Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Jared-Lily /4


__ADS_3

Sesuai ucapannya, malam ini Jared mendatangi club' dimana Lily akan adu Tancho kembali. Kali ini Jared juga akan ikut melakukan taruhan yang sama.


"Kau gila? Jika kau kalah bagaimana?" tanya Lily.


"Tidak akan! Apa kau meragukan kekuatanku, ini?" lagak Jared sembari menunjukkan otot-otot tangannya didepan gadis itu.


Hhh


Lily mendengkus keras. "Kau ini selalu saja percaya diri sekali! Ini bukan cuma sekedar adu kekuatan, kadang mereka juga punya taktik untuk mengelabuimu!" kata Lily kesal.


"Taktik apa? Tidak akan ada yang mempengaruhiku!" yakin Jared.


"Terserah kau saja!" ketus Lily.


Mereka pun memasuki area club' yang sudah banyak didatangi itu.


"Hai Lily... kau bersama siapa malam ini?" Seorang pria yang tampaknya mengenali sosok Lily menghampiri dan menyapa gadis itu. Lily hanya melengos tak memedulikan.


Jared tersenyum kecil melihat tingkah Lily yang tak terlalu mengumbar sikap dengan pria itu. Entah kenapa ia senang melihat sikap tak acuh yang ditunjukkan gadis itu pada lawan jenis.


"Hei Tuan, apa kau kekasih Lily?" Pria tadi menepuk pelan pundak Jared.


"Aku?" Jared menunjuk dirinya sendiri dan pria yang sepertinya seusia Lily itu pun mengangguk.


"Tentu saja bukan!" jawab Jared apa-adanya, mana mungkin ia dan Lily sepasang kekasih, ada - ada saja. Lily bukan tipenya. Gadis itu terlalu aneh meski wajahnya lumayan cantik.


"Oh, baguslah. Jadi kau siapanya?"


"Bukan siapa-siapa."


"Kenapa bisa datang bersama dengannya kesini? Aku tidak pernah melihat Lily kesini bersama seorang pria."


"Apa kau seorang wartawan? Kenapa banyak sekali pertanyaanmu!" ketus Jared dan melenggang pergi dari hadapan lelaki itu.


Games dibagi menjadi dua. Genre pria dan wanita. Kebetulan wanita yang lebih dulu melakukan pertandingan Tancho.


"Kau tidak ikut?" celetuk Jared melihat Lily tak memasuki area games.


"Tidak, malam ini aku hanya menjadi penonton. Kemarin aku sudah menang, aku ragu kali ini menang lagi."


Jared menganggukkan kepalanya. "Taruhan malam ini apa? Apa masih sama seperti saat kau menang malam itu?"


"Sepertinya berbeda, setiap hari taruhannya akan berganti. Kita lihat saja dulu, nanti aku akan mengenalkan mu pada penyelenggaranya."

__ADS_1


Mereka berdiri bersisian sambil melipat tangan dan memperhatikan dua orang yang sedang beradu kekuatan tangan. Rupanya taruhan kali ini memang berbeda. Pemenang mendapat uang lebih banyak lagi daripada kemarin. $700. Tapi yang kalah harus menyetujui permintaan dari yang menang.


"Kalau yang menang mintanya aneh, bagaimana? Ada-ada saja!" gerutu Lily tak habis pikir, ia beruntung tak ikut games malam ini karena jika ia kalah ia ragu bisa mewujudkan permintaan si pemenang.


Satu babak berhasil terlewati, ada tiga pasang wanita lagi yang akan beradu kekuatan, setelah itu barulah para pria yang akan memulai aksinya.


"Hary, kenalkan ini Jared.... dia akan ikut games malam ini." Lily memperkenalkan Jared pada salah satu panitia acara taruhan itu.


Pria bernama Hary itu menatap Lily sekilas, kemudian beralih menatap Jared dengan senyuman sinis. "Kau mau ikut ini? Butuh uang?" tanyanya terdengar meremehkan.


Jared hanya mengangguk singkat, ia malas meladeni pertanyaan yang terkesan merendahkannya itu.


"Apa dia kekasihmu, Lily?" tanya Hary.


"Ehm, dia--dia...." Lily tidak tahu harus mengenalkan Jared sebagai siapa pada Hary. Ingin mengatakan saudara, itu tak mungkin sebab Hary tahu jika dia hanya memiliki satu saudara dan itupun seorang wanita, bukan lelaki.


"Kalau aku kekasih Lily, apa kau keberatan?


Ucapan Jared membuat Lily memejam barang sejenak. Apa-apaan dia ini?


"Tidak juga, hanya saja kau terlalu matang untuk Lily. Ku pikir kau pria beristri." Hary kembali tersenyum meremehkan.


"Hary.... sebaiknya ini jangan dibahas!" timpal Lily.


"Aku dan Lily hanya terpaut beberapa tahun. Aku tidak setua itu, aku juga belum menikah," gumam Jared yang didengar oleh Lily.


Lily menarik lengan Jared agar menjauh dari posisi Hary. "Jangan terlalu memusingkan ucapannya."


"Apa aku kelihatan tua?"


"Mungkin maksud Hary kau terlihat seperti seorang pria yang ehm... memiliki istri, dia mungkin mengira aku sedang menggaet suami orang," terang Lily hati-hati.


"Oh my.... haruskah aku menunjukkan kartu identitasku bahwa aku ini single? Masih banyak yang usianya diatasku tapi belum menikah." Jared menggerutu. Kenapa jadi membahas statusnya sekarang.


"Sudahlah, kan sudah ku bilang jangan hiraukan ucapannya! Kau bersiap saja, beberapa saat lagi giliranmu."


Jared diam dan menyesap minuman yang sudah dipesannya. Lily pun demikian, dia memilih menikmati jus jeruk yang sudah tersaji didepannya.


Beberapa saat menunggu akhirnya kini giliran Jared untuk bermain.


"Kalau aku kalah, berarti aku harus mengikuti permintaan lawanku?" tanya Jared pada Lily sebelum ke arena dimana games akan dilakukan.


"Begitulah. Seharusnya kau tidak usah mengikuti permainan seperti ini, Jared!"

__ADS_1


"Aku hanya penasaran, kenapa kau kemarin bisa menang...."


Jared berlalu dan menuju tempatnya bertaruh. Lily menyusul kemudian untuk menjadi penonton.


Lawan Jared rupanya pria yang menyapa Lily pertama kali saat memasuki club' tadi, pria itu juga yang sempat Jared katakan sebagai wartawan karena banyak bertanya.


Dari segi ukuran tubuh pria itu, Jared percaya diri jika dia yang akan menang malam ini.


Seorang yang bertugas menjadi wasit Tancho itu pun mulai memberi arahan pada dua orang yang akan beradu kekuatan tangan itu. Sesaat kemudian memberikan aba-aba untuk saling memulai.


Jared tampak terlihat mempertahankan posisi dengan susah payah. Ternyata tenaga pria didepannya tak patut diremehkan. Ia menyesal menilai kekuatan pria ini dari segi ukuran tubuh saja. Kebiasaan jarang angkat beban mungkin mempengaruhi kemenangannya kali ini.


"George! George! George!" Semua pengunjung yang menonton aksi itu menyerukan nama pria yang menjadi lawan Jared. Disaat itulah Jared menjadi semakin kehilangan semangat dan akhirnya dia kalah.


Lily terkekeh pelan ditempatnya. "Apa aku bilang! Pria ini terkadang memang terlalu percaya diri!" ujarnya masih tertawa.


Dihampirinya Jared yang harus rela menerima kekalahan dari George dan ditepuk-tepuknya pelan pundak pria itu.


"Lain kali jangan terlalu percaya diri, Tuan!" cibir Lily membuat Jared mengusap kasar wajahnya. Ia tak mempermasalahkan jadi tontonan orang-orang akibat kekalahannya tapi ia malu didepan Lily karena sudah terlalu besar kepala sebelum memulai permainan.


"Sudahlah, ini hanya permainan," kata Jared santai, berusaha menutupi rasa malunya didepan Lily.


Hhh! Kenapa bisa kalah, Lily saja bisa menang kemarin! batin Jared merutuk keras.


"Karena kau kalah, hukumanmu dari ku adalah---" George yang menang tampak menimbang-nimbang hukuman yang pantas untuk dilakukan Jared sekarang.


Jared menunggu ujaran George, tak begitu khawatir, dalam pikirannya paling pria ini minta ditraktir minum atau semacam itulah. Jared tampak tetap tenang.


"Memohonlah pada Lily.... ajaklah dia menikah! Jika dia setuju, kau boleh meninggalkan tempat ini. Tapi, jika dia menolakmu, maka kau harus membersihkan seluruh toilet di club' ini," ujar George tak kalah tenang.


Tapi ucapan pria itu membuat Jared dan Lily menatapnya dengan mata membulat. Sepersekian detik berikutnya, Jared dan Lily saling bertatapan satu sama lain.


"Kau harus menerimaku sebagai formalitas saja agar kita bisa segera pergi dari sini," kata Jared berbisik pada Lily.


Lily menggeleng. "Aku tidak mau!"


"Ayolah! Dimana harga diriku jika aku membersihkan seluruh toilet disini!" pinta Jared masih berbisik.


Lily menggeleng cepat tanda tak setuju.


"Lily, ayolah! Aku terjebak permainan ini karena mengikutimu!"


"Aku tidak pernah memaksamu!" tukas Lily.

__ADS_1


"Bagaimana? Kau mau melakukannya, bukan?" Suara George kembali bertanya pada Jared, seolah menghentikan perdebatannya dengan Lily.


******


__ADS_2