Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Masa lalu yang buruk


__ADS_3

Sampai di kamarnya, Owen melirik sekilas pada barang-barang yang sempat ia beli di toko souvenir tadi. Mungkin itu akan ia bagikan pada para pekerjanya nanti.


Membaringkan badan, Owen menatap langit-langit kamar sambil menghela nafas panjang.


Ingin tidur, namun kepalanya masih terasa berdenyut akibat has rat yang tidak tertuntaskan.


Akhirnya ia memilih untuk menelepon Oxela saja.


"Ada apa, Kak?"


"Xela, bisa aku minta bantuanmu," ucapnya terpaksa, sebab ia sadar betul jika sekarang Oxela sedang hamil tua.


"Apa itu, kak? Aku akan membantumu sebisaku."


"Tolong kau siapkan acara pernikahanku dengan Gloria."


"Pernikahan? Gloria?"


Owen yakin pasti wajah Oxela sekarang tengah kebingungan.


"Iya, tolong kau urus semuanya. Maksudku, kau telepon saja orang-orang yang akan mengurus semua keperluan pernikahan itu. Tidak usah terlalu berlebihan, hanya untuk keluarga saja."


"Jadi kau benar-benar sudah bertemu dengan Gloria, Kak?"


"Iya, kami sudah sepakat untuk menikah."


"Oh God .... aku turut bahagia untukmu, Kak."


"Hemm, tolong bantu aku, ya."


"Ya, kau ingin pernikahan itu, kapan?"


"Secepatnya. Tapi, aku ingin orangtua Gloria juga hadir nanti. Soal itu, biar Jared yang mengurusnya. Kau hanya perlu mengatur acaranya saja, lalu konfirmasi pada Jared kapan kira-kira orangtua Gloria tiba disini."


"Oke, Kak. Aku akan mengurus semuanya," jawab Oxela antusias.


"Ya, jangan terlalu bersemangat, ingat juga kondisimu sekarang!" peringat Owen.


"Iya, aku tahu, kak...."


Owen memutus panggilannya dengan Oxela, kemudian mulai menghubungi Jared untuk mengatur kedatangan orangtua Gloria. Ia ingin membuat kejutan untuk wanitanya, jadi ia tak perlu mengabari hal ini pada Gloria.


Setelah memberi perintah pada Jared, Owen akhirnya bisa tertidur meski tak begitu nyenyak.


Owen terbangun kala pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia mengira itu adalah room service yang hendak mengantar makan malam. Nyatanya, saat ia membuka pintu justru Gloria yang ada disana.


Gloria tertawa melihat Owen yang tidak bisa menutupi wajah bangun tidurnya.


"Kau baru bangun?" kikik Gloria.


"Iya, masuklah..." Owen menarik lengan Gloria agar memasuki kamarnya.


"Mana Jeff?"


"Aku sudah menitipkannya pada Hans, karena kita akan ke Bar untuk membuat pernyataan pengunduran diri ku."


"Baiklah, tunggu disini. Aku mandi dulu." Owen mengelus wajah Gloria sekilas.

__ADS_1


"Hemm..." jawab wanita itu berdehem.


Owen pun segera masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara menunggu Owen, Gloria memilih untuk melihat-lihat kamar yang ditempati oleh pria itu. Ia melihat begitu banyak bungkusan berisi souvenir yang tersusun di sudut kamar.


Kemudian, Gloria melihat jas Owen yang terlihat seperti dicampakkan sembarangan didekat sofa. Gloria memilih memungut jas itu, untuk ia gantungkan di standing holder. Namun, tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu yang ada didalam saku jas itu.


Terasa cukup berat, membuat Gloria akhirnya mengeluarkan benda itu dari dalam saku jas.


"Pistol?" Gloria terkejut. Selama ia tinggal bersama Owen dulu, ia memang tak pernah mendapati benda semacam ini di Apartmen Owen. Tapi, ia tak menampik tentang ketidaktahuannya mengenai bisnis apa saja yang Owen geluti.


Gloria segera memasukkan pistol itu kembali ke dalam saku jas milik Owen, kemudian menggantung jas itu ke gantungan.


Owen keluar dari kamar mandi, menatap Gloria yang mematut wajah pias.


"Sayang, pilihkan aku baju, ya..."


Gloria berdehem-dehem, menetralkan degup jantungnya yang mendadak kalut setelah menemukan pistol milik Owen.


"Ya... di-dimana kopermu?" tanyanya gugup.


"Disana," ucap Owen menunjuk pada samping nakas.


Gloria membuka koper itu, memilihkan setelan untuk Owen kenakan. Namun, ia penasaran untuk menanyakan soal pistol itu.


"Owen...."


"Ya?"


"Selama kita bersama, aku tidak tahu apa pekerjaanmu."


"Selain itu?" tanya Gloria dengan suara bergetar.


Owen mendekat ke arah Gloria, ia menyadari ada sesuatu yang aneh dari intonasi suara Gloria. "Maksudnya?" Ia balik bertanya dengan heran.


"Selain bisnis itu, apa kau punya bisnis lain. Bisnis... kotor, mungkin."


Owen terdiam, kenapa Gloria tiba-tiba menanyakan hal ini.


"Kenapa kau menanyakan hal ini?"


"Jawab saja, aku pikir aku berhak tahu karena sebentar lagi kita akan menikah, bukan?"


Owen tak menjawab, ia mengambil baju yang sejak tadi sudah Gloria pegang namun belum diserahkan wanita itu kepadanya.


"Apa kau mempunyai bisnis ilegal?" desak Gloria lagi.


"Hmmm," jawab Owen singkat.


"Apa kau gengster?"


"Tidak!"


"Mafia?"


"Astaga, Gloria..."

__ADS_1


"Jawab aku! Aku ingin tahu semuanya..."


Owen memakai pakaiannya didepan Gloria, namun wanita itu bersedekap seolah menunggu jawaban dari bibir Owen.


"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini?" tanya Owen akhirnya.


"Aku menemukan pistol didalam jas-mu!"


Owen menghela nafas berat.


"Aku memang punya bisnis ilegal, itu bisnis penjualan senjata---"


"Jadi kau benar-benar seorang mafia?" potong Gloria cepat.


"Hey... tenanglah, semuanya tidak seperti perkiraanmu, sayang."


"Owen, aku tidak mau membahayakan Jeff dengan bisnis gelapmu itu!" Gloria tiba-tiba meneteskan airmatanya. "Aku takut hal yang buruk terjadi pada puteraku."


"Gloria..." Owen menghapus airmata Gloria dengan jarinya. "Akupun tidak mau membahayakan nyawa puteraku."


"Jadi?"


"Bisnis senjata itu peninggalan ayahku. Aku hanya menikmati keuntungannya saja. Soal mafia, aku bukan mafia, Sayang. Memang mendiang Ayahku seorang mafia dan dia menginginkan aku menjadi penerusnya tapi aku menolak meneruskannya, semua kerajaan gelap itu sudah diambil alih oleh pamanku."


"Benarkah?"


"Ya, aku tidak mau mengorbankan banyak orang untuk kehidupan semacam itu. Jika ayahku masih hidup, dia pasti akan memaksaku, tapi berhubung dia sudah meninggal, aku bisa memilih jalanku sendiri...."


"Owen, kau sungguh-sungguh, kan?"


"Iya, sayang. Sebenarnya aku tidak mau menceritakan hal ini padamu karena aku menyimpan trauma dalam dunia mafia."


Gloria mengernyit heran. "Memangnya apa yang terjadi?"


"Ayahku mati terbunuh, Ibuku depresi karena kematian ayah. Lalu..."


"Lalu, kenapa?" desak Gloria.


Owen menghela nafas berat. "Lalu, aku juga pernah membunuh seseorang demi membalaskan dendam kematian Ayahku."


"Owen?"


"Tapi itu dulu, sudah lama... aku sudah meninggalkan dunia itu, Sayang."


"Siapa orang yang kau bunuh, Owen?"


"Istri dari penembak Ayahku. Charista Galandra. Sudahlah, aku tidak mau mengingatnya..."


(Yang udah baca novel othor "Cinta terbalut Nista" pasti tahu tentang kisah singkat pembunuhan ini, ya.)


Gloria mendekap Owen yang tiba-tiba meringkuk sebab menyadari kesalahannya dimasa lalu.


"Tapi sekarang aku sudah menyesalinya, Gloria. Aku menyesal pernah begitu kejam membunuh wanita itu, membuat dua anaknya terpisah dan hidup dengan tidak tenang selama bertahun-tahun," ratap Owen.


"Dulu ku pikir, semua yang ku lakukan itu bahkan belum setimpal untuk membalas mereka. Aku bahkan ingin menghabisi semua keturunan pria yang telah menembak mati Ayahku serta membuat ibuku jadi pasien rumah sakit jiwa."


"Owen, maafkan aku sudah membuatmu membuka luka lama ini. Aku tidak bermaksud."

__ADS_1


"Tak apa, kau berhak tahu... kau benar dengan menanyakan riwayatku. Semua untuk keselamatan anak kita. Tapi percayalah, aku yang sekarang telah bersih. Bisnis kotor itu pun hanya menerima keuntungannya tanpa mengelolanya. Jika kau keberatan, aku akan melepaskan diri dari sana juga, aku ingin hidup tenang," pungkas Owen dalam dekapan Gloria.


******


__ADS_2