Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Rencana licik


__ADS_3

Tidak ada percakapan lagi antara aku dan Gloria sejak kami kembali ke kamar penginapan. Dikepalaku hanya memikirkan tentang ucapan terakhir Gloria pada Richard yang meminta pria itu untuk terus melanjutkan pengobatannya.


Aku ingin kembali bertanya pada Gloria apakah dia akan memberi Richard kesempatan lagi? Namun niat itu ku urungkan sebab aku sadar bahwa hubunganku dengan Gloria pun tak memiliki status yang jelas.


Haruskah aku terus menuntutnya bersamaku, padahal aku sendiri tidak yakin akan perasaan yang ku miliki terhadapnya?


Aku menaiki ranjang dan berbaring di samping Gloria yang sudah berada disana lebih dulu. Aku tahu dia belum tidur karena dia masih tercenung sembari memandangi langit-langit kamar.


Demi apapun, aku tidak suka berada dalam mode diam seperti ini. Aku ingin ada pembicaraan diantara kami. Paling tidak, ada penjelasan dari Gloria mengenai keputusannya selanjutnya.


"Kau masih membutuhkan hadiah ulang tahunmu?" tanyaku pelan.


Gloria bergerak dan menoleh kearahku. "Tentu saja," jawabnya.


"Aku pikir kau tidak memerlukannya lagi, sebab tidak jadi menuntut perceraian dari Richard."


"Kau selalu meragukan ucapanku, Owen." Terdengar helaan nafas berat dari Gloria.


"Aku pikir kita bisa menghabiskan waktu dengan baik sebelum aku ke UEA, nyatanya malam ini aku malah melihatmu bersama dengan Richard," keluhku terus terang.


Gloria tak menyahuti ucapanku, dia membalik badan demi memunggungi posisiku. Aku menggerutu dalam hati, apa sebenarnya yang dia inginkan sekarang? Kenapa dia yang bersikap merajuk? Bukankah seharusnya aku yang marah padanya sebab ucapannya pada Richard tadi?


"Kau marah melihatku bersama dengan Richard?" tanya Gloria masih dalam posisi membelakangiku.


"Tentu saja!" jawabku cepat.


"Tapi... dia suamiku!"


"Suami sin ting," sarkasku tanpa bisa ditahan.


"Kau cemburu?"


"Tidak juga."


"Lalu, kenapa kau marah melihatku bersama Richard?"


"Aku--" Jujur, aku bingung mau menjawab apa sehingga kata-kataku terputus begitu saja.


"Apa kau hanya merasa kasihan padaku?"


"Tidak begitu, Gloria."


"Lalu?"


"Entahlah," ujarku malas berpikir.


"Ku pikir kau pintar dalam segala hal. Tapi sepertinya kau lemah dalam menilai perasaanmu sendiri."


"Maksudmu?"


"Semoga saat kau menyadari perasaanmu, semuanya belum terlambat," gumam Gloria. Tapi, pendengaran ku yang tajam cukup bisa mendengar hal itu.


Aku mencerna ucapan Gloria selama beberapa detik, lalu aku tiba pada sebuah kesimpulan yang membuat perasaanku tak enak.


"Jangan katakan kau ingin pergi dariku," ucapku mulai tak tenang. Aku meraih bahu Gloria dan mencoba membalikkan tubuhnya.


Gloria memejamkan mata, berlagak telah tertidur.


"Coba ulangi apa yang kau katakan tadi!" tuntut ku.

__ADS_1


"Nothing," kata Gloria pelan namun tetap dengan mata terpejam.


"Jangan berlagak tidur! Tidak ada orang tidur yang bisa menjawab pertanyaan!" gerutu ku.


"Hoammm...." Gloria menguap panjang. Namun, aku tidak mau dia menghindariku kali ini.


"Cepat ulangi apa yang kau katakan tadi. Aku bisa mendengarnya tadi!"


"Kalau kau sudah mendengarnya, ya sudah!" jawab Gloria malas.


"Tapi aku ingin kau menjelaskan ucapanmu itu!"


"Tapi aku mengantuk." Gloria kembali memunggungiku, namun secepat kilat aku menahan tubuhnya agar tetap menghadapku.


"Aku tidak suka orang yang mengingkari janjinya!" Aku berkata tegas didepan wajah Gloria yang terpejam. Lambat laun, mata lentik itupun terbuka demi melihat keseriusanku dalam berbicara.


"Aku tidak akan mengingkari janjiku. Aku tidak akan meninggalkanmu, setidaknya hatiku begitu."


"Hatimu?" Aku menggeleng tak habis pikir. "Hanya hatimu? Apa itu artinya seluruh tubuh dan ragamu ini akan meninggalkanku, begitu?" tanyaku menuntut, aku mulai memahami maksud Gloria. Hatinya takkan berpaling dariku seperti janjinya, namun raganya mungkin akan meninggalkanku, entah kapan, tapi mungkin saja terjadi.


"Aku menginginkan hatimu dan semua yang ada padamu agar tetap berada di sisiku, Gloria!" Aku menangkup pipi Gloria, menatapnya dalam.


Gloria tersenyum kecil. "Kemarin kau menuntutku untuk menggunakan rasa saat bersamamu. Sekarang kau menuntut hati dan semua yang ada padaku." Gloria mengelus pipiku lembut.


"Ya, itu benar. Kenapa? Kau mau mengatakan aku egois, lagi? Ya, itu juga benar, aku memang egois! Segala yang menyangkut tentangmu, membuatku menjadi egois!"


Gloria tertawa pelan. "Lalu? Apa artinya keegoisanmu itu? Kau berharap memiliki aku seutuhnya, tapi mengartikan sikap itupun kau tak bisa!"


Aku menatap Gloria lekat, mencoba menanyakan pada diriku sendiri tentang apa yang sebenarnya ku inginkan. Sebenarnya aku tak perlu berpikir lagi karena jelas yang ku inginkan adalah seseorang yang saat ini ada didepan mataku. Namun, apa itu artinya aku mencintainya?


"Sudahlah, aku mengantuk, Tuan." Gloria kembali memejamkan mata, bersamaan dengan secara perlahan ia melepaskan jemariku yang berada di kedua pipinya.


"Glo..." ucapku kecewa. Aku tidak suka dengan sikap penolakannya.


"Gloria, i love you," ucapku pelan, nyaris berbisik. Kalimat itu keluar begitu saja tanpa bisa ku tahan lagi.


Seketika itu juga Gloria membuka matanya. Ia tampak terkesiap dan sulit mengucapkan kata.


"K-kau?"


"Aku mencintaimu, Sayang," ucapku dengan rasa yakin yang luar biasa. Entah kenapa sekali kalimat cinta itu keluar dari bibirku, rasa untuk mengulangi kalimat yang sama terasa menggebu-gebu. Terasa kurang jika hanya sekali menyebutkan. Rasanya, aku ingin mengucapkan kalimat itu berkali-kali sebab entah kenapa itu terasa melegakan.


Gloria membuka bibirnya, seolah ingin mengucapkan suatu hal lagi, namun aku langsung menyergap bibirnya dengan ciumanku.


Rasanya baru sore tadi aku mengecupinya diatas Yacht, namun entah kenapa gelora merindu selalu hadir dan merasa kurang jika ini sudah ku mulai. Kali ini bahkan ada tuntutan dalam diriku yang menginginkan hal lebih.


Gloria mengimbangi ciumanku, ia melingkarkan kedua tangannya dileherku. Aku melepas tautan bibir kami sejenak, demi melihat wajah wanita itu. Semburat merah selalu menghiasi wajahnya jika kami berada dalam momen intens seperti ini. Padahal, entah sudah berapa kali aku melakukan hal yang sama padanya.


"I love you..." bisikku didepan wajah Gloria, aku menikmati wajahnya yang terpana sekaligus tersipu.


Aku memulai segalanya dengan indah malam itu. Kelegaan setelah aku mengucapkan kata cinta pada wanitaku membuat permulaan ini terasa lebih dari biasanya.


Aku merasa terhanyut pada gelora yang menggebu saat menatap sajian yang ada didepan mata. Namun, aku masih sadar akan apa yang sedang ku perbuat. Justru, sebuah rencana licik kini terbersit dikepalaku.


"Owen..." Gloria mencengkram bahuku, aku tahu ia akan sampai. Aku memacu lebih cepat lagi, ingin menyamainya mencapai garis finish.


"I'm so lucky to have you," bisikku parau dicuping telinga Gloria. Bersamaan dengan itu, tubuh Gloria mengejang disertai lengu hannya yang panjang.


"Now... it's my turn, Baby!" (Sekarang giliran ku, Sayang!). Aku melepaskan segala yang aku miliki pada milik Gloria, sengaja berlama-lama dalam posisi yang sama, kemudian berguling kesebelah tubuh polos Gloria-ku.

__ADS_1


Aku menatapnya dengan nafas yang masih memburu, tampaknya ia masih menikmati sisa rasa percintaan kami. Aku mengecup kedua matanya yang terpejam, mengelap titik-titik keringat yang ada di dahinya. Aku merasa yang kali ini lebih daripada biasanya, sebentar lagi aku pasti akan mengulanginya kembali. Pasti.


"I love you, Honey..." ucapku sungguh-sungguh. Gloria benar, aku terlalu lemah mengartikan perasaanku. Lebih tepatnya bo doh dan tidak berpendirian.


Namun, senyum kepuasan dari bibirku harus lenyap tatkala Gloria mulai bersuara.


"Kenapa kau mengeluarkannya didalam?" protes Gloria tajam. Sepertinya ia baru menyadari tentang perbuatan culasku. Itu artinya, sedari tadi Gloria amat menikmati permainan kami hingga lupa segalanya. Fiuh...


"Aku ingin kau hamil anakku, Sayang." Aku menjawab to the point tentang pikiran licikku yang sempat terlintas tadi.


"Tidak, tidak...." Gloria terlihat panik, kemudian terduduk dengan secepat kilat, ia meraih selimut untuk menutupi tubuhnya, satu tangannya yang lain mulai terulur demi meraih ponsel yang ada di nakas.


Aku mengernyit dengan reaksinya, kemudian melirik apa yang tengah ia lakukan pada ponselnya, aku bisa melihatnya yang sedang mengamati angka-angka yang tertera di phone calendar.


"Kau sedang apa?" tanyaku penasaran.


"Melihat siklusku," jawabnya terdengar gusar.


"Lalu? Apa ada pengaruhnya?"


"Jika aku dalam periode subur maka...." Gloria tampak bingung sembari seperti orang yang tengah berhitung. "Oh my...." sambungnya dengan panik.


"Owen, bagaimana jika aku hamil?" Gloria mendesak ku sambil menguncang lenganku dengan kencang.


"Berarti rencanaku berhasil," jawabku enteng.


"Owen!!!!"


"Kenapa? Kau mencintaiku dan aku juga sudah mengakui bahwa aku mencintaimu. Apalagi?"


"Setidaknya biarkan aku bercerai dulu dari Richard," keluh Gloria dengan helaan nafas panjang.


"Terlalu lama, aku harus mengisi deposit dulu ditubuhmu agar kau tidak macam-macam!"


"Deposit? Macam-macam apanya?" Gloria mengernyit.


"Deposit itu benih yang ku tanam, agar kau tidak kembali pada Richard," jawabku tersenyum culas.


"Astaga, Owen...." Gloria memijat pelipisnya sendiri.


"Kenapa? Mau lagi?" tanyaku sembari mengerling pada Gloria yang wajahnya sudah kembali memerah.


"Dasar badung!" protesnya.


Aku tahu kata 'badung' itu bukan kosa kata yang ada didalam kamus. Itu adalah bahasa anti mainstream yang hanya digunakan oleh orang-orang di Indonesia.


"Jangan pikir aku tidak tahu apa artinya 'badung'," kekehku.


Gloria mencebik namun sesaat berikutnya ia seperti anak kecil yang merengek.


"Aaaa... Owen, kau memperumit segalanya."


Aku hanya tertawa pelan sembari membelai-belai kaki Gloria yang ku jadikan guling.


"Bantu aku mencari obat agar aku tidak hamil!"


"No!" tolakku keras. Gloria pasti cukup tahu keegoisanku untuk hal memilikinya. Jadi, dia tak bisa memaksaku dalam hal ini.


Ku biarkan saja Gloria merengek seperti anak kecil yang sedang meminta ice cream, aku hanya diam mendengar celotehannya tentang hal-hal yang ia takuti jika kehamilan itu benar - benar terjadi.

__ADS_1


Aku tidak peduli sebab hanya dia yang ku inginkan.


****


__ADS_2