Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Menunggu waktu kematian


__ADS_3

Jared tiba di Mansion Jade tepat pada waktunya. Tak lama setelah kedatangannya, anak buah Richard pun sampai disana demi mencari keberadaan Gloria.


Sayangnya, mereka semua tidak bisa masuk kedalam Mansion sebab Mansion dijaga ketat oleh lebih banyak orang yang disertai senjata ilegal.


Orang-orang itu tak lain dan tak bukan adalah mantan anak buah Owen yang dulu sempat bekerja padanya saat dia masih memimpin tahta.


Selama beberapa bulan ke belakang, secara perlahan Owen kembali menghubungi orang-orangnya yang masih setia. Ia juga membentuk gabungan mereka secara diam-diam demi bisa melindungi keluarganya dari serangan clan musuh.


Bukan tanpa sebab Owen menghubungi orang-orang lamanya, selain setia dan dapat dipercaya, mereka juga memiliki kemampuan bela diri khusus yang dulunya tentu dipilih Owen secara selektif.


"Jared, mereka kesini untuk mencari Gloria, kan?" tanya Oxela yang melihat dari balik jendela di lantai dua Mansion itu.


"Saya kira begitu, Nona." jawab Jared tenang.


"Apa kau yakin semua penjagaan akan mampu menghadapi mereka?" Oxela ragu, bagaimanapun ia mengkhawatirkan keselamatan Gloria berserta mereka semua yang ada didalam Mansion. Belum lagi bayinya yang masih sangat kecil.


"Tenanglah, Nona! Jika sampai salah satu dari mereka ada yang bisa melewati gerbang Mansion, maka mereka harus bersiap-siap untuk kehilangan nyawa." Jared bersedekap santai. Di seluruh balkon rumah, sudah ada penembak jitu dengan senapan panjang untuk memata-matai pergerakan. Satu langkah musuh menginjak halaman depan, maka mereka tak segan untuk meloloskan peluru.


"Hah! Aku sudah lama sekali tidak melihat permainan tembak-tembakan seperti ini," kata Oxela tersenyum miring. Ia tak terlalu terkejut, perang senjata sering ia saksikan sejak kecil. Apalagi melihat sang kakak yang berlatih menembak, ini bukan suatu hal yang menakutkan baginya. Ia tak begitu takut, hanya rasa khawatir jika pertahanan mereka sampai jebol oleh musuh.


Berbanding terbalik dengan Gloria yang tentu lebih cemas daripada Oxela. Saat melihat Owen memiliki senjata api saja ia sudah gemetar. Apalagi saat ini. Ia tahu jika posisinya sekaranglah yang menyebabkan orang-orang Richard mendatangi kediaman Oxela.


"Tenanglah, Nyonya! Semua akan teratasi. Semua penjagaan disini sudah disiapkan dengan matang, karena kami sudah tahu mereka pasti akan menyerang Mansion ini," kata Jared yang melihat raut wajah Gloria yang memucat.


"Apa tidak sebaiknya aku pergi? Aku takut dengan adanya aku disini, justru akan membahayakan kalian. Apalagi dirumah ini ada Briel, aku tidak mau mengganggu kenyamanan bayimu, Oxela...." Gloria merasa sungkan sebab semua ini terjadi karena kaburnya dia dari Yacht tempo hari.


"Memangnya kau mau kemana, Gloria? Disini tempat paling aman untukmu saat ini," sahut Oxela meyakinkan Gloria.


"Entahlah, aku tidak bersemangat untuk menyelamatkan diri lagi." Gloria merasa tak masalah baginya jika menyerah pada Richard, sebab Owen sudah dinyatakan meninggal oleh adiknya sendiri.


Sekarang, ia tak punya harapan untuk hidup dengan baik. Apalagi ia juga tak mengetahui keberadaan Jeff dan kabar puteranya itu. Ia merasa jatuh lagi pada palung terendah dalam hidupnya. Putus asa dan tak memiliki tujuan yang pasti saat ini. Ia kehilangan pacuan dan tumpuan hidup yang bisa membuatnya kembali bangkit dan bersemangat.

__ADS_1


"Gloria, jangan menyerah. Jika kakakku ada disini pasti dia akan sedih melihatmu begini. Kau harus hidup, sekalipun kau tidak memiliki kakakku lagi. Kau masih punya kami. Kami keluargamu!" Oxela memeluk tubuh Gloria yang berguncang karena isakan.


Disaat itulah Jared tidak tahan dan membuang muka. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya mengenai Owen, namun ia tak memiliki kuasa untuk itu. Ia merasa biarlah Owen yang nantinya menjelaskan lebih lanjut pada Gloria. Lagipula, Jared tak mau merusak rencana yang sudah disusun oleh atasannya.


"Sepertinya mereka sudah menyerah," kata Jared mengintip dari jendela. Tak ada keributan lagi dibawah sana, pertanda orang-orang Richard telah mundur, tapi bukan berarti mereka akan lengah. Semua penjagaan akan selalu siaga mulai detik ini.


_____


"Tuan, saat ini saya akan menyuntikkan obat untuk anda lagi." Prof. Jamie berkata sembari menatap Markus yang kini terbujur kaku dengan hampir seluruh tubuh dibalut dengan kain kasa. Markus sudah layaknya seperti mumi yang diawetkan, tapi pada kenyataannya pria tua itu masih bernyawa. Jantungnya pun masih berdetak.


Prof. Jamie segera menyuntikkan obat ke bagian tubuh Markus. Markus yang sudah tak dapat berkata-kata lagi, tidak bisa mengeluarkan protes sepatah katapun sebab semakin hari tubuhnya seakan digerogoti dari dalam.


Tidak ada kemajuan sama sekali. Sebab yang disuntikkan padanya bukanlah obat untuk penyembuhan, melainkan obat untuk membunuhnya secara perlahan-lahan. Markus dijadikan objek untuk malpraktek Prof. Jamie.


Profesor itu merasa beruntung karena tak perlu mencari tikus percobaan, dan lagi bisa sekaligus menolong Owen, sahabat adiknya, James.


Jamie? James? Ya, mereka adalah kakak beradik tapi tidak diketahui oleh publik apalagi Markus, sebab Jamie sudah mencopot nama keluarga dari nama aslinya. Itu ia lakukan karena tidak mau mendompleng nama keluarganya. Ia merasa bisa berdiri sendiri dan lagi ia sering melakukan uji coba ilegal, ia takut jika percobaannya gagal maka akan mencoreng nama baik keluarganya dan Rumah Sakit milik sang adik.


Jamie sama sekali tidak takut dengan ancaman pembunuhan yang dilakukan Markus padanya jika ia ternyata berkhianat. Mungkin ia tak memiliki senjata seperti Markus, tapi ia memiliki obat yang bisa membunuh pria tua itu lebih dulu.


"Bagaimana keadaannya, Prof? Apa perlu kita bawa dia ke Rumah Sakit?" tanya Richard.


"No! No! Rumah sakit tidak akan bisa menyembuhkannya. Justru akan memperparah keadaan," kata Prof. Jamie meyakinkan dengan pemikirannya.


"Aku ingin Ayahku cepat sembuh," kata Richard dengan senyum tipis. "Bagaimanapun Ayahku yang memberiku kekuasaan ini."


Prof. Jamie mengangguk singkat. Ia mencoba melakukan banyak hal untuk melihat kondisi kesehatan Markus selanjutnya. Dan lagi, ia ingin berakting meyakinkan Richard bahwa dia telah berupaya demi kesembuhan Markus.


Prof. Jamie membuka kelopak mata Markus dan menyorotnya dengan sebuah senter kecil.


"Seharusnya obatnya bereaksi untuk tubuh Tuan Markus. Tapi, kenapa tubuhnya seolah tidak menerima asupan obat yang sudah saya berikan?" kata Prof. Jamie kemudian.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Formula yang saya berikan padanya tidak direspon oleh tubuhnya."


Padahal formula itu bekerja aktif untuk melumpuhkan semua syaraf-syaraf tubuh Markus. Hanya saja, Prof. Jamie membohongi Richard. Hanya beralibi.


"Apa umur ayahku tak akan lama lagi?" tanya Richard ingin tahu.


"Entahlah, tapi denyut nadinya semakin melemah." Kali ini Prof. Jamie berkata jujur.


"Ayah, apakah kau akan segera berpulang?" tanya Richard memegang tangan sang Ayah yang juga masih terbalut kasa. "Jika memang begitu, segeralah pergi. Karena aku menunggu kematianmu," sambung Richard membuat Prof. Jamie terkejut sebab mengira selama ini Richard tulus menyayangi Markus.


"Jangan kaget begitu, Prof! Kau pasti paham jika aku sudah mendapatkan tahta ayahku... hanya itu yang ku mau saat ini. Apa bisa kau menyuntikkan obat untuknya agar dia segera berpulang?" lanjut Richard membuat Jamie bergeming.


Jamie merasa Richard berubah-ubah. Apa pria ini punya kepribadian ganda?


"Kenapa diam saja Prof? Apa kau sangat setia pada Ayahku?" kekeh Richard.


"Saya rasa Anda tidak serius dengan pernyataan Anda, Tuan Richard."


"Tentu aku serius. Aku sudah muak menunggu dia sehat kembali. Nyatanya dia lebih baik mati saja!" imbuh Richard dengan penekanan kata-katanya.


Tak disangka, alat deteksi jantung Markus justru berbunyi cepat, menandakan bahwa sang pemilik tubuh dapat mendengar bahkan merespon ucapan Richard dengan detakan jantung yang bergerak cepat di kurva yang terlihat.


"Saya akan memeriksanya!" Prof. Jamie beringsut, ingin segera memompa jantung Markus. Tentu ia tak benar-benar ingin melakukannya, karena ia juga menginginkan Markus cepat mati. Ia hanya ingin melihat bagaimana reaksi Richard atas tindakannya ini.


"Jangan!" cegah Richard. "Biarkan saja dia mati. Jika dia kembali hidup pun dia akan tersiksa!" sambungnya.


Prof. Jamie terdiam. Sesuai dengan perkiraannya, bahwa Richard akan mencegahnya untuk memberi pertolongan pada pria tua itu.


"Jadi, apa yang harus saya lakukan?" Prof. Jamie berlagak menurut dan tidak beranjak lagi.

__ADS_1


"Biarkan dia meregang nyawa. Diamkan saja, tidak perlu ada tindakan. Kita tunggu waktu kematiannya!"


*******


__ADS_2