Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Bertemu


__ADS_3

Hari ini Owen memutuskan untuk ikut meriset tempat--dimana akan dibangun sebuah Resort atas kerja sama perusahaan kontraktornya bersama perusahaan milik Tuan Brandy.


Kebetulan Resort itu dibangun di pulau yang pernah Owen kunjungi bersama Gloria, dulu. Dia mempunyai momen indah dengan Gloria disana, untuk itulah dia menyetujui proyek ini dengan senang hati.


"Hallo, Tuan Brandy..." sapa Owen pada relasi bisnisnya itu.


"Tuan Zwart... apa kabarmu?"


"I'm great..." jawab Owen memaksakan senyum, tentu dia berdusta sebab belakangan ini dia tak baik-baik saja.


Mereka mulai membicarakan tentang model bangunan resort yang akan dibangun dengan seorang arsitektur gedung. Membahas desain, dana, hingga bahan yang diperlukan.


"Malam ini kita bisa mengadakan pesta disini. Kebetulan aku juga sudah mempunyai Resort di pulau ini," kata Tuan Brandy menawarkan.


Owen menatap Jared. Sementara Jared menyerahkan keputusan penuh kepada sang atasan.


Owen merasa tak enak menolak tawaran Tuan Brandy, apalagi pertemuan pertama kemarin dia meminta Jared untuk mewakilinya, jadi kali ini dia menyetujui tawaran Tuan Brandy.


Tuan Brandy memperkenalkan Resort yang lebih dulu ia miliki di pulau itu. Memberikan Owen service terbaik bak tamu istimewa.


"Malam nanti, akan ada pesta di bar Resort. Lantai 6, datanglah," bisik Tuan Brandy di dekat Owen.


Owen hanya menanggapinya dengan senyuman tipis, ia tidak bisa ikut berpesta. Ia takut akan menimbulkan masalah baru jika ia tak bisa mengontrol diri lalu akhirnya mabuk.


"Baiklah, nanti akan ku pikirkan," jawab Owen tersenyum.


"Akan banyak wanita cantik disana. Kau pasti tidak akan merugi, Tuan Zwart."


Owen hanya terkekeh menanggapi ucapan Tuan Brandy yang memang terkenal hidung belang dikalangan para pengusaha.


"Bisakah aku istirahat sekarang?" tanya Owen dan Tuan Brandy mempersilahkannya.


Owen dan Jared memasuki kamar masing-masing, namun sebelum berpisah di koridor kamar, Owen mengatakan pada Jared mengenai pesta itu.


"Jared, jika kau tertarik untuk menghadiri pesta itu, datanglah... tidak usah menungguku, aku tidak berminat."


Jared hanya mengangguk samar.


"Oh ya, jangan menggangguku jika tidak ada yang penting. Aku akan menghabiskan malam dengan tidur," katanya lagi.


Seusai mengatakan itu Owen pun masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung merebahkan tubuh di atas tempat tidur yang tampak nyaman.


"Mari lupakan hari ini dengan tidur," ucapnya sembari mulai memejamkan mata.


Sore harinya, Owen terbangun dan memutuskan untuk langsung mandi. Ia keluar kamar dan melihat pintu kamar Jared masih tertutup.

__ADS_1


Owen memilih keluar dari Resort, ia melihat-lihat pemandangan pantai disore ini. Keadaan cukup ramai karena ini adalah weekend.


Hanya sebentar ia menikmati suasana itu, sebelum kemudian kembali ke kamar untuk tidur lagi. Akhir-akhir ini dia banyak tidur untuk melupakan masalahnya.


Rasanya belum lama ia tertidur, ponselnya berdering menandakan ada telepon dari Jared.


Owen melirik sekilas ke penunjuk waktu, ternyata sudah menunjukkan pukul 10 malam. Untuk apa Jared meneleponnya? Bukankah dia sudah mengatakan untuk tidak mengganggunya?


Owen menggerutu, mengabaikan telepon Jared, namun karena ponsel itu terus berdering membuat keributan, membuatnya tak tahan hingga ia pun menerima juga telepon itu.


"Apa Jared? Aku sedang ti---"


"Saya melihat Nona Gloria disini, Tuan!" ucap Jared dari seberang panggilan.


"Apa katamu?" Suara disana sangat berisik, sehingga Owen mendengar sahutan Jared dengan samar-samar.


"Cepat datang ke Bar, lantai 6, Tuan. Sekarang!"


Owen melempar ponselnya kesal. Bagaimana bisa Jared memerintahnya seperti ini.


"Dia bilang melihat siapa tadi?" tanya Owen pada dirinya sendiri. Ia tak begitu tahu apa yang Jared ucapkan, namun ia meyakini jika sekarang Jared tengah berada di pesta yang sempat diberitakan oleh Tuan Brandy siang tadi.


______


"Tuan Zwart, aku pikir kau tidak datang sebab aku hanya melihat asistenmu saja disini."


Owen hanya tersenyum tipis. Apa karena Tuan Brandy menunggunya sehingga Jared memaksanya ke tempat ini? Damned! Lebih baik dia tetap tidur tadi.


Tuan Brandy mempersilahkan Owen duduk. Kebetulan mereka berada dalam ruangan privasi yang ada didalam bar itu.


Ruang itu luas, ada semacam tempat karaoke, ballroom dansa privat, panggung yang cukup besar, serta beberapa kamar tersembunyi yang Owen yakini untuk pasangan-pasangan yang ingin menuntaskan has rat tanpa perlu keluar dari area Bar.


Beberapa pelayan masuk, mengantarkan pesanan makanan yang dipesan oleh Tuan Brandy.


Owen tak begitu fokus, dikepalanya hanya ada rasa menyesal keluar dari kamarnya.


Namun, Jared menyikut lengannya demi menyadarkannya dari rasa kesal yang tak berkesudahan.


Ia menatap Jared tajam, kemudian asistennya itu justru memberi isyarat agar ia melihat pada para pelayan yang menyajikan makanan dan minuman dimeja mereka.


"Tuan, anda bisa memilih wanita untuk menemanimu bersenang-senang malam ini. Aku akan mentraktirmu, sebagai pria kita butuh pelepasan, bukan?" ucap Tuan Brandy sambil terkekeh-kekeh.


Namun, yang menjadi fokus Owen saat ini bukanlah tawaran pria tambun itu yang menyuruhnya membeli jasa wanita untuk bersenang-senang. Melainkan, ia menatapi seorang wanita yang tampaknya belum menyadari keberadaannya di ruangan ini.


Kilatan lampu di ballroom, mulai menyoroti panggung yang ada dalam ruangan itu. Semua mata tertuju ke arah panggung. Tapi tidak dengan Owen, ia masih setia menatapi wanita itu yang nampak menundukkan wajah, hingga akhirnya para pelayan itu pun keluar dari ruangan privat setelah menuangkan beberapa minuman ke gelas-gelas di meja.

__ADS_1


"Tuan, lihat disana... aku mempersilahkanmu untuk memilih lebih dulu." Tuan Brandy menunjuk ke arah dimana banyak wanita pekerja ko mer sil sedang berlenggak-lenggok diatas panggung, bak model yang memperagakan busana. Tapi yang sekarang, mereka tidak sedang memamerkan pakaian, melainkan lekuk tubuh mereka.


"Mereka adalah beberapa primadona yang ada di Bar ini," jelas Tuan Brandy lagi.


Owen tersenyum tipis, tidak tertarik sama sekali. Ia menggeleng pelan sebagai penolakan.


"Apa kau mau ku pilihkan yang service nya bagus?" tanya Tuan Brandy lagi.


"Pilihkan saja untuk Jared," ucap Owen tersenyum smirk.


"A-aku, Tuan?" Jared menunjuk dirinya sendiri dan Owen mengangguki.


Tuan Brandy langsung memilih satu wanita yang cukup cantik dan Owen menatap Jared seolah memaksanya agar menerima kebaikan Tuan Brandy itu.


Jared tak bisa berkata-kata lagi selain pasrah.


"Tuan Zwart, pilihlah satu jika kau menghargai ku," bisik Tuan Brandy yang berpindah posisi didekat Owen.


"Kalau begitu, bolehkah aku memilih yang tidak berada di panggung?" balasnya ikut berbisik.


Tuan Brandy terkesiap. "Kau tertarik pada yang mana?" tanyanya heran.


"Aku mau wanita yang tadi menuangkan minuman," jawab Owen sekenanya.


"Hah? Mereka hanya pelayan... tapi tak apa, pasti ada dari mereka yang mau melayanimu." Tuan Brandy tersenyum smirk.


Tuan Brandy pun membisikkan sesuatu pada asistennya. Tak lama dari itu, para pelayan tadi kembali memasuki ruangan privat.


"Aku mau dia," bisik Owen sembari menunjuk pada Gloria.


Tuan Brandy tersenyum tipis melihat wanita pilihan Owen. "Ternyata seleramu bagus juga, Tuan Zwart," bisiknya.


Setelah mengatakan itu, Tuan Brandy berdiri dan bicara pada wanita yang ditunjuk Owen.


"Nona, bisakah kau memberi service terbaik untuk tamuku?"


"A-aku tidak bisa, Tuan," jawab Gloria gugup. Owen mendengar penolakan Gloria itu dan dia berdecak lidah.


"Kenapa? Aku akan membayarmu mahal."


Tampak Gloria menggeleng keras. "Maaf, Tuan. Saya hanya bekerja sebagai pelayan bukan wanita panggilan.”


Mendengar itu, Tuan Brandy terkekeh kencang. Sementara Owen merutuki dirinya sendiri.


********

__ADS_1


__ADS_2