Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Setelah kejadian


__ADS_3

Gloria menatap kosong ke arah jendela kamar yang terbuka. Sejauh mata memandang, ia tak menemukan pemukiman atau rumah lain disekitar rumah yang sekarang ia tinggali. Ia juga tak tahu, apakah kini ia masih berada di Negara yang sama seperti dulu atau justru sudah berada di Negara lain. Yang jelas, ia tidak tahu dimana posisinya saat ini.


Ingin ia keluar dan menerobos besi teralis jendela, namun beberapa kali melakukan itu, ia sadar bahwa usahanya telah sia-sia. Sekarang ia selayaknya tawanan yang berada didalam tahanan. Parahnya lagi, ia tak memiliki semangat untuk melakukan apapun.


Dert....


Pintu berderit pelan, menandakan ada seseorang yang membukanya secara perlahan. Gloria tak menoleh sebab ia sudah tahu siapa yang melakukan itu. Sean, pria itu mengernyit menatap ke atas nakas bergantian menatap pada Gloria diambang jendela.


"Kau tidak memakan makananmu?" tanya Sean dengan intonasi pelan. Gloria tak menjawab, membuat Sean maju beberapa langkah demi menghampiri posisi wanita itu.


"Gloria, jangan bertindak bodoh! Kau pikir dengan kau tidak makan, semua masalah ini akan berakhir? Kau salah! Justru kau akan menghadapi masalah baru yaitu kesehatanmu sendiri."


Gloria tersenyum kecut. "Bagaimana aku bisa makan sementara suami dan anakku entah makan apa diluaran sana!"


"Untuk itu, jangan menyia-nyiakan hidupmu! Jika ternyata mereka masih hidup, lalu menemukanmu mati kelaparan .... maka kau akan menyesal sebab tidak menyentuh makananmu sama sekali!" tekan Sean.


Gloria terdiam. Kini ia menoleh pada Sean. "Kenapa kau menyelematkan ku?" tanyanya.


"Karena aku merasa bersalah! Kau benar, semua ini karena kesalahanku. Aku yang menyebabkan Owen memasuki dunia ini lagi."


"Kau sadar?" Gloria tersenyum sinis.


"Untuk itu, biarkan aku menyelamatkanmu."


"Apa kau pikir aku percaya denganmu?" Gloria berdecih. "Aku tidak mempercayaimu, Sean! Seharusnya yang kau selamatkan adalah bayiku atau Owen!"


"Aku juga punya alasan lain," gumam Sean pelan.


"Apa maksudmu?"


"Lupakan! Makanlah makananmu...." Sean beranjak dan membiarkan Gloria dengan pemikirannya sendiri.


Gloria mengepalkan tangannya, menggenggam besi teralis jendela dengan erat seolah melampiaskan kemarahannya disana. Ia menghampiri nakas dan melihat makan siangnya yang tersaji disana. Menyadari ucapan Sean ada benarnya, iapun memaksakan untuk menyuap makanan walau tak kedatangan selera sama sekali.


______


Beberapa hari berlalu. Oxela dan Jade mengumumkan tentang pencarian Owen di stasiun televisi milik Jade. Siapapun yang bisa menemukan sang Kakak, hidup atau mati, akan mendapatkan hadiah yang fantastis.


Alasan mereka melakukan semua itu, adalah untuk memancing musuh. Bukan tidak mungkin salah satu anak buah Markus akan berkhianat dan melepaskan Owen jika mendengar hadiah yang begitu menggiurkan. Itulah ide yang diusung oleh Jared dan disetujui oleh Oxela dan Jade.

__ADS_1


Jika cara ini tidak berhasil, maka mereka akan melakukan rencana lainnya.


Saat ini yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu sembari menyusun strategi berikutnya. Karena jikapun mereka menerobos masuk untuk mencari keberadaan Owen di Mansion Markus, maka kekuatan mereka tak akan cukup menandingi kekuasaan Markus dan Richard yang adalah mafia paling berkuasa di Negara ini.


_____


"Mereka memasang iklan di tv dan memberi hadiah fantastis untuk menemukan Owen, Ayah!" Richard mencengkram kepalanya sembari mondar-mandir didepan Markus. Mendadak ia merasa kalut, takut jika Owen bisa selamat dari ruang penyekapannya.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja, nak!"


"Apa orang-orang Ayah bisa dipercaya?" tanya Richard pada Markus.


"Tentu saja! Mereka sangat setia padaku. Jika mereka berkhianat, maka nyawa anak dan istri mereka menjadi taruhannya. Tidak akan ada yang berani menolong Owen meski hadiah itu sangat besar," kata Markus diakhiri dengan suara tawanya yang menggelegar.


"Bagaimana dengan Gloria?" tanya Richard.


Markus menggeleng pelan. "Dia berhasil kabur... sepertinya Sean ada dibalik semua ini," jawab Markus sembari mendengkus sekilas.


Markus ingin beralih mengejar Oxela, karena merasa Owen juga akan hancur jika adik perempuannya itu terluka. Sayangnya, Richard mencegah hal itu karena tujuan Richard adalah Gloria.


"Kenapa kau begitu ingin Gloria mati?" tanya Markus. "Padahal jika ingin Owen hancur kita bisa melenyapkan Oxela saja," kekehnya.


Tawa serempak kedua ayah dan anak itu memenuhi ruangan. Seakan-akan semua rencana mereka telah berhasil sepenuhnya.


"Apa kau tidak mau memiliki Gloria lagi? Kenapa kau malah mau membunuhnya?"


"Ku rasa sulit menaklukkannya lagi. Dia terlalu membenciku!" kata Richard.


"Tidak ada yang sulit bagi kita. Jika Owen bisa kehilangan ingatannya setelah ini.... maka kita bisa melakukan hal serupa pada Gloria. Mereka tidak akan saling mengingat satu sama lain."


Ucapan Markus membuat Richard menyeringai. Ide itu terdengar cemerlang.


"Lalu, jika kepergian Gloria ada campur tangan Sean. Dimana kira-kira Sean membawanya untuk bersembunyi, Ayah?" tanya Richard yang mulai antusias.


"Apa itu artinya kau menerima saran ku, nak?"


Richard tersenyum miring. "Saran ayah boleh juga. Aku akan memikirkannya, mana yang lebih membuat Owen menderita. Melihat Gloria mati atau melihat Gloria kembali bersamaku?"


Richard mengulumm senyuman, ia tidak sabar untuk membuat dua orang yang saling mencintai itu menjadi asing satu sama lain.

__ADS_1


______


Seseorang membuka ruang penyekapan Owen. Dia adalah Dokter yang menangani luka di perut Owen.


"Aku akan mengganti perbannya hari ini," ucapnya pelan menyapa Owen dengan datar, sebab ia tak boleh terlalu beramah tamah dengan tawanan bawah tanah seperti Owen.


Owen tak menjawab sapaan sang dokter. Tubuhnya menggigil, mulutnya kelu dan tampak membiru. Dokter yang mulai menyadari keadaan Owen mulai panik dan mencoba menyentuh dahi pria itu. Ternyata Owen mengalami demam tinggi.


Sebenarnya Dokter itu tak boleh memberikan Owen obat lain selain obat untuk luka di perutnya. Tapi, sekali ini ia melanggar hal itu sebab ia punya kode etik untuk berusaha menyelamatkan pasiennya.


"Minumlah, aku akan membantumu, Tuan."


Owen berusaha duduk dan meminum obatnya. Ia tak menolak sebab ia benar-benar ingin sehat dan membalas dendam pada semua orang yang menyebabkannya tersekap diruangan ini.


Disaat Owen selesai meminum obatnya, disitulah ia menyadari jika dokter yang berada dihadapannya saat ini bukanlah dokter yang kemarin menanganinya. Dokter yang kini ada didepannya sangat tak asing dipenglihatan Owen.


Mata Owen memicing, menyelidik penampilan sang dokter.


"James?" lirih Owen tercekat.


"Diamlah! Apapun yang kau ketahui. Tutuplah mulutmu itu!" bisik sang Dokter yang tampak mengenakan kacamata dengan rambutnya yang berwarna hitam pekat. Padahal, James seharusnya berambut cokelat terang.


Seketika itu juga Owen bungkam. Ia tidak menyangka yang ada didepannya benar-benar James, sahabatnya. Owen tak mengerti kenapa sekarang James yang menanganinya.


"Aku akan membantu mengganti perban Anda, Tuan." Dokter itu berucap sembari melirik dua orang penjaga yang sejak tadi mengikutinya kedalam ruang penyekapan Owen, seolah memberi Owen isyarat bahwa disana bukan hanya ada mereka berdua saja.


James memulai mengganti perban, sesekali ia menatap keadaan Owen dengan prihatin.


"Kau akan sembuh! Jeff dan Gloria menunggumu," bisik James.


"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Owen.


"Jeff aman bersama Karina. Gloria..." James tak melanjutkan kalimat sebab bingung memilah kata.


"Ada apa dengan Gloria?"


"Ku dengar dia bersama Sean."


Owen terperangah mendengar ini. Ia sama sekali tak mempercayai Sean. Kenapa Gloria ikut bersama Sean? Ini membuatnya semakin kalut dan tak sabar untuk ingin segera keluar dari tempat terkutuk ini.

__ADS_1


*****


__ADS_2