Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Bisa tidur nyenyak


__ADS_3

Owen terkekeh pelan melihat Gloria yang justru ikut tertidur saat menyu sui Jeff diatas ran jang.


Dengan perlahan, ia memisahkan Jeff dari Gloria, kemudian memindahkan puteranya ke dalam baby bed.


"Ternyata kau benar-benar kelelahan, ya...." ujarnya sembari menutup dada istrinya yang terbuka, lalu mengancingkan piyama Gloria kembali. Jangan tanya perasaannya saat melakukan itu, sebab itu cukup menyiksanya.


Ia berbaring menyamping, menopang kepala dengan sebelah tangan sembari memperhatikan Gloria yang tertidur.


"Aku pasti tidak akan bisa senyenyak dia malam ini," gumamnya pada diri sendiri. Bagaimana bisa nyenyak, jika seharian ini pikirannya sudah liar saja. Menahan dan tak tersalurkan itu sungguh menyiksa, sulit diutarakan dengan kata-kata.


Ia mendekati Gloria, mengecup singkat pipi istrinya, kemudian memutuskan untuk ikut memejamkan mata juga. Belum apa-apa, kepalanya sudah berdenyut sakit.


Ah sial ....


Ia memutuskan keluar kamar, menuju balkon dan menatap langit malam yang cerah. Udara dingin cukup mengusik, namun ia tak peduli. Sebab, kembali ke kamar merupakan penyiksaan yang hakiki, apabila dirinya sendiri pun tak tega membangunkan Gloria. Tidur disebelah wanita yang diinginkannya tanpa melakukan apa-apa yang sudah dipikirkannya, tidak, ia tidak bisa.


Sepertinya dengan merokok akan menghilangkan sedikit kegundahannya, ya, mungkin bisa membantu.


Ia kembali masuk ke dalam kamar demi menemukan yang ia cari, nyatanya ia mendapat kejutan.


"Kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Gloria dari atas ran jang, wanita itu memiringkan badan, menatapnya dengan tatapan sayu seolah tengah mengundang kedatangannya.


"Aku pikir kau terlalu lelah," ucapnya singkat, ia langsung lupa apa tujuannya kembali masuk kedalam kamar tadi.


"Kemarilah," kata Gloria, ia langsung mendekat tanpa diminta dua kali.


"Harusnya kau membangunkan ku," Gloria duduk lalu memegang kedua tangannya sembari mendongak menatapnya.


"Bolehkah jika sekarang aku menagih hutangmu?"


Gloria menggeleng pelan. "Malam ini, tidak dihitung sebagai cicilan hutangku .... karena malam ini adalah kewajiban ku sebagai istrimu," ucap Gloria disertai kekehan pelan.


"Itu kalimat yang ku nantikan, Honey..." ia segera menarik lengan Gloria agar istrinya itu berdiri tegak di hadapannya.


Saling menatap dalam jarak dekat, beradu nafas yang menerpa hangat. Gloria mengangguk, mengisyaratkan kesiapannya. Ia langsung bersorak girang di dalam batinnya.


Ia memulainya dengan menciumi ceruk leher Gloria. Sesuatu yang ia rindukan telah kembali. Aroma yang dulu menjadi kesukaannya, bahkan hingga kini masih terasa sama.


"Say my name, Dear ...." bisiknya ditelinga Gloria. Ia dapat merasakan tubuh Gloria bergetar pelan, lalu mulai bergerak gelisah akibat sentuhan intens yang ia berikan.

__ADS_1


"Owen ...." Sesuai permintaannya, Gloria pun menyebut namanya dengan diiringi de sahan menuntut.


Ia menyentuh bibir Gloria dengan ujung jarinya. Tak mau menunggu lama, ia langsung menciumnya lembut dan penuh perasaan. Namun, itu membuatnya tak sabar dan tak bisa menahan. Ia pun memperdalam ciuman mereka sembari membuka satu persatu kancing baju Gloria dan menanggalkannya.


Ciuman itu semakin turun ke tulang selangka wanitanya, mengecupnya singkat, lalu kembali mendarat di sebuah puncak yang sudah terbuka dan sangat memabukkannya.


Yang kali ini cukup berbeda, sebab ada asupan yang seharusnya dinikmati oleh puteranya. Ia berlama-lama disana sambil menyentuhnya tak berkesudahan.


Ia kembali menatap nanar pada Gloria, has ratnya berkejaran melihat sang istri yang telah merona dan pasrah pada kendalinya.


Ia menciumi wanitanya seperti tak pernah puas. Menidurkannya diatas ran jang, sembari tangannya mulai mengelus permukaan kulit Gloria yang halus. Merenggangkan kaki Gloria agar terbuka.


"Biarkan aku masuk," ucapnya parau.


Gloria tidak menjawab, namun menuruti keinginannya, memberinya akses masuk dan merasakan g e l e n y a r yang sudah lama tak ia rasakan, sebab seluruh darah dalam nadinya seperti terpompa deras.


Kegiatan itu berlangsung cukup lama, hingga ia puas melihat dirinya dan Gloria yang sudah sama-sama bermandikan peluh.


"Thanks, My Wife ...." Ia mengecup seluruh sisi wajah Gloria, tanpa ada satupun yang terlewat.


"I love you, My husband ...." lirih Gloria tampak ngos-ngosan, namun wanita itu menyunggingkan senyum penuh kepuasan kendati masih memejamkan matanya.


"Akhirnya aku bisa tidur nyenyak sekarang," gumam Gloria seraya bergelayut manja didadanya, seolah itu adalah tempat ternyaman.


"Hemm, sudah menunaikan kewajibanku hari ini."


Ia tersenyum tipis. "Kita akan mengulanginya lagi, Sayang. Aku ingin membuatmu tak akan bisa melupakan malam ini."


_______


"Bisakah kita menunda honeymoon kita, Sayang? Aku tidak mau meninggalkan Jeff disini," kata Gloria saat mereka menuruni tangga untuk sarapan bersama yang lainnya--di meja makan Mansion.


"Aku juga tidak mau meninggalkan Jeff. Kita bisa berbulan madu saat Jeff sudah lepas Asi," jawab Owen jujur.


"Tapi, Jeff akan lepas Asi saat berusia dua tahun. Apa tidak apa-apa?"


"Dua tahun? Aku pikir dua bulan lagi Jeff akan berhenti meny usu."


Gloria terbahak. "Tidak, Sayang. Dua tahun. Dua!" ucapnya sembari mengacungkan dua jari.

__ADS_1


"Itu terlalu lama," gumamnya lesu.


"Kalau begitu, Jeff harus diajari minum susu formula lagi atau aku juga bisa menyetok Asi didalam kantungan khusus," papar Gloria.


"Apa bisa begitu?"


Gloria mengangguk.


"Kalau begitu, kita honeymoon besok."


Gloria terkekeh. "Lalu, untuk apa pembahasan ini? Aku pikir, tadi aku menyarankan untuk menundanya .... kenapa tiba-tiba jadi ingin segera?"


Ia ikut tertawa. "Karena aku pikir Jeff tidak bisa lepas darimu. Ya sudah, berapa lama kau mau menundanya? Aku akan pasrah dan mengalah...."


Gloria tersenyum mendengar ulasannya itu. Mungkin tak menyangka dengan jawabannya yang terkesan menurut tak seperti biasanya. Sudahlah, ia bukan kalah, namun kebahagiaan istri dan anaknya jauh lebih penting dibandingkan keinginannya sendiri yang menginginkan bersama Gloria sepanjang waktu.


"Minggu depan saja, ya .... biar Jeff mulai terbiasa dengan Karina dan juga saat Ibu dan Ayahku sudah pulang ke Indonesia."


"Minggu depan? Baiklah, aku pasti sabar menunggu hari demi hari itu terlewati ...."


"Cih, seperti menunggu lama saja," cibir Gloria.


"Come on, Honey! Menunggu seminggu itu memang lama bagiku."


"Tapi selama seminggu itupun kita bebas menghabiskan waktu bersama didalam Mansion ini, Sayang." Gloria menatapnya dengan tatapan teduh.


Percakapan itu terhenti kala kedua orangtua Gloria, Hans, Oxela dan Jade mulai bergabung di meja makan.


"Pengantin baru sudah lebih dulu tiba di meja makan daripada kita semua, pasti semalaman tidak tidur, ya?" goda Hans saat mendudukkan diri.


"Iya, kami mau cepat sarapan dan mengisi energi.... setelah ini kami akan kembali melanjutkan pertempuran...." jawabnya meladeni kelakaran Hans.


"Berarti tidak tidur-tidur?" tanya Hans bengong.


"Tidak," jawabnya tersenyum miring. "Yang belum menikah jangan iri hati, ya...." sindirnya. Semua orang yang ada dimeja makan pun tertawa membuat Hans berdecak lidah sebab merasa tersindir.


"Aku pasti akan menikah, nanti kalian semua harus datang ke Indonesia," jawab Hans pede.


"Kalau jodohmu wanita di kota ini, bagaimana?" tanyanya memastikan.

__ADS_1


"I don't know, tapi itu mustahil. Sebab aku tidak punya pekerjaan yang bisa dibanggakan."


******


__ADS_2