
Owen mengembuskan nafas berat saat pagi-pagi sekali mendapat telepon dari Jared yang mengharuskannya datang ke kantor hari ini karena ada suatu permasalahan yang harus segera diselesaikan.
Berhubung ia dan Gloria akan pergi berbulan madu beberapa hari lagi, akhirnya Owen memutuskan untuk segera menyelesaikan terkait permasalahan perusahaannya. Dengan malas, ia pun beranjak meninggalkan tempat tidur-- dimana Gloria masih tampak lelap dan belum membuka mata.
Gloria terbangun dari tidur, ia melirik ke samping dan tak menemukan Owen disana. Samar-samar ia mendengar suara air di kamar mandi. Ia tahu suaminya memang terbiasa bangun pagi, jadi ia tidak memikirkan hal apapun. Ia bangkit, memilihkan baju rumahan untuk dikenakan suaminya seusai mandi nanti.
Tak lama, Owen masuk ke dalam ruang walk in closet dimana Gloria masih berada didalamnya. Wanita itu mengulurkan baju pilihannya untuk dikenakan Sang suami.
Owen menggeleng. "Aku akan ke kantor hari ini, Honey...."
"Apa ada sesuatu yang mendesak?" Gloria mengernyit saat memperhatikan Owen yang tampak tergesa-gesa.
"Ada masalah sedikit, aku harus segera menyelesaikannya."
"Baiklah," kata Gloria sembari memilihkan baju lain untuk dikenakan sang suami ke kantor. Ia menyerahkan sebuah setelan untuk Owen dan pria itupun mengenakannya secara ringkas.
"Kau tidak sarapan dulu?" tanya Gloria,ia merapikan dasi suaminya.
"Tidak usah, aku akan sarapan di kantor. Aku sangat buru-buru."
Cup
Tak lupa Owen mengecup dahi istri tercintanya.
"Sorry, aku harus menuntaskan ini karena semuanya harus selesai sebelum kita berangkat bulan madu."
"Hmm, tidak apa-apa. Semoga pekerjaanmu cepat selesai, Honey..." jawab Gloria.
________
Siang harinya, Gloria merasa bosan didalam Mansion. Ia berpikir lebih baik ia berbelanja untuk membeli keperluan sebelum ia dan Owen berbulan madu. Akhirnya ia memilih untuk menelepon sang suami.
"Sayang, bolehkan aku berbelanja siang ini? Aku ingin membeli beberapa baju atau yang lainnya untuk keperluan bulan madu kita," kata Gloria melalui sambungan telepon.
"Pergilah... Jangan lupa membeli baju yang aku sukai. Kau paham maksudku, bukan?" kekeh Owen dari seberang sana.
__ADS_1
"Iya, aku tahu pakaian favoritmu adalah pakaian kurang bahan. Aku akan banyak membelinya. Kalau perlu satu koperku nanti akan ku isi dengan lingerie," canda Gloria.
Owen terbahak. " You know me so well, I love you, aku akan meminta beberapa orang untuk menjagamu."
"I love you too... tapi, aku akan pergi sendiri, aku bukan anak kecil..."
"Itulah resikonya jika kau menikah denganku, Baby." Owen memperingatkan. Bagaimanapun, ia hanya berusaha menjaga Gloria semampunya.
"Owen, aku hanya berbelanja, tidak perlu berlebihan..." protes Gloria.
"Baiklah, terserah kau saja, Honey...." kata Owen malas berdebat.
Telepon itu terputus, Owen memerintahkan Jared untuk menghubungi beberapa bodyguard. Meski Gloria menolak, ia tetap harus mengawasi Gloria, sebab ia masih ingat betul bagaimana dulu Gloria hilang ketika berbelanja dan ternyata semua itu perbuatan Richard. Owen tak mau mengulangi kesalahan yang sama, ia tak mungkin melakukannya.
"Jangan terlalu mencolok, istriku tidak menyukai penjagaan!" titah Owen pada dua orangnya yang akan bertugas menjaga Gloria dari kejauhan.
Owen sadar betul, Gloria merasa hidupnya sudah aman. Apalagi sejak Gloria memutuskan bercerai dari Richard. Namun, intuisi Owen merasa tidak demikian. Terlepas dari Richard bukan berarti semuanya baik-baik saja. Jadi, berjaga-jaga tidak ada salahnya. Apalagi Owen masih sadar betul, bahwa dirinya memiliki banyak musuh yang tak terlihat. Dalam arti, pesaing bisnisnya yang tidak menunjukkan sikap jahat sekalipun.
_____
Gloria tidak sadar jika dia diikuti oleh dua orang ajudan suruhan suaminya. Dia berjalan kesana - kemari dengan santai.
"Sepertinya aku butuh beberapa buku untuk bacaan, aku sering terlalu bosan di Mansion, apalagi jika Owen bekerja. Gloria membatin.
Akhirnya, setelah puas berbelanja pakaian. Ia memutuskan ke store penjualan buku. Dia membeli beberapa buku resep masakan, novel serta mainan edukasi untuk Jeff, meski itu tidak bisa digunakan langsung oleh Jeff yang masih terlalu kecil.
Tanpa disadarinya, karena asyik berbelanja ternyata hari sudah menjelang sore. Gloria memutuskan untuk segera kembali ke Mansion. Ia mau tiba lebih dulu di Mansion sebelum suaminya pulang. Tangannya penuh dengan banyaknya paperbag belanjaan. Ia buru-buru ingin memasuki Lift dan segera berlari masuk saat lift hampir tertutup.
Didalam lift itu hanya ada empat orang, 3 orang wanita termasuk dirinya dan satu orang pria yang berdiri dibelakangnya.
Lift mulai berjalan turun ke satu lantai dibawah lantai yang sekarang Gloria kunjungi. Dua wanita itu keluar dari lift saat pintu besi itu terbuka. Sekarang tinggallah Gloria dan seorang pria itu didalam lift. Gloria dengan banyaknya barang belanjaannya dan pria itu tampak tak membawa apapun.
Gloria mencoba mematut senyum pada sang pria, menunjukkan sikap ramah, namun pria itu hanya memasukkan kedua jemarinya kedalam saku celana tanpa membalas senyuman Gloria. Rautnya juga tampak dingin serta terkesan angkuh.
Belum lama lift bergerak lagi untuk turun, tiba-tiba sebuah pergerakan kuat terjadi di lift itu, membuat Gloria terkejut dengan mata membola. Belum selesai sampai disitu, lampu dalam lift juga mendadak mati.
__ADS_1
"Astaga apa lift nya rusak?" Gloria bermonolog. Ia gelagapan dan mendadak takut. Ia mencoba menghubungi pelayanan lift dari sambungan yang ada disana.
"Hallo... tolong!!!! Help me, lift nya rusak!" pekik Gloria panik disertai beberapa kali menekan tombol panggilan.
"Ya," ada sahutan dari seberang sana, namun setelah itu panggilan terputus begitu saja.
Pria disamping Gloria mendadak mengambil alih pada panggilan, melakukan hal yang serupa dengan yang Gloria lakukan. Namun sedetik kemudian pria itu menggeleng frustrasi.
"Nona, tekan terus tombol liftnya. Apa saja, secara acak...." ucapnya pada Gloria namun tetap dengan nada tak ramah. "Aku akan mencoba menghubungi seseorang." Pria itu mengambil ponsel dari saku jas slimfit yang ia kenakan.
Gloria mengagguk, menekan secara terus menerus semua tombol lift yang ada disana. Namun tetap tidak membuahkan hasil dengan singkat.
"Sial... kenapa tidak ada sinyal," kata pria itu mengumpat keras.
Gloria semakin panik. Dia mencoba mengeluarkan ponselnya dengan gemetaran.
Syukurnya sinyal di ponsel Gloria ada meskipun hanya satu titik. Dia segera menghubungi Owen.
"Owen....!!!" jeritnya histeris begitu panggilan tersambung.
"Ada apa, Sayang?" tanya Owen bingung.
"A-aku terjebak ..... didalam lift.... Aku...." Gloria tidak bisa menyambung kalimatnya lagi sebab selain sinyal yang sulit, ia memiliki phobia berada didalam ruang sempit dan gelap, itu akan menyebabkannya sesak nafas.
Gloria nyaris terduduk lemas disudut lift dengan ponsel yang masih terhubung pada telepon suaminya.
"Nona, are you oke?" Gloria masih bisa mendengar suara pria itu yang sepertinya tengah menahan badannya agar tidak terjatuh dilantai lift.
Pria itu menepuk-nepuk pelan pipi Gloria, sebenarnya dia tidak mau terlalu mempedulikan wanita cantik itu, namun ia masih memiliki nurani dan tak mau menjadi saksi kematian seseorang didalam lift.
"Hey, Nona .... sadarlah! Semuanya akan baik-baik saja, sebentar lagi lift nya pasti akan kembali menyala."
"Aku .... tidak ..... bisa .... ber .... nafas," kata Gloria secara terputus-putus.
Pria itu kalut, mendadak ia ingin membantu Gloria karena ia tidak bisa membiarkan Gloria meninggal karena kehabisan nafas.
__ADS_1
*******