Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Obatnya


__ADS_3

"Kau benar-benar pengecut Tuan Jensen," sarkasku sembari memikirkan cara agar terhindar dari pengeroyokan ini. Aku bahkan masih bisa menarik sudut bibir menjadi sebuah senyuman yang tentunya untuk meremehkan tindakan Richard.


Richard berdecih sambil tertawa pelan mendengar ucapanku.


"Kau tinggal memilih saja. Gloria atau Keuntungan itu?" kata Richard kembali memberi pilihan padaku.


Aku diam, menatapi satu persatu orang yang berbaris didepanku. Mereka terdiri dari lima orang, termasuk Richard. Keempat orang yang baru muncul, tampak membawa beberapa benda tumpul yang ku yakini tentu untuk menghajarku. Ada yang membawa balok kayu, tongkat baseball dan sebuah helm fullface yang sepertinya juga akan dijadikan senjata demi melukaiku. Hanya Richard yang tampak berdiri dengan tangan kosong.


"Aku memilih keuntunganku saja," putusku akhirnya.


Richard terkekeh. "Ternyata kau masih butuh uang? Aku pikir, kau sudah jatuh cinta pada istriku," tebaknya.


"Tidak juga," jawabku.


"Heh, sayang sekali, padahal aku bisa menjual Gloria dengan harga tinggi kepadamu."


Aku hanya tersenyum tipis menanggapi pria gila uang itu.


"Baiklah, kau tidak membutuhkan orang-orang ini lagi untuk menghajarku. Jemputlah Gloria di Apartemenku sebagaimana kau mengantarkannya waktu itu," ucapku santai.


Aku berbalik untuk menuju dimana mobilku terparkir.


Disaat itu pula, aku memikirkan keputusan yang sudah ku pilih, terasa berat melepas Gloria pada Richard, tapi mau tak mau aku memang harus memilih.


Sebenarnya bisa saja aku melepaskan keuntungan itu untuk Richard lalu memilih Gloria. Tapi, jika aku melakukan itu maka Richard akan semakin menganggap Gloria berharga dimataku, meski memang begitu kenyataannya, namun aku tidak mau terlalu kentara menginginkan Gloria sebab Richard akan semakin memanfaatkanku dan memperalat Gloria untuk menguasaiku nantinya.


Biarlah ku lepaskan Gloria kali ini, nanti akan ku cari cara lain untuk membantunya lepas dari Richard lagi dan menepati janjiku untuk memulangkannya ke Indonesia.


Soal perasaan, sampai saat ini aku tidak bisa mengartikannya. Dan mengenai perasaan Gloria, dia juga belum jelas mencintaiku, bukan? Terkadang wanita memang seringkali salah mengartikan perasaannya, mungkin karena saat ini Gloria dekat denganku maka dia merasa jatuh cinta padaku. Tapi nanti jika dia sudah kembali ke Negaranya dan bebas dari aku maupun Richard, pasti dia akan tahu apa yang dia rasakan sebenarnya.


"Tunggu!"


Baru berjalan beberapa meter, pundakku ditepuk oleh seseorang, membuatku otomatis berbalik arah kembali.


"Apa lagi?" tanyaku pada orang itu, yang tak lain adalah Richard. Tampaknya ia belum puas dengan keputusanku.


"Apa kau benar-benar yakin ingin mengembalikan Gloria?"


"Ya!"


"Sialan..."


Tanpa aba-aba, Richard memukul rahangku dengan sangat kuat. Wajahnya merah penuh emosi, sesuai dugaanku dia tidak puas dengan keputusanku yang tidak memilih istrinya.


Aku ingin membalas, namun ku urungkan. Aku lebih memilih menantangnya dengan ucapanku.


"Kau menginginkan keuntungan itu seutuhnya? Kau lupa kita telah membuat perjanjian hitam diatas putih?" ucapku terkekeh sambil menyeka ujung bibirku yang terasa asin sebab mengeluarkan darah akibat pukulan Richard barusan.


Richard terdiam, sepersekian detik berikutnya ia seperti memberi kode pada kompotannya yang masih setia berada beberapa meter dibelakangnya.


"Karena perbuatanmu ini, aku anggap kau melanggar perjanjian kita. Untuk itu, aku juga akan melanggarnya. Gloria... tidak akan pernah kembali padamu, baik sebelum proyek itu selesai ataupun setelahnya! Gloria tidak akan kembali padamu! SELAMANYA! Kau dengar itu!" ucapku percaya diri dengan senyuman licik.


Bersamaan dengan itu, orang-orang Richard pun sudah mengelilingiku, siap untuk menghujamku dengan pukulan dari benda-benda yang mereka bawa.


Sayangnya, gerakan mereka terhenti karena aku langsung menarik pistol dari balik jas dan menembakkan peluru ke arah atas.


DOR!

__ADS_1


Keempat orang itu mundur perlahan, bahkan dua dari mereka menjatuhkan tongkat baseball dan balok kayunya, biar ku terka... mereka terkejut karena baru mengetahui jika aku membawa senjata api.


Aku tersenyum meremehkan pada Richard yang pucat pasi diujung sana. Ku yakin dia juga tak menduga dengan aksiku ini. Richard belum tahu siapa aku ternyata. Pantas saja dia berani melakukan uji coba dengan memerasku seperti ini.


Sejak awal, dia memang sudah salah mengajakku bermain-main seperti ini.


"K-kau!" Richard tergagap saat kini aku berjalan santai ke arahnya sambil memutr-mutar pistol yang sempat ku tarik pelatuknya ke udara beberapa saat lalu.


"Kenapa? Tadi aku sudah memberimu kesempatan untuk menjemput Gloria di Apartemenku, tapi.... kau mencegat langkahku, masih mau mengajakku bermain-main! Harusnya kau kenali dulu siapa orang yang ingin kau jadikan lawan." Aku menodongkan pistol yang sudah selesai ku putar-putar, kini pistol itu mengarah langsung ke wajah pias Richard.


Secara refleks, Richard mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.


"Seharusnya saat aku memberimu kesempatan tadi, kau langsung menjemput istrimu!" Aku terkekeh mengoloknya. "Jika sudah begini, jangan salahkan aku karena tidak bisa mengembalikan istrimu! Anggaplah Gloria akan menjadi tawananku selamanya!" sambungku.


Richard membeku, tak satu patah katapun lagi keluar dari bibirnya.


Aku hendak berbalik dan segera pulang, tapi aku teringat sesuatu.


Bugh!


Bugh!


Aku memukul Richard dua kali. Setidaknya, aku harus lebih unggul darinya.


"Anggaplah itu hadiah dariku," ucapku datar.


Keempat rekan Richard yang tadi ingin memukuliku pun tidak ada bisa yang berkutik, bahkan saat Richard terduduk karena hantaman keras dari pukulanku, tak ada satupun dari mereka yang ambil peran untuk membantu Richard.


******


Aku pulang ke Apartmen dengan langkah gontai. Sampai didepan pintu, aku memilih mengetuknya daripada membuka pintu secara manual dengan password yang ku ketahui. Aku ingin Gloria menyambutku pulang, biarlah dia membukakan pintu untukku.


"Kau merubah warna rambutmu?" tanyaku terpana.


"Ya," jawabnya datar. "Kau kenapa?" tanyanya kemudian dengan raut yang berubah cemas.


"Kau tampak semakin cantik," ucapku jujur.


"Itu tidak penting. Yang penting... aku tanya, kau kenapa? Kenapa bibirmu ini?" tanya Gloria sembari menyentuh sudut bibirku yang sempat terkena pukulan Richard tadi.


"Ahsss..." Aku meringis saat jari Gloria sampai diluka itu.


"Kenapa bibirmu, Owen?" tanya Gloria mendesak, ia menuntunku agar duduk di sofa ruang tamu. Aku menurut saja dan kami duduk bersisian sekarang.


Gloria memperhatikanku dengan lekat.


"Dimana lagi lukanya?" Ternyata Gloria begitu cemas padaku, aku merasa istimewa hanya karena hal kecil yang dilakukan Gloria, sebab aku tidak pernah dipedulikan seperti ini sebelumnya, Ayah dan Ibuku sudah meninggal saat aku kecil. Oxela, adikku juga tidak pernah sedetail ini dalam memperhatikanku.


"Tidak ada luka yang lain. Hanya ini."


"Baiklah, aku akan mengompresnya dan memberinya obat." Gloria bersiap berdiri, namun aku mencegahnya, wanita itu terduduk kembali karena aku menarik tangannya dengan sigap.


"Obati dengan ciuman mu," kataku pelan.


"Owen, jangan bermain-main terus seperti anak kecil," omel Gloria.


"Aku tidak bermain-main, aku serius. Itu adalah obatnya." Aku mengulumm senyum melihat wajah Gloria yang merona.

__ADS_1


"Aku ambil obatnya dulu."


"Tidak usah, obatnya disini." Aku memegang bibir Gloria dengan jari telunjukku,merasakan kelembutannya lewat sen tuhan itu.


Gloria menggeleng kencang, sementara aku mengangguk-anggukkan kepala. Kami berdua pun saling menertawakan satu sama lain. Aku senang karena kami sangat akrab sekarang.


"Ayolah, aku ingin dicium si rambut cokelat!" ucapku menggoda. Aku mengambil sedikit helaian rambutnya dan menggulung-gulung itu dijariku.


"Aku tidak bisa memulainya." Gloria tampak malu-malu. Aku tahu, selama ini selalu aku yang lebih dulu menci umnya, dia hanya menerima meski sekarang ia sudah mulai pandai membalas perlakuanku saat kami b e r c i u m a n.


"Come on! Aku tahu kau pasti bisa. Apa pelajaran yang ku berikan selama ini kurang?"


Gloria meninju pundakku, aku berlagak meringis padahal tidak merasakan apapun karena aksinya itu.


"Ayo!" Aku tersenyum tipis.


"Aku malu, Owen!"


"Baiklah, agar tidak malu aku pejam mata saja," ucapku sembari memejamkan kedua mataku. Sebenarnya aku merasa lucu dengan hal seperti ini, ini seperti aku tengah mengerjai Gloria saja. Terserahlah, anggap saja ini adalah tes uji coba setelah selama ini aku mengajarkannya ilmu ciu man yang full aksi.


Aku bisa merasakan jika Gloria mulai memangkas jarak diantara kami, karena hembusan nafasnya terasa sangat dekat.


Aku menanti dengan perasaan yang entah kenapa menjadi berdebar-debar. Ini kali pertama Gloria yang memulai menciumku lebih dulu.


Satu


Dua


Tiga


Aku menghitung didalam hati, berharap bibir Gloria segera berlabuh di bibirku.


Empat


Lima


Enam


Sampai hitungan ke Sepuluh, tetap tidak ada pergerakan lagi.


Aku pun mencoba mengintip, membuka satu mataku. Ternyata apa yang ku lihat membuatku menghela nafas panjang.


Tampak Gloria menyengir didepan wajahku, kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tidak bisa," katanya dengan wajah polos yang ia miliki, membuatku gemas dan tak sabar sendiri karena sikapnya itu.


Dengan refleks aku menarik tengkuknya dan mencum bu bibirnya yang sejak tadi ku nantikan.


"Arkkhh..." Belum terlalu jauh ciuman kami, aku sudah meringis lagi karena luka disudut bibirku ternyata memang cukup perih.


"Sudah ku bilang diobati dulu!" Gloria panik, dia tampak bingung sesaat kemudian berlari ke arah kamar. Aku tahu dia pasti mencari kotak obat sekarang.


Tak lama, Glora kembali dengan kotak obatnya. Dugaanku tak pernah meleset.


"Kita bisa melakukannya perlahan, pasti tidak akan sakit, tadi aku hanya terlalu bersemangat." Aku tertawa pelan melihat Gloria yang memasang wajah jutek.


"Tidak ada ciuman sebelum lukanya sembuh!" ucapnya tegas, membuat mataku membola seketika.

__ADS_1


Ah, sial sekali. Kenapa jadi begini?


*****


__ADS_2