Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Menjalani hari tanpamu


__ADS_3

Bagai tersambar petir dua kali bagi Celine saat mendengar ucapan Owen kali ini.


Pertama, Owen membatalkan pernikahan mereka dan kedua Owen mengatakan bahwa dia telah menjadi seorang ayah. Mungkin Celine memang harus menerima kekalahannya sekarang sebab ia memang tak akan bisa memiliki Owen selamanya.


Raga, jiwa dan cinta pria itu tidak akan pernah ia miliki. Sampai kapanpun.


"Gloria mengandung anakku dan kabarnya dia sudah melahirkan." Owen mengendikkan bahu.


"Lalu, apa kau tahu dimana dia sekarang?" tanya Celine dengan suara yang sangat pelan menahan sesak.


Owen menggeleng. "Tapi, cepat atau lambat aku pasti akan menemukannya," jawabnya tenang.


Owen pun memutar tubuh, lalu meninggalkan Celine yang termenung diatas Rooftop.


Celine hanya melirik kepergian Owen dari sudut matanya. Rasa cinta yang begitu besar membuatnya tega membohongi Owen, padahal pria itu sudah banyak membantunya tanpa mengharap balasan. Sekarang perasannya seakan dihantam rasa bersalah yang begitu besar pada Owen.


Semua obsesi nya untuk memiliki Owen seakan luruh begitu saja, apalagi Owen tidak menghukumnya. Dan pembatalan pernikahan mereka memang sangat pantas dilakukan Owen padanya. Ia merasa ia tidak layak untuk lelaki sebaik Owen. Padahal, bisa saja Owen memberinya peringatan keras atas semua tipu daya nya selama ini, tapi Owen tak melakukannya dan membebaskannya begitu saja dalam rasa bersalah.


"Maafkan aku, aku akan membantumu mencari Gloria..." tekad Celine, mungkin inilah satu-satunya cara agar Owen memaafkannya. Ia harus berusaha mencari Gloria--wanita yang dicintai oleh Owen.


______


"Tuan, hari ini kita ada pertemuan dengan Tuan Brandy di kota X," ujar Jared.


"Kau saja yang mewakili ku, aku sedang tidak enak badan."


"Apa anda sakit, Tuan? Apa saya perlu menghubungi Dokter James?"


Owen menggeleng. "Tidak usah," jawabnya singkat.


Pagi menjelang siang, Jared pergi mewakili Owen untuk melakukan rapat bisnis bersama Tuan Brandy. Sedangkan Owen, ia menatap nanar ke arah laptopnya. Bukan memperhatikan tentang pekerjaan, tetapi melihat rekaman pertemuan terakhirnya dengan Gloria di RC Apartmen.


"Kau nampak kurus," ucapnya menyadari perbedaan tubuh Gloria.


"Mungkin saat itu perutmu belum membuncit seperti Oxela sekarang." Ia seperti orang gila yang berbicara pada laptopnya sendiri.


Mengusap kasar wajahnya, ia membuka simpul dasi dan melepas jas yang ia kenakan. Ia membuka tiga kancing kemejanya, lalu menggulung lengan sampai sebatas siku.


Hufff...

__ADS_1


Menarik nafas berat, entah kenapa perasaan membuncah ingin segera menemui Gloria membuatnya sangat tertekan.


"Apa anak kita mirip aku?" ucapnya bermonolog. Ia pun membayangkan bagaimana kira-kira paras sang anak.


"Baby girl or boy?" Kemudian ia terkekeh sendiri. Rasanya ia benar-benar gila sekarang.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuatnya menghentikan aktifitas menghayal yang sudah merembet kemana-mana.


"Masuk!" titahnya.


"Tuan, ada paket untuk anda," ucap Selena, sekretarisnya.


"Dari siapa?"


"Dari Rumah Sakit."


"Letakkan saja disana!" Owen menunjuk sebuah nakas yang ada disudut ruangan. Ia mengira itu pasti kiriman dari James, Dokter sekaligus teman yang biasa menanganinya. Kadang James sering mengiriminya obat-obatan dan vitamin, sebab ia menjadi donatur tetap di Rumah Sakit milik pria itu.


Seperginya Selena, ia mengamati paket itu. Ia membukanya dan begitu terkejut mendapati sesuatu didalamnya. Bukan vitamin atau obat seperti dugaannya.


Melainkan, berbagai kertas pemeriksaan serta hasil USG milik Gloria.


"Siapa yang mengantar paket ini?" tanyanya.


"Seorang kurir, Tuan."


"Dimana dia sekarang?" tanya Owen panik.


"Sudah pergi," jawab Selena dengan raut takut-takut.


Owen hanya menatap kesal pada Selena, kemudian masuk kembali ke dalam ruangannya.


Tak lama ponsel Owen berdering, itu adalah telepon dari James.


"Ya?" sahut Owen.


"Kau menerima paketku?"

__ADS_1


"Ya, ya! Ini darimu? Kenapa kau mengirimkan ini?"


"Semua data itu dari poli kandungan di Rumah Sakitku. Tertinggal disini setelah proses melahirkan dua bulan yang lalu. Saat aku periksa, ada namamu terlampir disana."


"Maksudnya?" Owen mengernyit tak mengerti.


"Harusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa namamu yang disertakan sebagai nama Ayah dari bayi yang dilahirkan wanita itu!" James terkekeh diujung kalimatnya.


"Jadi, aku berinisiatif untuk mengirimnya padamu. Ternyata ada wanita yang mengaku-ngaku telah melahirkan anakmu. Kau sangat famous, Owen. Pasti wanita itu sangat mengagumimu sampai mematenkan namamu sebagai ayah dari anaknya. Hah! Lelucon macam apa ini?" lanjutnya lagi.


"Ini bukan lelucon James, yang dia lahirkan memang anakku. Keparat kau tidak memberitahuku sejak awal!" maki Owen.


"Hah? Mana aku tahu, sudah ku katakan ini dari poli kandungan. Karena ada namamu makanya ku kirim padamu, aku tidak tahu jika itu benar-benar anakmu! Kau tidak pernah terlihat menjalin hubungan yang serius! Apa ini tanpa kau sengaja?" James masih bisa mengolok Owen.


"Breng sek! Tunggu aku akan kesana menemuimu!"


______


"Alamat yang dia cantumkan saat akan melahirkan disini adalah sesuai identitasnya," jelas James saat Owen menanyakan alamat Gloria sekarang.


Jadi, Gloria menyertakan alamat yang dia tempati adalah alamat rumah Richard. Namun, nama ayah bayinya dia menyertakan nama Owen Zwart.


"Keadaannya setelah melahirkan?" tanya Owen.


"Menurut data yang ku lihat disini, dia dalam keadaan sehat dan bayi yang dia lahirkan juga sehat."


"Anakku... perempuan atau laki-laki?" serobot Owen lagi.


"Laki-laki..."


"Oh my.... dimana mereka sekarang?" Owen memukul meja di ruangan James, kemudian memijat pelipisnya sendiri.


"Aku turut prihatin atas hal ini. Jika saja aku tahu dia kekasihmu pasti aku menahan kepergiannya lalu memberitahumu. Aku sama sekali tak tahu dan lagi, ini dari poli kandungan."


Owen menganggukkan kepalanya dengan lemas.


Dalam rasa putus asa, ia keluar dari ruangan James. Ia berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit lalu mendudukkan diri di taman yang ada disana.


Ia menopang kepala dengan kedua tangannya, entah bagaimana mendeskripsikan pikirannya saat ini. Ia punya uang, punya kekuasaan tapi sampai saat ini ia belum bisa menemukan keberadaan Gloria dan anaknya.

__ADS_1


Rasanya sudah cukup selama ini ia menjalani hari tanpa Gloria. Salahkah bila sekarang ia menuntut agar semesta mempertemukan mereka kembali? Terlebih, Gloria telah melahirkan anaknya, darah dagingnya. Haruskah ia menyerah sampai disini?


******


__ADS_2