Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Apartemen


__ADS_3

"Aku mau pulang," kata Gloria pelan, membuatku terkekeh dengan kalimatnya.


"Pulang kemana?"


"Kerumah suamiku!"


"Are you kidding me? Aku dan suamimu sudah membuat kesepakatan diatas hitam dan putih, kau tidak bisa pulang seenaknya. Lagipula, kau baru tiba disini kurang dari setengah jam, kenapa harus pulang?"


Wanita itu mendengkus pelan, aku pun beranjak dari sofa untuk menuju mini bar yang letaknya tak jauh dari tempat dudukku sebelumnya.


Aku menuangkan wine ke dalam gelas. "Kau mau minum?" tawarku pada Gloria.


Gloria membuang muka dengan dengkusan pelan, tidak menjawab tawaranku.


Aku tersenyum tipis melihatnya, aku tahu dia marah, mungkin juga sempat bertengkar dengan Richard sebelum tiba disini. Maybe.


Aku menggoyang pelan gelas berisi wine yang sudah ku tuangkan, menghirup aroma minuman itu dalam-dalam, lalu menyesappnya secara perlahan sembari memperhatikan Gloria yang tampak kesal.


Bagaimana tidak, aku meminta Jared segera mengurus surat yang berkaitan dengan keinginan Richard tentang proyek real estate yang diincar pria itu. Tak sampai dua hari semuanya siap diurus. Sebagai gantinya, Richard langsung mengantarkan sendiri istrinya ke alamat Apartemenku tanpa aku minta. Lucu bukan?


"Aku tidak tahu harus berkata apa tentang suamimu itu, walaupun dia menuruti tawaranku dan menyetujui kesepakatan kami mengenai barter ini, tapi dimataku.... dia terlihat menjijikkan," ucapku terus-terang.


Gloria bangkit dari duduknya, dia menatapku nyalang. "Sejak awal, seharusnya kau tidak perlu memberinya penawaran semacam ini. Menjadikanku layaknya barang untuk dibarter!" ucapnya tegas.


Aku menatap Gloria sendu. "Disini aku memang salah, tapi aku tidak menyangka Richard menyetujui bahkan menyerahkan istrinya begitu saja padaku hanya demi sebuah proyek!"


Aku berjalan menuju kamar yang ada di Apartemen. Kamar yang sempat menjadi saksi bisu saat aku dan Gloria menghabiskan malam tanpa melakukan apapun waktu itu.


"Aku lelah, aku ingin tidur. Jika kau ingin tidur juga, gunakanlah kamar yang satunya!" ucapku sambil lalu.


"Ah ya, pikirkanlah perbuatan suamimu ini! Apa menurutmu laki-laki seperti dia layak untuk kau cintai?" tanyaku sebelum benar-benar pergi dari hadapan wanita itu.


Gloria tampak terdiam, aku membiarkannya malam ini karena aku tidak mau ada pemaksaan kehendak diantara kami. Biarlah dia berpikir tentang betapa menjijikkannya Richard yang dia akui sebagai suaminya itu.


____


Menjelang pagi, aku terbangun dan segera bersiap mengenakan pakaianku. Walau aku adalah atasan tapi aku tidak boleh mencontohkan sikap tidak disiplin pada semua staff bawahanku yang ada dikantor--dengan datang terlambat. Aku harus tiba tepat waktu.


Aku terkejut bukan main kala mendapati seorang wanita didapur Apartemenku pagi ini. Perasaan, aku tidak menghubungi pihak kebersihan atau menyewa maid untuk memasak.


Lalu siapa wanita yang tengah sibuk didepan kompor itu?


Aku baru ingat jika ada Gloria yang menginap di Apartemenku. Pantas saja, dia terlalu cantik untuk ukuran seorang petugas kebersihan, karena pekerjaan itu memang tidak layak untuk dirinya. Dia lebih cocok menjadi seorang model majalah dewasa atau bintang film panass. Ah sial, ini masih pagi kenapa pikiranku sudah traveling saja!


Aku terpana beberapa saat, ketika mendengar suara wanita itu bernyanyi pelan, tampaknya ia sedang menikmati peran menjadi seorang chef didapur Apartemenku sambil berdendang riang.


Kalau boleh jujur, aku senang melihatnya seperti ini, dia tampak bahagia, tidak seperti kemarin saat tiba di Apartemenku-- wajahnya selalu ditekuk, tapi sekarang hatiku jadi menghangat melihat dan mendengar hal semacam ini, seolah Gloria sedang menjadi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Pagi..." celetukku dan itu berhasil menyadarkan Gloria dari kegiatan memasaknya, lantas hal itu juga membuatnya menghentikan nyanyian.


Wanita itupun menatapku sekilas. "Pagi..." jawabnya pelan.


"Kau memasak?" Aku mendekat ke arahnya, memperhatikan apa yang tengah dia lakukan dari jarak yang lebih dekat.


"Y-ya, aku pikir kau akan berangkat bekerja jadi...."


"Terima kasih," potongku cepat sembari mengelus pucuk kepalanya. Aku juga tidak tahu kenapa melakukan hal itu, refleks saja.


"Em, kau tidak marah kan karena aku telah lancang mengambil bahan makanan dari kulkasmu?" tanya Gloria dengan wajah memerah, sangat menggemaskan.


"Tidak apa... kau bisa menganggap ini adalah rumahmu. Lakukan apapun hal yang kau sukai disini, hmmm?"


Aku pun duduk di meja makan, ternyata disana sudah ada kopi yang aku yakin jika Gloria yang telah menyediakannya.


"Thanks, Owen..." kata Gloria akhirnya.


Aku tersenyum kecil, senang bisa mendengarnya menyebut namaku lagi.


"Apa ini kopiku?"


"Ya, minumlah... aku tidak tahu selera kopimu bagaimana tapi--"


"Enak," jawabku jujur setelah menyeruput kopi buatannya.


"Apa masakanmu sudah siap? Bisakah aku mencicipinya?"


Gloria kembali mengadah dan melihat padaku dari posisinya yang masih berada dibelakang kompor.


"Sudah siap. Sebentar," kata Gloria. Dia pun sibuk memindah makanan dari wajan ke dalam wadah. Membawa itu bersamanya dan menyajikannya dihadapanku.


"Nasi goreng Indonesia?" ucapku tak percaya dengan sarapan yang ia sajikan.


Gloria mengangguk, mengambil piring dan menyendokkan nasi goreng itu lalu memberikannya padaku.


"Kau pernah memakan ini?"


"Tentu," jawabku jujur. Saat di Indonesia makanan ini banyak ku temui dan menjadi salah satu makanan favoritku.


"Baiklah, silahkan dicicipi..." kata Gloria mulai membuka apron yang sejak tadi ia kenakan.


Aku makan sambil sesekali meliriknya sekilas, wajah polos tanpa make-up nya tidak mengurangi kecantikan alami yang dia miliki. Oh my... kenapa akhir-akhir ini aku selalu memujinya didalam hati?


Harusnya aku tidak melakukan hal seperti itu, meski aku menghargai Gloria sebagai seorang wanita, tapi dia tidak lebih hanya sebagai objek untuk kesenanganku semata-- agar aku bisa melupakan masa lalu.


"Apa enak?"

__ADS_1


Aku mengangguk. "Sebenarnya aku tidak terbiasa sarapan nasi seperti ini, tapi ini enak. Bisakah kau membawakan untuk makan siangku?"


Gloria tersenyum kecil. "Tapi ini akan dingin ketika siang."


"Tidak masalah," jawabku jujur.


"Apa kau tidak malu membawa bekal dari rumah?" kekeh Gloria. Aku senang dia mulai bersikap seperti ini didepanku.


"Tidak, justru aku akan memamerkannya pada Jared nanti."


Gloria makin terkekeh mendengar jawabanku.


"Baiklah, aku akan membawakan untuk Jared juga," katanya sembari bangkit dari duduknya.


_


"Kau lihat Jared, dia membawakanku bekal." Aku benar-benar memamerkan hal itu pada Jared ketika dikantor.


Jared terlihat menggeleng samar, entah apa yang dipikirkan pria itu, aku tidak peduli.


"Ini, dia juga membungkuskan untukmu." Aku menyerahkan bungkusan bekal untuk. Jared.


"Sampaikan ucapan terima kasihku pada Nona Gloria."


"Ya..." jawabku singkat.


"Em, Tuan.."


"Apalagi?"


"Apa anda serius dengan hal ini? Apa Anda tidak takut terjebak dengan permainan ini?"


"Maksudmu?"


Jared menghela nafas berat. "Saya hanya takut Anda benar-benar jatuh cinta pada Nona Gloria, sementara dia adalah istri Tuan Jensen," ucapnya.


"Jika itu benar terjadi, maka jangan halangi aku untuk merebutnya dari suaminya."


Dapat ku lihat Jared menggaruk tengkuknya sendiri, mungkin jawabanku membuatnya gusar.


"Apa Anda akan terjebak dengan skandal semacam ini, Tuan?"


Aku mengangkat bahu cuek. "Kau berdoa saja, semoga aku hanya akan menjadikan Gloria sama seperti wanita-wanita lain yang hilir-mudik dikehidupanku!" ucapku jumawa.


"Kenapa aku tidak yakin, Tuan!" gerutu Jared.


Aku hanya tertawa kecil menanggapi gerutuan asistenku itu.

__ADS_1


******


__ADS_2