
Keesokan paginya, Sean mencari-cari keberadaan Gloria di seluruh penjuru rumah. Ia membuka semua pintu ruangan dan tak lupa mencari Gloria di ruang pembuatan tembikar. Namun, ia tak mendapati Gloria dimanapun.
Sean merasa harap-harap cemas, ia takut Gloria melarikan diri, meski itu mustahil sebab Gloria tak punya akses akomodasi transportasi untuk keluar dari pulau sebab Yacht yang biasa Sean gunakan untuk keluar masuk pulau selalu kembali ke kota setelah mengantarkannya ke pulau ini.
Sean keluar dari rumah dan berlari ke area pantai. Matanya memicing dan tak butuh waktu lama akhirnya ia menemukan sosok Gloria yang terduduk dipinggir pantai. Gloria bahkan membiarkan baju yang dikenakan basah akibat sapuan air pantai.
"Pagi-pagi sekali kau sudah melamun disini?" tanya Sean menghampiri Gloria, ia bahkan mendudukkan diri disisi wanita itu.
Gloria diam tak menyahuti ucapan Sean. Ia masih marah akibat ucapan Sean malam tadi.
"Aku minta maaf atas ucapanku semalam. Aku tahu aku bersalah. Aku tak seharusnya mengatakan itu!"
Gloria hanya mengendikkan bahu cuek. Sean tersenyum tipis dan mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.
"Untukmu...." katanya menyerahkan sepucuk bunga mawar merah kehadapan Gloria.
Gloria terkesiap, namun buru-buru mengeluarkan kata. "Untuk apa kau memberiku bunga?" tanyanya dengan nada tak senang.
"Kau tak suka bunga? Aku membelinya semalam saat kita di kota."
"Oh ya? Aku tidak tahu kau menyempatkan diri membeli bunga."
"Karena kau sibuk memilih kebutuhanmu sendiri." Sean tertawa pelan.
"Aku tidak suka bunga dari seorang pria, kecuali pria itu adalah suamiku!" kata Gloria berdiri dari duduknya, ia semakin yakin jika kini Sean menaruh hati padanya. Ia tak mau memberi harapan pada pria itu. Ia hanya ingin menjalin pertemanan saja. Apakah tak bisa seorang wanita dan pria hanya terlibat pertemanan tanpa ada embel-embel 'perasaan'?
"Jadi, kau tidak mau menerimanya? Kau masih marah padaku. Aku minta maaf, Gloria."
Sean menahan pergelangan tangan Gloria agar wanita itu tidak pergi.
"Sean, terima kasih atas kebaikanmu selama ini padaku. Aku rasa kau sudah cukup bertanggung jawab atas hidupku. Tapi, kau tidak perlu melibatkan perasaan dalam pertemanan kita!" tegas Gloria. Ia tak mau terlalu naif, sebab ia merasakan jika kini Sean telah terang-terangan bermain hati padanya. Ia mau blak-blakan mengutarakan ketidaksetujuannya dengan hal yang kini dirasakan oleh Sean.
Sean mengangguk. "Aku tahu aku telah keluar dari jalur. Niat awalku memang membantumu. Tapi, perasaan ini datang begitu saja tanpa bisa memilih."
Gloria menatap Sean dengan senyuman masam. "Lupakan aku! Kau masih bisa memilih wanita lainnya!"
"Maybe. Tapi untuk saat ini aku belum bisa," lirih Sean.
"Lalu, apa yang kau inginkan?" tanya Gloria.
"Aku menginginkanmu. Paling tidak, izinkan aku memilikimu sebentar. Jika memang Owen masih hidup, aku akan ikhlas melepaskanmu untuknya!"
__ADS_1
Gloria tertawa sumbang. Bagaimana bisa semua lelaki didunia ini menganggapnya sebagai barang yang bisa dipakai lalu dikembalikan? Dulu, ia dibuat seperti itu oleh Richard, sekarang Sean juga ingin mencobanya. Dia bukan wanita untuk dicicipi semua pria.
"Apa kau sadar dengan ucapanmu itu, Sean?" sarkas Gloria.
Dalam hidupnya, hanya Owen satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya dan sempat rela melepaskannya karena mengutamakan kebahagiannya. Lalu, bagaimana caranya sekarang ia bisa menerima permainan perasaan yang ditawarkan oleh Sean? Lucu sekali.
"Gloria, maaf.... tapi, aku tidak main-main dengan perasaanku padamu. Semua kebersamaan kita selama ini bukan karena aku sedang berakting, tapi karena aku memang nyaman bersamamu."
Sean seolah menyadari kekeliruan bicaranya tadi, namun dia tetap menjelaskan mengenai perasaannya kini terhadap Gloria.
"Kau tahu? Aku memiliki mantan suami bernama Richard. Kau mirip sekali dengannya! Kalian satu frekuensi!" kata Gloria geram.
Gloria berlalu meninggalkan Sean yang termenung. Ucapan Gloria mengenai Richard, membuat Sean tahu satu hal bahwa Richard yang Gloria maksud adalah Richard yang sama dengan saudara tirinya. Ya, Sesungguhnya Sean sudah mengetahui affair antara Markus dengan Isabel--ibu Richard--dan Sean juga sudah tahu jika Richard adalah adiknya.
Sean tersenyum miring. "Satu frekuensi? Ah, apa aku memang mirip dengan Richard? Hahaha... kami memang keturunan Markus yang breng sek!" Sean tertawa diujung kalimatnya sambil menyaksikan kepergian Gloria yang semakin menjauh.
Sebenarnya, Sean kesal disamakan dengan Richard. Namun, ia sadar jika Gloria tak mengetahui asal usul Richard yang adalah adik tirinya.
______
"Esther, apa kau melihat Sean?" Gloria terbangun di pagi hari dengan keadaan rumah yang senyap, biasanya Sean menyalakan musik didalam rumah untuk mengurangi kejenuhan. Bahkan, sampai Gloria menyelesaikan sesi sarapan paginya, ia tak melihat Sean.
"Oh, baguslah," kata Gloria tersenyum tipis. Kepergian Sean seperti angin segar untuknya. Ia tak perlu bersembunyi dikamar untuk menjaga jarak dengan pria itu.
Gloria keluar dari rumah tempatnya bernaung selama di pulau itu. Ia berjalan-jalan dipinggiran pantai. Membiarkan rambut dan dress-nya meriap-riap karena terpaan angin sepoi-sepoi. Gloria menikmati momen itu sampai ia tak menyadari keadaan sekitar.
Sampai akhirnya, Gloria terkesiap saat melihat adanya sekelompok orang dengan setelan rapi berwarna hitam yang tampak berjalan mendekat kearahnya.
Dengan pelan, Gloria mundur secara teratur, bersiap berlari namun sayang gerakannya yang tergesa-gesa membuatnya tersandung oleh kakinya sendiri. Gloria terjatuh dan disaat itulah sekelompok orang berjas hitam itu menyadari keberadaannya.
"Disana!" pekik salah seorang dari bagian kelompok itu.
Gloria segera bangkit dan hendak berlari. Namun, seseorang mencegat langkahnya dengan menarik pergelangan tangannya dengan sangat cepat, membuat Gloria menjerit.
"Lepaskan aku!" pekik Gloria. Dia tahu sekarang bahwa keadaannya sedang tak kondusif, kedatangan orang-orang asing ini memang untuk mencari keberadaannya.
"Siapa kalian? Pergi!" bentak Gloria.
Namun, Gloria tercekat melihat sosok mirip suaminya ada disana dan mengambil alih keadaan dengan angkat suara.
"Biar wanita ini menjadi urusanku!" kata pria mirip Owen.
__ADS_1
"Nico! Kita harus segera menyerahkannya pada Richard!" sela salah seorang dari mereka.
"Ya, aku tahu. Kita akan segera menyerahkannya pada Richard. Biar aku yang membawanya ke Yacht." Pria mirip Owen yang dipanggil dengan nama Nico itu menatap Gloria kembali. Sementara Gloria terhipnotis dengan wajahnya, pria itu langsung menggendong Gloria tanpa izin siapapun.
"Kau harus ikut denganku!" kata pria bernama Nico yang Gloria yakini sebagai suaminya yang kini sudah melupakannya. Gloria tak memberontak, ia justru mengencangkan dekapan tangannya di leher pria itu. Ia juga menyurukkan wajah kedalam dada bidang pria itu.
Perjalanan mereka diikuti oleh orang-orang berjas hitam yang sama dengan yang dikenakan oleh Nico. Mereka semua cukup heran karena ternyata membawa Gloria tak sesulit yang mereka perkirakan. Apalagi Sean tak berada dipulau itu. Gloria juga sama sekali tak melakukan perlawanan.
"Aku merindukanmu, sangat!" bisik Gloria dalam gendongan Nico. Tapi, pria bernama Nico tak menggubris ucapan Gloria, ia hanya diam dan fokus menggendong Gloria sambil menyusuri pantai demi mencapai posisi Yacht.
Gloria menghirup aroma tubuh pria yang kini menggendongnya, ia semakin meyakini jika sosok ini adalah Owen karena ia hafal dan amat merindukan aroma suaminya ini.
Gloria tidak bisa membendung airmatanya yang sudah menganak sungai. Ia menangis tersengguk-sengguk dalam posisi yang sama.
Pria itu menggendongnya sampai ke Yacht, membuat Gloria ingat akan momen masa lalunya bersama Owen. Ia senang momen manis ini terulang lagi, tapi ia tak memungkiri jika ia bersedih, sebab Owen yang sekarang sama sekali tak mengingatnya bahkan sudah memiliki identitas baru. Apalagi nama Richard sempat disinggung oleh orang-orang ini, membuat Gloria semakin yakin jika yang kini didepannya adalah Owen yang sudah kehilangan daya ingatnya.
Gloria ingin kembali menangis tersedu, tapi ia menahan. Ia ingat, meski Owen telah kehilangan ingatan terhadapnya, tapi ia bersyukur bahwa suaminya masihlah bernyawa. Entah bagaimana dengan nasib bayinya.
Nico menurunkan Gloria yang tidak melakukan perlawanan. Ia menatap Gloria sekilas, sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak meninggalkan wanita itu dalam ruangan yang ada dalam Yacht.
"Tunggu..." Gloria menangkap tangan Nico. Secara otomatis pria itu berbalik menatap Gloria.
"Kau anak buah Richard?" tanya Gloria seakan tak tahu apapun.
Pria itu mengangguk samar.
"Apa dia mau membunuhku?" tanya Gloria lagi.
"Aku tidak tahu dan aku tidak berhak menjawab pertanyaan itu, Nona!"
"Aku akan memberikan apapun yang kau mau asal kau melepaskanku dari sini," kata Gloria memberi penawaran.
"Benarkah?" Tampaknya sosok Nico tertarik dengan penawaran yang Gloria berikan.
Gloria mengangguk.
"Apapun?" tanya Nico memastikan.
"Apapun yang kau inginkan!" kata Gloria.
*****
__ADS_1