
Sepanjang malam aku tidak bisa tertidur, memikirkan ucapan Jared yang mengatakan bahwa Gloria masih berada di Negaraku. Bagaimana mungkin? Bukankah pembelian tiket itu sudah menjadi buktinya?
Mungkin sebaiknya aku harus menunggu laporan Jared mengenai data para penumpang pesawat yang akan ditumpangi Gloria. Jika memang dia pergi, seharusnya datanya ada disana, bukan?
Semenit menunggu rasanya begitu lama, baru kali ini aku tidak sabar menunggu laporan dari asistenku itu. Aku tidak meragukan intuisi Jared. Insting dan kemampuannya membaca situasi tidak pernah ku ragukan tapi kali ini aku harus benar-benar memastikannya sebab aku tak ingin salah melangkah.
Jika memang Gloria kembali ke Indonesia, mungkin dia memang sangat ingin pulang ke kampung halamannya, tapi kenapa dia tak mengatakannya padaku padahal intensitas hubungan kami baik-baik saja.
Tapi, jika pun Gloria tak pulang ke Negaranya, lalu pembelian tiket untuk terbang ke sana ini untuk apa? Apa maksudnya? Aku masih belum memahaminya.
"Tuan!" Suara Jared terdengar, ia pasti akan melaporkan mengenai nama-ama penumpang pesawat. Sepertinya ia sama denganku yang sama-sama tak tidur malam ini.
Gegas aku membuka pintu demi menemui Jared.
"Apa yang kau temukan?"
"Nama Nona Gloria memang tercantum di data penumpang. Tapi..." Jared menggeleng, entah apa maksudnya.
"Tapi apa?"
"Wajahnya tidak masuk dalam pendeteksian CCTV Bandara."
Pendeteksian wajah dilakukan oleh seorang hacker yang bekerja dibawah naunganku, itu sebabnya Jared bisa mengetahui segalanya sebab Sang Hacker pasti sudah meretas CCTV bandara yang ada di Negara kami.
"Ada kemungkinan Nona Gloria tidak pernah berangkat, data itu tidak valid, hanya berdasarkan pemesanan tiket yang mengatasnamakan namanya saja."
Aku menelan saliva dengan berat. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak tahu, tapi aku harus memberi keputusan sekarang. Pulang ke Negaraku atau terbang ke Indonesia.
"Bagaimana, Tuan? Apa keputusan Anda? Apa anda akan tetap pergi ke Indonesia?"
Aku diam sejenak, dalam beberapa detik aku sampai pada sebuah keputusan.
"Aku akan pulang, suruh beberapa orang untuk mencari Gloria di alamatnya yang ada di Indonesia. Jika dia ada disana, paksa dan bawa dia kehadapanku apapun caranya!"
"Baik, Tuan." Jared tersenyum puas atas keputusan yang ku berikan.
______
Pagi ini aku akan pulang ke Negaraku. Sebelum itu, aku memutuskan untuk berpamitan pada Celine. Aku mendatangi unit Apartmennya.
"Owen, kau akan bekerja?" sambut Celine saat melihat keberadaanku didepan pintu.
"Aku akan pulang," jawabku pelan.
__ADS_1
"Kenapa? Apa urusanmu disini sudah selesai?"
Aku mengangguk. "Sudah hampir seminggu aku berada disini. Semua pekerjaan disini sudah rampung, ada hal lain yang harus ku urus. Aku pamit," ucapku tersenyum tipis.
Celine membalas senyumanku. "Baiklah, apa kau mau sarapan dulu? Aku membuat roti isi, kulkas disini penuh jadi aku bisa membuat apapun yang kau mau."
"Tidak usah, aku buru-buru."
Tampak raut wajah Celine yang berubah, seperti kecewa mendengar penuturan ku. Tapi, aku benar-benar tidak bisa berlama-lama karena aku ingin segera mencari keberadaan Gloria di Negaraku begitu aku tiba disana.
"Owen..." Celine menarik lenganku dan aku menyoroti itu dengan tatapan dingin. Seketika itu juga wanita itu melepas tangannya yang menaut dilenganku dengan wajah yang sendu.
"Kau mau bilang apa?"
"Terima kasih banyak atas bantuanmu."
"Hmm."
"Ehm... jika nanti semua masalahku sudah selesai, aku harap kita bisa bertemu kembali. Aku mau membalas semua kebaikanmu meski tidak dengan uang," kata Celine dengan senyum penuh arti.
Aku tersenyum tipis. "Memangnya kau mau membalas kebaikanku dengan cara apa?" tanyaku, aku mencoba menebak-nebak maksud Celine dan dipikiranku hanya terlintas bahwa dia ingin menyerahkan diri kepadaku, entah karena pemikiran lelaki selalu begitu namun yeah sepertinya niatnya yang ku tangkap memanglah begitu.
"Dengan cara apapun, apapun yang kau inginkan."
"Lain kali, maybe..." jawabku tak yakin. Aku tidak tertarik dengan Celine, tapi tawarannya pun tak mungkin ku tolak mentah-mentah sebab aku masih menjaga harga dirinya didepanku.
____
Beberapa jam menempuh perjalanan udara demi mencapai kepulangan, akhirnya aku tiba di Negara kelahiran ku.
Seharusnya aku pulang dengan senyum yang mengembang, dijemput oleh dia, seperti saat mengantarkanku ke Bandara seminggu yang lalu.
Seharusnya aku juga membuat kejutan dengan kepulanganku ini, sebab aku memang tak memberitahu dia.
Kerinduanku kepadanya masih ada, meski rasa itu tertutupi oleh rasa kecewa yang lebih mendominasi diri.
Yang pertama ku datangi setelah kepulanganku adalah Apartmen-- tempat tinggalku dengan dia.
Begitu tiba disana, aroma yang sangat ku rindukan dalam sepekan ini menyeruak menjejali indera penciumanku. Membuat nafasku tercekat, sesak. Rasanya aku sulit untuk menerima bahwa dia telah pergi dari sisiku.
Lagi, aku kecewa karena keputusannya yang serba mendadak. Jika saja dia mengatakan ingin kembali ke Indonesia saat ini, aku akan menurutinya bahkan aku akan menemaninya jika perlu. Tapi dengan ketentuan bahwa dia tetap akan kembali kesini, ke sisiku.
Tapi nyatanya? Dia pergi tanpa pamit. Tanpa kata perpisahan dan itu mengindikasikan bahwa dia tidak mengharapkan ku lagi. Apa sebenarnya kesalahan yang ku perbuat? Rasanya aku mencurahinya dengan kasih sayang setiap hari.
__ADS_1
Aku duduk disofa, sofa yang menjadi 'saksi bisu' pengalaman pertama kami mengawali hubungan yang berujung dengan perasaan yang bernama cinta. Hah, aku bahkan sudah mengakui bahwa aku mencintainya. Tapi, yang sama sekali tak ku mengerti tetaplah tentang kepergiannya.
Brak!!
Aku menendang koperku yang tak bersalah. Mencengkram kepalaku sendiri sebab kepulanganku ke Apartmen justru membuatku semakin naik darah penuh kekecewaan diri.
Haruskah aku meratap karena seorang wanita? Tidak....
Aku memang terperosok jauh kedalam hubungan yang tak berujung, tapi aku harus bangkit dan berdiri kembali. Aku bukan lelaki lemah yang akan mati hanya karena cinta. Meski ku akui bahwa kali ini aku benar-benar kalah. Lebih kalah daripada masa-masa terdahulu.
Yang menyebabkan semua ini terjadi kepadaku adalah karena aku begitu yakin jika dia tidak akan meninggalkanku seperti janjinya. Selain itu juga karena hubungan kami sedang dalam fase 'hangat-hangatnya'.
"Oxela, kau dimana?" Aku memilih menelepon Oxela, untuk mengalihkan pikiranku yang sejak pulang tadi hanya mencari sosok wanita yang sama, dia.
"Aku sedang bekerja, kak."
"Oh, aku sudah pulang. Kapan kekasihmu akan menemuiku?"
"Benarkah? Baiklah, aku akan menghubungi kakak lagi nanti setelah aku memberitahu Jade."
"Hmm."
"Apa ada masalah, kak?"
"Tidak ada."
"Suaramu terdengar berbeda," kata Oxela. Bagaimana bisa dia menebak kondisiku hanya dari intonasi suara saja?
"Tidak ada, mungkin itu hanya perasaanmu saja!"
"Baiklah, kak. Aku akan menelepon Jade dulu. Jika dia setuju kita akan bertemu malam ini di Mansion, bagaimana?"
"Boleh saja."
"Aku akan menghubungimu lagi nanti. Bye, kak..."
Suara riang dari adikku itu berhasil membuatku menipiskan bibir untuk mematut senyuman kecil.
Panggilan terputus, aku memasuki kamar dan lagi-lagi mendapati ruang kamar yang kosong membuat hatiku mencelos. Biasanya kepulanganku akan disambut oleh senyuman hangat wanita itu. Tidak dipungkiri, sedikit banyak aku sudah terbiasa dengan kehadirannya sehingga kini aku merasa ada sesuatu yang hilang dari kehidupanku.
Aku membuka lemari, mencari baju ganti untuk ku kenakan seusai membersihkan diri. Namun, aku begitu terkejut saat mendapati sesuatu didalamnya.
*****
__ADS_1