Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Ingin bicara


__ADS_3

Tuan Brandy terkekeh dari tempatnya yang berdiri didepan Gloria.


"Aku akan membayarmu tiga kali lipat," tawar Tuan Brandy yang tak puas dengan penolakan wanita itu.


Gloria menggeleng keras sambil mengepalkan tangannya.


"Jangan jual mahal begitu, Nona." Tuan Brandy terus memaksa Gloria.


Gloria menatap nyalang lawan bicaranya.


Owen merasa sesuatu yang tidak beres akan segera terjadi, ia pun segera keluar dari tempatnya, berdiri, lalu menghampiri Gloria dan Tuan Brandy.


Disaat itu, Gloria terbelalak menatap Owen, ia memang baru menyadari keberadaan Owen disana.


"Tuan Brandy, biar aku saja yang membujuknya," kata Owen tenang.


Gloria langsung menundukkan wajah. Sementara Tuan Brandy menepuk pundak Owen seolah memberinya semangat.


"Nikmati malammu, Tuan Zwart!" ucapnya.


Owen hanya mengangguk samar. Kemudian kembali mengalihkan atensinya pada sosok wanita yang sejak tadi ingin ia serobot dengan pelukan.


"Aku ingin bicara padamu..." kata Owen memulai.


Gloria memalingkan pandangan, tak berani beradu mata dengan Owen yang sungguh-sungguh dengan ucapannya.


"A-aku sedang bekerja... aku tidak bisa," tolak Gloria.


"Baiklah, jam berapa kau pulang? Aku akan menunggumu."


"Masih lama," ucap Gloria dingin.


Rasanya Owen ingin segera memanggul tubuh Gloria agar keluar dari sini, namun ia masih menahannya.


"Berapa lama? Aku akan menunggumu sampai pagi!" tandas Owen, membuat Gloria tak bisa menjawab lagi.


Pukul dua belas malam, Owen langsung mencegat kepulangan Gloria. Ia tak mau kehilangan jejak wanita itu lagi. Wanita yang berani pergi darinya, membuatnya tersiksa lahir dan batin.


Gloria mengabaikan Owen, berjalan cepat ke arah yang berlawanan dengan Resort tempat Owen menginap.


Owen mengikuti langkah Gloria tak jauh dibelakangnya. Ia membutuhkan stok kesabaran untuk menghadapi wanita ini sebab ia tak mau kehilangan Gloria lagi.


Sampai langkah Gloria terhenti disebuah rumah kecil di pinggiran pantai. Sebelum Gloria masuk kedalam rumah itu, Owen segera menangkap lengan dan membalik posisi Gloria agar menatapnya.


"Please... aku ingin bicara padamu!" Owen menurunkan harga dirinya, ia bersimpuh didepan Gloria, membuat wanita itu terhenyak atas kelakuan Owen.


"Berdirilah, jangan begini, Owen!" Gloria memegang pundak Owen, memaksanya berdiri sebab ia merasa tak enak melihat Owen sampai seperti ini demi bicara padanya.


"Aku akan berdiri jika kau mau bicara padaku!"


"Ya, ya... berdirilah."


Owen berdiri dan langsung memeluk Gloria saat itu juga. Gloria tak membalas pelukannya, namun juga tak memberontak perlakuan Owen itu.


"Apa kau tinggal disini?" tanya Owen.


Gloria mengangguk pelan.


"Bisakah kita bicara didalam?"


"Tidak usah, disini saja!" tolak Gloria cepat.


Owen mengalah dan memulai kalimatnya. "Kenapa kau meninggalkan aku setelah malam itu?" tanyanya.

__ADS_1


Gloria menunduk. "Aku--aku..."


"Kenapa? Katakan padaku!"


"Karena malam itu aku hanya berniat mengambil berkas yang ku tinggalkan di Apartmen mu saja."


"Kenapa? Harusnya kau mengatakan semuanya, aku akan membantumu berpisah dari Richard."


"Sudahlah, Owen. Semuanya sudah berakhir. Termasuk tentang kita!" ucap Gloria membuat Owen ternganga.


"A-apa katamu?"


"Kita tidak bisa bersama, aku tidak layak untukmu!" Gloria menekan kenop pintu dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Owen yang terdiam di tempat akibat ucapan Gloria yang menyesakkan.


"Gloria!!!" Owen menggedor pintu, belum puas dengan jawaban Gloria.


"Buka pintunya, Gloria!"


Tidak ada sahutan, Owen semakin geram dengan hal ini.


"Gloria! Buka pintunya atau aku akan merusak pintu rumah ini!"


Owen terus memanggil nama Gloria dibarengi dengan gedoran tangannya di pintu rumah itu.


"Gloria! Aku tidak main-main, aku akan mendobrak pintunya!" ancam Owen lagi.


Klek...


Gloria membukakan pintu sembari menatap Owen sendu. "Kau terlalu berisik. Pergilah!" usirnya.


"Aku tidak akan pergi, aku akan menunggumu sampai pagi!" jawab Owen bersikeras. Tanpa persetujuan siapapun, Owen menerobos masuk ke dalam rumah itu.


"Jadi, disini kau tinggal?" ucapnya santai sambil menelisik keseluruh penjuru ruangan rumah yang hanya memiliki dua ruang lain-- kamar utama dan kamar mandi.


Owen dan Gloria langsung menatap ke arah suara itu, seorang pria dengan tampang asia--yang tampak heran menatap pada Owen.


Seketika itu pula rasa cemburu dihati Owen langsung melingkupi diri.


"Ada apa, Hans?" tanya Gloria.


"Jeff...dia menangis terus. Kalian sangat berisik," ujar pria itu.


Belum sempat Owen menanyakan siapa pria itu pada Gloria, Gloria langsung berlari masuk ke dalam kamar.


Owen menatap tajam pada pria itu, tapi pria itu membalas Owen dengan senyuman simpul.


Owen ingin ikut masuk ke dalam kamar, ia yakin yang menangis itu adalah puteranya. Namun, tangannya ditahan oleh pria asing yang berada dirumah Gloria.


"Siapa kau?" tanya Owen to the point.


"Kau pasti ayah Jeff," katanya tersenyum miring.


Owen tak perlu menjawab ucapan pria itu, toh dia sudah tahu siapa Owen tanpa perlu dijelaskan.


"Jangan percaya pada Gloria jika dia mengatakan aku suaminya," pria itu terkekeh kemudian keluar dari dalam rumah.


Owen tersenyum tipis, kemudian masuk ke kamar Gloria tanpa meminta izin siapapun.


Mungkin pemandangan yang kini Owen lihat adalah pemandangan yang paling indah yang pernah ia saksikan.


Tampak Gloria yang tertidur miring membelakangi pintu masuk, wanita itu sedang me nyus ui bayi yang ia yakini sebagai puteranya.


Menyadari kehadiran Owen, Gloria terkesiap dan mencoba menutupi diri.

__ADS_1


"Kenapa masuk? Ini privasiku!" kata Gloria dengan nada berbisik namun Owen tahu jika Gloria tengah marah karena aksinya yang masuk kamar tanpa permisi.


"Kau tidak mengunci pintunya," jawab Owen pelan.


"Berdiri disana saja, jangan mendekat!" cegah Gloria saat Owen ingin duduk di bibir ranj ang.


"Aku ingin melihat puteraku!"


"Siapa bilang dia puteramu!" sarkas Gloria.


Owen mengulumm senyum. "Benarkah? Bahkan sebelum dia lahir, namaku yang tercantum sebagai Ayahnya di data Rumah Sakit."


Gloria terdiam.


"Pria tadi... siapa?"


"Suamiku!"


"Jangan bohong!"


"Ehm... ya, ya, belum.... tapi akan."


"Maksudnya?"


"Kami akan menikah. Kami sudah tinggal bersama disini."


Owen tergelak mendengar penuturan Gloria kali ini.


"Benarkah? Jika aku jadi dia, aku tak mungkin meninggalkan calon istriku bersama pria lain dirumah ini."


"Apa? Maksudmu Hans pergi?" pekik Gloria sembari sedikit memutar tubuh untuk menatap Owen lebih jelas. Namun, ulahnya itu berhasil membuat bayi yang ada disisinya kembali menangis kencang.


Gloria kembali ingin men yu sui bayinya, namun bayi itu tetap menangis dan tak mau diam. Dengan sigap, Gloria menutup bajunya yang terbuka, kemudian mulai menggendong sang bayi.


"Ini semua karena mu! Bayiku jadi tidak bisa tidur nyenyak!" omel Gloria, namun Owen justru terkekeh melihat sikap wanita itu yang tampak menggemaskan dimatanya.


Owen memanjangkan leher, ingin melihat paras bayinya yang tengah menangis.


”Apa?" tanya Gloria galak.


"Aku ingin melihat puteraku, bolehkan?"


Gloria berbalik ke sudut ruangan dengan misi menjauh dari Owen, tapi tentu saja usahanya gagal karena Owen terus membuntuti.


"Mungkin dia menangis karena ingin bertemu denganku." Owen mengadahkan tangan, seolah meminta Gloria menyerahkan bayi itu kepadanya.


Gloria berdecak lidah. "Kau tidak akan mengambilnya dariku, kan?" tanyanya.


Owen menggeleng dengan raut wajah yang dibuat semanis mungkin.


"Janji?"


"Iya...."


Secara perlahan dan tampak ragu-ragu akhirnya Gloria menyerahkan bayi itu ke tangan Owen.


Owen terpana menatap puteranya, sangat kecil dan parasnya sudah jelas duplikasi dirinya saat bayi.


Bayi mungil itu sesenggukan dalam gendongan Owen, namun sesaat kemudian dia nampak mulai tenang.


"Ya Tuhan, puteraku..." lirih Owen takjub, disaat yang sama Gloria memalingkan wajah kearah lainnya.


*******

__ADS_1


__ADS_2