Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
I miss you


__ADS_3

Monitor yang menunjukkan kurva detak jantung Markus--semakin lama tak menanjak naik lagi, justru tampak semakin menurun--hingga akhirnya suara detak itu mulai melemah menjadi dengungan. Tampilan di monitor pun mulai membentuk satu garis lurus yang vertikal, seirama dengan bunyi nyaring yang makin berdengung-- menandakan bahwa sang pasien memasuki keadaan kritis di detik-detik yang harusnya menjadi waktu meregang nyawa


Siapapun yang mendengar intonasi yang dikeluarkan oleh speaker monitor itu, akan tahu pasti jika saat ini Markus yang terbaring lemah disana-- sedang terombang ambing diantara hidup dan mati.


Mirisnya, tak ada satupun dari kedua orang yang ada di dalam ruangan itu mau membantunya dengan memberikan tindakan pertolongan pertama. Baik itu Richard, maupun Prof. Jamie.


Kenyataan di akhir hidup Markus mungkin memang terlalu nahas dan menyakitkan, sama seperti bagaimana selama ini dia memperlakukan orang lain tanpa belas kasih dan pengampunan.


Prof. Jamie hanya bersedekap sembari menyaksikan Richard yang terkekeh puas melihat tontonan itu, seolah menunggu dan ia tak perlu melakukan tindakan apapun seperti permintaan Richard padanya dan tentu juga seperti keinginan hatinya sendiri.


Kemudian, Prof. Jamie melihat pada arloji yang ia kenakan di pergelangan tangan kiri. Menghitung waktu. Merasa sudah cukup dengan tontonan seru ini, akhirnya ia bergerak ke samping ranjang pesakitan itu untuk mengecek denyut nadi sang mantan penguasa.


"Waktu kematian, Sabtu 12 Februari pukul 13:40," ujar Prof. Jamie sembari menatap reaksi Richard yang semakin semringah diujung sana.


"Bye Ayah.... terima kasih atas tahtamu yang kau persembahkan untukku! Maaf aku tidak berniat menuruti permintaan terakhirmu untuk mencari Sean. Sekarang kau pasti berbahagia karena sedang menikmati momen penyiksaanmu di Neraka sana!"


Usai mengatakan itu, Richard melambai-lambaikan tangan pada jenazah Markus--seolah memberi salah perpisahannya dengan hal itu--- bersamaan dengan itu, Jenazah Markus pun ditutupi Prof. Jamie dengan selembar kain putih.


_______


"Nico! Ayahku sudah tiada. Urus pemakamannya! Atau jika tak mau terlalu repot, serahkan saja jenazahnya ke rumah duka agar di kremasi. Ritual apapun tak jadi masalah," kata Richard yang baru keluar dari ruang khusus yang selama ini menjadi tempat perawatan Markus. Ia menatap Owen yang ia yakini sebagai Nico sebab yang ia tahu pria itu telah melupakan masa lalunya.


"Baiklah," jawab Owen menurut. Ia tersenyum kecil dan menatap sekilas pada Prof. Jamie yang menyunggingkan senyum yang hampir sama dengannya. Senyum kepuasan, tentu saja.


Beberapa orang mengikuti Owen demi mengurusi perintah Richard mengenai jenazah Markus.


"Sekarang, tinggal giliran mu, Richard...." batin Owen bersorak senang, ia sudah menanti waktu yang cukup lama untuk momen seperti ini, dimana Richard akan segera hancur ditangannya.


Owen pun menatapi satu persatu orang-orang yang mulai sibuk menghubungi pihak rumah duka dan ada pula yang menghubungi awak media untuk melakukan konferensi pers mengenai kematian sang penguasa yang cukup tersohor dimasa kejayaannya.

__ADS_1


Tentu itu dilakukan untuk memberitahu publik, bahwa yang berkuasa kini telah tiada dan akan segera digantikan. Jadi, momen itu juga pasti akan dimanfaatkan Richard untuk mengumumkan pada khalayak mengenai kedudukannya sekarang--yang telah resmi menggantikan Markus seutuhnya.


Sean? Sesungguhnya Richard tak terlalu memikirkannya, meski ia tahu bahwa Sean akan menjadi batu sandungan untuknya dikemudian hari.


_____


Disaat proses pemakaman Markus berlangsung, disaat itu pula Owen mengambil tindakan untuk pergi secara diam-diam dan menjauh dari kerumunan.


Saat-saat seperti ini semua perhatian akan teralihkan dan sibuk dengan hal yang bersangkutan dengan kematian sang kepala mafia. Belum lagi banyak wartawan yang meliput prosesi itu, membuat Owen bisa beranjak dengan tenang tanpa diketahui siapapun.


Kemana lagi tujuannya sekarang, jika tidak menemui istrinya yang amat ia rindukan?


Kebersamaan mereka saat di Yacht kemarin cukup menyita pikirannya. Ia tahu Gloria juga sangat merindukannya, tapi waktu itu ia tak mau terang-terangan mengaku sebagai Owen yang sesungguhnya. Bukan untuk menutupi kenyataan, melainkan ia tak mau Gloria terbawa perasaan sehingga tak merelakannya untuk kembali berada dikediaman Richard nantinya.


Sebelum ia berhasil menghancurkan Richard, ada baiknya Gloria tidak tahu dulu mengenai jati dirinya yang sebenarnya. Biarlah Gloria menganggapnya sebagai Nico sekarang, agar wanita itu tetap membiarkannya kembali ke Mansion Markus.


Tak terbayang jika saat ini ia mengaku sebagai Owen didepan Gloria, pasti istrinya itu tak akan mengizinkannya kembali ke Mansion Markus sebab mengkhawatirkannya. Ia sangat tahu watak istrinya. Jadi, ia tak mungkin mengaku sekarang, sementara ia masih memiliki misi khusus untuk membalaskan dendam.


"Di kamar tamu, lantai dua, Tuan!" jawab Jared.


"Oxela?" Ia takut jika Oxela memergokinya. Pasti nanti adiknya akan pingsan sebab yang Oxela tahu adalah ia telah tewas dua bulan yang lalu.


"Nona Oxela di ruang tv bersama Baby Briel dan Tuan Jade."


Ia mengangguk samar, ia tahu Jade baru tiba di Mansion beberapa jam sebelum Markus dinyatakan meninggal hari ini.


"Baiklah, aku akan ke lantai dua."


Bukannya masuk kedalam Mansion, ia malah kembali keluar melalui pintu masuk utama, sebab ia tak mau melewati ruang tv dan akan dipergoki oleh Oxela nantinya.

__ADS_1


Ia bisa masuk ke Mansion itu dengan mudah, sebab semua yang berjaga disana sudah tahu siapa dia dan mereka semua adalah orang-orangnya.


Ia gegas beralih ke sayap kiri Mansion. Meraih seutas tali tambang yang tergeletak tak jauh dari posisinya. Itu memang sudah tersedia disana sebab Jared selalu memiliki inisiatif tinggi untuk kedatangannya yang selalu diluar perkiraan.


Ia menyimpul tali tambang dengan sebuah besi tua, menjadikan itu sebagai pasak yang nantinya akan menjadi tumpuannya untuk memanjat.


Tak lama, ia pun mulai melempar tali tambang berikut besi yang sudah terikat di ujungnya--kearah pagar pembatas balkon di lantai dua.


Prang!


Suara besi terdengar beradu dengan pagar pembatas balkon, tapi lemparan itu memang tepat sasaran dan menancap sempurna.


Owen mulai memanjat menggunakan tali itu. Tidak disangka, ingin bertemu istrinya sendiri saja susahnya bukan main. CK!


Tak butuh waktu lama, Owen sudah menginjakkan kaki di lantai dua. Ia beringsut masuk setelah menggeser pintu sliding yang ada disana. Ia mencari letak kamar yang ditempati Gloria. Cukup sulit karena tak hafal tata letak mansion Jade dan disini memang ada beberapa pintu.


Ia memilih pintu yang letaknya paling dekat. Beruntung, pintu itu tidak dikunci.


Ia melihat ke pada seseorang yang tengah berbaring di atas ranjang. Benar saja, istrinya ada disana. Gloria sedang tertidur nyenyak dan tampak sangat damai.


Secara perlahan ia mendekati sang wanita, tak mau menimbulkan suara apapun karena tak mau membangunkan tidur Gloria disiang ini.


"Honey....." sapanya dengan nada yang sangat pelan. Gloria tak bergeming, masih tidur dengan posisi yang sama.


"I miss you, really miss you...." lirihnya. Ia merasa bersalah menyebabkan hidup istrinya menjadi kacau balau.


"Maafkan aku, sayang." Ia membenarkan rambut Gloria yang terlihat menutupi sedikit wajah wanita itu. "Karena kehidupanku ini... membuatmu menjadi banyak menanggung kesedihan dan juga kesusahan," lanjutnya.


Didaratkannya sebuah kecupan mesra tepat di dahi sang istri. Menyalurkan kerinduan dan kasih sayang yang teramat besar disana.

__ADS_1


"Maaf juga karena aku belum bisa jujur padamu. Kelak, saat semua ini sudah berakhir, aku pastikan hanya kau tempatku kembali. Kau adalah rumah untukku dan aku akan selalu menujumu."


*******


__ADS_2