
6 Bulan berlalu, Gloria sudah mulai bisa menerima keadaan. Dia lebih banyak diam dan tidak begitu banyak bertanya pada Sean lagi mengenai kapan dia akan keluar dari pulau terpencil ini.
Gloria sudah diperbolehkan Sean untuk keluar dari rumah sebab sikap Gloria sudah tak terlalu membangkang. Dia menjadi wanita yang penurut dan mengiyakan semua yang Sean minta padanya selama itu masih dalam tahap wajar.
"Gloria, apa hari ini kau sibuk?" tanya Sean.
Mereka tidak sepenuhnya tinggal bersama selama kurang lebih 6 bulan ini. Sean sering pulang pergi ke pulau itu, sesekali menginap dan sesekali berikutnya entah kemana. Mungkin Sean pergi untuk memenuhi semua kebutuhan mereka selama di pulau. Tapi, Sean tak meninggalkan Gloria begitu saja sebab dia mempekerjakan beberapa penjaga dan pelayan ditempat itu untuk menemani Gloria.
"Tidak, aku sudah selesai dengan kegiatanku."
Kegiatan yang dimaksud Gloria adalah memasak, mencuci dan membereskan tempat tinggalnya selama di pulau itu, walau ada pelayan tapi Gloria tetap bersikukuh untuk melakukannya juga, sebab merasa tak punya aktivitas lain.
"Apa kau mau ikut denganku? Aku punya sesuatu untukmu."
"Apa?" Gloria mengadah pada Sean.
Sean tersenyum tipis. "Selama ini aku berpikir tentang kegiatan apa yang kau sukai, agar kau mempunyai aktivitas menyenangkan selama disini," terang Sean.
Gloria bangkit dari duduknya, merasa tertarik dengan ujaran Sean. Ia menatap Sean dengan binar dan harapan baru yang telah lama terkubur sejak harapannya akan bertemu Jeff dan Owen pupus.
"Ikutlah denganku," kata Sean sembari menarik pergelangan tangan Gloria.
Sean membawa Gloria ke sebuah ruangan yang ada didalam rumah itu. Selama ini yang Gloria tahu ruangan itu adalah gudang tempat meletakkan barang-barang yang tidak digunakan.
"Bukalah," ujar Sean sembari menunjuk pintu ruang dengan dagunya.
Gloria mengangguk, kemudian membuka pintu ruangan itu. Dia terkejut mendapati sebuah gudang yang sudah dirubah menjadi studio pembuatan tembikar. Entah kapan Sean membeli semua tanah liat serta alat-alat pembuatan tembikar itu. Entah kapan pula tempat itu dibersihkan oleh Sean, Gloria tak pernah menyadarinya.
"Sean .... Apa ini?" Gloria terkesima. Untuk pertama kalinya ia merasakan kesenangan kembali meliputi diri.
"Aku mendengar jika dulunya kau senang membuat tembikar, jadi aku berinisiatif memberimu kegiatan baru dengan adanya studio ini. Ah, maksudku bukan studio.... lebih tepatnya hanya ruang sederhana." Sean menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil menyengir di hadapan Gloria.
"Darimana kau tahu semua itu?" Gloria tak menyangka Sean mengetahui hobi lamanya.
"Maaf, aku tidak sengaja mendengar obrolanmu dengan Esther, tempo hari."
Gloria pun mengingat saat dimana dia bercerita pada Esther tentang hobinya dimasa lalu. Esther adalah pelayan yang bekerja dirumah itu. Tak jarang Gloria bercakap-cakap dengan wanita paruh baya itu untuk menghilangkan kejenuhan.
"Terima kasih, Sean." Gloria tersenyum pada Sean. Untuk pertama kalinya Sean melihat senyuman wanita itu tersungging dengan tulus sejak membawanya lari dari kota.
Sean mengangguk. "Kau bisa mulai melakukan kegiatan barumu sejak saat ini. Ku harap ini bisa membuat semangatmu kembali bangkit."
"Terima kasih, kau mau peduli padaku. Maaf jika diawal dulu aku selalu curiga padamu. Aku.... belum bisa menerima keadaan." Gloria tertunduk.
"Kalau sekarang? Apa kau sudah menerima keadaan?" selidik Sean.
"Entahlah," jawab Gloria memaksakan tersenyum tipis.
Sean mengacak rambut Gloria sekilas. Entah kenapa kebersamaan mereka selama ini membuatnya merasa lebih dekat dan tak enggan melakukan hal itu terhadap Gloria.
__ADS_1
Gloria menghindari tangan Sean dengan sikap kikuk.
"Maaf," kata Sean akhirnya. "Tapi.... apabila suatu saat kau mengetahui fakta bahwa anak dan suamimu telah tiada, apa kau bisa ikhlas dengan hal itu?"
Gloria hanya menatap Sean dan memilih tidak menjawab pertanyaan itu.
"Ku harap kau bisa menerima keadaan, Gloria...." Sean berbalik arah dan meninggalkan Gloria didepan ruangan barunya.
_____
Sean senang melihat Gloria kini lebih antusias dan bersemangat setelah memiliki ruangan baru untuk pembuatan tembikar. Setiap Sean kembali ke rumah yang ada di pulau itu, ia menyempatkan diri untuk mengintip kegiatan Gloria didalam ruangan itu.
"Sean...."
Rupanya Gloria tak sengaja melihat siluet tubuh Sean yang berdiri didepan pintu. Mau tak mau Sean membuka lebar pintu itu dan memasuki ruangan padahal ia tak mau mengganggu kegiatan serius yang tengah dilakukan Gloria.
"Kau sibuk sekali," kata Sean melihat Gloria sedang membentuk sebuah tembikar yang sepertinya akan dibuat menjadi vas bunga.
"Iya, aku sedang menyelesaikan yang satu ini." Gloria tersenyum, membuat Sean ikut menarik sudut bibirnya karena hal itu.
Gloria terlihat kesulitan karena helaian rambutnya sendiri yang meriap-riap jatuh, ingin mengikat rambut namun sulit sebab kedua tangannya sudah kotor akibat tanah liat.
"Biar aku bantu," kata Sean sigap dan mengambil posisi dibelakang tubuh Gloria. "Mana ikat rambutmu?" tanyanya kemudian.
"Itu! Maaf merepotkanmu," kata Gloria menunjuk ikat rambutnya disisi meja. "Apa kau bisa melakukannya?" Gloria ragu dengan kemampuan Sean mengikat rambut wanita.
"Apa kau bisa?" tanya Gloria menyadarkan Sean dari pemikiran gilanya.
"Bi--bisa!" jawab Sean agak tercekat. Dengan cepat ia pun mengikat untaian rambut panjang milik Gloria.
"Sudah," kata Sean akhirnya.
"Terima kasih," jawab Gloria.
Sean beringsut menjauh, menjaga jarak karena takut berada dalam jarak dekat seperti itu lagi dengan Gloria.
"Apa kau mau mencoba membuat tembikar?" tawar Gloria pada Sean.
"A--aku?"
"Iya, siapa lagi! Aku menawarimu!"
Sean terkekeh. "Aku tidak bisa."
"Mencoba tidak ada salahnya. Kegiatan ini cukup menyenangkan!" kata Gloria.
"Baiklah, kau yang memaksaku ya!" Sean tertawa lagi.
Kali ini Gloria ikut tertawa. "Aku tidak memaksamu, aku hanya menawarinya saja, sini!" Gloria meminta Sean kembali mendekat kepadanya sebab ia akan mengajarkan cara membuat tembikar pada pria itu.
__ADS_1
Mau tak mau Sean kembali mendekat pada Gloria padahal tadi dia sendiri yang menjaga jarak, tapi mana mungkin dia mengatakan tentang pemikirannya pada Gloria.
"Jadi nanti gerakan tanganmu harus sesuai dengan perputaran alat pembuatannya ini," kata Gloria mencoba menjelaskan singkat pada Sean.
Sean hanya mengangguk. Entah sejak kapan pandangannya terhadap Gloria jadi berubah. Jika dulu dia memang berniat ingin menolong Gloria, sekarang keinginan itu semakin besar namun disertai rasa lain yang entahlah. Muncul tanpa ia sadari.
Gloria terus saja menjelaskan pada Sean sementara Sean memperhatikan wajah Gloria tanpa berkedip dan tanpa tahu apa yang tengah Gloria terangkan padanya.
"Sean... sekarang kau mengerti, kan?" tanya Gloria memastikan.
"Ah, i-iya...."
"Coba sekarang kau mulai membuatnya."
Beberapa kali Sean mencoba membentuk tembikar, tapi selalu gagal. Semua kegiatan itu terganti menjadi Senda gurau keduanya yang akhirnya malah mengotori wajah masing-masing dengan tanah liat.
"Kau kotor sekali, Sean!" Gloria terkikik melihat wajah Sean yang penuh tanah liat akibat ulahnya.
"Ini semua karenamu!" Sean berkata sembari memberikan secuil tanah liat diatas hidung mancung Gloria.
Gloria memberengut dan Sean malah terkekeh. "Kau seperti Pinokio sekarang!" katanya.
Gloria jadi ikut tertawa.
______
"Sean, kau mau kemana?" Gloria bertanya pada Sean yang terlihat menggunakan jaket tebal. Sepertinya pria itu akan segera berangkat lagi.
"Kebutuhan kita sudah mau habis, aku harus berbelanja ke kota. Di pulau ini tidak ada pasar atau sejenisnya."
Gloria mengangguk. "Apa aku boleh ikut?" tanyanya memberanikan diri.
Sean menggeleng dan Gloria tertunduk sedih.
"Jangan sedih begitu, aku melakukan ini untuk melindungimu. Aku takut orang-orang ayahku masih mencarimu diluaran sana!"
"Aku ingin sekali melihat suasana luar, sudah cukup lama aku terkurung di pulau ini."
Sean merasa kasihan pada Gloria, ucapan Gloria benar adanya. Telah lama Gloria berada dan terasing dipulau ini. Tapi, mengajak Gloria ke kota bukan hal yang baik, terlebih jika sampai membuat kesalahan yang justru akan membahayakan nyawa Gloria.
Sean menarik nafas panjang, ia tak mau Gloria bersedih, ia lebih senang melihat Gloria yang belakangan hari sudah bisa tertawa dan menjadi dirinya sendiri seperti dulu.
"Baiklah, kau boleh ikut denganku tapi lakukanlah penyamaran. Setelah semua kebutuhan kita terpenuhi, kita akan kembali ke pulau ini sesegera mungkin. Bagaimana?" putus Sean.
"Benarkah? Kau mengizinkanku untuk ikut denganmu?"
Sean mengangguk. Gloria menjerit senang, dengan refleks memeluk Sean dengan euforia kegirangan.
******
__ADS_1