
"Apakah kau tidak senang mendengarnya sudah single sekarang?"
"Aku lebih senang jika mendengarmu membahas soal Bibi Dien daripada menanyakan soal yang tak penting."
Sudut bibir Lily sedikit tertarik-- mendengar jika Jared sudah tak memedulikan mengenai kakaknya. Hanya saja, mulut sering bertolak belakang dengan hati, bukan? Dan Lily ingin memastikan hal itu. Apakah masih ada rasa untuk Rose dalam hati Jared? Tapi, untuk apa dia memastikannya? Jika Jared saja tak nampak tertarik pada dirinya. Untuk apa?
"Atau lebih baik membahas tentang dirimu!" kata Jared lagi.
"Aku?" Lily menunjuk dirinya sendiri. "Ada apa denganku?"
"Apa sampai sekarang kau masih menyukaiku?"
Kenapa membahas ini? batin Lily. Lily jadi canggung seketika.
"Hahaha, kenapa pertanyaanmu ini! Kenapa jadi membahas itu. Yayaya, aku akui jika dulu aku memang mengidolakanmu. Aku merasa kakakku beruntung memiliki kekasih sepertimu. Aku juga sempat ingin menggantikan posisinya. Aku bahkan marah padanya saat dia menduakanmu. Dia bodoh! Kenapa dia melakukan hal rendahan seperti itu, aku tak habis pikir!" Lily bicara panjang lebar membuat Jared tertegun dengan sikap terbuka gadis ini. Baru sekali ini Lily bisa bicara sangat santai dan terkesan terus terang padanya. Jared menyukai hal ini. Sebuah keterus-terangan.
"Jika sekarang?"
"Maksudnya?"
"Jika sekarang, apa kau masih menyukaiku?"
Lily terdiam. Mulutnya yang tadi sempat mengoceh tentang rasa menyukai dimasa lalu mendadak terkatup rapat.
"Jawablah!"
"Jika aku tidak mau menjawab?"
"Jangan membuatku gemas. Aku ingin tahu jawaban itu agar tidak mati penasaran."
"Memangnya kau mau mati?" sarkas Lily.
Jared tertawa pelan. Ia mengacak rambut Lily membuat gadis itu mengadah tak percaya atas tindakan pria ini. Kejadian saling menatap kembali terjadi, dan kali ini Jared bisa memastikan lagi-- lewat sorot mata Lily saat menatapnya--bahwa tatapan Lily padanya amat berbeda.
"Kau menyukaiku, right?" lirih Jared dengan suara khas-nya. Namun kali ini suara itu terdengar sangat lembut di indera pendengaran Lily.
"Bisakah aku makan sekarang?" tanya Lily sembari sibuk dengan paperbag berisi sandwich dan jus.
Jared tertawa pelan, ia tahu Lily tengah menghindar dari pertanyaannya. Akhirnya ia hanya mengangguk pada gadis itu sebagai jawabannya.
_____
Ruang perawatan Dientin terbuka, bersamaan dengan itu Jared dan Lily memasukinya. Pertemuan terjadi lagi antara Rose dengan Jared. Rupanya sejak tadi, Rose yang mengurusi untuk menjaga Dientin. Ia bergantian dengan Lily sebab Lily seharusnya memang pergi ke kantin untuk makan dan ternyata malah bertemu dengan Jared di lobby Rumah Sakit.
__ADS_1
"Kau lagi?" Suara Rose terdengar tak senang. Kali ini dia menatap bergantian antara Jared dengan Lily seolah menyelidiki sesuatu diantara keduanya.
"Sudah ku bilang aku ingin bertemu bibi Dien," kata Jared datar. Ia sama sekali tak menatap pada Rose.
Sementara itu, Lily pasrah dengan pertemuan kedua mantan kekasih ini. Harus ia akui jika ia memang menyukai Jared sejak lama, bahkan sampai sekarang--ia tak menampik rasa itu dalam hatinya. Tapi, jika ternyata Jared masih memilih kakaknya, dia bisa apa. Mungkin di mulut, pria itu bisa mengatakan bahwa tak ada tempat lagi untuk Rose dihatinya, tapi siapa yang bisa mengukur kedalaman hati seseorang??
"Sudahlah kak, kasian ibu. Jangan berdebat disini." Lily mencoba menengahi.
Jared mendekat kearah ranjangg tempat Dientin berbaring. Ia menatap wajah wanita baya itu dengan lama. Seulas senyum tipis ia sunggingkan, merasa jika Bibi Dien masih tetap cantik diusia yang tak muda, mungkin Lily juga akan seperti ini nantinya.
Mendadak Jared membayangkan wajah tua Lily yang tetap cantik dan menemaninya. Ah, kenapa pikirannya jauh kesana. Dan Lily cantik? Sejak kapan dia menganggap begitu? Beberapa hari lalu dia hanya merasa wajah Lily itu lumayan.
Dan kenapa pula dia membayangkan Lily menemaninya dimasa tua? Sedikit berpikir, Jared teringat ucapan Jeff mengenainya yang tetap sendirian bahkan hingga bocah itu besar nanti. Apakah itu akan jadi kenyataan? Sepertinya Jared harus menepis hal itu agar tak menjadi kenyataan, caranya adalah dengan sebuah keputusan dan tindakan.
Tanpa disadarinya akibat terlalu larut dengan pemikiran sendiri, rupanya Dientin sudah membuka mata dengan tatapan sayu.
"Jared... benar ini kau, nak?"
"Iya, bibi."
"Terima kasih mau menjenguk bibi. Bibi sebenarnya baik-baik saja."
Ah, kenapa hati Jared jadi nelangsa mendengar ucapan wanita baya ini. Kemarin saat pertemuan pertama mereka, Dientin juga mengatakan keadaannya baik-baik saja, tapi ternyata hari ini wanita itu malah berbaring di tempat pesakitan.
Entah kenapa mata Jared jadi memanas, membayangkan sang bibi yang rupanya sengaja bersikap seolah semua baik-baik saja, seakan tak terjadi apapun pada dirinya.
"Terima kasih, nak. Kau pria yang baik. Sayang sekali tidak menjadi menantuku."
Ucapan Dientin membuat Rose tersenyum masam. Begitupula dengan Lily.
"Memangnya Bibi masih mengharapkan aku jadi menantu Bibi?" kelakar Jared untuk menghangatkan suasana.
"Tentu saja! Jika tidak berjodoh dengan Rose, dengan Lily pun tak apa."
Deg
Jantung Jared jadi berdentam keras mendengar penuturan Dientin. Sama halnya dengan Lily yang namanya ikut disebut. Sementara Rose malah meringis disudut ruangan.
"Kalau bibi kembali sehat, mungkin aku akan memikirkan permintaan bibi itu."
Lily menepuk jidatnya sendiri, merasa ucapan Jared tidak lucu. Sementara Rose langsung bangkit dari posisinya dan berlalu keluar dari ruangan itu.
Dientin menggeleng. "Kalau bibi minta kau kembali pada Rose, apa kau mau?"
__ADS_1
Jared tertawa pelan. "Kalau pilihanku sekarang adalah Lily. Apa bibi keberatan?" katanya balik bertanya.
Lily ternganga diposisinya. Sementara Dientin tersenyum lembut pada Jared. Ia menggenggam tangan pria itu.
"Ah, bibi sudah menduganya. Sejauh apa hubungan kalian?" tanya Dientin kemudian.
"Aku sudah melamar Lily, Bi. Dan dia juga sudah menerima lamaran ku. Apa Bibi mau merestui kami?"
Ucapan Jared membuat Lily melemas. Pasalnya, memang ucapan itu benar adanya, tapi lamaran itu kan hanya permainan. Kenapa pria ini malah mengakui hal itu didepan ibunya? Ibunya juga sedang sakit. Kenapa Jared harus bermain-main seperti ini dan membawa-bawa sang ibu?
"Menikahlah, nak. Lily sudah pantas menjadi seorang istri. Soal Rose, mungkin kalian memang tidak berjodoh. Nanti bibi akan bicara padanya selagi masih bisa menasehati. Pasti Rose akan mengerti."
Kenapa pula Rose harus mengerti? Tidak ada apapun lagi diantara mereka. Bahkan jika Rose tak mengerti, masalahnya dimana? Jared tak memikirkan hal itu karena dia sudah tiba pada sebuah keputusan dan tindakan.
"Ibu, sebaiknya ibu istirahat saja, ya. Aku dan Jared harus bicara sebentar." Lily menyela pembicaraan antara ibunya dengan Jared. Ia merasa ucapan Jared sudah terlalu jauh untuk menenangkan sang ibu.
Lily menarik lengan Jared sesaat setelah ibunya mengangguk. Mereka keluar ruangan dan segera saja Lily menyemprot pria itu dengan kata-katanya. Lily bahkan melupakan keberadaan mereka yang sedang di rumah sakit.
"Kau ini apa-apaan, Jared!"
"Apanya?" tanya Jared tak paham.
"Kenapa kau bilang akan menikahiku? Kau sadar tidak dengan apa yang kau ucapkan!"
"Tentu saja sadar! Kalau aku tidur aku tak mungkin berdiri disini."
"Dasar gila!"
Jared tertawa. "Kalau aku gila, aku di Rumah Sakit jiwa, Lily!" tegasnya.
Lily mendengkus, "Jangan mempermainkan perasaan ibuku!"
Jared memegang kedua pundak Lily dan menyorotnya tajam.
"Aku tidak mempermainkan perasaan siapapun! Baik kau ataupun ibumu! Bukankah aku memang sudah melamarmu kemarin malam? Jangan bilang jika kau lupa! Kau juga sudah menerimaku, Lily Jane Garcia!" tandas Jared.
Lily terdiam. Kenapa pembicaraannya jadi serius begini. "Tapi... tapi... itu kan--"
"Sudahlah, kau harus ingat jika saat itu kita sama sama sadar dan tidak mabuk. Ini sudah menjadi keputusanku. Terima atau tidak, aku tidak peduli apapun tanggapanmu yang terpenting lamaranku sudah kau terima! Kita tetap akan menikah apapun yang terjadi."
Jared berlalu dengan perasaan puas, ia pun kembali masuk kedalam ruangan Dientin. Sementara Lily terdiam dengan mulut ternganga.
Tanpa mereka sadari, Rose ikut mendengar perdebatan keduanya. Rose pun jadi tahu jika ternyata Jared sudah melamar adiknya, Lily. Dan Lily, tentu saja Lily menerima sebab sudah lama sekali menyukai mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Apa Jared mau membalasku dengan menikahi Lily?" batin Rose bertanya-tanya.
*******