Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Tidak mengizinkan


__ADS_3

"Ada Sean di depan gerbang.... dia ingin bicara padaku," bisik Gloria membuat Owen mengernyit.


"Apa? Untuk apa?"


"Aku tidak tahu, tapi aku yakin dia tidak akan menyakitiku."


Owen berdecak, belum lagi terjawab rasa ingin tahunya mengenai apa yang telah terjadi antara Sean dan Gloria selama di pulau. Sekarang pria itu justru terang-terangan datang ingin bicara pada istrinya. Ada apa sebenarnya? Owen memang sempat mendengar jika Sean menginginkan Gloria, tapi dia mengira itu hanya lelucon Sean untuk memanasinya saja.


"Apa boleh aku menemuinya?" tanya Gloria yang melihat Owen diam saja.


"Apa ada masalah?" Rupanya Jade ikut menimpali sebab melihat gelagat Owen dan Gloria yang aneh dipandangan matanya.


"Sean ada didepan gerbang," cetus Owen. "Dia ingin bicara dengan Gloria. Bagaimana menurutmu?" tanyanya menatap Jade.


Jade mengangkat bahu sembari mengadahkan dua tangan kesamping dengan arti lain tak bisa menanggapi hal ini.


"Gloria, sayang.... kau tahu apa yang sudah terjadi siang tadi, bukan?" Owen mengingatkan istrinya tentang kejadian penembakan Richard yang dilakukan Sean.


Gloria mengangguk.


"Aku tidak mengizinkanmu bertemu dengannya." Owen memberi keputusan.


"Kenapa?"


"Aku tidak yakin dengannya. Dia pasti punya niat lain."


"Dia tidak akan menyakitiku, Owen. Aku hanya ingin tahu apa maunya setelah semua ini berakhir."


Owen mengembuskan nafas kasar. "Kenapa kau bisa yakin sekali bahwa dia tidak akan menyakitimu?"


"Karena .... karena...." Gloria ragu melanjutkan kalimat.


"Sudahlah, minta para penjaga didepan untuk mengusirnya! Kita bahkan belum sempat melepas kerinduan.... kau sudah mau menemui pria lain, begitu?"


Jade mengulumm senyum, sementara Gloria tampak salah tingkah dengan ucapan suaminya itu.


"Baiklah, aku tidak akan menemuinya. Selesaikan urusanmu sekarang, setelah itu kita akan melepas kerinduan," gumam Gloria dengan pipi memerah, sementara Owen menatapnya dengan senyuman penuh arti.


Semenit kemudian, wanita itu pun beringsut pergi meninggalkan Owen dan Jade yang masih ada didepan ruang kerja itu.


"Hhhh!" Owen mendengkus pelan. "Sebenarnya, apa mau Sean pada istriku!" gerutunya sembari mengacak rambutnya sendiri.


Jade menepuk pundak Owen. "Ku rasa Gloria benar, Sean tak mungkin menyakiti. Jika dia mau menyakiti Gloria, pasti sudah sejak lama dia melakukan itu," pungkasnya.


"Tapi tetap saja kita tidak tahu motif Sean yang sebenarnya. Terkadang sikapnya ini mengingatkanku pada Paman Markus. Mereka sulit ditebak dan berubah-ubah," tandas Owen.


******

__ADS_1


Hari beranjak malam setelah satu per satu hal mulai dituntaskan, mulai dari masalah mengurusi jenazah Richard, hingga orang-orang yang sempat menjadi pengikutnya. Masalah rumah tua dan semua barang bukti yang tak boleh meninggalkan bekas.


Owen pun memasuki kamar yang ditempati Gloria selama tinggal di Mansion Jade. Ia melirik sekilas pada Gloria yang tengah menyusun baju-baju kedalam sebuah koper sebab besok mereka memutuskan untuk kembali ke tempat tinggal mereka sendiri.


"Apa semua urusannya sudah selesai?" tanya Gloria dari posisinya didekat lemari.


"Hmmm," sahut Owen pelan.


"Richard?"


"Hari ini juga dia sudah dikremasi oleh orang-orangku!"


Gloria bangkit dari duduknya, dia menghampiri Owen, ingin membantu pria itu membuka sepatu. Gloria berjongkok didepan suaminya yang duduk disebuah sofa yang ada dikamar itu.


"Tidak usah, biar aku saja..." tolak Owen.


Gloria tak mengindahkan, rasanya sudah lama sekali ia tak mengabdikan diri untuk suaminya. Ia merindukan momen-momen itu.


"Kau tahu, aku kira pertemuan kembali diantara kita akan sangat mengejutkan."


Gloria mengadah pada Owen sebab ucapan suaminya itu.


"Maksudmu?"


"Aku kira, aku akan memberi kejutan untukmu. Kau akan terkejut saat melihatku masih hidup," tukas Owen.


"Nyatanya kau tidak terkejut dan malah bersikap biasa saja!"


Entah kenapa Gloria menangkap nada kecewa dalam suara suaminya.


"Kau tahu, sebenarnya aku sangat terkejut, tapi aku sudah mengira jika Nico adalah kau! Jadi, jangan buat aku marah sebab mengingat jika kau telah membohongiku selama ini."


"Benarkah? Tapi aku tidak melihat keterkejutan itu...." ujar Owen menundukkan pandangan pada Gloria yang masih setia berjongkok didepannya. Owen pun memegang kedua sisi pundak istrinya, lalu menyorot iris mata Gloria dengan tatapan penuh selidik seolah mencari-cari sesuatu didalam mata wanitanya.


"Apa kau tidak merindukanku?" tanya Owen lagi.


Gloria tidak menjawab, tapi dia membalas tatapan yang diberikan suaminya, ikut tenggelam kedalam sorot mata tajam itu. Seolah menyatakan rindu berat dari pandangan mata yang beradu.


"Jangan katakan jika sekarang hatimu telah bercabang, Gloria...." lirih Owen.


Bugh


Gloria memukul perut Owen, membuat pria itu mengaduh dan aksi saling tatap diantara mereka pun buyar seketika.


"Ini sakit, Sayang!" Owen meringis memegangi perutnya sendiri namun Gloria tak peduli, ia justru mengambil posisi disebelah Owen dan duduk bersedekap di sofa yang sama.


"Serius ini sakit! Perutku pernah tertusuk dan kau meninju tepat di bagian itu!" kata Owen lagi membuat mata Gloria membola dan langsung kalut seketika.

__ADS_1


"Ah, iya... perutmu! Aku sempat melihat bekas luka itu. Yang mana yang sakit? Apa yang ini? Atau disini? Apa aku terlalu kuat memukulnya?" Gloria panik sembari memeriksa perut Owen, menyingkap kemeja yang masih dikenakan suaminya, lalu meraba perut dengan otot liat itu dengan jari-jemarinya.


"Aissshh..." Owen malah mendesis. Niatnya mau mengerjai Gloria justru berakhir membangunkan sesuatu yang tertidur. Sentuhan Gloria membuat darahnya berdesir.


Plak!


Gloria malah memukul lengan Owen saat menyadari sesuatu.


"Kau mengerjaiku, kan? Sebenarnya tidak sakit kan!" omel Gloria.


Owen tergelak, tapi menahan satu tangan Gloria untuk tetap berada diperutnya.


"Sudahlah, aku mau tidur!" kata Gloria merengut.


"Hei, kenapa jadi marah? Kan aku yang dipukul? Perutku yang sakit!" gerutu Owen.


"Bagaimana aku tidak marah! Kau mengatakan hatiku sudah bercabang! Kau ini, arkh...." Gloria menatap Owen dengan tatapan jengkel.


"Kau selalu tidak menjawab saat ku tanyakan apa yang terjadi antara kau dengan Sean, jadi aku menyimpulkan ada sesuatu yang terjadi diantara kalian."


"Kau menuduhku berkhianat? Begitu?" Intonasi suara Gloria meninggi.


"Bukan begitu, sayang!"


"Pasti begitu pemikiranmu! Culas sekali kau ini. Sudah menipuku! Masih bisa berpikiran aneh tentangku! Aku tidak pernah ada apapun dengan Sean. Setiap hari selama kita terpisah aku selalu memikirkanmu. Menghabiskan waktu dengan kegiatan yang sama. Memikirkan nasibmu dan Jeff. Bisa-bisanya kau menganggapku berkhianat!" cecar Gloria meluapkan kekesalannya.


Aih, kenapa jadi begini? Niatnya mau melepas kerinduan justru disemprot kemarahan, begitu batin Owen merutuk diri.


"Ya ya, maafkan aku. Aku salah bicara tadi. Aku hanya cemburu buta. Aku tidak bisa berpikir waras saat melihat bagaimana tatapan Sean kepadamu. Dulu dia tidak begitu saat menatapmu, sekarang aku bisa merasakan ada yang lain dimatanya. Jadi, maafkan aku yang sudah berpikir terlalu jauh." Owen memeluk Gloria dengan erat, ia benar-benar takut kehilangan Gloria.


Gloria memahami kecemburuan Owen. Tapi, apakah dia memang harus terbuka pada suaminya, mengenai perasaan Sean yang sebenarnya terhadapnya?


"Sebenarnya, Sean memang mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih padaku." Gloria menundukkan wajah dengan ekspresi takut-takut. Bagaimana tidak, ia ngeri membayangkan kemarahan Owen yang mengetahui hal ini.


Owen melerai pelukannya. "Aku tahu, sudah ku bilang aku bisa melihat itu dari sorot matanya, terutama dari perlakuannya padamu."


"Kau marah?" tanya Gloria.


Owen menggeleng. "Itu adalah hak nya, aku tidak bisa mengatur perasaan cintaku sendiri yang begitu menggebu kepadamu. Bagaimana bisa aku mengatur perasaan cinta yang dimiliki Sean?"


Gloria tersenyum tipis. "Jadi?"


"Jadi, dia boleh-boleh saja mencintaimu. Asal jangan sampai menginginkanmu, sebab kau adalah milikku!" Owen memangkas jarak diantara mereka dan meraup bibir Gloria dengan bibirnya. Meng ulumi dan mencecap itu dengan lembut dan dalam.


"Kau juga tidak boleh terpengaruh padanya. Hatimu tidak boleh berpindah, aku sudah merantaimu. Ingatlah jika kau hanya milikku!" ucap Owen sambil membingkai wajah istrinya dengan kedua tangan, lalu menatap Gloria lekat-lekat. Menyalurkan seluruh cintanya lewat sorot mata, agar Gloria memahami, bahwa tidak ada pria lain yang memiliki rasa sedalam yang ia miliki terhadap wanita itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2