
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa melakukan hal seperti ini?" Jared mengusap kasar wajahnya berulang kali. Bisa-bisanya ia mengatakan ingin menikahi Lily, hanya karena sebuah bayangan masa tua bersama Lily yang terlintas dikepalanya.
Berkat pemikiran itulah, ia justru mengambil keputusan cepat tanpa bisa berpikir lagi didepan Dientin saat mengutarakan bahwa ia memang sudah melamar Lily.
Dan parahnya, saat Lily menanyainya, ia malah menegaskan bahwa keputusannya sudah bulat dan tidak peduli apapun tanggapan Lily.
Memaksa? Ya, dia memaksa Lily. Tapi gadis itu kan menyukainya, biar saja lah!
Sekarang ia bukan menyesal telah mengajak Lily menikah, tapi ia masih bingung dengan perasaannya sendiri yang belum bisa mengartikan perasaan.
Apa ini terlalu cepat? Tapi, ketika melihat ketulusan didalam mata gadis itu ia turut larut dan seolah tenggelam disana.
Apa ia jatuh cinta? Entahlah....
"Jared!"
"Y-ya, Tuan!"
"Tidak biasanya kau melamun saat bekerja!" tukas Owen membuat Jared menyengir.
"What do you mean?" tanya Owen mencoba menerka isi kepala asistennya itu.
"Saya sedang memikirkan pernikahan saya, Tuan."
"Pernikahan? Kau akan menikah?" Owen tampak tercengang dengan pernyataan Jared. Tentu saja, selama ini ia tidak pernah melihat Jared terlibat hubungan dengan seorang wanita. Paling hanya wanita untuk senang-senang saja, itupun Jared lebih sering terlihat enggan.
"Ya, Tuan."
"Siapa calonmu? Apa aku mengenalnya?" tanya Owen.
"Ehm..." Jared menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Dia--dia adalah Lily."
"Lily?" Owen nampak berpikir. "Wait, beri aku waktu untuk mengingat nama ini...." katanya.
Belum sampai dua menit, Owen tampak sudah menyunggingkan senyuman tipis.
"Dia gadis yang kau sulangi kue ulang tahun Jeff, kan?" terka Owen dengan seringaian yang sama.
Jared ikut mengulas senyum. Kemudian mendunduk tanpa menjawab pertanyaan Owen.
"Hahaha, aku turut senang dengan hal ini! Kau memang harus menikah, Jared!" ucap Owen tulus. Ia tak menyangka Jared akhirnya akan menikah dengan gadis yang kelihatannya juga perempuan baik-baik, Owen tak begitu mengenal Lily, tapi Gloria pasti mengenalnya karena istrinya memang wanita yang humble.
"Terima kasih, Tuan. Tapi---"
"Kenapa?"
"Apa menikah itu menyenangkan?" Jared menatap Owen serius.
"Tentu saja!" sahut Owen ligat.
"Menyenangkan seperti apa? Maaf saya benar-benar tidak tahu. Saya buta perkara hal ini...."
Owen mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya, ya, aku bisa memahami ketidaktahuanmu soal ini. Dulu aku juga begitu, bahkan mengartikan perasaanku pada Gloria pun aku tidak langsung bisa."
__ADS_1
Owen mendadak mengingat masa lalu-- dimana dulu ia begitu egois terhadap Gloria. Saat dimana ia tidak ingin ditinggalkan, ia ingin memiliki dan ingin selalu ingin dicintai. Tapi, entah kenapa sulit pula baginya untuk mengakui hal serupa. Untunglah Gloria selalu mencintainya hingga akhirnya ia menyadari bahwa ia pun memiliki perasaan yang sama.
"Menikah itu beribu-ribu kali lebih indah daripada kau hanya melakukan percintaan satu malam dengan para wanita yang tak jelas," kekeh Owen. "Bersama seseorang yang memang milikmu, rasanya akan berbeda. Terasa lebih menyenangkan," tambahnya masih terkekeh.
Jared mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengulumm senyum. Atasannya itu selalu tak malu bergelagat seperti 'budak cinta' Gloria didepannya. Ya, Owen terlalu menggilai wanita itu dan Jared pun sangat mengetahuinya.
"Jadi, bagaimana akhirnya anda bisa mengartikan bahwa anda sudah mencintai Nyonya, Tuan?" Jared ingin tahu, sebab ia juga masih bingung mengartikan rasa, apalagi pertemuan kembali antara dia dengan Lily sekarang hanya terbilang singkat dan akhirnya berujung pada perencanaan pernikahan ini.
"Miliki dia, jika kau takut kehilangannya dan merasa bahagia saat dia mengaku mencintaimu, itu bisa kau jadikan sebagai artian bahwa kau memiliki rasa padanya."
"Begitu, ya?"
"Ya, memangnya kau tidak takut kehilangan Lily?"
Jared hanya tersenyum tipis karena tak tahu akan menjawab apa. Baginya, perasaannya terhadap Lily mungkin belum sejauh itu. Tapi, keputusannya sudah bulat dan jatuh pada Lily.
"Ah ya, satu lagi... jika kau merasa cemburu, marah dan kesal saat dia dekat dengan pria lain maka itu artinya kau sudah jatuh cinta padanya!" pungkas Owen.
Jared hanya mengendikkan bahu santai. Cemburu? Marah? Ia menggelengkan kepalanya. Mana pernah! Tapi, hal ini patut ia pikirkan baik-baik. Pengalamannya memang minim tentang hal ini.
*****
"Lily!"
Gadis yang dipanggil namanya itu menoleh, ia melihat seorang gadis lain-- seusianya---datang menghampiri sambil agak sedikit berlari.
"Clara?" sahut Lily. Clara adalah sahabatnya sejak lama.
"Bagaimana keadaan ibumu, Lily?"
"Aku senang mendengarnya. Yang penting Bibi jangan sampai kehilangan semangat, Lily!"
Lily tersenyum kecil. Ibunya bahkan sangat semangat sekarang--- sejak Jared mengatakan akan menikahi Lily.
"Kau datang bersama siapa kesini?" tanya Lily pada Clara.
"Biasa," jawab Clara sembari mengendikkan dagu kearah koridor, tampaklah seorang pria yang mulai berjalan kearah mereka setelah Clara melambai-lambaikan tangannya seolah memberi tanda bahwa mereka ada disana. Pria itu adalah Hary. Hary dan Clara memang bersepupu.
"Lily, aku akan masuk menjenguk ibumu didalam, boleh kan?"
Lily tahu jika Clara berniat meninggalkannya berdua bersama Hary. Tapi, ia hanya mengangguk pada Clara. Bersamaan dengan masuknya Clara kedalam ruangan ibunya. Hary pun tiba didepan Lily.
"Kau sehat?" tanya Hary tersenyum menatap Lily.
"Hmm," sahut Lily.
Kenapa Clara tak bilang akan datang menjenguk bersama Hary? Padahal tadi mereka sedang berbalas pesan sebelum Clara sampai di rumah sakit. Salah Lily juga yang tak sempat bertanya siapa yang akan mengantarkan Clara kesini.
Hary duduk disebuah kursi rumah sakit yang berjejer disisi ruang, hal itu diikuti oleh Lily. Kini mereka duduk bersisian disana.
"Kau tahu, Lily? Aku cemburu!" ujar Hary tanpa basa basi.
Lily sudah tahu apa maksud Hary dengan hal ini. Ia tak mau menanyakannya lebih lanjut, Lily memilih bungkam. Biarlah Hary mengutarakan segala rasa yang berkecamuk dihatinya.
__ADS_1
"Apalagi saat dia mengajakmu menikah! Itu adalah impianku, Lily!" tegas Hary yang kini memutar tubuh untuk menatap gadis pujaannya.
"Hary, ku rasa ini semua tidak perlu dibahas."
"Ya, memang. Karena lamarannya itu hanyalah pura-pura, begitu pula jawabanmu.... aku tahu kau hanya ingin menyelamatkannya dari situasi sulit. Begitu, kan?"
Lily meremass jari jemarinya sendiri-- yang berada dipangkuannya.
"Sebenarnya, aku dan Jared memang akan menikah, Hary!" aku Lily, membuat Hary terbelalak tak percaya.
"Lily!" seru Hary dengan intonasi agak meninggi.
Lily tak berani menatap wajah Hary. Ia tahu ia sudah mengecewakan pria ini. Hary sudah terlalu lama mengejarnya. Tapi, diantara mereka berdua memang tidak punya status yang jelas. Lily juga harus mengatakan yang sebenarnya pada Hary karena cepat atau lambat pria ini akan tahu kebenarannya.
"Kau mengatakan padaku belum ingin menikah saat aku melamarmu, Lily!" Jelas saja Hary marah, sebab ia lebih dulu mengungkapkan rasa. Kedatangan Jared yang tiba-tiba kembali memasuki kehidupan Lily--membuat semuanya jadi berantakan.
"Maaf," hanya kata itu yang bisa Lily ucapkan.
"Kenapa Lily?"
Lily menggeleng, tak bisa memberi alasan untuk menenangkan Hary yang sepertinya sudah sangat kecewa dan dipenuhi kemarahan. Wajah pria itu sangat kontras dengan dinding Rumah Sakit sebab tampak sangat memerah.
"Jawab aku, Lily. Why?" lirih Hary yang mulai merendahkan nada.
"Jared adalah menantu impian ibuku... dan juga---" Lily tak sanggup mengutarakan yang sebenarnya.
"Apa?"
"Aku juga sudah menyukainya sejak lama, Hary!"
Bagaimanapun Hary menahan, tapi kenyataan ini sungguh-sungguh membuatnya sakit hati. Ia sudah lama sekali mendekati Lily. Bahkan memberi kebebasan untuk gadis itu untuk menjawab kapanpun tentang pernyataannya tempo hari.
"Kau tidak mesti menjawabnya sekarang, Lily. Kau bisa memikirkannya secara matang. Aku akan menunggu jawabanmu sampai kapanpun karena aku sangat serius terhadap perasaanku."
Begitulah kalimat Hary pada Lily satu tahun yang lalu saat melamar gadis itu. Dan sampai saat ini dia masih menunggu jawaban dari Lily.
Jika saja Jared tak muncul kembali, pasti Lily sudah akan menerimanya. Tinggal menunggu sedikit lagi, pikir Hary.
"Jadi, ini adalah jawaban untukku, Lily?" tanya Hary, mencoba meraih jemari Lily meski hatinya sudah terkoyak sekarang.
Lily mengangguk. "Maaf," katanya mengulangi kata yang sama. Tangannya menghindar dari gerakan Hary yang jelas ingin menyentuhnya.
Hari menarik tangannya kembali, ia kecewa dengan penolakan Lily. Keheningan pun mulai tercipta diantara mereka.
"Kapan kau dan dia akan menikah?" tanya Hary setelah hening beberapa saat.
"Semua sedang diurus Jared. Aku hanya diminta untuk menerima semua yang sudah disusunnya, karena aku juga sedang sibuk mengurusi Ibu."
Hary menghela nafas berat. "Apa dia mencintaimu?" tanyanya kemudian.
Lily mengadah pada Hary yang sudah berdiri dihadapannya. Sesungguhnya Lily tidak tahu harus menjawab apa pada Hary, sebab ia juga tak pernah mendengar pernyataan itu dari bibir Jared. Ah, bahkan pertemuan kembali diantara mereka juga masih terbilang baru dan bisa dihitung jari.
"Jika dia tidak mencintaimu, aku tidak bisa ikhlas melepasmu, Lily!" tekan Hary.
__ADS_1
******