Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Tujuan selanjutnya


__ADS_3

Aku kembali ke Apartmen malam itu juga, membuka kembali lemari pakaian yang masih banyak menyimpan baju dan barang-barang milik Gloria.


Setelah ku amati, ternyata bukan hanya benda yang ku berikan padanya yang masih tertinggal. Lebih tepatnya semua barang-barangnya masih berada di Apartmenku.


Tidak, apa ini artinya Gloria tidak bermaksud pergi dariku?


Aku melihat travel bag milik Gloria, tas besar itulah yang pertama kali Gloria bawa saat Richard mengantarkannya ke Apartmenku kurang lebih tiga bulan yang lalu.


Sepertinya aku memang telah dikelabui dengan pembelian tiket penerbangan menuju Indonesia. Tiket itu sengaja dibeli menggunakan akses credit card milikku, agar aku terpedaya. Ya, semua ini adalah unsur kesengajaan.


Aku menggeleng frustrasi. Tapi syukurlah aku tidak jadi ikut terbang ke Indonesia demi mencari Gloria karena itu akan membuang waktuku untuk mencarinya yang sebenarnya masih berada di Negara yang sama denganku, saat ini.


Aku membongkar travel bag, berharap menemukan hal lain. Namun, tidak ada apapun lagi. Tapi, ada satu yang hilang, semua surat-surat Gloria tidak berada disana. Sialan! Kemana sebenarnya Gloria? Apa benar ini ada kaitannya dengan Richard?


Aku menyugar rambut dalam kondisi pikiran yang kacau. Aku tidak mau membuang waktu lagi, aku harus menemukan Gloria jika perlu malam ini juga.


Aku teringat pada kata kunci yang sempat ku pikirkan setelah aku berdiskusi dengan Oxela beberapa saat lalu.


Gegas aku menuju ruang kerja, menyalakan laptop dan mencari apa yang ingin ku ketahui dengan benda itu.


Aku melihat rekaman CCTV ruangan untuk melihat kegiatan Gloria dalam sepekan kepergianku.


Seharusnya hal yang tak beres tidak mungkin terjadi kepadanya, sebab aku memberinya penjagaan berupa dua orang ajudan, Robin dan Meyer.

__ADS_1


Tapi, apa yang ku lihat di CCTV membuatku mencengkram kepala.


Tampak Richard datang berkunjung ke Apartmen dan kedua ajudan yang harusnya menjaga Gloria justru membiarkan pria itu untuk masuk. Meski aku sempat melihat ada keributan yang terjadi sebelum pria itu memasuki unit Apartmen, tapi pada akhirnya Richard memang berhasil masuk.


Kenapa dua ajudan kepa rat itu tidak memberitahukan ku mengenai hal ini? Dan Gloria, kenapa dia tidak mengatakan padaku tentang kedatangan Richard?


Aku tidak bisa mendengar apa yang Richard dan Gloria perbincangkan di ruang tamu sebab rekaman CCTV hanya menangkap adegan bukan suara.


Aku mendengkus keras saat Richard mengelus pipi Gloria. Wanita itu tampak menepis pelan jemari Richard, namun Richard seperti tak patah arang, ia mencoba terus menerus seolah tengah membujuk Gloria.


Aku melihat interaksi mereka. Cukup lama Richard berada di apartemenku, entah apa hal yang mereka bahas. Sesekali Gloria tampak menjawab ucapan Richard, begitupula sebaliknya.


Ahkirnya aku memutuskan bangkit dari dudukku, mencoba mencerna semua ini.


Tidak, itu tidak mungkin. Aku tidak terima dicampakkan seperti ini. Hati kecilku mengatakan Gloria tidak mungkin melakukannya. Aku sudah salah sangka mengira dia meninggalkanku pergi ke Indonesia, jadi sekarang aku tidak mau berburuk sangka kedua kalinya dengan menuduhnya telah kembali ke sisi Richard dan melepaskan aku tanpa satu patah katapun.


Pasti ada yang salah. Jawabannya akan ku dapatkan jika aku mencari keberadaan Richard sekarang.


Tapi sebelum itu, aku memutuskan untuk menghubungi Meyer lebih dulu demi menanyakan kinerjanya yang membiarkan Richard masuk ke Apartmenku beberapa hari lalu sebelum Gloria menghilang, tentunya.


"Ada apa, Tuan?" sambut Meyer begitu panggilanku tersambung kepadanya.


"Aku tanya padamu. Kenapa bisa Richard masuk ke Apartmenku untuk menemui Gloria?"

__ADS_1


"Ng--itu.... itu..."


"Katakan! Beraninya kalian menyembunyikan hal ini dariku!"


"Pria itu mengatakan membawa polisi karena Nona Gloria adalah istrinya dan kami dituduh telah menculik Nona."


"Kau seperti anak kemarin sore, Meyer!" Aku terkekeh sumbang. "Apa kau takut hanya diancam seperti itu oleh Richard?"


"Bukan begitu, Tuan. Dia bukan sekedar mengancam karena dia memang datang bersama seorang polisi ke Apartmen."


"Aku tidak melihat polisi yang kau maksudkan," kataku merujuk pada rekaman CCTV yang sempat ku lihat.


"Ada, pertama kali datang, polisi itu ikut masuk ke dalam Apartmen. Tapi dikunjungan berikutnya polisi itu hanya menunggu di depan."


Mungkin memang aku yang tak melihat lebih jauh awal mula kedatangan Richard melalui rekaman CCTV itu. Tapi itu artinya Richard mengunjungi Apartmenku lebih dari sekali.


"Kau yakin itu polisi sungguhan?" sarkasku.


"Ya, dia membawa tanda pengenalnya. Kami tidak bisa apa-apa karena Nona Gloria memang berstatus istri dari pria itu."


Aku menghela nafas panjang, kemudian memutus sambungan teleponku.


Tujuanku selanjutnya tentu adalah Mansion Richard.

__ADS_1


*******


__ADS_2