Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Pekerjaan tambahan


__ADS_3

Menjelang sore, Owen dan Gloria menuju Resort. Membawa serta Jeff dan Hans, juga beberapa barang milik wanita itu.


Owen memesankan satu kamar untuk Hans, namun calon kakak iparnya itu justru bertanya hal yang membuat Owen mengernyit heran.


"Satu kamar yang kau pesankan ini... untukku atau untuk Gloria?"


"Tentu untukmu."


"Lalu, Gloria dan Jeff?"


"Mereka akan menginap di kamarku," jawab Owen apa adanya.


Hans tertawa pelan sambil menggeleng. "Bisakah menunggu sampai kalian menikah dulu?" sarkasnya.


Owen mengangguk, ia tak mau berdebat, sepertinya mengalah akan lebih baik.


"Baiklah, aku akan memesankan satu kamar lagi," putus Owen.


Hans masuk ke kamarnya seorang diri, sedangkan Owen mengantar Gloria dan Jeff sampai ke depan pintu kamar wanita itu.


Gloria masuk, meletakkan Jeff yang tertidur diatas ranjangg, kemudian kembali ke ambang pintu--dimana Owen masih menungguinya disana.


Owen mengernyit saat melihat Gloria kembali sambil mengulumm senyuman.


"Kenapa? Ada yang lucu?" tanyanya pada wanita itu.


"Bukan apa-apa, aku tidak menyangka kau mau menuruti perintah Hans untuk memesan satu kamar lagi."


Owen tersenyum tipis. "Aku hanya tidak mau berdebat dengannya, bagaimana pun dia akan menjadi kakak iparku."


Gloria mengusap pipi Owen sekilas. "Terima kasih atas pengertianmu," ujarnya.


"Hmm... apapun untukmu," jawab Owen sambil menatap wajah Gloria lekat.


"Kau tidak jadi bekerja? Aku pikir pekerjaanmu di pulau ini belum selesai."


"Sebenarnya pekerjaanku sudah selesai. Tapi, ada satu pekerjaan lain yang belum tuntas."


"Ya sudah, kerjakan saja pekerjaanmu itu lebih dulu, nanti malam baru menemaniku untuk mengundurkan diri dari Bar," ujar Gloria polos.


Owen tersenyum miring. "Tapi, pekerjaan yang satu ini butuh pesetujuanmu..." bisiknya.

__ADS_1


Gloria segera tersadar dengan maksud ucapan Owen. Rupanya lelaki ini sedang berpikiran licik sekarang.


"Kakakku melarang kita sekamar," papar Gloria.


"Ya, aku sudah menurutinya. Kita tidak sekamar, kan? Kamarku ada disana..." Owen menunjuk ke ujung koridor dimana kamarnya berada.


"Anggap saja jika sekarang aku sedang mengunjungi kamarmu."


Setelah mengucapkan itu, Owen segera melewati tubuh Gloria diambang pintu, ia benar-benar masuk ke dalam kamar tanpa meminta izin siapapun.


Owen naik ke atas tempat tidur, kemudian dia menatap Jeff yang tampak semakin nyenyak. Mungkin karena ruangan kamar yang dingin, tidak sama dengan rumah petak yang ditempati Gloria selama ini, tentu bayi itupun lebih nyaman sekarang.


"Jeff, tidur yang nyenyak, ya... Daddy dan Mommy Jeff ada pekerjaan tambahan." Owen berceloteh pada bayi yang tengah pulas itu, namun matanya kini mengerling ke arah Gloria, membuat wajah Gloria memanas akibat mencerna ucapan Owen mengenai 'pekerjaan tambahan' yang dimaksudkannya.


Gloria mencoba mengabaikan ucapan Owen, ia masuk ke dalam kamar mandi disudut kamar. Owen terkekeh melihatnya.


Dengan langkah pelan, Owen mengikuti Gloria ke kamar mandi.


"Kau memang suka aku mengejar-ngejarmu seperti ini, ya!" ujarnya pada Gloria yang melotot didepan cermin sebab terkejut kala mendengar suara Owen yang terdengar tiba-tiba disana.


"Kenapa?" tanya Owen lagi.


Rupanya, Gloria menangkap maksud Owen mengenai 'pekerjaan tambahan' tadi.


"Melakukan hal apapun? Memangnya apa?" tantang Owen berlagak bodoh.


"Apapun yang ada dipikiranmu sekarang."


Owen terkekeh. Mendekati Gloria yang berdiri didepan wastafel. Ia memegang sisi wastafel seolah mengurung tubuh Gloria disana agar tak bisa bergerak darinya, kemudian barulah ia menatap Gloria dengan tatapan tajam.


"O--owen... please!"


"Kau tahu aku tidak menerima penolakan, kan?"


Gloria mengangguk. "Ta-tapi kau juga tidak suka pemaksaan," ujarnya pelan.


"Kau benar, tapi sesekali memaksa sepertinya tidak ada salahnya."


"Aku tidak mau." Gloria menggeleng.


Owen menipiskan bibir. "Kau yakin?" tanyanya.

__ADS_1


Gloria merasa sangat terintimidasi oleh suara dan tatapan Owen kali ini. Ia ingin menahan gejolak yang tiba-tiba hadir dalam dirinya setiap kali Owen bersikap seduktif padanya.


Ia ingin berkomitmen untuk tidak melakukan--hal yang keluar jalur--sebelum mereka benar-benar menikah. Namun, nyatanya tubuhnya selalu bereaksi lain dan tidak sesuai dengan komitmen yang dibuatnya sendiri.


Gloria tahu, Owen sangat mengenalnya dengan sikap plin-plan nya ini. Mengatakan tidak, namun berujung iya.


Nafas hangat pria itu sudah terasa semakin dekat dengan wajahnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Selain diam, memejamkan mata, lalu menikmati lumataan-lumatann indah yang Owen berikan kepadanya.


Tangan Owen yang tadinya berada disisi wastafel, lambat laun mulai memeluk pinggang ramping Gloria, menelusup masuk, kemudian membelai kulitnya didalam sana.


Dengan sigap, Owen menanggalk an baju yang Gloria kenakan. Lalu, mengangkat tubuh wanita itu ke atas pinggiran meja wastafel dan mendudukkannya disana.


Kini, Gloria sudah terduduk didepannya, dengan nafas yang memburu dan kulit tubuh yang berubah memerah.


Namun, baru akan memulai tiba-tiba tangis Jeff pecah. Membuat Owen dan Gloria saling berpandangan beberapa detik. Kemudian Gloria segera tersadar dan turun dari wastafel, setengah berlari menuju area kamar, meninggalkan Owen yang bahkan belum apa-apa.


Owen mengusap kasar wajahnya sendiri. Jangankan tuntas, memulai saja belum. Dengan langkah gontai, ia pun ikut menyusul Gloria ke dalam kamar.


"Jeff kenapa?" tanyanya.


"Dia haus," jawab Gloria singkat.


Owen melihat ke arah tempat tidur, ternyata sekarang Gloria sudah mulai men yusui bayi mereka. Has rat nya yang belum reda, terpaksa harus diredam begitu saja.


Kepalanya mendadak berdenyut.


"Aku kembali ke kamarku, ya." Owen mendadak lemas.


"Iya."


Owen mendekati Gloria dan mengecup pipinya sekilas, kemudian ia melakukan hal yang sama pada bayi mungilnya yang tengah meny u su dengan damainya.


"Seharusnya itu bagian Daddy, Jeff..." keluhnya lesu, membuat Gloria terbelalak.


"Sudah pergilah..." usir Gloria.


"Hmm..."


Sekali lagi Owen mengecup pipi Gloria sebelum akhirnya benar-benar keluar dari kamar itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2