
Gloria
Setelah makan malam dengan tak berselera, aku kembali berdiam diri di kamar sambil memikirkan rencana kabur dari kediaman Richard.
Secara mendadak, aku teringat akan semua surat-surat pentingku. Setidaknya benda itu sudah aku simpan dalam tempat yang cukup aman.
Paling tidak, Richard tak bisa menahan dokumen pernikahan kami serta izin tinggalku di Negara ini. Dia juga tidak bisa membawaku kemanapun sebab pasporku juga tergabung dalam kumpulan berkas penting yang sudah ku simpan sebelumnya.
Tidak akan ada yang tahu dimana aku menyimpan berkas itu kecuali diriku sendiri. Meskipun Richard kembali ke Apartemen Owen untuk mencari semua itu, dia tidak akan mendapatkannya. Aku sangat yakin itu.
Aku juga mengingat slingbag milikku, aku pasti membutuhkan itu jika rencanaku segera pergi dari kediaman Richard telah berhasil. Sebab, didalam tas itu ada uang yang cukup untuk membawa aku pergi dari sini.
Aku mencoba mencari dimana keberadaan tasku itu, namun tetap tidak bisa ku temukan. Bahkan, ponselku juga berada disana. Ah, nasibku sedang benar-benar sial.
Malam semakin merangkak naik, namun aku tidak bisa terlelap meski telah mencobanya berulang kali. Entahlah, rasanya tempat ini begitu asing bagiku padahal aku lebih lama tinggal disini daripada di Apartmen Owen.
"Gloria." Suara Richard terdengar memasuki kamar. Aku segera menutup diri dengan selimut.
"Kau sudah tidur?" tanya Richard dengan suara kekehan pelan. Aku yakin, matanya sempat menangkap pergerakan ku yang tiba-tiba memasuki selimut. Pertanyaannya ini, semacam sarkasme untuk tindakanku.
Aku merasa pergerakan ran jang, aku meyakini jika sekarang Richard telah menaiki tempat tidur yang sama dengan yang saat ini ku tempati.
"Aku tahu kau belum tidur," ucapnya dengan intonasi suara yang sangat pelan.
Entah kenapa jantungku terasa mencelos, dengan tenggorokanku yang kembali mendadak kering untuk menghadapi Richard.
"Aku tidak akan memaksamu, kita bisa memulainya secara perlahan." Richard mencoba membuka selimut yang ku jadikan penutup diri, aku menahannya kuat-kuat, rasa risih menggelayuti hatiku. Padahal Richard adalah suamiku, namun yang ku takuti pada akhirnya justru aku jadi seperti tengah mengkhianati Owen.
"Gloria..." Richard berkata lembut, namun tidak dengan gerakannya yang secepat kilat menarik selimut yang sejak tadi menjadi tameng untukku. Nampaknya dia muak bersikap terlalu perlahan-lahan.
Dia tersenyum puas saat selimut itu berhasil tersingkap, hingga dia bisa melihat wajah yang sejak tadi ku sembunyikan dibalik selimut. Dia segera melempar selimut ke sembarang arah. Hilanglah sudah pelindung diri satu-satunya. Hal itu membuat aku memejamkan mata, frustrasi.
"Aku ingin membuktikannya, bahwa aku bisa ber has rat kepadamu," kata Richard menatap kedalam mataku. Tatapannya sangat serius bahkan terkesan mengintimidasi, menusuk kedalam sanubari. Andai aku belum mencintai Owen, aku yakin aku akan percaya kata-katanya.
Aku menggeleng cepat. Tidak, aku tidak mau hal itu terjadi. Haruskah saat ini aku berdoa pada Tuhan, agar menjauhkan ku dari suamiku sendiri?
__ADS_1
Tangan Richard terulur. Demi apapun, aku merasa risih dengan sentuhan intensnya dipermukaan kulit wajahku. Aku tidak bisa menutupi rasa benciku kepadanya. Terlebih, rasa jijik sebab aku mengetahui kehidupannya yang menyimpang.
"To-tolong, jangan la-kukan ini padaku, Richard..." ujarku dengan suara bergetar. Kenapa pula suaraku harus begitu? Richard pasti bisa mengetahui kelemahanku dan aku tak menyukai hal itu.
"Why?" Dia terus saja membelai-belai wajahku dengan ujung jarinya sembari menatapku dengan lekat.
"Aku tidak bisa, aku tidak bisa.... sebab aku merasa risih."
Richard menggeleng dalam posisinya yang berbaring miring sembari menopang kepalanya dengan satu tangan.
"Kau merasa risih karena ini adalah malam pertama kita," ucapnya dengan senyuman tipis.
"Please, Richard..."
Permohonan ku tidak digubris oleh Richard, pria itu justru semakin memangkas jarak diantara kami, membuatku tercekat dengan irama jantung yang tak beraturan. Bukan karena gugup, melainkan karena aku benar-benar takut dengan aksinya kali ini yang tampak tak main-main.
Cup...
Dia mulai mengecup telapak tanganku.
Lalu, dengan gerakan cepat, Richard segera m e m a g u t bibirku, membuatku bungkam seketika dengan ciumannya.
Namun, itu hanya sedetik sebab aku langsung memberontak untuk melepaskan diri. Aku memukul dada Richard agar dia melepas tautan bibir kami, sayangnya dia menahan tengkukku agar bisa mengendalikanku dan memperdalam ciumannya di bibirku.
Dengan kasar, aku mendorong dada pria itu, hingga akhirnya dia melepaskanku. Aku terengah-engah dengan aksi yang dia lakukan kepadaku.
Rasanya, aku ingin menangis sekarang.
"Ternyata, aku terlalu bodoh melewatkanmu selama ini," ucap Richard dengan senyuman tipis sambil mengelap bibirnya sendiri.
"Jangan lakukan itu lagi, biarkan aku pergi, Richard..." Aku menahan isak, meski sebenarnya aku ingin sekali mengumpat pria ini, namun aku tak bisa melakukannya sebab perasaan sedih lebih mendominasiku ketimbang rasa amarah.
Aku sedih sebab aku merasa telah mengkhianati cintaku pada Owen karena ciuman yang diberikan Richard kepadaku.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak mungkin melepasmu dengan mudah. Ternyata kau membuatku ber ga irah. Sepertinya aku telah sembuh," kata Richard sembari memaksa tanganku untuk menyentuh miliknya yang telah bangun dari mati suri.
__ADS_1
Aku segera menarik tanganku dan menatap nyalang pada Richard.
"Aku tidak bisa! Aku bukan wanita yang seenaknya kau buang lalu kau pungut kembali. Aku tidak bisa bersamamu!"
"Kenapa? Aku ingin membuktikan kalau aku bisa! Aku normal. Aku layak diberi kesempatan, Gloria!"
"Sudah ku katakan semua ini telah terlambat. Andai kau mengakui hal ini sejak dulu, mungkin aku akan memberikanmu kesempatan. Andai kau tidak pernah mengantarkan aku pada Owen seperti barang tak berharga, mungkin rasa benciku tidak terlalu dalam kepadamu!"
"Gloria, harus berapa kali aku meminta maaf... aku tahu letak kesalahanku. Bukankah aku juga sudah menerima kondisimu yang tidak sama lagi seperti dulu? Ku rasa ini semua sudah impas!"
"Impas katamu, belum tentu impas untukku!"
"Kau menolakku karena sebenarnya kau sudah mencintai Owen! Kau yang tidak setia menjaga pernikahan suci kita!"
"Jangan lupakan jika kau yang mengantarku padanya secara sukarela. Dan ya, aku memang jatuh cinta pada Owen! Aku sudah mengakuinya, bukan?"
Mendengar itu, wajah Richard langsung merah padam. Alarm dikepalaku mengatakan bahwa sesuatu hal yang tak baik akan segera terjadi.
Richard menatapku tajam. Pupil matanya menggelap. Sepersekian detik berikutnya dia melepaskan gesper yang ia kenakan.
"Kau harus memberiku kesempatan, jika aku berhasil malam ini... maka kau akan jadi milikku selamanya!" ucapnya dengan intonasi yang meninggi.
Srek...
Tanpa basa-basi, Richard sudah merobek baju yang melekat di tubuhku. Dia berubah brutal. Menjadi seseorang yang tak ku kenali.
"Aku muak membujukmu dengan cara halus, sepertinya kau memang lebih suka dikasari!"
Owen, maaf, maafkan aku...
Maaf karena aku lemah, maaf karena aku tidak bisa menyelamatkan diri dari kendali Richard. Dia seperti singa yang telah lama tertidur. Dia mengenyahkan nurani, serta menyampingkan harga diriku. Dia membuatku seperti ja lamg yang diperlakukan dengan sesuka hati untuk bahan percobaannya. Aku semakin membencinya. Sangat membencinya.
Hatiku menjerit pilu. Ekspektasiku untuk bisa melawan Richard, harus kalah karena kenyataannya aku kalah dibawah tekanannya.
*****
__ADS_1