
Hans kembali saat Gloria dan Owen masih berpelukan dan enggan melepaskan satu sama lain.
"Kau tidak bekerja, Gloria?" pekik Hans dari luar kamar.
Gloria terkesiap dan segera melepas tautan tubuhnya yang berada dalam dekapan Owen. Ia beringsut dan menjauh. Ia keluar kamar, lalu menemui sang kakak yang tampak menyunggingkan senyum culas.
"Kau sengaja pulang telat biar aku tidak bekerja, kan?" cerocos Gloria.
Hans mengangkat bahu cuek. "Bukannya kau senang aku lama kembali, jadi kau bisa lebih lama dengan ayahnya Jeff," sindir Hans.
Owen ikut keluar dari kamar, kemudian menimpali ucapan Hans.
"Harusnya kau pulang lebih siang, kami bahkan belum memulainya."
Hans tertawa pelan. "Memulai apa? Nikahi dulu dia! Kau pikir aku setuju jika kalian tidak terikat status seperti ini?" ledeknya.
Owen ikut tertawa. "Semua itu akan terjadi dalam waktu singkat, bila perlu sebelum kau pulang ke Indonesia," jawabnya tenang.
Gloria yang sedang minum terbatuk-batuk mendengar ucapan Owen. Apa maksudnya? Apa Owen akan menikahinya dalam waktu dekat?
"Minumlah pelan-pelan," Owen mendekat pada Gloria dan menarik secarik tisu dari atas meja lalu memberikannya pada Gloria.
"Thanks..." ucap wanita itu lirih.
"Aku akan menikahinya karena aku tidak mau dia meninggalkanku lagi, jadi... kau tenanglah," kata Owen kini menatap Hans.
"Kalau itu, aku setuju." Hans tersenyum hangat lalu menyodorkan tangan agar Owen menjabatnya.
"Deal," kata Owen menyambut tangan Hans.
"Ini yang namanya sepakat!" kelakar Hans sambil menggoyangkan tangannya dan tangan Owen yang masih saling menjabat.
______
"Kau yakin akan menikahiku, Owen?" Gloria menatap Owen yang berjalan pelan disampingnya. Kini mereka berdua menyusuri pinggiran pantai sambil bergandengan tangan.
"Ya, tapi aku belum membeli cincin pernikahan kita. Beri aku waktu beberapa hari untuk mengurus semuanya."
Glek.
Gloria merasa tercekat. Apa? Beberapa hari?
"Mak-maksudnya kau akan menikahiku dalam beberapa hari ini? Kau yakin?"
Owen menghentikan langkah, memegang kedua pundak Gloria lalu menatap lekat pada netra sang wanita.
"Kenapa? Kau ingin sekarang juga?" tanyanya sambil menampilkan senyum menggoda.
Gloria mencebik. "Kau ini!" katanya malas. Kemudian dia menghindar dari Owen, semakin mendekat ke bibir pantai agar bisa membasahi kakinya. Ia melipat tangan diatas perut, memandangi panorama yang membentang indah didepan sana.
Owen mendekati Gloria lagi, merangkulnya, lalu menyandarkan kepala Gloria diantara pundak dan dadanya. Gloria pasrah tanpa penolakan.
Mereka sama-sama menatap laut yang ada didepan, tampak airnya yang beriak pelan, dengan desau angin yang mengerjap lembut.
"Aku membuat kesalahan," ucap Owen tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa?" tanya Gloria masih nyaman diposisinya.
"Saat kau datang malam itu untuk mengambil berkas mu di Apartmenku."
"Oh, malam itu... aku juga membuat kesalahan, aku tidak bisa menolakmu," jawab Gloria mengaku.
"Aku memang tidak menerima penolakanmu," bisik Owen ditelinga Gloria.
"Lalu, apa yang membuatmu merasa bersalah?"
"Malam itu aku mabuk, yang aku ingat waktu itu adalah kau. Kita ber cinta, itu memang kita berdua. Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Gloria mulai heran.
"Karena kekeliruanku, aku hampir menikahi wanita lain..."
Owen tak mau menutupi apapun pada Gloria, sebab mereka akan menikah sebentar lagi. Dia tak mau jika nanti Gloria bertemu Celine lalu Gloria akan salah paham dengannya.
Gloria menarik diri, lalu melepas rangkulan tangan Owen. Kemudian menatap Owen dengan tatapan aneh. "Apa maksudmu... hampir menikahi wanita lain?" tanyanya.
"Sejak kejadian malam itu, hatiku meyakini itu adalah kau... tapi logikaku mengatakan tidak mungkin kau kembali ke Apartmen itu, karena ku rasa kau tidak punya kepentingan untuk kembali kesana."
"....aku menanyakannya pada teman wanitaku yang tinggal di gedung yang sama. Bodohnya aku, aku terperdaya padanya. Dia mengatakan bahwa yang datang malam itu adalah dia."
"Apa?"
"Kau ingat? Aku mabuk malam itu, jadi ku pikir Celine benar, aku telah menyakitinya... jadi aku mengajaknya menikah sebagai bentuk tanggung jawab."
"Jadi, bagaimana sekarang hubungan kalian? Dan kenapa kau jadi tahu bahwa yang datang malam itu benar-benar aku?"
"Aku melihat CCTV, itu baru ku lakukan setelah menjumpai paspormu yang tak sengaja tertinggal. Aku baru menemukan bukti setelah apartmen itu terjual. Setelah itu, aku langsung membatalkan rencana pernikahanku bersama Celine."
"Aku tahu, aku terlalu bodoh. Harusnya itu ku temukan lebih cepat, agar aku tidak membuang-buang waktu bersama Celine... aku juga tidak tahu jika kau mengandung, aku baru tahu saat bertemu Richard."
Gloria terdiam, fakta ini sungguh membuatnya terkejut. Dia tidak menyalahkan Owen atas kekeliruannya, sebab ia ingat bahwa malam itu Owen memang mabuk. Ia meladeni Owen sampai kehabisan energi, kemudian terburu-buru pergi membawa berkas, sampai tanpa sadar paspornya pun jadi tertinggal disana.
"Kau tidak salah, aku yang salah." Gloria memeluk tubuh tegap Owen.
"Kenapa kau menyalahkan dirimu, hmm?"
"Harusnya aku meninggalkan pesan untukmu, agar kau tidak salah menduga siapa wanita yang menghabiskan malam denganmu."
"Kau benar, kenapa kau tidak melakukannya? Apa kau terlalu terburu-buru atau.... terlalu kelelahan?" tanya Owen tersenyum tipis.
"Ya, dua-duanya."
Owen terkekeh. "Apa kau mau ku buat kelelahan lagi? Atau kau mau membalas ku, dengan membuatku kelelahan?" godanya.
Gloria hanya mengulumm senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya akibat ucapan pria itu.
Ponsel Owen berdering, rupanya Jared yang meneleponnya.
"Ada apa, Jared?"
"Tuan, kita akan kembali siang ini."
__ADS_1
"Tidak, aku masih ada urusan dengan kekasihku," ucap Owen sembari mengerlingkan sebelah matanya pada Gloria yang terkekeh.
"Apa saya juga tetap disini?"
"Tidak, kau kembalilah siang nanti. Ku rasa malam tadi kau sudah cukup puas bersenang-senang di pulau ini..." sindir Owen.
Jared tertawa pelan diseberang sana. "Baik, Tuan. Apa anda juga bersenang-senang?" goda Jared.
"Belum, tapi aku sudah menemukan yang aku cari."
"Baiklah, semoga Tuan segera bersenang-senang kembali."
Owen menutup panggilan sebelah pihak. Kemudian menatap Gloria lagi.
"Bagaimana kalau siang ini kau ikut ke Resort..."
"Untuk apa?" tanya Gloria.
"Aku akan mengemasi barang-barangku, lalu kita akan kembali ke kota, besok."
"Tapi pekerjaanku?"
Owen berdecak lidah. "Kau masih mau bekerja? Bukankah kita akan menikah?"
"Baiklah, aku akan memberitahu atasanku lebih dulu..."
"Aku temani."
Setelah itu, Owen benar-benar merealisasikan ucapannya untuk menemani Gloria mengundurkan diri dari pekerjaannya. Yang pertama mereka ke toko souvenir.
Awalnya pemilik toko itu berat melepas kepergian Gloria, namun Owen malah memborong semua yang dijual disana sebagai tanda terakhir kalinya Gloria ada ditempat itu.
Meski Gloria melarang kelakuan Owen itu, namun pria itu tak mau menurut. Sang pemilik toko souvenir itu juga girang karena semua isi tokonya langsung habis padahal belum setengah hari toko dibuka.
Semua barang-barang yang dibeli Owen, dimintanya untuk diantarkan ke Resort tempatnya menginap. Jadi, dia tak perlu repot membawa barang sebanyak itu.
"Mau kau apakan barang-barang itu, Owen? Itu banyak sekali?" omel Gloria.
"Tak apa, yang penting dia merelakan mu berhenti bekerja.”
Gloria hanya berdecak lidah mendengar jawaban Owen itu.
"Kita jemput Jeff dan Hans dulu, biar mereka ikut ke Resort dan menginap disana juga. Jadi, besok kita langsung pulang ke kota."
"Baiklah," jawab Gloria tersenyum.
Owen mengacak rambut Gloria singkat, kemudian mengecup dahinya dengan penuh kasih sayang.
"Nanti setelah di resort baru kita menemui atasanmu yang ada di Bar."
"Iya, tapi jangan membeli semua yang mereka jual juga, ya. Aku tahu kau kaya, tapi ku mohon jangan," kata Gloria memelas.
Owen pun terkikik melihat wajah sang wanita. "Iya, mana mungkin aku beli semua yang mereka jual. Nanti dimana mau ku letakkan para wanita wanita itu."
"Wanita?" tanya Gloria heran.
__ADS_1
"Iya, mereka kan juga menjual wanita disana." Owen terkikik geli, sementara Gloria baru memahami maksud ucapan Owen.
******/