
Selang dua hari dari kejadian penerobosan Mansion Jade. Sean benar-benar pulang ke kediaman mendiang Ayahnya.
Kedatangannya disambut dengan lengkungan senyum dari Richard. Tentu senyum itu adalah senyum penuh kemunafikan, sebab Richard tahu pasti tujuan Sean kembali ke Mansion ini. Tapi, ia juga menantikan kedatangan Sean karena jika tak ada Sean maka wasiat Markus tidak bisa dibacakan.
"Selamat datang kembali kakakku," sambut Richard dengan seringaiannya. Ia berlagak hendak memeluk Sean, tapi tentu saja Sean tak mengindahkan perlakuan itu.
"Kau boleh membawa semua pasukan mu. Aku harap kediaman ini segera bersih dari orang-orangmu sebab aku mempunyai hak mutlak untuk tempat ini." Sean menatap nyalang pada Richard.
"Oh, kenapa kau percaya diri sekali? Apa karena kau adalah anak sah, membuatmu jadi pongah?" cibir Richard to the point.
"Ku pikir kau memahami hal itu. Kau cukup pintar ternyata." Sean menepuk-nepuk pundak Richard dengan sikap berlagak hangat. Padahal ia sangat muak melihat senyum dan raut wajah adik tirinya itu.
"Hahaha, berhenti bermimpi! Memang kau adalah anak sah Ayahku. Tapi, kita tidak pernah tahu wasiat apa yang dia tinggalkan untuk kita!" ujar Richard dengan pemikirannya.
"Baiklah, kita tunggu saja Paman Sam datang, dia akan memberitahukan semua wasiat mendiang Ayahku!" kata Sean. Ia pun berlalu masuk ke dalam kamarnya yang sudah cukup lama ia tinggalkan.
Sean membuka ranselnya, ia mengambil sebuah vas bunga kecil disana dan meletakkannya dengan perlahan keatas nakas yang ada disebelah tempat tidurnya.
Sean memandangi itu, mendadak ia jadi mengingat Gloria. Ia akui jika ia merindukan Gloria. Tapi, ia tahu pasti jika Gloria bukan miliknya. Ia tak mau memaksa keadaan. Dalam pemikirannya, jika suatu saat Gloria datang padanya, ia pasti tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Tapi sepertinya harapan itu sangat mustahil.
"Sudahlah, Sean! Fokus pada rencanamu untuk mempertahankan hak mu di Mansion ini. Lupakan Gloria!" batin Sean meyakinkan dirinya sendiri.
Sean pun bangkit dari duduknya, kemudian memutuskan untuk mandi.
Selesai dengan kegiatan itu, pintu kamarnya terdengar diketuk dari luar.
Sean terbelalak kaget mendapati sosok mirip Owen berada didepan pintu kamarnya saat ia sudah membukakan pintu.
"Owen?" Sean terbengong beberapa saat. "Kau masih hidup?" tanyanya kemudian.
"Maaf, Tuan. Saya bukan pria yang anda maksud. Saya adalah Nico!"
"Nico?" Sean mengernyit sesaat, sampai akhirnya ia menyimpulkan sesuatu dikepalanya.
__ADS_1
"Ah, ada apa kau menyambangi kamarku, Nico?" tanya Sean. Ia sudah menebak jika Nico adalah Owen yang telah lupa padanya, ia cukup tahu secara garis besar tentang rencana mendiang ayahnya dan Richard di masa lalu mengenai Owen.
"Saya hanya ingin menyampaikan bahwa Tuan Richard dan pengacara mendiang Tuan Markus sudah berkumpul di ruang tamu dan menunggu anda."
"Ah, baiklah...." jawab Sean yang memperhatikan Owen dengan sangat teliti. Ia ingin menilai gestur dan ekspresi pria ini. Apakah benar jika Owen sudah sama sekali tak mengingatnya?
"Ehm, Nico?!" seru Sean lagi, membuat Owen berbalik menatapnya.
"Ya, Tuan?"
"Apa kau tidak merasa jika sebelum hari ini kita sebenarnya pernah bertemu?" Tampaknya Sean ingin menguji kebenaran tentang daya ingat Owen padanya.
Owen menggeleng pelan. "Sepertinya ini adalah pertemuan pertama kita," jawabnya tenang.
"Oh ya? Tapi, wajahmu tidak asing bagiku. Apa di Mansion ini tidak ada yang mengatakan hal sama sepertiku?"
"Tidak ada," jawab Owen.
Owen tahu Sean tengah mengetesnya sekarang. Ia tahu Sean tak mungkin percaya begitu saja padanya.
"Kalau soal itu, memang pernah beberapa kali saya mendengar orang memanggil saya dengan nama Owen."
"Karena kau memang Owen!" kata Sean langsung.
Owen tersenyum tipis. "Benarkah? Apa saya bisa mempercayai Anda, Tuan?" tanyanya.
Sean terkekeh. "Kalau aku tahu kau sudah lupa ingatan begini, semua jalanku untuk mendapatkan Gloria akan mudah sekali, Owen!" pancingnya.
Owen tahu dan bisa menilai jika sekarang Sean tengah menguji dan memancing kemarahannya, apalagi Sean juga membawa nama Gloria, membuat emosinya cukup tersulut. Tapi, Owen tak mau tertangkap basah saat ini.
"Saya tidak paham maksud Anda, Tuan. Sekali lagi saya sampaikan bahwa anda sudah ditunggu di ruang tamu."
"Ya, ya...pergilah!" Sean mengibas-ngibaskan tangan mengusir Owen. Ia masih ragu apakah benar Owen sudah kehilangan ingatannya sekarang?
__ADS_1
_____
"Keputusan mutlak, warisan Tuan Markus dibagi dua untuk kedua putranya, Tuan Sean dan Tuan Richard." Paman Sam selaku pengacara Markus sudah menyampaikan titik keputusan yang sesuai dengan wasiat yang tertera.
"Tapi, dia bukan anak sah Ayahku, Paman!" protes Sean. Ia tak habis pikir, rupanya ayahnya sempat menulis wasiat untuk membagi harta kepada Richard juga sebelum pria tua itu meninggal.
"Saya hanya membacakan surat wasiat yang tertera dan ditulis langsung oleh Tuan Markus saja," kata sang pengacara.
Sean menatap wajah Richard yang tersenyum puas. Ia sangat muak melihatnya.
"Ini tidak bisa, Paman! Semua harta milik ayahku adalah sepenuhnya milikku! Namaku tercatat sebagai putra sahnya, sedangkan Richard, tidak!" Sean berdiri dari duduknya, ia menunjuk-nunjuk wajah Richard yang masih saja menyeringai diseberang sana.
"Ya, Anda memang anak sah tuan Markus. Tapi, beliau sempat menulis wasiat dan ini harus dibagi secara adil," terang Paman Sam bersikukuh menuruti surat wasiat yang sudah dipercayakan padanya.
Sean mendengkus keras. Ia menendang meja yang ada disana sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Paman Sam dan Richard.
"Tidak mungkin! Kau benar-benar keterlaluan Ayah! Sudah memiliki anak dari perselingkuhan, masih bisa-bisanya memberinya harta! Breng sek!" umpat Sean sambil bergerak cepat menuju belakang Mansion.
Sebenarnya Sean tak mempermasalahkan soal harta, hanya saja karena Richard adalah anak hasil dari perselingkuhan ayahnya, dia jadi tak rela jika Richard juga mendapat bagian. Dan bagian itu juga dibagi sama rata, membuat harga dirinya sebagai putra tunggal Markus yang diakui secara sah menjadi seperti terinjak-injak.
"Anda disini, Tuan?" Owen menghampiri Sean. Saat seperti inilah yang dia tunggu untuk menyelip masuk mengadu domba Sean dan Richard.
Sean menoleh sekilas pada Owen. "Mau apa kau?" tanyanya tak acuh.
Owen menyalakan rokok dan mengembuskan asap nikotin itu dengan santai disebelah Sean. "Saya rasa anda harus menerima kekalahan Anda, Tuan Sean..." katanya kemudian.
"Apa maksudmu, hah?" Sean emosi. Kedatangan Owen jelas-jelas ingin merusak moodnya. Tapi inilah yang diinginkan Owen.
"Saya dengar Anda tidak mau mewarisi tahta mendiang Tuan Markus." Owen memulai rencananya pada Sean lebih dulu.
"... ini semua terdengar adil, Tuan! Bagaimanapun Tuan Markus memang harus memberi hak pada Tuan Richard, meskipun dia bukan anak yang sah dimata negara, tapi kenyataannya Tuan Richard mau menggantikan posisinya... tidak seperti Anda." Owen tersenyum miring saat Sean menatapnya dengan sorot tajam.
******
__ADS_1