
Sehari sebelum acara pernikahan, Oxela mendatangkan seorang baby sitter untuk merawat Jeff. Meski awalnya Gloria tidak yakin, namun Oxela meyakinkannya sebab sebentar lagi ia akan menjalani rutinitas sebagai pengantin baru.
"Oke, baiklah ...."
Menjelang siang, beberapa therapist datang untuk memanjakan tubuhnya.
Namun, ada satu yang membuatnya merasa janggal, sejak pagi ia tidak melihat keberadaan Owen. Tidak bertemu di meja makan saat sarapan, bahkan pria itu tidak ada menyapanya. Entah kenapa perasaan rindu melingkupinya, hingga ia pun menanyakan pada Oxela.
"Kenapa sejak pagi aku tidak melihat Owen?"
Oxela memasang senyum yang dibuat-buat. "Kakakku... dia sudah berangkat bekerja pagi-pagi sekali."
"Dia bekerja?"
Oxela mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
"Besok kami menikah dan dia bekerja?" tanyanya tak habis pikir. "Dia juga tidak mengirimiku pesan?" Ia mencoba melihat ponselnya sendiri dan memang tidak ada tanda-tanda Owen menghubunginya atau meninggalkan pesan apapun.
"Gloria, tenanglah .... mungkin Owen sedang sangat sibuk," timpal Jade.
"Ah, jadi begini rasanya apabila dia sibuk...." gumam Gloria, entah perasaannya saja atau karena ia terlalu khawatir namun ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
Ia meyakinkan dalam diri bahwa semuanya baik-baik saja. Hingga ia memutuskan naik ke kamarnya saat hari menjelang sore ketika ia sudah selesai dengan kegiatan memanjakan tubuh.
Didalam kamar, ia bergerak gelisah. Jeff masih anteng ditangani baby sitter, perancangan pesta sudah nampak diluar Mansion, namun perasannya gamang sebab tidak melihat calon suaminya seharian ini. Ia memutuskan menghubungi nomor Owen, namun berada di luar jangkauan.
Hans juga tak nampak seharian, mungkin ingin menenangkan diri sebelum besok ia akan menikah untuk kedua kalinya sementara kakaknya itu sama sekali belum mengecap pernikahan. Ya, pasti Hans sedang menenangkan diri, pikirnya.
Ia kembali mencemaskan Owen, kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi. Ah, rasanya ia menyesal tidak menyimpan nomor Jared untuk mengetahui dan memantau aktivitas kekasihnya.
Ia melamun lama didepan Balkon, kemudian mendengar pintu kamar yang dibuka. Ia berharap itu adalah Owen, tapi nyatanya itu ada Baby sitter yang mengembalikan Jeff ke dalam Baby bed setelah puteranya itu tampak nyenyak.
Kemana Owen? Ini bahkan sudah malam, tapi belum nampak kepulangan pria itu. Apa pekerjaannya sangat penting? Lebih penting dari acara pernikahan mereka besok?
_______
__ADS_1
Keesokan harinya, dalam hitungan singkat, halaman Mansion yang luas telah disulap menjadi tempat sakral yang tampak elegan.
Warna pastel ivory yang menjadi pilihan, terlihat sangat kontras dan mendominasi sepanjang pekarangan. Hamparan kelopak bunga yang semerbak tak luput menjadi pelengkap momen, semua terlihat epik dan terencana meski sederhana.
Gloria mengintip dari atas kamarnya, melihat situasi dan kondisi yang sudah terhampar dibawah sana. Ia tersenyum lembut, menyadari bahwa hari yang ia nantikan akhirnya tiba.
Ini memang bukan pernikahan pertamanya, namun ini adalah pesta sakral pertama yang ia lakukan. Sebab, saat bersama Richard dulu, ia mengambil keputusan dengan begitu terburu-buru. Mereka hanya melakukan pemberkatan nikah lalu mendaftarkan pernikahan yang sudah disahkan itu di kantor catatan sipil tanpa pesta pernikahan dan semacamnya.
"Gloria?"
Rupanya, Oxela masuk ke dalam kamarnya bersama seorang wanita cantik yang mengenakan gaun sutera. Ia tidak mengenali siapa wanita itu, namun memiliki firasat tentang jati diri sang wanita.
"Kau sudah siap?" tanya Oxela.
"Sebentar lagi, aku sedang menunggu Mia." Mia adalah periasnya, beberapa saat lalu Mia sudah selesai membantunya berhias, namun permisi keluar kamar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam mobil.
"Apa lagi yang kurang? Biar aku saja yang membantumu, tidak usah menunggu Mia." Wanita yang sejak tadi diam memandanginya, mulai angkat suara.
Sang wanita langsung memahami sorot tatapnya yang berbeda. "Ah, ya... kita belum sempat berkenalan sebelumnya, aku Celine ...." Wanita itu mengulurkan tangan ke arahnya dan ia pun menyambutnya.
"Aku Gloria," ujarnya mengenalkan diri. Ternyata dugaannya mengenai wanita cantik ini benar, dia adalah Celine yang hampir dinikahi oleh calon suaminya.
"Ya, tentu saja semuanya sudah tahu siapa dirimu, Gloria. Sebab kau yang akan menjadi ratu dihari ini," kelakar Celine dengan nada yang akrab.
Ia hanya bisa mengangguk singkat, kemudian perhatiannya teralih pada Oxela yang mulai mendatangi Baby bed milik Jeff disudut kamar.
"Jeff, Aunty akan membawa Jeff melihat pesta pernikahan Mommy dan Daddy... Let's go!" Oxela segera menggendong Jeff kemudian meletakkannya di dalam stroller.
Oxela mengedipkan mata padanya sesaat sebelum keluar kamar, seolah sengaja meninggalkannya agar berdua bersama Celine.
"Kau mau ku bantu, Gloria? Katakan padaku apa yang belum selesai agar aku membantumu," kata Celine tersenyum hangat.
"Tidak usah, biar aku tunggu Mia kembali," jawabnya pelan.
__ADS_1
Celine meraih pergelangan tangannya, kemudian menatapnya lekat.
"Gloria, aku yakin kau pernah mendengar tentangku. Sebelum Owen kembali bertemu denganmu, aku telah membuat sebuah kesalahan. Ku harap kau mau memaafkanku ...." ucap Celine tampak sungguh-sungguh.
Ia hanya bisa mengangguk pelan. "Ku harap kau benar-benar telah menyesalinya," ucapnya.
"Ya, aku menyesalinya. Owen banyak membantuku. Dia pria terbaik yang pernah ku kenal, maaf, bukan bermaksud memujinya didepanmu tapi ku harap kau juga tidak akan pernah menyakitinya."
Hingga ketukan pintu menyadarkannya bahwa waktu itu akan segera tiba. Ia terkejut mendapati Ibu dan Ayahnya berada diambang pintu.
"Ibu, Ayah ...." Ia menyambut mereka dengan pelukan hangat.
"Kau cantik sekali, sayang." Ibunya membelai wajahnya dengan senyuman mengembang. Ia ingin menangis bahagia, kenapa kedua orangtuanya bisa berada disini? Meski ia sudah memberitahu via telepon tapi tidak ada yang mengatakan bahwa mereka akan datang ke pesta pernikahannya hari ini.
"Kemarin Ibu dan Ayah tiba di Negara ini."
"Lalu, tadi malam tidur dimana, Bu?"
"Di hotel," sahut Ayahnya.
Saat ia masih melepas rindu dengan kedua orangtuanya, tiba-tiba Celine menyela.
"Gloria .... acaranya akan segera dimulai, semua sudah siap. Aku lebih dulu turun ya, permisi ...." Celine mengangguk sopan pada kedua orangtuanya sebelum benar-benar meninggalkan area kamar.
"Ibu dan Ayah membawakan ini untukmu, Nak ...." Ia menerima kotak pemberian ibunya dan melihat sebuah gelang yang sangat cantik.
"Anggaplah itu hadiah pernikahan untukmu. Ayah dan Ibu tidak bisa memberi banyak," timpal Ayahnya sembari meneteskan airmata haru.
"Ibu, Ayah, terima kasih banyak.... aku sangat menyukainya."
"Ya sudah, apalagi yang belum siap? Biar Ibu membantumu, Sayang."
Ia menunjuk gaun pengantinnya yang belum terikat. "Bantu aku menyimpulkan tali dibelakangnya, Ibu."
*****
__ADS_1