
"Kau datang, Owen? Jika kau ingin mengambil Jeff maka jawabannya tetap tidak!" kata Paman Markus saat Owen tiba dikediaman sang Paman.
Owen berdecih keras. Beginilah jika berurusan dengan kepala mafia, tidak ada yang bisa melaporkan kekejaman serta perbuatannya kepada pihak kepolisian. Hidupnya ternaungi dan terlindungi. Walaupun tindakan Paman Markus adalah sebuah tindak penculikan. Satu-satunya yang bisa menghentikan Paman Markus adalah kematiannya sendiri.
Jangan tanyakan kenapa pria tua ini masih terlihat baik-baik saja padahal Owen sempat menghadiahinya dua tembakan kemarin. Jawabannya adalah, karena Paman Markus selalu melindungi diri dengan pakaian anti peluru. Tembakan itu tidak akan membunuhnya, itu sebabnya Paman Markus tidak gentar dengan acungan senjata yang mengarah pada tubuhnya.
Jikapun Owen benar-benar ingin membunuhnya, maka sasarannya adalah kepala pria tua itu. Sayangnya, Owen tidak mau membunuh Paman Markus, ia lebih tertarik menghabisi Sean yang telah memperdayanya seolah ia adalah pria paling bodoh.
"Aku datang kesini untuk kembali mengambil alih semua yang ku miliki," kata Owen tegas.
Paman Markus terkekeh diujung sana. "Kenapa tiba-tiba kau ingin tahta itu? Bukankah kau sudah tak mau berurusan lagi dengan dunia ini?"
"Kau yang menyebabkan ku kembali, Paman."
Paman Markus kembali tertawa sumbang. "Tentu bukan karena aku, pasti kau punya pertimbangan lain. Boleh ku tebak apa yang membuatmu berubah pikiran kali ini?" ucapnya dengan nada menyindir.
"Terserah padamu, apapun yang kau pikirkan adalah jawaban untuk dirimu sendiri." Owen tak mau menjelaskan lebih lanjut tentang kecurigaannya dengan Richard, sebab ia tak mau Paman Markus malah mengetahui tentang seseorang yang tengah Owen waspadai.
"Welcome back, Owen Zwart...." Paman Markus mendekat ke arah Owen sembari merentangkan tangannya lebar. Ia berusaha memeluk Owen dengan hangat, namun Owen menghindarinya. Pria tua itu mengernyit tak mengerti dengan penolakan yang Owen berikan.
"Tidak usah berbasa-basi...." Owen tersenyum miring, ia tak mau dikelabui dengan sikap hangat pria ini.
__ADS_1
"Kau menyebalkan sekali, Owen!"
"Kau harus tahu posisimu saat aku telah kembali menduduki tahta itu, Paman!" kata Owen menekankan kalimatnya.
"Baiklah...." jawab Paman Markus enteng, namun sesaat kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari balik jas mahal yang ia kenakan. Sebilah pisau menikam perut Owen begitu saja tanpa bisa terkendali.
Owen terhenyak, merasakan suatu benda asing menusuk tajam di perutnya. Matanya nyalang menatap Paman Markus, ia seakan ingin mengucapkan sesuatu namun sudah sulit untuk berkata-kata lagi. Tangannya secara refleks memegang bagian perut yang tertikam benda tajam, merasakan rembesan cairan hangat yang ia yakini sebagai darahnya sendiri.
Disaat yang sama Paman Markus mengucapkan kata-katanya.
"Kau pikir akan dengan mudah kembali ke tempatmu, Owen? Tidak mungkin aku membiarkanmu mengambil alih semua ini lagi meski aku sedang mencari orang untuk mewarisinya. Kau tahu kenapa? Karena jika kau kembali berkuasa, aku yakin kau akan membalas segala perbuatanku, juga perbuatan Sean dengan kekuasaanmu."
Brak....
"Ini juga untuk pembalasanku, sebab kau tidak membunuh habis seluruh keturunan Prayuda Dirgantara... kau membiarkan anak-anaknya tetap hidup, bukan? Padahal Yuda sudah membunuh Kakakku yang adalah Ayah kandungmu. Untuk itu, terima lah pembalasanku! Kau selalu lemah karena cinta!"
Pandangan mata Owen sudah gelap, namun ia mendengar rutukan Pamannya itu.
Sesaat kemudian, Paman Markus berkata pada seorang penjaga ruangannya. "Habisi istri dan anaknya, mereka membuat Owen menjadi lemah! Urus dia! Tapi pastikan dia tetap hidup karena setelah ini dia akan menjadi pengikutku tanpa mengingat masa lalunya!" titah Paman Markus.
Disaat itu, Owen menekan panggilan cepat di ponsel yang ada disakunya. Panggilan itu menyambungkan ke nomor Jared yang menunggu diluar ruangan milik Paman Markus. Namun, saat panggilan tersambung, Owen tak bisa mengucapkan sepatah katapun, sebab ia sudah lebih dulu tak sadarkan diri.
__ADS_1
____
Seorang penjaga menarik paksa tubuh Owen ke bagian ruangan lain yang tidak melewati pintu keluar. Jared menerobos masuk kedalam ruangan Paman Markus karena mendapat panggilan darurat dari nomor atasannya, namun disaat ia berhasil masuk dalam ruangan itu, ia tak mendapati Owen disana.
Senyap, namun matanya terbelalak karena melihat cairan merah yang belum sempat dibersihkan ketika ia bisa memasuki ruangan itu.
Perasaan Jared mulai tidak enak. Matanya mencari-cari keberadaan Owen diseluruh penjuru ruangan, begitu pula beberapa penjaga yang ikut bersamanya. Seharusnya tadi mereka semua ikut masuk kedalam ruangan Paman Markus bersama Owen, namun itu tidak mereka lakukan sebab Paman Markus ingin berbicara empat mata dengan keponakannya.
Merasa kali ini akan terjadi diskusi yang baik sebab Owen akan mengambil alih tahta itu, membuat Jared tak begitu khawatir, sehingga membiarkan Owen berada dalam ruangan itu bersama sang Paman. Lagipula, tadi ia tak mendengar suara tembakan.
Tapi, rembesan darah dilantai membuat perasaannya tidak enak.
Seketika itu, ia mulai kalut dan berbalik hendak mencari keberadaan Paman Markus yang juga tak nampak batang hidungnya.
"Kau mencari Owen?"
Sebuah suara sumbang menyapa Jared.
Bukan, itu bukan Paman Markus yang ia cari, melainkan Richard yang berdiri santai sambil bersedekap dada. Menatapnya dengan tatapan mengejek.
"Kau tidak akan pernah menemukannya! Jikapun nanti kau akan menemukan Owen lagi, dia tidak akan pernah mengenalimu lagi!" kekeh Richard membuat Jared meradang seketika.
__ADS_1
Jared tahu, kali ini Owen telah gagal dan berada dalam kekuasaan pamannya sendiri. Adalah kekeliruan besar mereka mempercayai Paman Markus dengan segala tipu muslihatnya.
*******