
Gloria
Sepertinya aku tidak bisa tertidur malam ini, dikapalaku sekarang hanya terlintas bayang-bayang Owen yang sempat datang ke kediaman Richard.
Ya, Tuhan... aku sangat merindukannya. Dia telah kembali dari UEA. Pasti dia marah karena tak mendapatiku di Apartmen. Pasti dia mengira aku telah meninggalkannya.
Tuhan, jangan salahkan aku yang telah jatuh cinta padanya. Semua perlakuannya kepadaku tentu membuatku tidak bisa menepis perasaan yang tumbuh subur begitu saja.
Sekarang? Apa yang harus ku lakukan? Jikapun aku berhasil melarikan diri dari kediaman Richard, haruskah aku bersikap tak tahu malu dengan mendatangi Owen lagi?
Aku terus memikirkan nasibku yang amat menyedihkan. Benar-benar tak bisa tertidur apalagi setelah Richard kembali memasuki kamar malam ini.
Kemarin malam setelah melampiaskan has rat nya kepadaku, entah kemana Richard pergi hingga akhirnya aku tertidur di lantai. Tapi, malam ini sepertinya dia akan tidur disini, sebab sedari awal ini memang kamarnya.
Richard tampak mengganti pakaiannya, kemudian mengambil tempat di sebelahku yang berpura-pura memejamkan mata.
"Gloria..."
Aku diam dalam posisiku, aku tak mau menjawab panggilannya.
"Mulai malam ini, biasakanlah untuk tidur bersamaku. Kita akan melewati banyak hari bersama-sama sampai kita menua," ucapnya lirih.
Jujur saja, aku ikut sedih dengan ucapannya itu. Ucapan yang terdengar penuh harapan besar untuk hubungan kami. Tapi, aku tidak bisa mengabulkan permintaan Richard sebab hatiku sudah tertaut pada pria lain.
"Gloria, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Ku harap kau mau mengerti, perasaan memilikimu sudah hadir dihatiku saat ini."
Richard membelai wajahku, membuatku membuka mata juga pada akhirnya.
"Buka hatimu untukku, hmm?" ucapnya sembari terus mengelus pipiku.
Aku membalikkan tubuh, memunggunginya.
"Lambat laun kau pasti akan terbiasa lagi dengan kebersamaan kita," gumam Richard.
___
__ADS_1
Pagi hari Richard nampak sudah bersiap untuk pergi bekerja. Dia terlihat rapi, harus ku akui jika Richard memang tampan, itulah hal yang dulu menarik perhatianku padanya. Dia juga baik, tapi setelah aku tahu sikapnya itu hanya untuk menutupi ke sin ting annya, aku benar-benar merasa muak padanya.
Richard mengecup keningku sekilas saat dia menyadari aku yang menatapinya sejak tadi. Aku tak bisa menghindar karena aksinya begitu cepat.
"Aku akan bekerja," katanya dengan senyuman yang mengembang.
Aku mengusap bekas ciumannya di dahiku, dia tertawa pelan melihat kelakuanku itu. Nampaknya suasana hatinya sedang baik. Sepertinya dia mau semuanya kembali menjadi sediakala. Sayangnya, aku mana bisa bersikap baik-baik saja seolah tak ada kejadian apapun diantara kami.
Mana mau aku berakting menjadi pasangan bahagia bersamanya!
Aku melihat Richard keluar dari dalam kamar dan saat itu juga barulah aku bisa bernafas lega.
Tak lama dari kepergian Richard, Lauren masuk ke kamar untuk menyajikan sarapan pagi untukku.
"Bagaimana kabar Gabby?" tanyaku pada Lauren. Aku tidak terlalu menyukai Lauren sejak dulu, sebab dia orang yang terlalu datar dan selalu memasang wajah tak ramah.
Lauren tidak menjawab, hanya wajah datarnya yang dia tunjukkan dihadapanku. Aku langsung merasa seperti bicara pada angin.
"Kalau tidak mau jawab, ya sudah," kataku sembari memakan sandwich yang tersaji.
"Jangan lakukan hal yang membuat orang lain rugi, Nyonya. Lihat Gabby, dia jadi dipecat karena keegoisanmu!"
Aku terperangah menatap Lauren. Apa dia tengah bicara padaku? Oh, yang benar saja! Aku tahu dia orang kepercayaan Richard di rumah ini, tapi dia berani berkata seperti itu kepadaku? Benar-benar menyebalkan.
Aku meletakkan sandwich yang baru ku makan setengahnya, kehilangan selera sebab ucapan Lauren yang terdengar sangat menyudutkanku.
"Gabby itu orang baik, pasti dia akan dapat pekerjaan lain yang jauh lebih baik daripada di Mansion terkutuk ini!" jawabku ketus.
Lauren menatapku tak senang sebelum akhirnya dia meninggalkan kamar yang ku naungi.
_____
"Hari ini jangan mencoba kabur lagi!" ucap Richard yang kembali memasuki kamar. Bukannya tadi dia bilang ingin bekerja?
Aku hanya berdecak lidah mendengar pernyataannya yang seakan menyindirku itu.
__ADS_1
"Aku tidak jadi bekerja, aku ingin bermain-main denganmu saja. Anggap saja kita pengantin baru," katanya tanpa rasa berdosa.
Belum sempat aku memprotes, dia kembali bicara.
"Tolong bantu aku membuka ini," katanya lagi sembari menunjuk kearah dasinya.
Rupanya dia mau bersikap intens denganku, begitu?
"Apa kau tidak takut jika aku menyentuh lehermu?" tanyaku akhirnya.
"Memangnya kenapa? Aku suka jika kau mulai mau menyentuhku." Richard tertawa senang.
"Bukan itu maksudku, apa kau tidak takut jika aku menyentuh lehermu lalu mencekikmu?" Aku memasang senyum licik, sementara Richard justru tertawa kencang.
"Gloria..." Richard mendekat ke arahku, aku segera membuang muka.
"Jangan lupakan jika dulu kau pernah mencintaiku, aku yakin perasaan itu akan kembali lagi."
"Jangan harap!" ketusku.
Richard mendorongku sampai ke tempat tidur, dengan cepat aku membalik badan memunggunginya. Ingin lari tapi dia tangannya segera menangkap tubuhku.
Aku melotot saat Richard mulai mengendus ceruk leherku. Sengaja aku membelakanginya, namun dia malah mendapat kesempatan untuk melakukan hal ini. Sial... bahkan ini masih pagi. Padahal aku sudah lega dengan pamitnya untuk berkerja tadi.
"Sudah ku bilang aku ingin bermain-main denganmu!" bisiknya lirih ditelingaku.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu itu menyelamatkanku, Richard menghentikan aksinya sambil menggerutu. Bangkit dari tempat tidur, dan dia membuka pintu kamar.
"Ada apa, Lauren?"
Aku masih bisa mendengar suara Richard saat menanyai Lauren, namun aku tidak bisa mengetahui apa jawaban Lauren sebab Richard langsung keluar dari kamar dan menutup pintu sebelum Lauren menjawab.
Aku mengendap-ngendap sampai ke belakang pintu, hendak mencuri dengar pembicaraan mereka, namun semuanya tak terdengar. Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang tak beres dipagi ini?
__ADS_1
******