Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Jared-Lily / 10


__ADS_3

Jared baru saja tiba di Rumah Sakit. Rencananya hari ini ingin mengajak Lily untuk membeli cincin pernikahan mereka. Mengingat kondisi Dientin yang masih sakit, Jared merasa tak perlu ada pesta pernikahan. Hanya melakukan pemberkatan dan membuat pernikahan itu suci dimata Tuhan dan Negara saja, begitulah pemikiran Jared yang akan dia usulkan pada Lily nantinya.


Entah kenapa meski dihatinya belum ada cinta, tapi kini Jared sangat yakin dengan keputusannya untuk menikahi Lily meski hal itu hanya terlintas sekilas dikepalanya.


Jared baru saja berbelok di koridor yang menghubungkan ke ruang perawatan Dientin. Namun langkahnya terhenti kala melihat Lily sedang bercakap-cakap dengan seorang pria. Matanya memicing memperhatikan gestur pria itu. Tak salah lagi, itu adalah pria yang sempat dikenalkan Lily padanya sebagai salah satu penyelenggara adu Tancho di club' malam itu. Jared mencoba mengingat nama pria itu. Hary, namanya Hary.


Tapi, ada urusan apa dia dengan Lily?


Jared memutuskan untuk diam dan melihat interaksi diantara keduanya. Sepertinya mereka tengah berbincang serius sekarang.


Jared melihat Hary yang mencoba meraih jari-jemari Lily namun Lily seakan menghindari hal itu. Jared tersenyum tipis saat intuisinya mulai mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Ya, ia terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Bukan sembarang menyimpulkan tetapi tebakannya hampir selalu tepat sasaran.


Jared berjalan perlahan, bahkan gerakannya tak disadari dua orang yang tampak serius berbincang itu. Sekarang Jared bisa melihat wajah Hary yang merah padam seolah menyimpan kemarahan.


Untungnya koridor itu sepi, sebab di lorong ini hanya ada dua kamar pasien saja. Sehingga Jared bisa mendengar lebih jelas perbincangan mereka.


Tak salah lagi, mereka sedang membicarakan dirinya sekarang.


"Jika dia tidak mencintaimu, aku tidak bisa ikhlas melepasmu, Lily!"


Ucapan Hary jelas didengar oleh Jared yang semakin mendekat. Lily tak menyahut meski Jared sangat ingin tahu apa lagi jawaban yang akan diberikan gadis ini pada Hary.


"Lily...." Jared menyapa Lily. Membuat Lily yang sejak tadi tertunduk sambil menopang kepala menoleh ke arahnya. Hal itu juga membuat Hary menatap padanya.


"Apa ada masalah?" tanya Jared berlagak bodoh. Ia tahu apa yang mereka bicarakan tadi yang sedikit banyak mengenai dirinya, tapi ia berpura-pura tidak pernah mendengar apapun.


"Ti--tidak ada!" jawab Lily pelan.


Jared menatap pada Hary. Kemudian menanyakan hal serupa.


"Kalau kau, apa ada masalah?" tanyanya.


Hary terdiam dengan rahang yang tampak mengeras.


"Jika ada masalah sampaikan saja, mungkin kita bisa membicarakannya secara bijaksana." Jared sengaja tersenyum miring seusai kalimatnya.


Jadi, dari yang Jared lihat, ia bisa menyimpulkan bahwa pria bernama Hary menyukai Lily, bahkan pernah melamar gadis itu. Pantas saja sikapnya tak ramah saat Lily mengenalkan Jared pada pria itu saat di club'. Hary juga terkesan meremehkannya yang ingin ikut games taruhan itu.

__ADS_1


"Sebelumnya aku sudah melamar Lily lebih dulu... lamaranmu pada Lily malam itu hanya sebuah tantangan, jadi ku pikir ada kesalahan dengan pernyataan Lily yang mengatakan jika dia menikah denganmu dalam waktu dekat." Hary mulai berujar, namun tak mau melihat pada Jared.


"Oh..." Jared hanya ber-Oh ria tanpa niat menjelaskan. "Jadi apa maumu?" tanyanya kemudian. (Sok iye banget sih, bang? 🤭)


"Jika kau hanya bermain-main dengan Lily, aku harap kau mau melepaskannya untukku. Lily layak dicintai, bukan untuk dipermainkan." Hary berujar tegas dan terdengar tak main-main.


Jared malah menggenggam tangan Lily, membuat gadis itu mengadah padanya dengan tampang tercengang.


"Kau benar, Lily memang layak dicintai. Maka dari itu aku memutuskan untuk menikahinya dan mencintainya dalam ikatan pernikahan."


Lily terpana beberapa saat, bagaimana bisa dia melewatkan pria ini. Meski ia ragu Jared mencintainya atau tidak, tapi pernyataan Jared barusan membuat jantungnya sulit dikondisikan. Mencintai dalam ikatan pernikahan. Kenapa rasanya pria ini amat manis?


Sementara itu, Hary membeku mendengar pernyataan Jared. Seolah ia telah kalah telak.


"Lily, hari ini aku mau menjenguk bibi Dien, setelah itu aku ingin mengajakmu membeli cincin pernikahan kita." Jared sengaja menekankan kalimatnya yang terakhir--membuat wajah Hary semakin pias.


Tak berapa lama, Clara keluar dari dalam ruang rawat Dientin, menyapa Lily dan Jared yang belum pernah dilihatnya. Clara bertanya-tanya siapa pria ini didalam benaknya.


"Dia Jared...." kata Lily seolah bisa membaca pikiran Clara.


"Ah, ya..." Clara mengulurkan tangan pada Jared dengan senyum semringah.


"Ya," jawab Clara dengan ramah.


"Ah, kebetulan ada teman-temanmu disini, apa kau tidak berniat mengundang mereka ke pemberkatan pernikahan kita, Lily?"


Saat itu juga wajah Hary semakin tertekuk, dan senyum di wajah Clara perlahan menghilang.


"K-kau mau... mau menikah, Lily?" tanya Clara tampak syok. Sesekali Clara mencuri pandang pada Hary, mengecek keadaan sepupunya itu saat mengetahui hal ini.


"Ya." Lily tampak banyak diam sejak kedatangan Jared. Sesungguhnya ia tak bisa menjawab apapun jika nanti Clara menanyakan tentang pernikahan dadakannya ini.


"Kapan?" tanya Clara lagi.


"Sabtu besok!" ujar Jared santai, namun membuat Lily menatapnya dengan mata membola. Lily tak menyangka jawaban Jared seperti ini. Ini bahkan sudah hari Rabu. Bagaimana bisa mereka akan menikah dihari Sabtu? Semuanya bahkan belum diurus, begitulah kekhawatiran Lily.


"Apa?" Hary dan Clara terkejut bersamaan saat mendengar pernyataan Jared.

__ADS_1


Clara segera menarik lengan Lily untuk menjauh dari posisi Jared dan Hary.


"Kau akan menikah? Kenapa tidak bilang padaku?" tanya Clara.


"Ini mendadak." Lily berujar terus terang.


Clara menatap Lily dari ujung rambut sampai ujung kaki seolah memperhatikan.


"Kenapa? Apa kau hamil?" tanya Clara spontan sembari menyentuh perut Lily yang tampak rata, sementara Lily segera beringsut sedikit menjauh.


"Tidak! Apa-apaan kau ini," sungut Lily.


"Ayolah, jujur padaku! Aku tahu Jared ini adalah pria yang kau sukai sejak lama, kan?" Clara menaik-naikkan alisnya menggoda Lily.


"Apa-apaan!"


"Coba ceritakan padaku! Apa kalian berkencan lalu kau hamil? Ayo terus terang saja."


"Sudah ku bilang, tidak ya tidak, Clara!"


Clara terkekeh jenaka, seolah menggoda Lily dengan aksinya itu. Dia juga tampak mengulumm senyum.


"Aku serius! Kami menikah karena permintaan ibuku dan entah kenapa Jared malah mengiyakannya, bukan karena aku hamil atau apalah," sungut Lily sambil melipat tangannya didada.


"Tapi kau senang, kan? Tidak terpaksa, kan?"


Lily menggeleng. "Tentu saja tidak," jawabnya sambil ikut mengulumm senyum.


Bersamaan dengan itu, suara deheman seseorang menyela pembicaraan mereka. Ada Hary disana.


"Clara, ayo kita pulang sekarang!"


"Oke." Clara menyatukan telunjuk dan ibu jarinya membentuk tanda setuju.


Hary menatap Lily sejenak, kemudian menarik nafas dalam.


"Jika kau tiba-tiba berubah pikiran, segeralah hubungi aku. Aku akan menerimamu kapan saja, Lily!" ujarnya, membuat Lily semakin tertekan rasa bersalah.

__ADS_1


*****


__ADS_2