Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Unforgettable Moment


__ADS_3

Owen sudah menjemput kedua orangtua Gloria, mengajak mereka berkeliling sejenak demi lebih mengenal jauh keluarga calon istrinya. Ia bahkan sengaja menonaktifkan ponselnya sebab ia yakin Gloria akan baik-baik saja di Mansion bersama Oxela.


Ternyata keluarga Gloria sangat hangat, ia sudah lama tidak merasakan kehangatan keluarga seperti ini. Bersama Hans, seharian ia ikut mengakrabkan diri dengan kedua orangtua itu.


Mulai dari mengajak mengelilingi tempat dengan singkat, sampai mengantar mereka membeli keperluan untuk mereka kenakan di pesta pernikahannya besok dengan Puteri mereka. Ia sengaja tak memberitahu Gloria mengenai kedatangan ini, sebab ini akan menjadi sebuah kejutan untuk wanitanya.


Selepas makan malam bersama, ia menempatkan orangtua Gloria disebuah hotel yang baik, agar mereka dapat beristirahat dengan nyaman, sebelum besok menghadiri pernikahannya.


Ia pulang larut malam, perasaan rindu tidak melihat wajah wanitanya seharian, tentu sangat menyiksanya. Ia memutuskan mengunjungi kamar wanita itu, ternyata pintu itu terkunci. Ia menghela nafas kecewa. Sengaja tak mengetuk, mungkin Gloria sudah tidur dan ia tak mau mengganggunya.


Ia memutuskan ke area dapur, membutuhkan segelas air untuk menyegarkan tenggorokan yang kering.


"Kau baru pulang?"


Jade berada di seberangnya sambil membawa segelas susu.


"Kau minum susu?"


Jade tertawa pelan. "Bukan, Tuan!" kelakarnya. "Tentu saja aku membuatkan susu ibu hamil untuk istriku," lanjutnya.


"Oh, perhatian sekali...." Ia pun mulai meneguk segelas air yang sudah ia tuang kedalam gelas.


"Itu harus! Kau juga akan begitu nantinya," jawab Jade terkekeh.


"Benarkah? Ku rasa aku tidak mungkin melakukan hal-hal semacam itu, Gloria juga sangat mandiri."


Jade terkekeh. "Dengar, Owen! Kadang wanita akan menunjukkan sikap tidak biasa ketika mereka hamil. Mungkin dulu ketika hamil Jeff, Gloria sudah merasakannya."


"Begitu, ya? Ah, aku melewatkan momen itu," sesalnya.


"Ah ya, dari tadi Gloria menanyakan keberadaan mu."


"Benarkah? Tapi, semuanya baik-baik saja kan? Apa kalian memberitahunya kemana aku?"


Jade menggeleng. "Kami mengatakan kau bekerja."

__ADS_1


"Terima kasih sudah berbohong untukku," kelakarnya disertai tawa sumbang.


Jade kembali terbahak sebelum akhirnya kembali ke kamarnya dan Oxela yang berada di Mansion.


_________


Dalam hidupnya, Owen tidak pernah merasa gugup seperti saat ini. Bahkan ketika menghadapi masalah besar, yang mengharuskannya mengambil keputusan dengan cepat. Yang memaksanya terjerumus dalam kejahatan. Tidak sekalipun kegugupan berani memporak-porandakan nyali dan tekadnya.


Tapi, entah kenapa rasa gugup itu mulai berakar di dirinya, hari ini. Hari dimana ia akan mengucap janji pernikahan didepan Tuhan dan didepan calon pengantinnya.


Ia sama sekali tidak ragu, hati dan seluruh diri memilih wanita itu, Gloria. Tapi, tetap saja ia merasa sulit berkata-kata, bahkan keringat dingin mulai membanjirinya.


"Kakak," Oxela datang ke kamarnya sembari mendorong stroller Jeff.


"Oh, putera Daddy ...." Ia mengeluarkan Jeff dari stroller, menggendong bayi tampannya itu dan tersenyum melihat Jeff yang juga menatapnya dengan tatapan cerah.


"Gloria sudah siap kak.... kakak cepatlah turun sebelum dia turun. Sekarang kedua orangtuanya sedang disana dan ada Celine yang akan memberinya kode untuk segera turun jika Kakak sudah siap."


Mendengar itu, rasanya ia tidak sabar ingin bertemu sang wanita, satu hari tak bertemu rasanya sudah sangat merindukan. Tapi, lagi-lagi rasa gugup menghantamnya. Hingga ia perlu mencari penenang yang tepat.


Ia kembali menatap Jeff dalam gendongan, mencium kedua pipi mungil bayi itu, serasa sedang mencium pahatan dirinya saat kecil. Keajaiban, kegugupannya perlahan menghilang, ternyata melihat dan mencium Jeff bisa menghadirkan ketenangan lain untuk dirinya.


"Jeff, Daddy dan Mommy akan melangsungkan pernikahan. Daddy harap semuanya berjalan lancar. Maukah Jeff membantu Daddy agar tidak gugup?"


Ia mendengar Oxela tertawa kecil sebab mendengar ucapannya kepada sang bayi. Namun, ia tak memedulikan adiknya itu. Fokusnya sekarang hanya kepada bayi yang berwarna mata sama dengannya ini.


Jeff langsung tertawa-tawa menatap padanya yang juga tengah serius menatap sang putera. Ternyata, senyuman dan tawa Jeff sudah cukup sebagai moodbooster nya.


"Ayo, kak.... semuanya sudah menunggu," papar Oxela, mnuatnya terpaksa memutus kontak mata antara ia dengan sang putera.


_______


Ia berdiri menunggu, demi apapun ia tak pernah memimpikan momen sakral seperti ini terjadi dalam kehidupannya. Sebab, ia mengira ia takkan pernah mengecap pernikahan.


Diusianya yang menginjak angka 33, akhirnya ia berdiri didepan altar sembari mulai menatap seorang wanita yang hadir diujung sana, lalu berjalan perlahan menujunya, dengan diantarkan oleh seorang yang ia kenali sebagai calon ayah mertuanya.

__ADS_1


Ia menahan rasa nervous, debar-debar dan gejolak dalam diri mulai membuncah hebat, ingin segera memeluk tubuh wanita itu, namun sebisa mungkin ia menahan diri sebab tak mau mempermalukan diri didepan semua kerabat yang kini tengah memperhatikannya dan Sang wanita.


Ia hanya bisa menyunggingkan seulas senyum simpul dan dibalas hal serupa oleh calon istrinya. Sampai mereka semakin mendekat, lalu Ayah Gloria menyerahkan sang Puteri kepadanya.


Sekarang, rasa bahagianya seperti telah mencapai puncak teratas yang paling tinggi.


Saling bertatap beberapa saat, mereka akhirnya menghadap pada Pendeta, mereka dipersilahkan untuk berpegangan tangan.


Kidung kebaktian mulai terdengar, kemudian tibalah saat dimana ia dan Gloria untuk membacakan ikrar dan janji pernikahan secara bergantian.


Ia terus menatap Gloria yang memancarkan senyuman tenang dan tampak damai, hingga tak kuasa untuk melakukan hal yang sama. Tatapan matanya beradu dengan iris mata kehitaman milik Gloria.


"Gloria Febrina, aku mengambil engkau menjadi seorang istriku. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, kelimpahan maupun kekurangan, sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan dan inilah janji setiaku yang tulus."


Ia dapat melihat mata Gloria yang berkaca-kaca saat janji itu tercetus dari bibirnya. Gloria mengangguk samar, kemudian mulai membuka bibirnya untuk mengucapkan janji serupa.


Kemudian, Gloria terlihat mengembuskan nafas dalam lalu menariknya perlahan. Ia mengulumm senyum melihat tingkah wanita itu yang sama nervous seperti dirinya.


"Owen Nikolai Zwart, aku mengambil engkau menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, kelimpahan maupun kekurangan, sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan dan inilah janji setiaku yang tulus.” Suara Gloria jelas bergetar haru, ia dapat mendengarnya.


Mereka kembali saling melempar senyum, kemudian Oxela memberi mereka kotak cincin untuk saling menyematkan di jari masing-masing.


"For my beautiful bride..." desisnya didepan wajah Gloria sembari memasangkan cincin pernikahan.


Gloria tersenyum lembut, menatap pada cincin pernikahan mereka, kemudian mulai memakaikan cincin pasangan ke jari manisnya.


"Aku tidak akan melupakan momen ini. Unforgettable," kata Gloria lirih.


Wajahnya pun mulai mendekat, memangkas jarak diantara mereka. Merapatkan tubuh demi merengkuh pinggang Gloria. Kemudian memulainya secara perlahan, mengecup bibir ranum milik wanita itu dengan segala pesonanya. Tentu, Gloria tentu membalasnya, hingga mereka larut dalam suasana itu dan melupakan semua orang yang hadir disana.


Untungnya, suara tepukan tangan berhasil menghentikannya, hingga menarik diri dan menatap Gloria yang merona akibat ulah mereka sendiri. Ia melihat Gloria tersenyum geli akibat kejadian ini.


"Unforgettable moment, thats right! Sepertinya aku harus menarikmu agar segera tiba di kamar kita," bisiknya disertai senyuman paling culas.


******

__ADS_1


Btw, curcol dikit ya, othor kalo buat best momen kayak pernikahan gitu emang pengennya diperjelas, gak disingkat-singkat, kayaknya biar ngena feel nya gitu.... gak tahu deh nyampe apa enggak feel nya ke pembaca.🙏


__ADS_2