Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Mendengarkan penjelasan


__ADS_3

Dalam diam, aku menunggu Gloria kembali dengan harap-harap cemas.


Bagaimana jika Gloria mengatakan tentang niatnya untuk bercerai dari Richard, namun pria itu tidak terima dengan keputusan Gloria?


Bagaimana jika Richard justru melukai Gloria disana? Seperti mimpi burukku yang menjadi kenyataan?


Semua pikiran buruk itupun mulai melingkupiku. Sebab, secara mendadak aku langsung membayangkan mimpiku waktu itu-- saat Gloria dihujani tembakan bertubi-tubi oleh Richard. Hal itu yang kini mulai bercokol di kepalaku, hinggap dan susah hilang.


Tidak, semua itu tidak boleh terjadi.


Setelah berpikir singkat dalam rasa kalut, akhirnya aku bangkit dan memutuskan menyusul Gloria dan Richard ke arah cabana.


Aku duduk di cabana yang lain--tepat disebelah cabana yang mereka duduki. Berdiam disana, dengan harapan semua akan baik-baik saja meski aku tak yakin dengan hal itu.


"Kau memperalatku untuk menutupi perilakumu yang menyimpang, Richard!"


Aku merasa beruntung bisa sekalian mencuri dengar hal yang sedang mereka perdebatkan. Jika begini, aku bisa menyusun ancang-ancang apabila terjadi suatu hal yang ku perkirakan adalah hal buruk.


"Maafkan aku, kau pasti tahu semua itu dari Owen, kan?" Kini suara Richard yang terdengar membalas ucapan Gloria.


"Aku juga melihatnya sendiri, ditempat ini, beberapa saat lalu!" Suara Gloria terdengar bergetar.


Aku masih diam menyimak pembicaraan mereka.


"Kenapa kau tidak mengakui semuanya didepan publik, bukankah hal itu sudah dilegalkan? Kau tidak perlu menyembunyikan hal itu, Richard!"


"No! Mommy dan Daddy akan mengutukku!" Terdengar suara tawa Richard yang sumbang.


"Lalu apa maumu? Aku tidak bermurah hati menerima semua ini. Aku ingin kita berpisah."


"Tidak...." Kini suara Richard yang bergetar. "Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu! Jangan bermimpi untuk berpisah dariku, Gloria!"


Aku terhenyak mendengar ucapan Richard, tanganku mengepal keras. Tidak tahu bagaimana reaksi Gloria yang mendengar kalimat yang terlontar dari bibir pria itu.


"Lalu? Kau ingin aku terus seperti ini? Berstatus istrimu tapi kenyataannya tidak begitu?"


"Aku akan berusaha merubah segalanya."


"Maksudmu?"


"Aku ingin hidup normal, Gloria." Suara Richard melembut. Aku tidak tahan mendengar suaranya yang seperti ingin menggoyahkan pertahanan Gloria yang ingin berpisah darinya.


"Sebenarnya aku sedang berobat, aku mengunjungi psikiater dengan kesadaran diriku sendiri. Aku tidak sepenuhnya straight, aku hanya terpengaruh teman-temanku," terang Richard.

__ADS_1


"... Glo, pria adalah makhluk visual yang mudah menyukai hal-hal yang dilihatnya. Aku hanya menyukai dunia itu, ikut berkecimpung namun aku sadar bahwa itu salah," imbuh Richard lagi.


"Tapi kau hanya memanfaatkanku, tidak memiliki perasaan yang lebih kepadaku, aku membencimu, Richard!" Gloria kembali melontarkan kalimat.


"Sejak awal menikahimu, aku tidak berniat memanfaatkanmu. Aku menyukai sikapmu yang lembut. Aku ingin, dengan adanya kau maka has ratku yang sudah terlanjur menyimpang akan kembali normal."


Aku menggeleng keras, berharap Gloria disana tidak mempercayai ucapan Richard begitu saja.


"Kau berbohong!" kata Gloria dengan nada tak percaya. Ya, jangan mempercayainya, Glo!


"Aku sudah memutuskan hubunganku dengannya," lirih Richard.


"Kau bahkan terlihat mesra dengan pria itu beberapa saat lalu, pembohong!"


"Tidak, aku memutuskannya tadi. Aku akan berusaha agar hubungan kita semakin membaik."


Rasanya aku tidak tahan untuk tidak ikut menimpali ucapan Richard, ingin rasanya memukul kepala pria itu dengan keras agar otaknya sadar dari ketidakwarasan dan segera melepaskan Gloria. Namun, aku menahan gemuruh didada yang terasa membuncah sebab belum saatnya aku mencampuri.


"Sekarang ku tanya padamu, sejauh apa hubungan kalian?" tuntut Gloria.


"Hanya sampai tahap berpengangan dan berciuman saja!" jawab Richard, entah jujur entah bohong aku tidak bisa menebak hal itu hanya dari intonasi suaranya.


Gloria terdengar berdecih keras.


"Intinya aku mau berpisah!"


"Kau jatuh cinta pada Owen, iya?" Richard terkekeh-kekeh dengan tawanya yang sumbang.


"Kau yang menyerahkan aku padanya." Suara Gloria semakin terdengar bergetar.


"Kau mengkhianati pernikahan kita!" kata Richard. "Padahal aku percaya padamu, aku melakukan itu untuk mendapat keuntungan saja. Ku pikir kau akan setia padaku!"


"Kau menyalahkan ku?" Suara Gloria meninggi. "Kau lebih dulu mengkhianati pernikahan kita!"


"Tapi hubunganku dengan kekasihku tidak sejauh yang kau lakukan bersama Owen! Aku mengirimmu padanya karena aku percaya padamu, Gloria! Setelah keuntungan itu ku dapatkan, aku pikir kita akan menikmatinya bersama-sama nanti, karena proyek itu adalah keberhasilanku juga!"


"Aku muak dengan alasanmu! Bisa-bisanya kau menyalahkan aku!" kata Gloria terdengar marah.


Aku bisa melihat Gloria yang berlari, sebab ia melewati cabana yang ku duduki, namun Gloria tak menyadari keberadaanku. Tak lama, Richard ikut keluar dari cabana dan menarik lengan Gloria dengan sekali gerakan yang sangat cepat.


Jreb


Aku menyaksikan hal itu sembari menelan saliva dengan berat, ingin sekali aku mematahkan tangan Richard yang menyentuh wanitaku. Ingin menghajarnya dengan membabi buta sebab telah memaksa Gloria. Aku tidak menyukai pemaksaan baik dari diriku sendiri maupun dilakukan orang lain didepan mataku, apalagi ini terkait memaksa Gloria-ku.

__ADS_1


Dengan langkah cepat aku meraih lengan Richard, menepisnya keras agar dia melepaskan tangan Gloria dari cengkeramannya.


"Kau!" geram Richard padaku. "Jangan ikut campur!" Richard menunjukku dengan jarinya namun sekali lagi aku tidak mau adu argumen dengannya.


Aku menghantamnya dengan tinjuku.


BUG


Richard menatapku nyalang sambil memegang rahangnya yang mungkin terasa kelu akibat pukulanku.


"Jangan memaksanya! Dia ingin kalian segera berpisah!" ucapku lantang.


Gloria memegang tubuhku, ia menggeleng pelan. "Jangan dilanjutkan, kita kembali saja," ucapnya menahan amarahku yang sudah tersulut sebab pemaksaan kehendak yang dilakukan Richard padanya.


"Aku tidak suka dia memaksamu!" kataku keras.


"Sudahlah, Owen. Kabulkan saja permintaan ulang tahunku." Gloria menatapku dengan sorot mata memohon, aku paham bahwa ia ingin segera mendapat surat-surat itu.


"Baiklah," ucapku ingin berbalik arah menuju Resort sembari menggenggam tangan Gloria.


"Selamat ulang tahun, Sayang." Tiba-tiba suara Richard membuat Gloria menghentikan langkah, aku yang berjalan disampingnya pun menjadi ikut terdiam.


"Sebenarnya aku sudah menyiapkan hadiah untukmu. Makanya, hari ini aku memutuskan hubunganku dengan pria itu. Aku ingin menjemputmu."


"... aku ingin kita memulainya dari awal lagi, aku menerima semua kondisimu meski aku tahu kau sudah tak sama lagi. Aku sadar semua yang terjadi kepadamu adalah kesalahanku."


"Beri aku kesempatan itu, Gloria. Sekali lagi. Sedikit lagi aku akan sembuh..."


Apa aku harus menghajar kep arat ini? Ucapannya pasti akan mengacaukan pikiran Gloria.


Gloria menoleh kebelakang, menatap pada Richard. Entah kenapa perasaanku menjadi tak enak.


"Apa kau mau memberinya kesempatan?" tanyaku pelan pada Gloria sehingga wanita itu kembali melihat kepadaku.


Gloria mengerjap beberapa kali, belum menjawab pertanyaanku, aku berharap dan sangat berharap dia berkata, tidak.


Aku menatap Gloria dengan lekat menunggu jawabannya. Tapi, Gloria kembali menoleh ke belakang dimana Richard berdiri dengan wajah yang pucat pasi.


"Pulanglah, Richard! Teruskan pengobatanmu sampai kau benar-benar sembuh."


Aku tidak mengerti dengan pemikiran Gloria, kenapa dia berkata seperti itu. Apa jika Richard benar-benar sembuh maka Gloria mau memberi pria itu kesempatan? Lalu? Bagaimana dengan aku? Apa Gloria akan mengingkari janjinya? Dia akan meninggalkanku?


*****

__ADS_1


__ADS_2