
Gloria
Terbangun dalam keadaan hening, aku harus mengembuskan nafas berat saat menyadari bahwa sekarang aku masih berada dalam kediaman Richard. Itu berarti usahaku untuk melarikan diri telah gagal, bahkan kini pria itu tampak duduk disebuah kursi yang diletakkan didepan tempat tidur yang saat ini ku tempati. Richard bersedekap dengan pandangan lekat ke arahku.
"Sudah bangun?" tanyanya disertai senyuman miring.
Aku baru ingin membuka mulut untuk melawannya, namun dia segera terkekeh seperti tengah meledekku.
"Jangan coba-coba kabur lagi, kau tidak akan bisa keluar dari sini tanpa izinku!"
Glek...
Ternyata dia sudah tahu jika aku hendak melarikan diri dari Mansionnya.
"Kau tahu, akibat perbuatanmu ini aku jadi memecat Gabby!" sambungnya.
Ya Tuhan, ini semua salahku, gara-gara aku Gabby jadi kehilangan pekerjaan. Aku memijat pelipis yang semakin nyeri akibat penuturan Richard.
"Jangan ulangi hal ini lagi, atau akan ada banyak orang yang kehilangan pekerjaannya karena rencanamu!" tegasnya.
Aku memberengut kesal, tak mau menjawab ucapan Richard sama sekali. Lebih baik aku diam sembari memikirkan cara apalagi yang bisa ku lakukan agar segera keluar dari tempat terkutuk ini.
Richard berdiri, dia mengacak rambutku sekilas kemudian pergi begitu saja.
Aku berdiri, menuju jendela kamar yang terletak disisi kiri. Terkunci, yah... walaupun aku tahu kamar ini terletak di lantai tiga tapi apa salahnya mencoba kabur lewat jendela?
Aku harus memikirkan bagaimana caranya membuka jendela ini. Sambil berpikir, aku menatap ke arah luar yang menunjukkan pemandangan langsung ke arah halaman depan rumah.
Entah berapa lama aku pingsan sampai kini hari sudah berganti menjadi gelap, menunjukkan malam telah datang. Diluar rencanaku, aku juga jadi memikirkan tentang nasib Gabby. Ah, aku menyesal telah melibatkan wanita itu dalam rencanaku. Aku tahu Gabby seorang ibu tunggal, aku benar-benar merasa bersalah dengannya.
Kenapa aku harus pingsan disaat misi melarikan diri hampir berhasil? Ah, sial sekali... harusnya saat ini aku sudah keluar dari sini. Akibat kondisi tubuhku yang kurang fit atau mungkin lelah karena perbuatan Richard, semuanya jadi kacau. Aku jadi gagal kabur, Gabby pun jadi dipecat. Rasanya keberuntungan belum mau menghampiriku sekarang.
Disaat aku melamun didepan jendela, aku melihat sebuah mobil yang berhenti tepat dipekarangan rumah.
Owen?
__ADS_1
Tanpa sadar mulutku menyebut nama pria itu, apa aku berkhayal jika dia datang kesini? Apa ini karena aku sangat merindukan dia?
Mataku terus menyoroti mobil itu, apalagi saat sang empunya keluar dari dalamnya. Dia benar-benar Owen, pria yang sangat ku rindukan.
Mau apa Owen kesini? Apa dia sudah tahu keberadaanku? Apa dia mau menjemputku sekarang?
Aku gegas berbalik arah, ingin menuju pintu keluar kamar namun langkahku terhenti kala tubuh tinggi Richard menghalangi.
"Mau apa?" tanyanya.
Aku menggeleng keras, berusaha melewati tubuhnya tapi tangan Richard segera menangkap tanganku. Aku menepisnya namun dia mencengkeramnya dengan sangat kuat.
Kami saling menyorot dengan tatapan tajam. Aku dengan tatap penuh kebencian sementara Richard memperlihatkan sorot penuh permohonan.
"Jangan pergi kepadanya!" ucap pria itu melirih. Dari ucapannya, menunjukkan bahwa dia tahu apa tujuanku sekarang. Itu artinya dia juga tahu tentang kedatangan Owen dibawah sana.
"Kau tahu, dia tidak akan menerimamu lagi. Kau sudah menjadi milikku! Apa kau pikir Owen mau padamu setelah apa yang telah kita perbuat kemarin malam?"
Aku menelan saliva berat. Ucapan Richard ku cerna dalam-dalam. Benar, aku telah rusak dan mengkhianati Owen, apa dia mau menerima kondisiku sekarang?
Kalaupun aku memilih untuk pergi dari hidup Owen karena keadaanku ini, bukan berarti aku juga mau hidup bersama Richard. Tidak akan!
"Istirahatlah, dia akan pergi dengan sendirinya nanti. Aku juga tidak mau menemuinya!" kata Richard, pegangan tangannya di lenganku mulai mengendur dan tidak sekuat tadi.
"Pikirkanlah ucapanku ini Gloria, dia tidak akan menerima kondisimu. Dia pasti akan memilih wanita lain yang lebih daripada kau. Kau pasti tahu dia akan dengan mudah mendapatkan wanita manapun yang dia mau, kan? Untuk itu, berpikirlah... hanya aku yang bisa menerimamu apa adanya!" pungkas Richard.
Richard beringsut menjauh, kemudian dia kembali menatapku yang terdiam ditempat akibat memikirkan ucapannya yang seakan mendoktrin ku.
"Satu hal lagi, jika kau kembali padanya, aku pastikan jika skandal diantara kalian akan tercium oleh media. Kau pasti tidak mau kekasihmu itu hancur, bukan?" ucap Richard diambang pintu membuatku semakin berpikir keras.
Tanpa ku sadari bening airmata kembali membasahi pipi, ucapan Richard benar-benar mengganggu pikiranku. Terlebih mengenai Owen yang tidak mungkin menerimaku dalam keadaan seperti ini. Ya, dia bisa memilih wanita lain yang pasti lebih mudah untuk didapatkan daripada hanya menungguku yang berstatus istri Richard.
Aku kembali ke ambang jendela, melihat Owen yang ternyata masih berada dibawah sana. Entah apa yang dia perbincangkan dengan Lauren--kepala pelayan dirumah Richard.
Rasanya aku ingin menjerit memanggilnya, namun semua itu tak jadi ku lakukan sebab aku sadar bahwa semuanya akan percuma dan sia-sia. Owen akan merasa kecewa berat atas pengkhianatan tanpa sengaja yang ku lakukan. Setelah dia tahu hal itu, dia pasti akan langsung meninggalkanku seperti tidak ada artinya lagi.
__ADS_1
_______
Bonus Visual
(Kalau gak kelihatan, ditekan beberapa kali sampai muncul atau ditunggu beberapa saat, ya ✌️)
OWEN NIKOLAI ZWART
GLORIA JENSEN
RICHARD MARC JENSEN
__ADS_1