu sekali, apa dia tidak tahu jika dikamar akan lebih berbahaya? Mungkin dia terlalu malu untuk mengingat momen di sofa tadi jika kami harus kembali duduk disana sekarang.


Aku pun mulai melangkah masuk kekamarnya. Begitu masuk, aku langsung mencium aroma yang berbeda dari kamar ini. Kamar yang biasanya kosong, kini malah tercium aroma Gloria dimana-mana. Padahal Gloria baru seminggu berada dikamar ini. Namun, aromanya begitu mendominasi, aroma khas yang memabukkan dan membangkitkan hasrat kelelakianku.


Gloria duduk di sofa yang ada didalam kamar, sementara aku menyusul duduk disampingnya. Oh, aku tidak mau ada kecanggungan lagi diantara kami setelah kejadian tadi. Jadi aku mencoba bersikap sewajarnya dan ku harap Gloria juga begitu.


"Glo, apa Richard tidak pernah menyentuhmu?" tanyaku to the point, karena ini sangat membuatku penasaran.


Gloria menggeleng.


"Kenapa kau masih bertahan dengannya?"


"Bagiku pernikahan bukan hanya tentang hubungan ran jang."


Aku mengangguk. "Kau benar, tapi bukankah itu aneh?"


"Ya, makanya aku merasa jika Richard memiliki kekasih diluaran sana," lirih Gloria.


"Lalu, apa perasaanmu sekarang?"


"Entahlah."


"Apa kau menyesal karena akhirnya aku yang pertama kali--"


"Sudahlah, anggap ini konsekuensi dari perbuatan Richard yang telah rela mengantarku kepadamu." Gloria memotong cepat ucapanku.

__ADS_1


"Jadi kau menganggap ini hanya sebatas konsekuensi?"


"Ya, kau juga menganggap ini sebagai permainan, bukan?" Gloria menatapku dengan tatapan sendu.


Aku terdiam, benarkah aku hanya menganggap ini sebuah permainan setelah kesucian Gloria aku yang pertama kali merenggutnya?


"Bolehkah aku tidur, sekarang?" tanya Gloria.


Aku mengangguk. "Tidurlah, kau pasti lelah."


Aku berdiri, namun sebelum benar-benar beranjak, aku menarik Gloria kedalam pelukanku. Entah kenapa aku ingin menyalurkan ketenangan untuknya, berharap semua ini tidak berakhir sampai disini. Entahlah, aku merasa sebagai pemilik Gloria setelah melakukan hal itu pertama kalinya pada wanita ini.


"Listen to me, walau ini semua adalah permainan atau apalah namanya, aku tetap memegang komitmenku untuk tidak menyakitimu."


Bahu wanita itu berguncang, aku tahu dia tengah menangis dalam pelukanku. Apa sebenarnya yang dia pikirkan sekarang? Apa dia menyesali semua yang telah terjadi diantara kami?


"Shhtss... sudah jangan menangis lagi," kataku lembut sembari mengelus rambut Gloria yang terurai. Aku tahu ia sakit hati atas ulah suaminya, namun aku juga takut dia menangis karena menyesali apa yang sudah terjadi. Sungguh aku takut dia menyesal melepas kehormatannya untuk lelaki seperti aku.


Gloria menggeliat pelan, melepaskan pelukanku, lalu dia menatapku lekat. "Jika Richard benar-benar berselingkuh, tolong bantu aku pulang ke negaraku. Aku tidak mau disini tanpa siapapun!"


Aku mengangguk. "Aku akan membantumu lepas darinya, aku akan membantumu pulang," ucapku meyakinkannya.


"...tapi aku tidak akan melepaskanmu begitu saja dari diriku, karena mulai malam ini kau adalah milikku," sambungku dalam hati.


_____


Aku mendekapnya dari belakang dan ia terkesiap dengan ulahku.


"Owen, makanlah..."


"Hmm," ucapku dengan senyuman tipis. Aku sangat senang melihat wajah Gloria yang tersipu malu seperti saat ini daripada melihatnya banjir airmata seperti malam tadi.


Aku duduk dimeja makan dan menikmati omelette buatan Gloria yang terasa asin.


"Apa enak?"


Aku mengangguk namun melihat Gloria ingin menyuap Omelette yang sama membuatku spontan mencegahnya, aku takut dia mengetahui kebohonganku.


"Bolehkah sarapanmu ku habiskan juga?"


Gloria menatapku bingung. "Kau lapar sekali, ya?"


"Iya," dustaku sembari menyambar piring miliknya dan menyatukan omelette nya dipiring yang sama denganku.


"Akan ku buatkan lagi jika kau suka," kata Gloria mencoba bangkit dari duduknya namun aku menarik pinggangnya secara kilat. Alhasil wanita itu terduduk dipangkuanku.


"Owen, jangan begini..." protesnya tanpa berani menatap wajahku.

__ADS_1


"Kau malu?" Aku malah mengecup leher jenjangnya dan ia mencoba menghindari aksiku.


"Owen, kau harus bekerja... jangan bermain-main sepagi ini nanti kau terlambat," keluh Gloria.


"Aku bosnya, tidak ada kata terlambat untukku."


"Ah, Owen... jangan begini...." Gloria mendongak dan itu malah membuatku semakin menyukainya. Aku melupakan omelette asinku, sebab sekarang aku punya menu sarapan yang baru.


"Owen, nanti bajumu kusut lagi!" protes Gloria dalam gendonganku menuju kamar.


"Jangan mengalihkan atensiku, Glo! Aku punya banyak baju yang lain." Aku terus berjalan menggendongnya sampai ke kamarku.


"Lagi?" tanya Gloria menatapku ragu. Ia terlihat gelagapan.


Aku balas menatapnya. "Ya, dan aku tidak menerima penolakan."


******


"Tuan, apa anda kurang sehat?" Suara Jared membuatku berdecak, ia membuat khayalan liarku tentang Gloria buyar seketika.


"Aku sehat, bahkan sangat sehat." Jared tidak tahu saja bahwa aku sudah punya asupan baru yang membuatku semakin sehat dan bersemangat sekarang.


"Lalu, kenapa Anda datang terlambat hari ini? Tidak biasanya," ucapnya dengan pandangan penuh selidik. Jangan sampai intuisi Jared yang tinggi-- bisa membaca gelagatku saat ini, aku belum mau dia menebaknya.


"Ada urusan," jawabku singkat tanpa menjelaskan lebih lanjut.


"Urusan?" Jared mengernyit heran, kemudian dia tersenyum penuh arti. "Apa ada kaitannya dengan Nona Gloria? Ku dengar, kau tidak pernah pulang ke rumah lagi dalam seminggu ini," kekehnya kemudian.


Sialan, tahu saja dia. ck!


"Aku tidak mungkin membiarkannya tinggal sendirian di Apartmen."


"Tapi, Nona Oxela sangat sering kau tinggalkan sendirian di Mansion," sindir Jared.


"Berbeda, Oxela itu adikku. Dia terbiasa mandiri. Di paviliun belakang juga banyak pelayan."


"Lalu, memangnya Nona Gloria siapamu, Tuan? Dia penakut, ya? Berikan saja dia pelayan juga!" saran Jared dengan kekehannya yang hambar.


"Oh God, tutup mulut cerewetmu itu, Jared! Jangan menyindirku seperti nenek-nenek!"


Jared tertawa kencang, membuatku makin kesal saja.


"Tuan, apa kau menikmatinya?" Sepertinya Jared tak henti-henti menyindirku, sekarang ia malah mengulumm senyum, aku tahu pasti kemana arah pembicaraannya kali ini.


"Apa kau tahu ada asisten yang mati tercekik karena berulang kali menyindir atasannya?"


Jared semakin tertawa kencang. Tapi sesaat kemudian dia mulai serius untuk melanjutkan pekerjaannya. Disaat itu barulah aku bisa bernafas lega dan ikut bergelung dengan pekerjaan yang sempat ku abaikan tadi.

__ADS_1


*****


__ADS_2