
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Owen dan Gloria untuk melepas kerinduan. Tidak ada kata-kata yang terucap lagi, sebab tindakan yang mengekspresikan segala perasaan yang membuncah.
Owen bahkan tidak memberikan istrinya kesempatan untuk protes terhadap aksinya yang meliar. Bagaimana tidak, ia sudah lama menahannya. Kerinduan pada Gloria terlalu membelenggunya selama beberapa bulan kebelakang. Ia tidak bisa memikirkan wanita lain selain sosok Gloria yang ia cintai.
Bukan hanya Gloria yang telah dirantainya, tapi sepertinya hatinya sendiri juga sudah dirantai oleh wanita itu.
Mereka larut dalam permainan cinta yang sudah terlanjur dipanaskan. Hingga mengulang beberapa kali dalam kobaran asmara yang tak kunjung mereda.
"Cukup Owen, jangan dimulai lagi... rasanya aku lelah sekali..." gumam Gloria sambil terpejam. Namun seulas senyum terbit diujung bibirnya saat Owen memeluk dan menyurukkan wajah dalam dekapan wanitanya.
"Apakah kau masih marah padaku?" tanya Owen dari posisi ternyamannya itu.
Gloria menggeleng, merasai lagi jemari Owen yang mulai kembali menyentuh titik paling sen sitif ditubuhnya.
"Owen, ku mohon.... apa kau tidak lelah!" Gloria berujar sembari mencegat tangan Owen di bawah sana.
"Tidak, aku tidak pernah lelah denganmu. Aku selalu mengingkanmu lagi dan lagi terus dan terus," bisik Owen sensual.
"Aku bisa mati kejang karena berulang kali mencapai puncak akibat perbuatanmu."
Owen justru menarik sudut bibirnya mendengar gerutuan istrinya itu.
"Oke, baiklah baby.... lagi pula kita masih punya banyak waktu untuk mengulanginya lagi." Owen beringsut kemudian mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi Gloria. Ia membenarkan posisi selimut mereka sebelum memutuskan ikut terpejam di sebelah istrinya.
"Aku tidak marah lagi padamu. Aku tahu kau melakukan semua ini untuk melindungiku dan untuk mencapai tujuanmu. Aku tahu kau selalu punya pemikiran yang tidak terpikirkan olehku. Dan semua keputusan yang kau lakukan, pasti sudah kau pikirkan matang-matang," gumam Gloria masih dengan mata yang terpejam.
Owen tersenyum tipis, ia tidak jadi terlelap malah menopang kepala dengan satu tangan dan kembali menatapi istrinya yang terbaring disebelah tubuh.
"Maafkan aku karena banyak membuat hidupmu menderita."
Gloria membuka matanya dan mereka pun bersitatap satu sama lain. Tangan Gloria terulur menyentuh rahang sang suami.
"Setidaknya aku sudah memastikan jika bukan kau yang menjadi pembunuh Richard, sayang...." lirih Gloria mengelus sisi wajah Owen.
"Jika ternyata aku yang menghabisinya?"
__ADS_1
"Mungkin itu bisa membuatku kembali menderita karena rasa bersalah."
Owen tersenyum tipis. "Kenapa kau yang merasa bersalah? Richard keterlaluan dan dia layak mendapat hukuman setimpal seperti kematiannya."
"Entahlah, tapi aku bersyukur bukan kau yang membunuhnya. Aku tidak bisa membayangkan jika kau menembaknya didepan mataku."
Owen mengangguk singkat, kemudian mengecup bibir istrinya sekilas. "Tidurlah," ujarnya sembari mengelus pipi Gloria kemudian.
******
Oxela tidak pernah menduga jika kakaknya sudah kembali bersama mereka. Kakaknya belum meninggal bahkan tampak sangat sehat dan baik-baik saja. Oxela amat bersyukur dengan hal itu, tapi sejauh ini ia menangkap satu kesimpulan bahwa Jade telah sengaja merahasiakan semua ini darinya.
"Kau masih marah padaku, honey?" tanya Jade sembari mengusak rambut yang basah sehabis mandi. Semalaman Oxela mendiamkannya karena apa yang disembunyikannya selama ini, terutama terkait dengan keberadaan Owen.
Oxela bersedekap sambil membuang pandangan. Jade pun mendekati sang istri.
"Jangan marah lagi, aku terpaksa melakukan itu. Semua ini permintaan kakakmu. Jika mau marah, marahlah padanya, jangan padaku!" kata Jade.
Oxela mencebik, "Bisa-bisanya kau menyalahkan kakakku!"
"Memang begitu kenyataannya, dia yang tidak mengizinkanku jujur padamu!"
"Baby, hukuman? Hukuman apa?" pekiknya nyaring agar Oxela bisa mendengar pertanyaan itu sebab istrinya sudah keluar dari kamar tanpa menutup pintu.
"Tidak mendapat jatah malammu!" jawab Oxela yang ikut memekik.
Jade mengusap kasar wajahnya sendiri.
"Haisshh.... kenapa jadi begini? Owen dan Gloria melepas kerinduan sementara aku malah mendapat hukuman!" gerutu Jade.
Pagi itu semuanya berkumpul untuk sarapan di meja makan, termasuk Jared yang juga ada disana.
"Hari ini kami akan kembali ke Mansion kami. Terima kasih atas bantuan kalian selama ini Jade, Oxela," kata Owen.
"Kenapa buru-buru? Tinggallah disini untuk beberapa hari lagi." Jade menyahut ucapan Owen.
__ADS_1
"Tidak, Mansion sudah terlalu lama ditinggalkan. Kami berpikir untuk secepatnya kembali."
Jade dan Oxela mengangguk, memang mansion itu hanya dikunjungi Jared sesekali dan dirawat oleh para pelayan yang masih dipekerjakan. Begitu juga perusahaan kontraktor milik Owen, selama ini Jared yang menanggungjawabi segalanya. Hanya sesekali memang ia harus meminta tanda tangan Owen secara diam-diam selama misi penyamaran Owen beberapa bulan belakangan ini.
"Ehm.... jadi, masalahnya sudah benar-benar berakhir saat Richard tewas?" tanya Oxela memastikan.
Owen mengangguk sementara Gloria menggeleng.
"Apa lagi yang kau pikirkan?" tanya Owen melihat raut cemas diwajah istrinya.
"Aku khawatir soal Sean," aku Gloria terus terang.
"Sean, ya? Aku akan menemuinya lagi nanti untuk menyelesaikan segalanya."
"Kakak tidak berniat menghabisinya juga, kan?" tanya Oxela pula.
"Tergantung...." Owen melirik Gloria sekilas. "Jika Sean memang menginginkan istriku maka aku pasti akan membuat perhitungan dengannya!"
"Apa? Sean jatuh cinta pada Gloria?" Oxela bertanya dengan nada syok.
"Itu wajar sayang, kebersamaan mereka selama ini menumbuhkan perasaan yang lebih intens," timpal Jade.
"Tapi, kau tidak membalas perasaannya, kan?" Oxela menatap Gloria sangat ingin tahu sebab selama ini Gloria tak pernah bercerita tentang hal itu atau terbuka sedikit untuk menyinggung hal yang berkaitan dengan Sean.
"Oxela, Gloria terlalu mencintaiku dan tak mungkin jatuh pada jerat seorang Sean," tukas Owen dengan jumawa, seketika itu juga Oxela memutar bola matanya jengah.
Disusul suara tawa mereka yang terdengar disepantaran ruang makan yang cukup luas itu.
"Tapi, ads baiknya segeralah singkirkan dia, kak! Aku tidak mau kembali terjebak masalah. Sudah cukup enam bulan ini saja aku menangisi tentang nasib keluarga kalian. Jangan sampai Sean mengambil sela untuk masuk dan mengganggu rumah tanggamu." Oxela memperingati dengan nada yang tak main-main sebab ia juga mengenal watak Sean dari dulu.
"Sebenarnya aku bimbang. Apa aku harus menghukum orang yang sudah menyelamatkan istriku," gumam Owen. Ia mengambil gelas berisi air bening dan meneguknya cepat.
"Kenapa, tidak? itu lebih baik daripada kau diam menunggu dia bertindak yang nantinya akan merugikanmu, kak!"
Owen menatap Gloria seolah meminta keputusan dari wanita itu dan Gloria justru mengangguk setuju dengan pernyataan Oxela barusan.
__ADS_1
"Baiklah, hari ini juga aku akan bertemu dengan Sean."
*****