Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Tiba


__ADS_3

Athena, Yunani.


Bagaimana Gloria bisa mengutarakan isi hatinya saat ini? Jika ada kata diatas takjub dan bahagia, maka kata itu sudah terucap dari bibirnya berulang kali saat ia dan Owen tiba di Athena, Yunani-- untuk momen bulan madu mereka.


Perjalanan mereka dimulai dengan mengunjungi Acropolis Athena, yang terkenal.



Pemandangan indah Acropolis serta kuil-kuil yang mengelilinginya di atas bukit dapat dilihat dari kejauhan, pemandangan ini tidak akan bisa Gloria lupakan seumur hidup.


Keindahan pemandangan seluruh penjuru Athena juga bisa ia nikmati saat ia berada di puncak Acropolis. Pemandangan itu seakan memiliki magis tersendiri.


Tak lupa, mereka juga mendatangi Kuil Apollo legendaris di Delphi.


Usai dari sana, mereka mengunjungi pulau Mykonos.



Kincir Angin Mykonos adalah pemandangan pertama yang terlihat sebelum mereka masuk ke pelabuhan. Deretan tujuh kincir angin putih yang dipasang di jubah kecil, kemungkinan besar telah dibangun oleh Venesia sejak abad ke-16 dan berorientasi ke utara untuk menangkap angin yang ada. Pemandangan itu sangat kontras dengan birunya laut dan langit yang begitu cerah hari ini.


"Apa kau suka tempat ini?" Owen merangkulnya mesra sembari menatapnya dengan pancaran kebahagiaan yang sama.


"Sangat ...." jawabnya jujur. "Thanks, Owen. Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki ditempat ini jika bukan karena mu," lanjutnya terus-terang.


Owen terkekeh pelan. "Kalau begitu, aku ingin ucapan terima kasih yang berbeda," ujarnya dengan senyum penuh arti.


"Baiklah, apapun untukmu."


"Are you sure?"


Gloria mengangguk pasrah. Owen mulai memikirkan sesuatu dikepalanya.


"Bayar hutangmu di salah satu pantai, nanti," desisnya ditelinga Gloria tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"What?" Gloria terkesiap kaget, bagaimana bisa pria ini meminta hal pribadi dilakukan di pantai yang terbuka. Kadang fantasi liar suaminya memang sulit untuk ia tebak.


Owen hanya tersenyum miring, menanggapi reaksi Gloria yang kaget mendengar penuturannya.


"Bersiaplah," kata Owen lagi, seolah mewanti-wanti tindakan yang akan dia lakukan nanti pada sang istri.


Gloria bergidik sekilas, membayangkan Owen benar-benar menuntutnya untuk mewujudkan fantasi pria itu. Tidak, meski ini momen bulan madu, tapi ia masih punya rasa malu untuk melakukan hubungan di tempat yang terbuka, bahkan adalah tempat umum. Membayangkannya saja membuatnya kembali bergidik ngeri.


"Jared, Karina... bawalah Jeff ke resort lebih dulu! Kami akan kembali berkeliling," titah Owen sembari menarik lengan Gloria dengan sekali tarikan yang membuat tubuh wanita itu langsung mengikuti pergerakannya.


_



Owen dan Gloria menyusuri lorong-lorong kecil dan melintasinya, mereka saling bergandengan tangan disepanjang jalan Matogianni.


Arsitektur bergaya Cycladic mengingatkan pada peradaban kuno. Rumah-rumah yang sebagian masih dihuni tersebut kian cantik karena banyak yang dihiasi dengan bunga bougenvil warna-warni.


Di siang hari seperti saat ini, ada begitu banyak tempat bersantai disana. Ada pula toko souvenir dan butik. Namun, Owen tidak mengajak istrinya ke semua tempat itu, pilihannya jatuh pada sebuah toko perhiasan dan mengajak Gloria untuk mengunjunginya. Beberapa brand internasional seperti Sephora dan Lacoste terdapat disana.


"Aku... tidak butuh perhiasan," kata Gloria menolak. Owen sudah bisa menduga hal ini, istrinya sangat tak suka berpoya-poya.


"Dengar, aku punya banyak uang. Sekarang aku punya istri yang harus bisa membantuku menghabiskan uangku, jika kau tidak mau maka ...." Owen tidak melanjutkan kalimat karena Gloria segera memilih beberapa perhiasan pilihannya secara random.


Sebenarnya Gloria kesal jika Owen mencoba memaksanya seperti ini, namun ia tidak bisa berkutik jika suaminya sudah mulai memberinya peringatan yang mungkin akan ia sesali.


Baiklah, menurut saja, habiskan uang suamimu! Jika bukan kau, siapa lagi yang akan membantunya dalam hal ini?


Menjelang malam, mereka kembali ke Resort tempat mereka menginap.


"Besok kita kemana?" tanya Gloria mulai melepas sepatunya ketika tiba dikamar mereka.


"Besok aku ingin mengajakmu menyaksikan terbitnya fajar Meteora, kita bisa menikmatinya dari atas bukit atau jika perlu kita akan menyaksikannya menggunakan balon udara. Akan ada banyak agen perjalanan yang menawarkannya di sana."

__ADS_1


"Itu terdengar bagus...." Gloria terkekeh senang. Ia beringsut ingin menuju kamar mandi namun secepat kilat Owen menarik lengan wanita itu.


”Mau coba-coba kabur, heh?" Owen menatapnya lekat.


Gloria menyengir, niatnya sudah terbaca ternyata. "Aku ingin mandi, bisakah kau memberiku waktu?" kilahnya.


"Aku sudah memberimu waktu 4 hari sebelum kita tiba disini.... jadi, jangan menghindariku lagi," kata Owen penuh intimidasi. Ya, dia tahu istrinya ini sangat senang jika ia memohon, namun kali ini ia tidak mau melakukan hal itu.


Sesuai permintaannya pada Gloria tempo hari, bahwa kali ini ia ingin Gloria lah yang lebih aktif--disaat mereka mulai berbulan madu. Bahkan jika bisa, Gloria yang memohon kepadanya. Tidak bisa dipungkiri, mereka saling membutuhkan, hanya saja Gloria lebih sering menutupinya. CK! Menyebalkan juga istrinya ini, tapi ia tetap mencintainya, mau bagaimana lagi?


"Kita sudah pergi ke banyak tempat hari ini, beri aku waktu untuk mandi...."


"Baiklah, berapa lama?"


"Dua puluh menit," kata Gloria menggigit bibir.


"Sepuluh menit!"


"Lima belas menit," tawar Gloria.


Owen mengembuskan nafas berat. "Dua belas menit, jika lebih lama lagi aku tidak segan-segan untuk menyusulmu dan masuk ke kamar mandi!"


Gloria melepas tangannya dari genggaman Owen. "Baiklah, aku mandi dua belas menit. Setelah itu kau juga harus mandi...." katanya sembari menjepit hidung dengan dua jari seolah mengolok aroma tubuh Owen. "Aku ingin menciumimu saat kau sudah harum," katanya lagi.


Owen tergelak. "Kalau begitu, mandi bersama saja. Menghemat waktu dan kau bebas menciumiku," jawabnya enteng. Ia justru merasa lucu dengan olokan Gloria yang ia yakini hanya bercandaan saja, istrinya tidak seagresif itu untuk menciuminya. Hah, kita lihat saja nanti!


"Tidak!" tolak Gloria tegas, kemudian seolah tak mau mendengar jawaban dari Owen lagi, wanita itu segera menghambur lari ke dalam kamar mandi.


"Astaga.... aku sudah bersama dengannya cukup lama, tapi kenapa momen seperti Ini selalu mendebarkan," gumam Gloria disebalik pintu kamar mandi yang sudah tertutup.


Gloria segera mandi, membersihkan tubuh yang terasa lengket dengan gerakan cepat, ia tak mau terlambat, selain tak mau mengecewakan suaminya, harus ia akui jika ia juga merindukan sentuhan pria itu. Berlagak menjaga diri dari sentuhan Owen beberapa hari, cukup membuatnya tersiksa juga.


"Baiklah, kali ini aku akan melayanimu, Tuan." Gloria terkikik saat ia justru berdialog dengan dirinya sendiri di kamar mandi.

__ADS_1


*******


__ADS_2