
Gloria
Waktu dua hari yang diberikan Richard padaku, berlalu begitu saja. Aku tidak terlalu memikirkan penawarannya, meski ancamannya masih membuat hatiku cukup gusar.
Aku memutuskan tidak mengatakan hal ini pada Owen, sebab aku tidak mau mengganggu pikirannya yang sedang jauh di Negara lain. Terlebih, Owen masih beberapa hari lagi berada di UEA.
Di hari pertama Owen pergi, dia sempat memintaku untuk menginap di Apartmen nya yang lain demi menghindari pertemuanku dengan Oxela. Aku tahu sedikit banyak itu menjadi beban pikiran untuknya. Aku memaklumi jika Owen belum mau aku bertemu dengan adiknya, salah satunya pasti karena statusku yang masih istri orang.
Ah, seharusnya aku tetap berada di Apartmen lain itu dan tidak kembali ke Apartmen Owen yang diketahui oleh Richard ini. Setidaknya sampai Owen kembali. Sayangnya, aku malah memutuskan kembali setelah menginap disana hanya satu malam. Dan sekarang aku menyesalinya sebab Richard terus mendatangiku.
Hari ini pasti Richard datang lagi seperti yang sudah-sudah. Demi menghindari pertemuan dengannya dan mendapat ancaman lagi, aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Apartmen.
"Aku ingin berbelanja," ucapku pada Robin dan Meyer.
Mereka mengantarku sampai ke pusat perbelanjaan.
Berbelanja cukup membuat pikiranku sedikit plong dan melupakan ancaman Richard kepadaku. Jujur saja, aku takut dia membuktikan ucapannya untuk menghancurkan Owen. Jadi, untuk saat ini, menghindarinya adalah hal yang paling tepat.
Aku memilih beberapa pakaian untuk ku beli. Owen selalu mengomel jika aku tidak memanfaatkan segala fasilitas yang dia berikan.
"Pakailah semua yang ku berikan padamu. Baik itu barang atau uang. Kau bebas menggunakannya. Selagi aku disisimu, ayo, manfaatkan saja aku!"
Itulah ucapan Owen yang membuatku tidak habis pikir. Ku rasa hanya dia lelaki yang ingin dimanfaatkan wanita. Lebih tepatnya, selama aku mengenal pria, hanya dia yang begitu. Lalu, akulah wanita yang diminta untuk memanfaatkannya? Aneh, sangat aneh. Kenapa lelaki seperti dia bisa nyasar ke kehidupanku?
Aku tersenyum mengingat ke-absurd-an sikap Owen.
Akupun masuk kedalam bilik ganti untuk mencoba beberapa setelan yang sudah ku pilih. Robin dan Meyer tentu tidak ku izinkan mengikutiku sebab ini adalah ranah wanita, benar begitu, kan?
Sayangnya, perhitunganku meleset. Belum sempat aku mengganti dan mencoba pakaian pilihan justru seseorang menyelinap masuk ke dalam bilik ganti.
"Richard?" Aku terkesiap, ingin menjerit, namun Richard memberiku sebuah tatapan mematikan. Aku tercekat dengan perasaan yang sulit diutarakan.
__ADS_1
"Kau mau ku bawa secara paksa atau menyerah padaku?" tanyanya dengan seringaian licik.
Belum sempat aku menjawab, Richard sudah memojokkan ku ke dinding dan satu tangannya membekap ku. Setelah itu, yang aku ingat terakhir kali adalah tubuhku yang limbung seakan melayang. Lalu, semuanya tidak terasa lagi.
_____
Aku tersadar dari tidurku, rasanya aku tertidur begitu lama. Hal terakhir yang ku ingat saat aku sadar adalah pertemuanku dengan Richard disebuah bilik ganti yang ada dipusat perbelanjaan.
Ah, apa aku bermimpi? Mataku mengerjap-ngerjap, mencoba mengenali suasana tempat keberadaanku saat ini. Dan ternyata, aku berada ditempat yang tidak asing. Ya, ternyata pertemuanku dengan Richard bukanlah sebuah mimpi belaka, karena saat ini aku sudah berada dikamar lamaku--tepatnya kamar yang ku tempati setelah resmi menjadi istri Richard--delapan bulan yang lalu.
"Astaga..." Aku membekap wajah bersamaan dengan helaan nafas panjang.
Aku melihat pada diriku sendiri, baju yang terakhir ku kenakan bukan ini. Apa ini ulah Richard? Ya, pasti ini adalah bagian dari rencananya. Dia sengaja mengganti pakaianku demi mengelabui dua ajudan yang menjagaku.
Aku memang bodoh, seharusnya hari ini aku pergi ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Richard.
Tapi, darimana dia tahu aku berada di pusat perbelanjaan? Pasti dia memata-matai dan mengikutiku. Rasanya aku ingin sekali menangis saat ini. Aku tidak rela kembali ke kediaman Richard meski sebenarnya ini adalah tempatku yang seharusnya.
"Kau sudah sadar?"
"Sebentar lagi makan malammu akan tiba, makanlah yang banyak. Isi energimu untuk menghadapi ku malam ini."
Glek.
Aku menelan saliva dengan susah payah.
"Apa maksudmu?" tanyaku meski aku tahu ke arah mana pembicaraan Richard.
"Kau meragukan ku, bukan? Sepertinya aku pernah bilang bahwa aku ingin kau yang membantuku untuk sembuh, maka... biarkan aku melakukannya padamu, agar kita sama-sama tahu bahwa aku sudah kembali normal," ujarnya dengan senyuman tipis.
"Ti-tidak," jawabku tercekat.
__ADS_1
"Apanya yang tidak? Dulu kau memohon untuk ku sentuh, bukan? Jujur saja, aku tertarik padamu, Gloria. Tapi, bodohnya aku... dulu aku lebih mengutamakan kesenanganku yang lain daripada fokus padamu."
"Benar, itu dulu, sekarang tidak lagi. Aku tidak lagi mau memohon untuk kau sentuh." Aku menelan saliva berkali-kali, entah kenapa tenggorokanku terasa kering saat ini, membuatku sulit mengutarakan kata.
"Ya, meskipun begitu... aku tetap ingin kaulah wanita yang akhirnya ku sentuh."
"No! Kau tidak normal, bagaimana bisa kau mau melakukannya!" pungkasku.
"Sepertinya kau lupa jika aku pernah mengatakan bahwa aku hanya terpengaruh pada teman-temanku. Aku tidak sepenuhnya menyimpang. Aku sudah berobat dan sekarang aku ingin membuktikan bahwa aku sudah sembuh. Dulu, aku juga pernah berpacaran dengan seorang gadis, Gloria!"
Aku menggeleng keras. "Tolong jangan jadikan aku bahan percobaanmu! Aku tidak sudi," desisku marah.
"Bagiamanapun kau menolaknya, kau tidak bisa memungkiri jika kau tetaplah istriku, sayang!"
Richard terkekeh sambil berlalu dari kamar yang ku tempati.
Beberapa saat kemudian, pelayan yang mengantar menu makan malamku benar-benar datang. Dia adalah Gabby. Pelayan paling muda yang dulu cukup dekat denganku selama aku menempati kediaman ini.
"Makanlah, Nyonya." Gabby tersenyum ramah sembari menyajikan makanan di meja yang ada disudut kamar.
"Aku tidak berselera," jawabku jujur.
"Aku pikir kita tidak bisa bertemu lagi, Nyonya," kata Gabby dengan akrab.
Aku tersenyum menanggapi ucapan wanita itu.
"Gabby, bisakah kau bantu aku keluar dari Mansion ini?"
Gabby mengernyit sesaat, kemudian menggeleng cepat. "Ak-aku tidak berani, Nyonya," jawabnya.
"Kebahagiaanku bukan disini," gumamku pelan. Aku mengusap wajahku sendiri dengan rasa menyesal akan hal yang telah menimpaku hari ini hingga membuatku berakhir di Mansion Richard, lagi.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencoba membantumu, Nyonya. Biar ini menjadi rahasia diantara kita," ucap Gabby membuatku menatapnya dengan binar harapan yang besar.
*****