Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Notifikasi


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, komunikasi ku dengan Gloria tetap lancar dan aku merasa tidak sabar agar segera kembali ke Apartmen, besok.


"Jared, apa semuanya sudah kau siapkan untuk kepulangan kita besok?"


"Sudah, Tuan."


"Baiklah..." Aku menghela nafas lega. Aku sengaja tidak memberi tahu Gloria mengenai kepulanganku besok, sebab aku ingin memberinya kejutan.


"Ah, ya... Jared, apa kado ulang tahun Gloria kemarin sudah diterima olehnya?" Hampir saja aku melupakan hal itu, akibat sibuknya aku sampai akupun lupa mengenai surat-surat yang diinginkan Gloria.


Selama masa komunikasi jarak jauh diantara kami, baik aku maupun Gloria memang tidak pernah membahas hal itu.


"Maksud Anda mengenai semua surat penting yang diambil dari rumah Tuan Jensen?"


"Ya, yang itu!"


"Begitu kita berangkat, seharusnya Robin sudah menyerahkan semua berkas itu, Tuan."


"Apa kau sudah memastikannya? Tanyakan pada Robin, apa surat itu sudah diterima Gloria atau belum!" titahku.


"Saya akan segera memastikannya, Tuan."


Bersamaan dengan putusnya pembicaraanku mengenai hal ini dengan Jared, satu pesan notifikasi masuk ke ponselku.


Aku mengernyit heran, pesan itu adalah pemberitahuan penggunaan kartu kredit yang pernah aku serahkan pada Gloria untuk membeli segala keperluannya. Namun yang membuatku bingung adalah pesan itu memberitahukan mengenai pembelian sebuah tiket pesawat kelas bisnis yang dipesan menuju Indonesia.


"Sialan!" Aku mendengkus keras. Menduga semua yang terjadi.


"Ada apa, Tuan?" Jared ikut heran dengan umpatanku.


"Besok kita ke Indonesia saja, menjemput Gloria."


"Apa?"


"Sepertinya dia pulang ke Indonesia. Apa maunya sebenarnya?"


Aku tidak habis pikir mengenai keputusan Gloria, jadi ini alasannya meminta semua berkas termasuk paspornya agar segera ia dapatkan?


Aku memijat tengkuk yang teras berat. Rasanya komunikasi kami selama ini baik-baik saja. Segala kata cinta dan rindu tak pernah lupa ku semat dan sampirkan setiap berbincang dengannya.

__ADS_1


"Apa anda yakin jika Nona Gloria kembali ke Indonesia, Tuan?" Jared tampak penuh kehati-hatian saat menanyaiku, aku tahu dari intonasi suaranya yang terdengar takut-takut. Mungkin karena dia melihat reaksi kemarahanku sebab mengetahui hal ini.


"Notifikasi ini buktinya, dia membeli tiket. Kalau perlu, kita yang lebih dulu tiba di Indonesia daripada Gloria.”


Aku berdiri dari dudukku, sepersekian detik berikutnya aku memukul meja dengan keras, membuat kaca meja menjadi pecah berkeping-keping.


"Tuan, tangan Anda..." Jared panik melihat tanganku yang ikut mengeluarkan darah sebab aksiku barusan. Ini belum terasa, yang lebih menyakitkan adalah hatiku. Kenapa Gloria mengambil jalan ini setelah kata-kata cinta terucap untuk dirinya. Kenapa dia pergi, mengingkari janjinya-- yang berkata tak akan pernah meninggalkan aku.


"Batalkan kepulangan kita besok. Kita akan mencari Gloria di Indonesia," ucapku datar.


Aku mencoba kuat meski sebenarnya aku sendiri amat kecewa dengan hal ini. Tidak tahu kenapa ini terasa sangat menyakitkan walau tidak ada luka yang dapat terlihat oleh mata t e l a n j a n g.


"Maaf, Tuan. Soal kepergian kita ke Indonesia itu mudah sebab kita menggunakan pesawat pribadi. Hanya saja...." Jared tak melanjutkan kata, tampak keraguan dalam dirinya.


"Apalagi masalahnya?"


"Indonesia itu luas, kita akan mencari Nona Gloria di kota mana? Dia tinggal dimana? Di ibukota atau di bagian mana?" tanya Jared lagi, membuat kepalaku ingin pecah, sebab aku memang tidak mengetahui di kota mana Gloria tinggal.


"Cari taulah, ku rasa itu tugasmu," jawabku dingin.


"Baik, Tuan. Tapi... sebelum itu, bisakah obati dulu luka ditangan Anda," saran Jared.


Aku menatap sekilas pada tanganku, darah masih mengalir deras akibat kesengajaan ku menghantamkan tinjuan ke meja kaca itu. Namun, aku tidak peduli, aku berjalan menuju kamar.


"Apa Robin tidak memberitahumu mengenai ini? Jangan bilang dia tidak melaporkan kegiatan Gloria hari ini? Jika memang begitu, aku tidak mau melihatnya ada dimuka bumi ini lagi!" geramku.


Percuma aku membayar Robin jika kerjanya tidak becus. Apalagi Gloria sampai terbang ke Indonesia. Kemana dia? Kenapa bisa Gloria lepas dari pengawasannya? Benar-benar kep arat yang tidak bisa diandalkan, breng sek!


_____


Aku menatap langit-langit kamar, luka ditangan ku mulai terasa nyeri. Namun hal itu bensr-benar tak ku pedulikan. Tidak ada minat untuk mengurus diriku sendiri. Aku hanya memikirkan kepergian Gloria yang tiba-tiba.


Disaat seperti ini aku memang tidak bisa berpikir jernih, yang aku inginkan adalah segera menemukannya dan menjemputnya di Indonesia. Tidak peduli dia akan memberontak, aku akan memaksanya sebab dia adalah milikku.


Aku melirik pada ponsel disisi tubuh, benda itu tergeletak tidak berguna. Aku bahkan sudah menghubungi nomor Gloria ratusan kali namun nomor itu berada diluar jangkauan. Benar-benar aku akan menghukum Gloria kali ini, maka aku harus segera menemukannya.


Bagaimana bisa dia meninggalkan aku? Terdengar naif tapi kenyataannya aku memang sangat terpukul dengan hal ini.


Apakah laki-laki seperti aku, Owen Nikolai Zwart, harus menangisi wanita itu? Entahlah, nyatanya aku justru meraung meneriaki nama Gloria berkali-kali.

__ADS_1


"Apa yang ku berikan selama ini kurang?"


"Apa yang kau inginkan, Sayang? Katakan! Aku akan menyerahkannya asal kau tetap disisiku."


Sekarang, barulah aku menyadari bahwa aku telah diperbudak oleh cinta. Seharusnya rasa ini tidak boleh ada. Namun, inilah kenyataannya, aku mengakui bahwa Gloria telah mengambil hatiku sepenuhnya. Aku hanya ingin dia! Perset an dengan yang lainnya! Akan ku seret dia agar kembali kepadaku.


Sekarang, aku juga baru merasakan hal yang mungkin dikatakan orang sebagai kata patah hati. Hal yang dulu ku tertawakan apabila ada orang yang mengalaminya, sebab aku memang tak tahu bagaimana rasanya. Ku anggap itu hanya hal remeh. Namun, setelah kini aku merasakannya, aku justru merasa sangat lemah, Gloria telah pergi. Very damned!


Bahkan saat dulu aku tahu jika Zahra--cinta pertamaku--lebih memilih dan mencintai pria lain, aku tak merasakan keterpurukan seperti ini. Aku masih bisa menepuk dada dengan jumawa, mengangkat kepala dan membuat semuanya damai sebelum kepergianku.


Tapi sekarang? Jangankan untuk berdiri tegak, mengobati lukaku sendiri pun rasanya aku tak sanggup. Aku justru menikmati perih ini bersamaan dengan kekecewaan dihatiku yang semakin menjalar naik-- memaksaku untuk mengeluarkannya dengan mengumpat berkali-kali.


Aku bangkit dari tidurku, berjalan menuju luar dan mendapati Jared berdiri tegak disana.


"Tuan..." sapanya.


"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanyaku datar mencoba menahan gejolak amarah didada ini.


"Robin sudah menjelaskan kronologis kejadiannya."


"Apa katanya?"


"Hari ini Nona Gloria pergi ke pusat perbelanjaan. Dia memilih beberapa setelan dan masuk ke dalam ruang ganti. Robin tidak mungkin mengikuti Nona Gloria ke ranah itu. Tapi, setelah menunggu cukup lama ternyata Robin baru menyadari kesalahannya karena sejak itu ... Nona Gloria tidak pernah keluar lagi dari ruangan itu. Atau lebih tepatnya dia sudah keluar lebih dulu sebelum Robin menyadarinya."


Aku cukup terkejut mendengar hal ini. "Apa? Bodoh sekali dia!" umpatku terkekeh getir.


Jared tertunduk, aku tahu dia memahami kemarahan dan kekecewaan ku dengan hal ini.


Aku menggaruk pelipisku sekilas. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan pada si bodoh itu, Jared?" tanyaku memastikan.


Jared menatapku dengan mata membola. "A-apa Tuan akan menghukum Robin?" tanyanya dengan suara tercekat.


"Dia membuat Gloria kabur! Dia harus bertanggung jawab. Ku beri dia pilihan, mau aku yang menghabisinya atau dia pergi jauh dan jangan sampai menunjukkan wajahnya lagi didepan mataku!"


"Y-ya, ya, Tuan." Jared gelagapan. Mencari-cari sesuatu dari saku celananya, mungkin ponsel untuk segera memberi tahu Robin mengenai keputusanku sebab kelalaian pria itu.


Aku berlalu dari hadapan Jared, membuka pintu Apartemen yang ku tinggali selama berada di UEA. Aku menyetir mobil yang sempat ku sewa untuk keseharian di Negara asing. Dalam sekejap mobil yang ku kendarai sudah keluar dari area basement.


Sepertinya, aku harus pergi untuk menenangkan diri sejenak. Mungkin mendengar musik yang keras akan membuatku lupa dengan kekecewaan ini, meski aku tidak yakin itu akan berhasil. Menyedihkan, sangat menyedihkannya aku ini.

__ADS_1


******


Novel ini sudah di kontrak, boleh dong tinggalin like dan komen kalian disini. Vote juga yuk🙏🙏🙏 Makasih yang sudah lanjut membaca, semoga kita sehat selalu ya🥰🥰🥰


__ADS_2