Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Secepat itu?


__ADS_3

"Keputusanmu sudah benar, Sayang..." Richard masuk dan mendekap tubuh Gloria dari belakang.


Gloria terkesiap, sadar dengan hal itu ia segera menghindar dari pelukan Richard.


"Jangan menyentuhku lagi," ucapnya dalam rasa putus asa.


Richard mengernyit, Gloria telah menolak untuk kembali bersama Owen, lalu kenapa Gloria juga bersikap dingin padanya? Bukankah penolakan Gloria pada Owen artinya Gloria mau membina rumah tangga dengannya lagi?


"Aku tahu kau belum sepenuhnya melepaskan Owen, tapi aku mau kau tetap membuka hati untukku, hmm.." Richard kembali menyentuh pundak Gloria, membalik tubuh wanita itu agar segera menghadapnya.


"DON'T TOUCH ME!" tekan Gloria marah.


Richard terkejut mendengar kalimat Gloria yang penuh penekanan itu.


"Kau sudah menolaknya, bukan? Itu artinya aku yang menang!" ucap Richard percaya diri.


"Bukan berarti membuatmu bebas menyentuhku!" jawab Gloria lantang dengan wajah memerah.


"Aku menolaknya karena aku tidak mau dia sakit hati dan lebih kecewa saat mengetahui kondisiku," batin Gloria.


"Jadi, apa maumu, hah?" Richard menatap Gloria dengan tatapan nyalang. Ia tidak menerima Gloria selalu menolaknya, padahal ia sudah merasa tinggi hati saat melihat Gloria mengusir Owen dan tidak mengadu pada pria itu mengenai apa yang telah terjadi.


"Setidaknya beri aku waktu! Jangan memaksaku! Aku membenci hal itu!"


Richard mengangguk samar. "Baiklah, karena kau sudah mengambil keputusan yang benar dengan mengusir Owen dan tidak kembali padanya, ku beri kau waktu satu Minggu, jika kau tetap pada sikapmu ini, maka jangan salahkan aku jika akan selalu memaksamu!"


Richard berlalu setelah mengucapkan kalimat itu, membuat Gloria cukup bisa bernafas lega sekarang.


_____


"Lauren, siapkan kamar tamu."

__ADS_1


"Apa akan ada tamu yang menginap, Tuan?"


"Jangan banyak bertanya, siapkan saja! Aku yang akan menempati kamar tamunya!"


"Hah? Nyonya Gloria?"


"Dia tetap di kamar utama! Sudahlah, tidak usah menuntut untuk banyak tahu!" Richard mengibaskan tangan menyuruh Lauren segera angkat kaki dari hadapannya.


Richard bertekad, akan membuat Gloria kembali mencintainya, ia benar-benar menyesali kesesatannya selama ini. Ia menyesal telah menyia-nyiakan istri yang telah lapang hati menunggunya, namun ia sadar bahwa semuanya cukup terlambat.


Hanya kembali pada Gloria jalan satu-satunya yang terbaik untuk Richard, ia tak punya pilihan lain sebab orangtuanya juga sangat menyayangi Gloria sebagai menantu. Sudah cukup selama ini ia menutupi kepergian Gloria dengan berbagai alasan yang dibuatnya. Mulai dari pulang ke Indonesia, orangtua Gloria yang sakit, sampai Gloria yang belum ingin kembali.


Beberapa hari lagi adalah ulang tahun pernikahan kedua orangtuanya, paling tidak disaat itu Ibu dan Ayahnya akan bertemu dengan sang menantu.


Baiklah, ia akan memberi Gloria waktu. Memang tidak mudah, ia paham Gloria tak mungkin memaafkannya begitu saja, jadi ia pun memahami resiko yang harus ditanggungnya.


Terlebih, kepergian Gloria dari Mansionnya juga cukup membuatnya sadar diri bahwa sebenarnya ia merindukan sosok wanita itu yang selalu menyambut kepulangannya dengan senyuman hangat.


_____


"Gloria... menantu Mommy," Isabel memeluk Gloria yang baru tiba di Mansionnya-- bersama Richard.


"Selamat ulang tahun pernikahan, Mommy..." ucap Gloria membalas pelukan wanita yang masih berstatus mertuanya itu. Ia terpaksa mengikuti kemauan Richard untuk menghadiri pesta ini, namun jauh didalam lubuk hatinya ia memang menyayangi Isabel layaknya Ibu kandungnya sendiri.


"Terima kasih, sayang. Kau nampak pucat, apa kau sakit?" tanya Isabel penuh selidik.


Gloria menggeleng pelan. "Tidak juga, aku hanya kurang enak badan, Mom," jawab Gloria apa adanya.


"Richard, apa istrimu tidak kau beri makan setelah kembali dari Indonesia? Dia terlihat kurus," bisik Roman ditelinga puteranya.


"Akhir-akhir ini Gloria sering tidak makan, Dad," jawab Richard berkata jujur, karena memang seperti itulah yang dilaporkan Lauren kepadanya.

__ADS_1


"Kau tidak berselera makan, Gloria?" timpal Isabel.


"Iya, Mom. Hanya beberapa hari belakangan ini," jawab Gloria.


Wajah Isabel tampak berbinar-binar semakin cerah. "Jangan-jangan kau sedang hamil, Gloria!" ucapnya antusias.


Gloria terdiam dengan mata membola.


"Ha-hamil?" Richard menyuarakan keterkejutannya, sementara Gloria masih diam tidak berkutik.


"Ya, kenapa terkejut begitu? Bukankah seharusnya kalian senang?"


"Secepat itu?" ujar Richard pelan, ia tak menyangka perbuatannya beberapa hari lalu pada Gloria justru membuahkan hasil secepat ini. Ditambah lagi, ia menggunakan pengaman waktu itu, tentu untuk mencegah kehamilan Gloria sebab ia belum mau memiliki anak sebelum Gloria melunak padanya. Apa ini artinya....


"Apanya yang secepat itu? Kalian sudah menikah selama delapan bulan, jika Gloria hamil itu sangat wajar," kata Roman tertawa semringah.


Dilain sisi, Gloria menciut mendengar ujaran mertuanya. Apa iya dia hamil? Keadaan tubuhnya memang sulit ditebak sekarang, lebih sering lesu daripada bersemangat, ia kira itu terjadi karena sekarang ia tinggal dikediaman Richard lagi dan karena mengingat perbuatan Richard kepadanya. Ia juga mengira kesedihannya belakangan hari karena perpisahannya dengan Owen yang terjadi secara mendadak.


Lalu, jika dia hamil, apa ini anak Owen? Richard hanya melakukannya sekali dan itu terjadi beberapa hari lalu. Ingatannya juga masih berfungsi jika Richard melakukannya dengan pengaman.


Gloria dan Richard saling bertatapan seolah mencari jawaban di mata masing-masing.


"Kita akan segera punya cucu, Isabel!" pekik Roman kesenangan.


"Benar, ini adalah hadiah paling sempurna di hari ulang tahun pernikahan kita," pungkas Isabel.


"Kami akan memeriksakan kondisi Gloria dulu, Dad. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan karena aku tidak mau kalian berharap terlalu besar!" kata Richard kepada sang Ayah namun matanya tetap menyoroti Gloria dengan lekat.


Gloria menundukkan wajah sembari mere mas jemarinya sendiri, entah kenapa ia menjadi sangat gugup dengan keadaan ini.


******

__ADS_1


__ADS_2