Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Mengartikan perasaan


__ADS_3

Tanpa terasa, aku dan Gloria sudah tinggal bersama hampir dua bulan. Hubungan kami semakin baik, Gloria tidak setertutup dulu padaku, dia sudah bisa menjadi dirinya sendiri didepanku, dia juga lebih sering tersenyum bahkan tertawa lepas sekarang. Aku berharap dia bahagia selama tinggal bersamaku.


"Owen, besok kau mau aku masakkan apa?" tanya Gloria saat kami sedang menonton opera sabun di televisi malam ini. Kegiatan yang jarang ku lakukan, namun sejak ada Gloria entah kenapa aku selalu menyempatkan diri untuk menemaninya meski hanya menonton televisi.


"Tidak usah, mulai besok aku mempekerjakan maid disini."


Gloria seketika terduduk, padahal tadinya dia tertidur manja dipangkuanku.


"Kenapa? Aku bisa melakukan apa saja, aku bisa memasak, bahkan aku bisa mencuci bajumu jika kau mau." Wanita itu mengernyit penuh keheranan.


Aku membelai wajah bingungnya yang tampak menggemaskan dimataku.


"Berapa kali ku katakan, kau bukan pelayanku disini. Aku tidak ingin kau lelah, Glo..."


Gloria menggeleng. "Kenapa? Aku juga tinggal dan makan gratis ditempatmu."


Aku hanya tersenyum tipis tak mau menjawab pertanyaan polos wanitaku. Ya, Gloria adalah wanitaku sejak aku menjadi lelaki pertama yang menyentuhnya. Tidak peduli dia memiliki suami dan aku tidak mau mengingat Richard. Begitupun Gloria, dia tidak ku biarkan mengingat lelaki lain selain aku selama dia berada disampingku.


Aku bahkan sangat senang karena sekarang Gloria tidak pernah menyebutkan nama pria itu didepanku. Yah, mudah-mudahan saja dia lupa pada suaminya, selamanya. Meski itu akan mustahil. Entahlah, aku tidak mau kebersamaan kami segera sirna, sebab aku sudah merasa nyaman dengan kepolosannya dan segala sikapnya yang apa-adanya.


"Aku tidak lelah, Owen... aku bisa melakukan tugas dapur," kata Gloria bersikukuh saat melihatku hanya diam sedari tadi.


"No! Kau cukup melayaniku hal yang lain," ucapku dengan senyuman smirk.


Gloria menggeleng-gelengkan kepalanya. "Oke, aku paham," katanya sembari tertunduk.


Aku merasa ada yang aneh dengan nada suaranya, sebenarnya aku termasuk pria yang cukup peka dan memiliki insting kuat. Aku memahami apa yang Gloria pikirkan saat ini.


"Kenapa kau lesu?" tanyaku datar. "Jika kau merasa aku hanya menganggapmu teman tidur, kau salah besar, Glo!" tegasku.


Gloria kembali menatapku dengan tatapan penuh tanya. "Memang begitu, kan? Tugasku disini memang melayanimu diatas ran jang," sarkasnya dengan senyuman tipis.


Dari seringnya dia tersenyum akhir-akhir ini, senyumnya yang sekarang adalah senyuman yang paling tidak ku sukai, karena senyuman itu seolah mengartikan bahwa dia telah menebak tepat mengenai aku, padahal tidak demikian, tebakannya itu salah dan tidak akurat.


"Meski kau mengartikan jika kau hanya partner ran jangku, tapi bagiku tidak demikian." Aku menatapnya lekat, menunjukkan keseriusanku.


"Benarkah?" Gloria berdecih diujung kalimatnya, seolah meremehkan kata-kataku.


"Aku tidak mau bertengkar, ini sudah malam. Ada baiknya kita tidur."


"Tidur yang sesungguhnya atau saling m e n i d u r i ?" Lagi-lagi Gloria menanyaiku dengan pertanyaan sarkasme.


Aku menggeleng lemah, sekarang aku tidak bisa menebak apa isi kepala wanita ini. Hanya perkara aku ingin menyediakan maid di apartmen malah berbuntut panjang seperti sekarang. Ah, sialnya.


"Sepertinya kamu butuh healing dan refreshing. Berbelanjalah besok, aku membebaskanmu untuk menggunakannya." Aku mengeluarkan dompet dan memberinya black card unlimited milikku.

__ADS_1


Gloria tertegun dengan mata membulat, sepersekian detik berikutnya wanita itu menggeleng cepat. "Tidak! Aku tidak membutuhkan ini!" tolaknya dengan intonasi tegas.


Aku kembali menyodorkan kartu hitam berkilat itu. "Ambillah..." ucapku serius.


"No!"


"Anggaplah ini semacam fasilitas yang ku berikan untukmu!"


"Tidak, Owen!"


Ternyata membujuk Gloria bukanlah hal mudah. Selain polos, dia juga bukan wanita mata duitan seperti yang banyak ku temukan selama ini. Jika saja dia bukan Gloria, pasti wanita yang ku berikan akses bebas seperti ini sudah bersorak girang lalu memelukku dengan mesra saat aku mengeluarkan kartu saktiku ini. Sayangnya, yang ku hadapi sekarang adalah Gloria yang sulit ditebak, meski aku merasa menjadi pria terpeka sedunia, tetap saja Gloria sulit untuk ku takhlukkan.


"Aku hanya memberimu credit card, terserah mau kau gunakan atau tidak," ucapku datar dan meletakkan kartu itu diatas meja. Aku berdiri dari dudukku, lebih baik aku masuk ke kamar.


"Kau mau kemana?" Gloria menarik lenganku.


"Tidur."


"Bisakah aku menanyakan sesuatu?"


"Hmm," jawabku.


"Tadi... kau mengatakan kalau aku telah salah mengartikanmu. Jika kau tidak menganggapku sebagai partner ran jangmu, lalu sebenarnya kau menganggapku sebagai apa?"


"Aku tidak tahu, aku tidak bisa mengartikannya. Yang jelas, aku tidak menganggapmu hanya sebatas itu, aku menganggapmu lebih..."


Aku mengangguk. "You're special for me," jawabku sambil lalu.


Aku masih sempat melihat wajah Gloria yang terpana beberapa saat, sampai akhirnya aku merasakan bahwa tubuhnya sudah mendekap tubuhku dari belakang, itu berhasil membuatku menghentikan langkah. Tangannya pun mulai melingkari pinggangku, dia memelukku dengan erat, lalu menyandarkan pipinya di punggungku yang bidang.


Aku belum bisa mengartikan sikapnya ini, sampai akhirnya Gloria mulai berkata,


"Owen, aku rasa... aku jatuh cinta padamu. Ya, sepertinya begitu. Aku tidak mau semua ini berakhir. Aku mau tetap denganmu, biarkan aku tetap disisimu. Tak apa jika kau hanya menganggapku mainan," lirih Gloria sambil tetap mendekap punggungku.


Aku tercengang dengan mata membola saat mendengar penuturan dari bibir wanita itu. Aku berharap ini semua kejujuran, karena aku sangat senang mendengar hal ini langsung dari Gloria. Momen ini akan terekam di memori otakku.


"Ka-kau serius?" Entah kenapa aku menjadi gugup luar biasa saat tahu isi hati Gloria.


Aku merasakan jika Gloria mengangguk dipunggungku, sebagai isyarat untuk menjawab pertanyaanku.


"Selama ini aku mencoba menahannya, aku takut jatuh dalam pesonamu, berulang kali aku menepis perasaanku tapi aku tidak bisa memungkirinya lagi. Terserah kau mau menganggapku wanita murahan atau apa... jika kau sudah bosan denganku, bantu aku pulang ke Indonesia, jangan pulangkan aku kepada Richard. Aku tidak mau..."


Demi apapun, aku sulit berkata-kata mendengar ucapan Gloria. Wanita yang kemarin merengek padaku agar aku memulangkannya kerumah suaminya, sekarang justru tidak mau pulang. Dan apa katanya tadi? Jika aku bosan aku harus membantunya pulang ke negaranya? Heh, enak saja dia!


Aku pun mengelus sekilas tangannya yang ada diperutku, kemudian aku berbalik, memegang kedua pundaknya dan menatapnya lekat.

__ADS_1


"Mungkin kau berada disini karena permainan antara aku dan Richard. Tapi jika kau ingin tahu yang sebenarnya... jujur, aku tidak pernah menganggap kau sebagai mainanku. Aku juga tidak pernah merasa kau seperti wanita murahan, dan kalaupun nanti aku bosan denganmu... baiklah, aku akan membantumu pulang ke Indonesia," ucapku meyakinkannya.


"Thanks, Owen." Wajah Gloria brbinar-binar menatapku.


"Tapi...." Aku sengaja menjeda ucapanku.


"Tapi apa?"


"Jika aku tidak bosan denganmu... kau akan terikat denganku disini selamanya. Apa kau tidak keberatan?"


"Untuk apa aku keberatan berada disisimu? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa sepertinya aku jatuh cinta padamu."


"Sepertinya? Hanya sepertinya?"


"Ya, hanya sepertinya. Belum jelas."


"Aku ingin yang jelas." Aku maju selangkah, mencoba memangkas jarak diantara kami.


Gloria tampak langsung gelagapan. "Y-ya, aku--aku tidak bisa mem--memberikan perasaan yang... yang jelas padamu," katanya tegagap.


"Why?" Aku menghimpitnya didinding, mencoba mengintimidasinya sekaligus ingin tahu jawabannya.


"Ka--karena aku... aku tidak mau terjebak pada kesalahan yang sama, seperti saat aku berharap pada Richard."


"...aku tidak mau mengharapkan pria yang tidak mencintaiku, itu sangat menyakitkan. Jadi... jika kau mau mencintaiku juga barulah aku bisa memberimu perasaan yang jelas."


"Apa ini seperti kesepakatan baru diantara kita?" tanyaku dengan senyuman tipis. Aku menempelkan ujung hidungku dihidung mancung Gloria dan wanita itu pun berkedip-kedip gelisah.


"Be-begitulah."


Aku mengelus bibir lembutnya dengan ujung jariku, Gloria membuang pandangan. Bisa ku rasakan hembusan nafasnya yang mulai tidak beraturan.


"Aku menginginkanmu, kau bisa menilai perasaanku dari percintaan kita malam ini, karena aku sendiri belum bisa mengartikan perasaanku padamu, yang jelas... aku nyaman denganmu, you're my comfort zone..." bisikku panas ditelinganya.


"Owen aku--"


Ku potong ucapannya dengan kecupan lembut di bibirnya. Jika sudah begini, pasti Gloria akan langsung berpasrah pada kendaliku.


Tanganku mulai berge rilya, aku akan melakukannya dengan hati-hati seperti biasanya, Gloria adalah satu-satunya wanita yang mendapat perlakuan khusus dariku. Sebelumnya, aku tidak pernah bersikap seperti ini. Padanya, aku cenderung lembut, perlahan dan tidak tergesa-gesa. Aku tidak hanya mementingkan diriku sendiri, tetapi aku juga selalu memikirkan kesenangan Gloria.


"Ah..."


Suara parau dari bibir Gloria mulai terdengar, membuatku semakin bersemangat memacu percintaan kami.


"Aku belum bisa mengartikan perasaanku padamu, Glo. Tapi aku tidak mau kau meninggalkanku! Baik itu pulang kepada Richard ataupun kembali ke negaramu. Satu diantaranya tidak akan pernah terjadi tanpa izinku," tekadku didalam hati.

__ADS_1


*****


__ADS_2