Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Meyakini dirimu


__ADS_3

Dua puluh satu plus!


Belum cukup umur harap skip part ini!


________


Gloria sangat berharap pria ini mau menerima penawarannya. Tapi, ternyata sedetik kemudian pria itu menggeleng didepan Gloria.


"Aku hanya melakukan perintah. Tidak untuk menyetujui penawaran mu, Nona!" Pria itu jelas menolak.


Tapi, bukan Gloria namanya jika menyerah begitu saja. Ia mengabaikan rasa malu. Terlebih, sosok ini sangat ia yakini sebagai Owen. Kapan lagi mereka akan dihadapkan dengan posisi hanya berdua seperti ini? Gloria tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


"Berapa kau dibayar Richard? Aku akan membayarmu lebih banyak nanti."


"Benarkah?" Nico tersenyum miring.


"Ya, suamiku punya banyak uang!" kata Gloria pongah.


Mendengar itu, Nico tersenyum tipis. "Bagaimana kalau yang ku minta bukanlah bayaran dengan uang?" Nico berbalik menuju pintu keluar saat mengatakannya.


"Lalu kau mau apa? Sudah ku katakan, apapun akan ku berikan untukmu asal kau melepaskanku." tandas Gloria.


Gloria mengira Nico akan segera meninggalkan ambang pintu karena tak tertarik dengan tawarannya. Sayangnya, pria itu justru menutup pintu lalu menguncinya. Dengan gerak lambat, pria itu mendekat ke arah Gloria.


Entah kenapa Gloria merasa gugup, ia takut salah perhitungan, tapi hatinya tidak bisa berubah, ia tetap meyakini jika sosok yang ada didepannya adalah suaminya sendiri.


"Ah, aku sudah tahu apa yang kau inginkan!" kata Gloria bangkit dari duduknya.


Gloria mendekati Nico dengan sikap kepercayaan diri yang tinggi. Ia mengusap pelan sisi wajah pria itu. Biarlah ia terlihat seperti ja lang didepan Nico, cukup ia sendiri yang tahu bahwa pria ini adalah suaminya sebab itulah keyakinan yang saat ini ia pegang. Ia tidak mau meyakinkan Nico bahwa Nico adalah suaminya, sebab ia tak mau membebani pikiran pria itu terlebih ia takut jika Nico nanti akan menganggapnya gila.


"Apa yang kau lakukan? Aku belum mengatakan apa keinginanku!" ucap Nico saat Gloria membuka satu persatu kancing kemeja pria itu. Tapi, meski berkata demikian, Nico sama sekali tak mencegah apa yang Gloria lakukan terhadapnya.


Biarlah, anggap saja ini pelampiasan kerinduan Gloria terhadap suaminya. Sampai kapanpun ia tak akan melepaskan Owen meski kini Owen sudah melupakannya dan berganti identitas menjadi seorang Nico atau siapapun namanya.

__ADS_1


Gloria mengecup dada Nico yang sudah terbuka. Membuat has rat pria itu berkejaran disekujur tubuhnya. Kemudian Gloria kembali menatap pada netra pria itu yang serupa dengan milik suaminya. Tak salah lagi, dia adalah Owen. Gloria semakin yakin sebab Owen memiliki bekas luka didekat bahunya. Gloria mengecup bekas luka itu, membuat Nico menge rang sambil mengangakan mulutnya.


"Apa kau mau kita melakukannya disini?" tanya Gloria dengan suara menggoda.


"Dimanapun," jawab Nico akhirnya, yang seakan pasrah pada keadaan yang sudah dikendalikan Gloria.


Gloria merangkul leher Nico. Mencari sesuatu didalam binar mata pria itu. Nico membalas tatapan Gloria dengan tak kalah dalam.


Gloria memejamkan matanya, disaat yang sama pria itu mencium bibirnya dengan lahap. Suara kecup-mengecup seolah memecah keheningan ruang kedap suara yang mereka tempati, kini. Saling berbelit lidah, saling mellumat, seolah enggan melepaskan satu sama lain.


Entah kenapa Gloria merasa ada kerinduan dalam ciuman pria ini terhadap dirinya. Tapi, entahlah, ia memilih diam dan menikmati momen yang sedang terjadi.


Nico dan Gloria semakin liar. Tak tanggung-tanggung, pria itu justru lebih dominan sekarang. Ia melepas dress yang Gloria kenakan berikut **********, hingga semua terpampang nyata didepan matanya.


"Owen.... mmpph...." gumam Gloria yang digelayuti has rat. Ia bahkan tak sadar menyebut nama suaminya sendiri. Namun, Nico tidak memedulikan hal itu seakan Gloria benar-benar menyerukan namanya.


"Mmmph....." Sekali lagi Gloria bergumam dalam gai rahnya.


Selanjutnya, bibir pria itu terlepas dari bibir Gloria. Tapi kemudian, seakan hendak menguasai permainan, bibir yang terasa kenyal dan hangat itu mulai menyusuri dan menjelajah ke leher jenjang Gloria lalu turun ke puncak dada nya. Alhasil, ulah Nico itu berhasil membuat gai rah Gloria semakin memuncak. Berapa lama ia tak merasakan ini? Sudah sangat lama- batinnya.


Nico mengangkat tubuh Gloria keatas satu-satunya meja yang ada dalam ruangan yang cukup sempit itu. Mereka kembali berciuman lebih intens lagi daripada sebelumnya.


Wajah keduanya sudah merah diliputi naf su. Gloria sampai mengernyit dalam tatkala Nico semakin membuatnya gila dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan pria itu dikulitnya.


"Le--bih cepat, Owen!" seru Gloria dengan suara merin tih - rintih.


Nico tak menjawab, ia juga tak protes dengan sebutan nama yang Gloria lontarkan. Ia mengabulkan permintaan Gloria dengan tindakan. Membuat Gloria semakin menge rang panjang saat hentakan demi hentakan kian dirasakannya.


Begitupun dengan Nico, ia mengadah sambil menikmati puncaknya yang hampir tiba. Ia tersenyum tipis kala merasa Gloria menjepitnya lebih kencang dibawah sana.


Selesai menuntaskan, Gloria terkulai lemah dengan nafas terengah-engah. Ia baru menyadari satu hal. Bagaimana jika pria ini bukan suaminya? Apakah ia telah melakukan kesalahan? Tidak, Nico adalah Owen. Bekas luka itu adalah buktinya. Ia menatap nanar pada Nico yang sedang mengenakan kembali kemejanya.


"Perutmu? Kenapa ada bekas luka yang lebar disana?" tanya Gloria dengan suara serak.

__ADS_1


"Entahlah, aku tidak ingat saat mendapatkan luka ini," jawab Nico seadanya.


Setelah selesai berpakaian, Nico tersenyum cerah ke arah Gloria, ia lalu mendaratkan satu kecupan ke dahi wanita itu. Membuat Gloria tertegun, sampai akhirnya tak kuasa menahan ucapan.


"Kau jelas-jelas adalah Owen, suamiku...." lirih Gloria.


Nico tidak menjawab, ia berjalan pelan kearah nakas, mengambil selembar kain dan menutupi tubuh polos Gloria yang kini sudah terbaring diatas ranjang kecil yang ada dalam ruangan itu.


"Jawab aku!" mohon Gloria dengan suara bergetar.


"Sebentar lagi kita tiba di kota. Aku akan melepaskanmu, Nona!" ucap Nico mengalihkan pembicaraan. Nico kembali datar. Padahal beberapa saat lalu sikapnya mulai hangat seperti Owen saat memperlakukan Gloria selama ini.


"Baiklah, kau memang tidak mengingatku. Kenapa kau mau berhubungan dengan wanita yang baru kau temui?"


Nico terdiam beberapa saat. "Kau sendiri kenapa mau berhubungan denganku? Bukankah kau juga baru bertemu denganku? Apa karena ucapanmu tadi, mengangapku adalah suamimu?" tanyanya.


Gloria mengangguk. "Aku yakin kau suamiku."


Nico terkekeh. "Jika begitu, bagaimana bisa aku tidak mengingatmu?"


"Richard sudah memberimu obat agar kau tidak mengingatku lagi,"


"Ah, begitu...." Nico hanya menjawab seolah ucapan Gloria hanyalah bualan dan omong kosong belaka.


"Kalau kau menganggapku suamimu. Apa bisa kita mengulangi momen ini lagi?" tanya Nico dengan senyuman tipis.


Gloria menggeleng. "Tidak," jawabnya.


"Kenapa? Anggap saja aku suamimu. Seperti hari ini. Kau bisa memanggilku dengan nama suamimu, Nona!"


"Maaf, hari ini aku terbawa perasaan. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Lupakan hari ini dan apa yang terjadi diantara kita."


Nico mengangguk. Kemudian berderap menuju pintu keluar dari ruangan itu. Entah kenapa ada rasa tak rela dalam batin Gloria. Gloria mau ini terulang lagi tapi tentunya saat Owen sudah mengingat dirinya, bukan menganggapnya wanita yang haus be laian seperti saat ini.

__ADS_1


*****


__ADS_2