Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Plan ke dua


__ADS_3

Menunggu beberapa saat didalam mobil sambil diawasi oleh pelayan itu, akhirnya aku memilih untuk pergi.


Aku memasang kembali onderdil mobil yang sempat ku copot, kemudian angkat kaki dari kediaman Richard tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.


Aku tentu tidak langsung pulang. Buat apa? Aku pasti tidak bisa tidur lagi malam ini.


Aku berhenti disebuah lahan kosong yang tak jauh dari letak Mansion Richard.


Hal pertama yang ku lakukan adalah mendengar sambungan penyadap suara yang sudah ku pasang dicelah angin tadi.


Senyap.


Aku memaklumi hal itu sebab ini memang sudah sangat larut, tidak mungkin ada orang yang berinteraksi di dapur pada jam ini.


Aku memutuskan kembali ke Apartemen dengan perasaan yang tentu saja masih berkecamuk.


Sebenarnya dimana Gloria? Jika aku tak mendapat petunjuk dalam rencanaku kali ini, maka mau tak mau aku harus menjalankan plan ke dua.


Dengan cara halus bisa membuat Richard menghindar maka akan ku gunakan cara kasar, agar dia semakin senang bermain denganku.Yeah.


Aku tiba di Apartemen, membaringkan tubuh di tempat tidur namun aku semakin merindukan sosok wanita yang belakangan hari selalu tertidur disisiku.


Aku merasa menyesal telah berburuk sangka pada Gloria. Jika kemarin aku merasa marah dan kecewa sebab kepergiannya yang ku kira karena kesengajaan telah meninggalkanku. Sekarang tentu saja berbeda, sekarang hatiku dipenuhi perasaan cemas yang diluar batas.


Apa yang sekarang terjadi padanya?


Apa dia makan dengan teratur?


Apa dia baik-baik saja?


Apa dia menungguku segera kembali untuk menyelamatkannya?

__ADS_1


Rasanya pikiran-pikiran semacam itu menari-nari dikepalaku. Menghantuiku, hingga membuatku nyaris frustrasi.


Lambat laun aku tertidur juga dalam perasaan letih bercampur rasa lain yang sudah carut marut dan kusut masai.


______


Pagi - pagi sekali, aku terbangun sambil memijat pelipis yang terasa pening. Hal pertama yang ku lakukan adalah mencari-cari ponsel untuk kembali mendengar suara yang tersambung ke penyadap yang telah ku pasang.


"Siapkan sarapan untuk istriku. Jaga dia, jangan biarkan dia keluar Mansion lagi. Jika sampai itu terjadi, kalian semua akan ku pecat!"


Aku terkesiap mendengar itu, hal yang ku tunggu-tunggu akhirnya tiba. Titik terang tentang keberadaan Gloria. Gloria, ternyata dia benar berada bersama Richard dikediaman pria itu.


Tanganku mengepal keras sampai buku-buku jariku memutih, amarah dan kekesalan terasa memuncak sampai ubun-ubun. Akan ku buat Richard menyesal telah memperdaya dan mengelabuiku. Terutama karena dia telah mengambil Gloria dari sisiku. Entahlah, meski statusnya adalah suami Gloria tapi aku tidak peduli dengan hal itu sebab Gloria adalah milikku, sebelum atau sesudah pernyataan cinta diantara kami.


Bangkit dari posisiku, namun tetap sambil mendengar apa lagi yang akan Richard bicarakan diseberang sana pada para pelayannya.


"Lauren, jika pria itu datang lagi. Jangan beri akses masuk! Malam tadi kau terlalu beramah-tamah padanya!"


Aku memutuskan untuk segera mandi dan bersiap-siap. Tidak, kali ini aku tidak akan menggunakan cara baik-baik lagi.


Jengah, itulah yang ku rasakan saat tahu kelicikan Richard. Bagaimana tidak, semua ini berawal darinya. Kesalahannya yang membuat Gloria dan aku saling jatuh cinta. Ya, walau aku juga bersalah telah tertarik pada istrinya sejak awal, namun tetap saja Richard yang terlalu egois terhadap Gloria. Dia tidak normal, tapi dia juga tidak mau melepaskan Gloria.


Plan ke dua, kembali mendatangi Mansion Richard dengan caraku yang sesungguhnya.


Setidaknya, saat ini aku sudah yakin tentang keberadaan Gloria, sehingga untuk menjalankan rencana yang ke dua pun aku semakin bersemangat sebab mungkin inilah caraku untuk mendapatnya kembali.


___


Tiba di kediaman Richard kembali, kali ini aku memilih menerobos masuk dan...


Surprise!!

__ADS_1


Kedatanganku yang membuat gaduh berhasil membuat Richard keluar dari persembunyiannya.


"Mau apa kau kemari, Tuan Zwart?" sarkas Richard begitu tak bisa mengelak lagi.


"Dimana Gloria?"


"Ada, di kamar kami." Richard menjawab dengan santai, seolah dia tidak melakukan kesalahan apapun. Dan apa katanya tadi? 'kamar kami'? Oh dia benar-benar menantang ku ternyata.


"Aku ingin bicara padanya!"


"Boleh saja, tapi mengenai apa?"


"Haruskah ku katakan padamu lebih dulu mengenai hal yang ingin ku bicarakan dengan kekasihku?" tanyaku dengan seringaian tipis.


Mungkin Richard menangkap maksudku yang tengah mencibirnya. Wajahnya memerah namun aku tidak peduli.


"Mungkin Gloria kekasihmu, tapi disini akulah suaminya," jawabnya pongah dan jumawa.


Aku tersenyum miring. Suami katanya? Suami sin ting sepertinya apa masih bisa dikatakan suami?


"Jangan buat keributan di rumahku atau aku tidak segan-segan untuk melaporkanmu ke polisi!"


"Silahkan saja!" Aku tidak takut dengan ancaman Richard. Sekalipun aku akan berurusan dengan polisi itu akan ku selesaikan dengan caraku nantinya.


"Pergilah, aku tidak mau berurusan lagi denganmu! Hubungan bisnis kita juga diputus. Soal keuntungan yang ku dapatkan dari proyek real estate tempo hari akan aku pulangkan sepenuhnya ke pihakmu."


Oh, rupanya Richard yang gila uang sudah benar-benar tidak tertarik dengan hal itu. Sampai ia ingin mengembalikan sepenuhnya keuntungan yang sudah dia dapatkan. Apa ini artinya Richard benar-benar serius dengan keinginannya memperbaiki hubungan rumah tangganya bersama Gloria?


Oh God.... rasanya sulit dipercaya!


*****

__ADS_1


__ADS_2