Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Jared-Lily /7


__ADS_3

Pertemuan tak terduga dengan Rose hari ini membuat mood Jared berantakan, ia tidak konsen bekerja dan berakhir dengan keheranan Owen, pasalnya Jared tak pernah seperti ini. Biasanya pria itu pandai memilah dan tidak mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan.


Bahkan Owen jarang sekali melihat asistennya itu sakit. Entahlah ada apa hari ini dengan Jared.


"Kau sakit? Jika ya, pulanglah!" kata Owen datar. Syukurlah mood atasan Jared itu sedang baik sejak pulang dari rumah sakit, kabarnya Gloria sedang berbadan dua. Itulah mengapa Gloria kurang enak badan dan pagi-pagi tadi keduanya memeriksakan keadaan wanita itu ke dokter.


Jika biasanya Jared akan menyanggah atau memberi jawaban pada Owen, tapi kali ini tidak. Jared menurut saja untuk pulang. Dia ingin memanfaatkan waktu kosong yang diberikan Owen padanya, mumpung Owen juga sedang dalam mood yang baik sekarang.


Selain pertemuan dengan Rose yang berujung membuat Jared tak enak hati, ia juga masih memikirkan tentang Lily. Kemana gadis itu? Apa benar membawa Ibunya berobat sehingga tidak bekerja, bahkan tidak ada dikediamannya?


Jared sendiri merasa hanya peduli pada Dientin, bukan pada Lily. Atau justru dia yang tak mau mengaku pada diri sendiri bahwa telah perhatian pada gadis itu? Entahlah.


Dengan berbagai pengalamannya melacak keberadaan orang lain, kali ini Jared memanfaatkan itu untuk mencari keberadaan Lily dan ibunya.


Kesempatan libur dadakan yang diberikan Owen padanya hari ini, tidak boleh ia sia-siakan. Apa yang ingin ia cari, harus ditemukannya dan .... dapat.


Jared menemukan keberadaan Lily.


"Benar saja dia di Rumah Sakit!" ujarnya setelah mengecek hampir seluruh CCTV rumah sakit kota melalui sistem hacker.


Pengalaman mengajarkannya untuk mencapai apapun yang ingin ia ketahui dan itu tidak terlalu sulit dengan semua akses yang ia miliki sejak menjadi tangan kanan seorang Owen Zwart.


_______


"Lily?"


Lily tertegun untuk beberapa saat ketika melihat Jared datang ke Rumah Sakit. Ia tak menyangka pria itu tahu ia ada disini. Lily juga tak mengira jika Jared mencari keberadaannya seperti ini.


"Jared? K-kau sedang apa disini?" Mendadak Lily merasa gugup. Pria ini selalu saja bisa membuat jantungnya tidak karuan, meski hanya berdiri dihadapannya dengan tanpa memasang ekspresi apapun. Datar.


"Tentu saja mencarimu," jawab Jared sekenanya. Ia mengulurkan sebuah paperbag ke hadapan Lily.


Jadi, benar jika dia mencariku? Lily membatin.


"Apa ini?" Lily mengintip sedikit isi paperbag itu.


"Makanlah...."


Kembali, Lily tertegun, sejak kapan Jared sepeduli ini padanya. Apakah sekarang ia boleh merasa tersanjung? Atau justru merasa bahagia? Tidak salah bukan jika selama ini ia mengagumi sosok Jared, dan perasaan kagum serta menyukai itu timbul lagi seiring pertemuan kembali diantara mereka.

__ADS_1


"Tidak usah repot." Lily salah tingkah, ia menyelipkan helaian rambut ke belakang telinganya sendiri.


"Jangan berpikiran aneh! Perkiraanku kau belum makan dari pagi, karena sejak pagi-pagi sekali rumahmu sudah kosong dan kau tidak datang ke daycare!"


Hah, harapan Lily yang merasa diperhatikan oleh Jared hancur sudah mendengar kalimat pria itu. Tapi, tetap saja ini namanya Jared peduli padanya. Dan lagi, apa katanya tadi? Pagi-pagi sekali rumah sudah kosong? Itu artinya....


"Apa kau kerumah?"


"Hmmm..."


"Pagi tadi? Jam berapa?" Lily mengingat jika pagi tadi Rose juga kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang sang ibu agar dibawa ke rumah sakit. Subuh tadi ia terlalu terburu-buru membawa sang ibu ke Rumah Sakit hingga melupakan beberapa perlengkapan.


Apa Jared sempat bertemu Rose? begitulah batin Lily menerka-nerka.


"Sekitar jam 7 sehabis mengantarkan Jeff ke daycare!" Lalu Jared seakan teringat sesuatu. Ia mengeluarkan itu dari saku dalam jas-nya.


"Ini...." pria itu mengulurkan tiga batang cokelat. Dan itu adalah kesukaan Lily.


Lily menatap itu dengan mata berbinar. Pasalnya ia tak menyangka Jared bisa sangat baik, memberinya makanan dan juga cokelat kesukaannya.


"Jangan GR! Ini titipan Jeff, karena kau tidak datang ke daycare jadi dia memintaku untuk mengantarkan ini kepadamu."


"Oh...." Lagi, Lily hanya bisa mengangguk. Jadi, karena mau mengantar cokelat ini membuat Jared mengunjungi kediamannya pagi-pagi sekali. Dan mungkin karena ini pula Jared jadi repot menemuinya di Rumah Sakit.


"Subuh tadi ibu pingsan. Aku dan Rose membawanya kesini dengan segera."


Mendengar nama Rose disebut, lagi-lagi membuat Jared mengingat momen pertemuan tak sengajanya dengan wanita itu pagi tadi.


"Lalu?"


"Ibu harus menjalani perawatan intensif, sekarang ibu sedang ditangani." Suara Lily terdengar bergetar.


Jared mendekat dan memegang pundak Lily, mengajaknya untuk duduk di sebuah kursi yang berbaris rapi di sisi dinding Rumah Sakit itu.


"Tenanglah, semua akan terlewati."


"Maaf, tapi apa kau jadi mau membantuku soal biaya pengobatan ibu? Maaf jika aku menanyakan soal ini?"


"Tentu saja, aku tidak bermain-main soal itu. Jadi, jangan memikirkan perihal biayanya lagi." Jared mengulurkan tangan, hendak menyentuh bahu Lily yang tampak berguncang karena pembahasan tentang ibunya mungkin membuatnya jadi sen sitif. Namun, Jared menarik kembali tangannya, urung melakukan hal itu.

__ADS_1


"Apa tadi pagi kau bertemu kakakku?"


"Hmmm..."


"Dia bilang apa?" Lily menoleh dan mengadah menatap Jared.


"Tidak ada, tidak ada pembahasan apapun diantara kami." Jared tak mau mengatakan pada Lily bahwa ia sempat panas mendengar perkataan Rose yang mengatakan bahwa ia hendak pamer.


"Maaf," kata Lily tertunduk.


"Maaf kenapa?"


"Maaf aku membohongimu. Kakakku sebenarnya tidak ikut suaminya, dia sudah bercerai sekitar satu tahun yang lalu."


Lily kembali menoleh, ingin melihat bagaimana reaksi Jared saat tahu kakaknya sudah sendiri sekarang. Apakah Jared masih berharap? Mungkin Lily bisa melihat jawaban itu dari mata sang pria.


Mendengar itu Jared hanya diam, tidak memberi pernyataan, tapi matanya dan mata Lily saling beradu pandang, membentuk sebuah garis lurus yang entah kenapa membuat darah Lily berdesir.


Sementara disisi Jared sendiri, dia melihat bahwa Lily memiliki rasa yang dalam untuk dirinya. Entah memang intuisinya yang terlalu tinggi. Atau karena instingnya yang tak pernah meleset, tapi ia memang sudah mengunci jawabannya sendiri didalam hati. Jawaban yang ia dapat dari sorot mata gadis itu saat menatapnya. Sangat jelas jika Lily.... memiliki rasa itu padanya dan entah kenapa Jared merasa seperti diawang-awang saat menyadari hal itu.


"Bagaimana tanggapanmu?"


"Hah? Kenapa?" Jared salah tingkah saat suara Lily kembali menanyakannya, mungkin tadi dia terlalu larut kedalam binar bening kecoklatan milik gadis itu.


Lily tersenyum tipis. "Soal kakakku...."


Jared tertawa pelan. "Untuk apa mengomentarinya? Aku tidak peduli."


"Boleh aku bertanya satu hal?"


"Tanyakan!"


"Apa kau masih memiliki rasa padanya?"


"Oh come on! Ada apa dengan pertanyaanmu ini!"


"Aku cuma ingin memastikan. Jawablah dengan jujur."


Jared membuang pandangan, entah kenapa dia tak menyukai jika Lily membahas mengenai Rose, meski Rose adalah mantan kekasihnya dan wanita itu juga kakak dari Lily, tapi tetap saja ia merasa aneh membahas wanita lain bersama Lily.

__ADS_1


"Tidak ada. Sudah ku katakan bahwa tidak akan ada tempat lagi dihatiku untuk seorang penghianat." Jared tersenyum miring setelah kalimatnya tercetus.


******


__ADS_2