
*Author Pov
Begitu tiba di Apartmen, tidak ada yang mengeluarkan suara, baik Owen maupun Gloria terlihat sangat canggung satu sama lain, mungkin karena hal yang baru saja terjadi pada mereka beberapa saat lalu di dalam mobil.
Mereka berjalan beriringan menuju lift, masuk ke baliknya dan menunggu pintu besi itu mengantarkan mereka sampai tiba di lantai Apartmen Owen yang terletak diarea teratas gedung.
"Gloria..." Owen memberanikan diri menyapa wanita yang berubah menjadi banyak diam sejak ciuman tadi.
"Ya?"
"Kenapa kau jadi pendiam, hmm?"
Gloria menggeleng pelan, kemudian menundukkan wajahnya yang tampak memerah.
Lift berdenting dan mereka keluar dari dalamnya kemudian langsung masuk ke unit apartmen.
"Duduklah,"kata Owen menepuk bagian kosong sofa ruang tamu yang kini ia duduki.
Gloria tampak ragu namun intimidasi dari mata kebiruan milik pria dihadapannya membuatnya melangkah mendekat dan mendudukkan diri disebelah pria itu.
"Ada apa?"
"Aku bertanya kenapa kau berubah menjadi pendiam?" Tangan Owen terulur mengelus pipi Gloria dengan punggung tangannya. Wajah wanita itu pun kembali bersemu merah.
"Tidak ada, tidak apa-apa," jawab wanita itu.
__ADS_1
"Benarkah? Jujur saja padaku, aku sudah mengatakan bahwa aku tidak akan menyakitimu, kan?"
Gloria mengangguk, sepersekian detik berikutnya ia mulai bersuara kembali.
"Sebenarnya aku merasa ada yang salah."
"Apanya?"
"Tawaranku padamu, jika aku menjadikanmu simpanan bukankah itu sama saja kalau aku dan Richard tidak ada bedanya?"
Owen tertegun dengan ucapan Gloria, apa sekarang Gloria menyesal karena penawarannya yang sudah Owen setujui?
"Jadi kau mau menarik kata-katamu lagi?" Owen tersenyum hambar, merasa Gloria tidak berpendirian sama sekali.
"Sepertinya---"
Meski Owen memiliki tenggang rasa pada Gloria dan tidak ingin memaksanya, namun Gloria harus tahu bahwa ini semua bermula karena persetujuan Richard juga, jadi jika pun Gloria menjadikan Owen sebagai seorang simpanan, bukan sepenuhnya kesalahan mereka berdua, melainkan ada peran Richard juga didalamnya.
Gloria mengangguk, ia paham dengan maksud Owen, sejak awal memang Richard yang bersalah, menjerumuskannya bersama pria asing seperti Owen, lalu jika ia terpesona pada Owen dan berniat mengikuti saran Owen untuk menjadikan pria itu sebagai lelaki simpanan, maka tidak luput dari kesalahan Richard juga.
"Mulai saat ini, jangan sesali apapun. Jangan menyalahkan dirimu jika kau pun sama seperti Richard, karena dialah yang membawamu kepadaku. Kau paham maksudku, Glo?"
"Hmmm..." Gloria menggigitt bibirnya sendiri.
Melihat itu, tiba-tiba Owen jadi berpikir tentang ciumannya bersama Gloria beberapa saat lalu. Apa ciumannya tadi membuat Gloria takut? Atau ia terlalu brutal dan tidak berhati-hati hingga menyakiti Gloria? Dalam posisi ini ia pun memberanikan diri untuk memperhatikan bibir wanita itu yang memang agak bengkak karena ulahnya. Ia ingin mengecek keadaannya.
__ADS_1
Tangannya yang semula mengelus pipi Gloria perlahan bergerak menuju bibir dengan niat awal hanya untuk melihat keadaannya saja, namun ia tergoda untuk kembali mencicipi rasa hangat itu lagi, memangkas jarak, mendekatkan diri dan mereguk itu sekali lagi.
Gloria terkesiap, cukup terkejut namun ia berusaha kembali rileks dan menikmati hal ini.
"Owen..." Gloria gelagapan dengan nafas yang memburu sembari menyebut nama pria itu yang lagi-lagi membuatnya hilang kesadaran hanya karena sebuah ciuman yang memabukkan.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba posisinya sudah berada dibawah pria itu, tidak bisa berkutik tatkala kedua tangannya diletakkan Owen diatas kepala dan pria itu menyusuri rahangnya dengan ciuman - ciuman kecil.
Gloria merasakan otaknya buntu, tubuhnya bergetar layaknya tersengat, namun ia tidak mencoba menghentikan apa yang Owen lakukan, ia sadar bahwa sekarang ia telah takhluk dibawah kendali pria itu.
Hatinya mengatakan ini salah, namun tubuhnya menginginkan hal ini.
Owen memegang kendali seperti yang seharusnya. Laksana berselancar, ia peselancar dan Gloria adalah papan selancarnya, mengarungi arus dan mengikuti kemana arah membawa mereka larut.
Diksi yang seharusnya diutarakan, tidak bisa dilisankan karena yang terdengar selanjutnya hanya de sah kenikmatan yang masih terus berlanjut selama has rat masih menggelora.
Owen melanjutkan sampai pada ia merasakan sesuatu yang janggal pada diri Gloria. Ia menatap Gloria dan wanita itu hanya mengangguk pasrah.
"Kau harus jelaskan ini nanti padaku, Glo!" kata Owen, namun ia tak bisa menghentikan sesuatu yang sudah dimulainya. Ia berpesan pada dirinya sendiri untuk menanyakan hal ini nantinya kepada Gloria.
"Kenapa Gloria masih perawan? Bukankah dia sudah menikah dengan Richard selama 8 bulan? Benar-benar tidak bisa dipercaya tapi ini kenyataannya!" batin Owen sembari melanjutkan aksinya yang tak bisa ia hentikan lagi.
Gloria sendiri pasrah dibawah kendali pria itu, pria yang membuatnya berkubang dalam rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak bisa berkata tidak atau jangan, karena gelombang dalam dirinya justru mendorongnya untuk semakin mereguk rasa yang sulit ia utarakan tiada taranya.
Berkecimpung dan larut dalam pesona lelaki simpanan yang meluluh-lantakkan, hingga membuatnya menyampirkan keimanan.
__ADS_1
Gloria hanya bisa mengikuti ritme karena lagi dan lagi ia amat amatir dengan hal yang baru pertama dirasakannya.
*****