Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Ingin membuktikan


__ADS_3

Setelah puas memandangi wajah teduh sang istri yang lelap dalam tidur, Owen beranjak dari sana dan kembali menuju beranda depan rumah.


Jared menghampirinya dan memperbincangkan rencana mereka selanjutnya setelah kematian Markus.


"Sekarang, apa rencana Tuan?" Jared tidak bisa menutupi rasa ingin tahunya, ia mengira setelah ini Owen pasti akan langsung membalas segala perbuatan Richard.


"Biarkan dulu Richard larut dalam euforia atas kedudukannya, sampai nantinya dia benar-benar lengah. Sebelum aku menghancurkan Richard, ada baiknya untuk lebih dulu menangkap seorang penjahat kecil."


Jared mengernyit menatap Owen. Tak paham siapa yang dimaksud atasannya sebagai penjahat kecil.


"Siapa, Tuan?" tanya Jared menyuarakan keingintahuannya lagi.


Owen hanya menjawab dengan senyuman smirk yang tampak misterius.


_____


Gloria menggeliat pelan dari tidurnya. Ia terdiam beberapa saat, sampai ia menyadari sesuatu yang terasa menyentil rongga hatinya, entah kenapa ia merasa baru saja kedatangan sosok suaminya.


Aroma maskulin khas suaminya tercium di indera penciumannya, seakan-akan memang benar jika Owen baru saja mendatanginya. Namun ia menepis segala pemikiran itu, ia hanya menyadari satu hal bahwa ia teramat merindukan lelaki itu.


Mendadak, Gloria pun mengingat suatu hal lalu mengaitkannya.


"Jika Owen benar-benar telah tewas seperti ucapan Oxela, itu berarti .... Nico bukanlah Owen. Aku harus bertemu Nico lagi untuk membuktikan kecurigaanku!" ucapnya bermonolog pada dirinya sendiri.


"Apa aku harus nekat mendatangi Mansion Paman Markus untuk bisa bertemu dengannya lagi?" Gloria mengusap wajahnya sendiri. "Ya Tuhan, aku sangat merindukan suamiku ...." tukasnya.


"Aku tidak mungkin diam saja dan mempercayai mentah-mentah semua info yang ku dapat. Aku harus membuktikannya! Jika aku hanya diam, aku tak akan mendapat apapun yang ingin ku ketahui."


Gloria bangkit dan memutuskan untuk mandi.


Terkadang, keberanian itu muncul karena keadaan dan kondisi. Seseorang yang terdesak akan berani melakukan apapun. Begitulah tekad yang ditanamkan Gloria dalam dirinya. Ia mengira akan nekat dan berani untuk menjumpai Nico di Mansion Paman Markus. Tapi, Gloria masih bisa berpikir secara nalar untuk mendatangi tempat itu dalam kondisi hidup-hidup, itu sama saja dengan dia mau menyerahkan diri.


Lalu, bagaimana caranya dia bisa bertemu dengan sosok Nico lagi, untuk membuktikan bahwa pria itu adalah Owen?


"Oxela?!"


"Ya?" Oxela baru saja meletakkan Briel kedalam box bayi saat Gloria menyapanya dikamar dengan dominasi warna pink tersebut.


"Aku, ingin membuktikan kata-kataku.... ehm, aku--aku...." Ucapan Gloria terdengar ragu-ragu. Oxela segera menarik tangan kakak iparnya itu dan mereka melanjutkan pembicaraan di sebuah sofa yang ada di kamar Briel.


"Apa yang sebenarnya mau kau bicarakan, Gloria?"

__ADS_1


Gloria mengatupkan bibir, ia ragu jika Oxela setuju dengan pemikirannya untuk mencari tahu jati diri Nico. Ia pun menggeleng pelan dihadapan Oxela.


"Katakan, kau mau bilang apa? Apa yang kau takutkan, hmm?"


"Aku bukan takut!" sanggah Gloria. "Aku hanya ragu kau menyetujui keinginanku."


"Apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin bertemu Nico, aku ingin membuktikan bahwa dia benar-benar Owen seperti perkiraanku."


Oxela menatap ke netra Gloria, ia yakin jika saat ini wanita itu tengah serius dengan kata-katanya.


"Aku tahu kau tidak percaya bahwa sosok Nico amat mirip dengan Owen. Untuk itulah, mari kita buktikan bahwa Nico benar-benar Owen dan yang meninggal waktu itu bukanlah kakakmu!"


"Gloria.... aku tidak bisa mengatakan apapun mengenai hal ini." Oxela bingung menyimpulkan tentang keinginan Gloria yang terdengar tak masuk akal.


"Kenapa? Kau ingin mengatakan jika aku sudah gila sekarang?"


"No! Bukan begitu...."


"Makanya aku menginginkan pertemuan lagi dengan pria bernama Nico itu. Kalau perlu kau juga melihatnya, agar kau juga bisa menilai kemiripan Nico dengan Owen," tandas Gloria.


Gloria mengangguk antusias.


"Kita bisa mengintip saat orang-orang Richard kembali mendatangi Mansion ini demi mencarimu. Jika nanti ada sosok Nico yang kau maksud diantara orang-orang itu.... mintalah salah satu penjaga untuk menculiknya dan membawanya masuk kedalam Mansion ini. Bagaimana?"


"Good idea!" kata Gloria semringah.


"Baiklah, kau bisa tidur nyenyak malam ini. Aku akan menyampaikan rencana ini pada Jade." Oxela menepuk punggung tangan Gloria dan kembali ke kamarnya sendiri yang berada disebelah kamar Briel.


Sampai di kamarnya, Oxela melihat Jade yang sudah bersiap untuk tidur.


"Apa Briel sudah tidur?" tanya pria itu.


"Sudah," jawab Oxela singkat.


Oxela menatap suaminya dengan tatapan aneh, jika sudah begini Jade sudah bisa menebak jika sang istri memiliki keinginan yang mau diutarakan.


"Kenapa?" tanya Jade mulai merebahkan tubuhnya diatas ranjangg.


"Hehe, apa tertebak sekali ya jika aku punya keinginan." Oxela memeluk Jade dalam posisi yang juga sudah berbaring disebelah suaminya itu.

__ADS_1


"Aku bisa menebaknya, Honey...." kata Jade mulai memejamkan mata.


Oxela membelai dada Jade dengan ujung jari telunjuknya. Membuat pria itu tak konsen untuk melanjutkan tidur.


"Apa kau mau minta jatahmu malam ini?" Jade menatap Oxela dengan tatapan nakal, tentu saja Oxela jadi tergelak.


"Bukan itu. Aku tahu kau lelah. Besok saja."


"Lalu, apa yang saat ini kau inginkan, hmm?"


"Sebenarnya bukan keinginanku tapi keinginan Gloria."


"Gloria? Apa yang dia inginkan?"


Oxela mulai menceritakan pada Jade mengenai pertemuan Gloria dengan sosok Nico. Hingga mengatakan bahwa Nico sangat mirip dengan Owen. Oxela juga mengatakan bahwa Gloria memiliki keyakinan jika sosok Nico adalah Owen yang sudah kehilangan ingatannya. Tapi, Oxela meyakinkan Gloria bahwa Owen telah tiada seperti yang ia ketahui selama ini.


Jade tak terlalu terkejut, ia tahu Gloria dan Owen adalah suami istri yang pastinya memiliki ikatan batin tersendiri untuk mengenali satu sama lain. Jadi, kesimpulan Jade adalah Gloria telah tahu segalanya, tapi karena pernyataan Oxela yang mengatakan jika Owen telah tiada membuat Gloria ragu dan pasti wanita itu jadi mau membuktikan keyakinannya.


"Jadi, keinginan Gloria adalah dia mau bertemu dengan Nico dan itu juga agar aku bisa ikut menilai kemiripan antara Nico dengan Kakakku."


Jade terdiam, perkiraannya tak meleset sedikitpun. Benar bahwa Gloria ingin membuktikan bahwa Nico adalah Owen.


"Kurasa itu tidak perlu," tolak Jade. "Lagipula akan sulit untuk bertemu anak buah Richard," lanjutnya.


"Aku rasa tidak sulit, hampir setiap hari komplotan mereka akan mendatangi Mansion ini demi mencari keberadaan Gloria."


"Jadi?"


"Jadi, ketika mereka datang dan salah seorang penjaga Mansion ada yang melihat sosok Nico, pintalah mereka untuk menyekap Nico. Aku juga jadi penasaran dan ingin melihatnya!" pungkas Oxela.


"Richard akan semakin marah, Honey. Dia akan berbuat nekat nantinya," kata Jade.


"Tapi, dia tidak bisa berbuat apapun karena penjagaan di Mansion ini juga sangat ketat, bukan? Ayolah, Jade.... aku juga ingin melihat sosok itu."


"Baiklah, nanti aku akan mengkonfirmasi soal permintaan kalian ini!" kata Jade random dan memeluk Oxela dengan erat.


"Mengonfirmasi pada siapa?" Oxela merasa aneh dengan pernyataan Jade kali ini.


"Mak--maksudku mengatakan pada para bodyguard yang berjaga untuk mencari sosok bernama Nico itu!" kilah Jade segera memejamkan matanya kembali. Padahal maksud aslinya adalah mengonfirmasi pada Owen mengenai hal ini, untung saja ucapannya tidak kebablasan didepan Oxela.


*****

__ADS_1


__ADS_2