Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Kesepakatan


__ADS_3

Tap


Tap


Tap


Suara hentakan sepatu di lantai granit itu memecah keheningan yang ada. Sampai Sean menemukan satu sosok yang paling menarik atensinya dan sangat ia cari ditengah-tengah perkumpulan para penjaga yang ada.


"Nico!" Sean memekik lantang, memanggil Owen yang menyandang nama lain itu.


"Ya, Tuan?" Nico menjawab sembari berderap ke arah Sean.


"Apa Richard belum kembali sampai hari ini?"


Owen menggeleng. Mana mungkin Richard kembali jika sekarang pria itu sudah menjadi tawanannya.


"Jika aku ingin bertemu dengannya dan membuat perhitungan. Dimana aku bisa menemukannya?" tanya Sean.


"Anda sudah membuat keputusan, Tuan?" tanya Owen.


"Ya, mari kita buat kesepakatan, Nico!" kata Sean membuat senyuman dibibir Owen melengkung tipis.


"Aku akan merealisasikan rencana kedua, jadi bantu aku untuk itu!" tambah Sean.


"Rencana kedua?" Owen menatap Sean dengan tatapan ingin tahu. Alisnya tertaut satu sama lain.


"Ya, rencana kedua yang kau sukai dan sepertinya aku juga akan menyukainya. Rencana kedua, melenyapkan Richard," desis Sean.


Owen mengangguk singkat. "Baiklah, kita buat kesepakatannya," putus Owen.


"Katakan apa yang kau inginkan dariku, aku akan memberikannya untukmu? Apa kau ingin harta mendiang Ayahku juga?" kekeh Sean.

__ADS_1


Owen menggeleng. "Bisakah anda menceritakan masa lalu saya? Sepertinya itu menarik."


Sean menatap Owen dengan tatapan aneh. Sampai akhirnya ia kembali bersuara. "Jadi, kau benar-benar tak ingat apapun dan ingin tahu masa lalumu?"


Owen mengangguk. "Tuan Richard mengatakan saya sempat mengalami kecelakaan dan amnesia. Apa itu benar?"


Sean tersenyum tipis. "Aku akan menceritakan semua detail masa lalumu. Aku sangat mengetahuinya."


"Benarkah?"


"Ya, tapi pastikan aku bisa menemui Richard hari ini untuk melenyapkannya. Itu kesepakatannya, Nico! Apa kau paham sekarang?"


"Baiklah, bukan urusan sulit." Owen tersenyum miring membayangkan Sean akan menghabisi Richard dengan tangannya sendiri.


"Ku rasa tak masalah mempertemukan mereka. Aku jadi tidak perlu mengotori tanganku dengan membunuh Richard. Aku atau Sean yang membunuhnya sama saja, tujuan kami hanya selaras. Melenyapkan Richard," batin Owen.


Owen sebenarnya bergejolak. Ia sangat ingin menghabisi Richard dengan tangannya sendiri. Tapi, entah kenapa, sejak kemarin ia mendadak mengingat tentang istrinya yang tak suka kekerasan ataupun pertumpahan darah.


Owen teringat momen dimana beberapa saat sebelum menikahi Gloria, waktu itu ia sempat mengaku pernah membunuh seseorang pada Gloria, dan itu justru membuat Gloria takut padanya. Lalu, jika Owen menghabisi Richard dengan tangannya sendiri, apakah itu akan membuat Gloria merasakan hal yang sama? Hal ini yang cukup membuat Owen bimbang.


******


Pagi ini Gloria baru saja keluar dari kamarnya. Ia baru selesai memandikan Jeff karena bayi itu kini ikut tinggal bersamanya di Mansion Jade. Kehadiran Jeff membuat Gloria kembali bersemangat meski secercah harapannya mengenai Owen sempat redup.


Gloria merasa sudah terlalu lama ia dan Jeff berpisah. Sehingga ia tak boleh meratapi keadaan lagi. Waktu yang terbuang sia-sia selama ini, seolah menyadarkan Gloria jika ia tak boleh lagi terus bersedih dan berlarut-larut. Sekarang, ia punya satu tujuan hidup yang tak kalah penting yaitu membahagiakan puteranya.


Gloria bertekad akan mengisi seluruh waktunya dengan merawat Jeff serta mengajari puteranya itu banyak hal. Tidak lagi mengingat masa-masa tersulitnya yang justru semakin membuatnya bersedih. Ia harus semangat sekarang sebab ada Jeff yang sangat membutuhkannya.


Soal Owen, ia berusaha untuk mengikhlaskan, mungkin jodohnya dengan Owen hanya sebatas sampai disini. Tapi, semua itu hanya mudah untuk diucapkan, kenyataannya hatinya tetap selalu sakit jika mengingat dan terbayang wajah teduh milik suaminya.


Entah sampai kapan ia akan hidup dalam belenggu kesedihan perkara kabar tentang suaminya yang tak kunjung jelas sampai hari ini. Tapi, sekarang ia cukup bersyukur karena ada Jeff yang bisa membuatnya sedikit mengalihkan pikiran dari kerinduan pada sosok sang suami.

__ADS_1


Soal Nico? Gloria mencoba menepis tentang pria itu. Ia akan memastikannya nanti jika ada kesempatan dan kondisi mulai kondusif, siapa tahu alam semesta akan berbaik hati mempertemukan mereka kembali. Yang utama baginya saat ini adalah Jeff, itu saja.


Setelah memastikan Jeff bersih dan harum dengan pakaian yang baru saja dikenakan sehabis mandi, Gloria berinisiatif mengajak Bayinya berkeliling Mansion. Sepertinya bermain dengan Jeff di taman belakang akan menyenangkan.


"Jeff, kita main di taman ya... nanti kita ajak Briel sekalian," ujar Gloria mengajak Bayinya berceloteh.


"Ya... ya... ca ca !" Jeff menjawab seolah merespon ucapan sang ibu. Sebelum akhirnya ibu dan anak itu cekikikan karena aksi Gloria yang menciumi perut Jeff dengan rasa gemas, membuat Jeff tergelitik dengan aksinya.


Gloria pun menuruni undakan tangga dengan Jeff yang berada dalam gendongannya. Ia mencari keberadaan Oxela dan Briel, tujuan utamanya adalah ruang tv karena barangkali mereka ada disana sedang menonton kartun seperti biasanya. Niat Gloria mencari mereka tentu mau mengajak ibu dan anak itu untuk ikut bermain bersama di taman belakang. Sayangnya, Gloria tidak menemukan Oxela, Briel, maupun baby sitter yang biasa menjagai bayi cantik itu.


"Kemana Bibi Oxela dan Briel ya, Jeff? Apa mereka masih mandi?" Gloria seakan mengajak puteranya berbicara, bayi tampan itu hanya mengoceh lucu dari bibir mungilnya.


Sayup-sayup Gloria justru menangkap suara lain dari arah berlawanan. Jade. Gloria menangkap siluet tubuh tinggi Jade yang sepertinya tengah berbicara melalui sambungan seluler dengan orang lain tak jauh dari posisi Gloria berdiri saat ini. Hanya sebuah lemari kabinet yang memisahkan jarak diantara mereka.


Jade pun tak menyadari kehadiran Gloria karena perhatiannya hanya fokus mendengar penjelasan seseorang dari panggilan ponsel.


"Jadi, kau sudah membuat kesepakatan dengan Sean?" Suara Jade terdengar cukup jelas, bahkan sangat jelas dari posisi Gloria sekarang.


Degh


Sean? Gloria terjingkat kaget mendengar Jade menyebut nama Sean. Pria yang sempat membantunya melarikan diri sampai ke pulau terpencil. Pria yang tak lain adalah anak Paman Markus dan juga merupakan sepupu Owen, suaminya. Pria yang terang-terangan mengaku memiliki rasa pada Gloria.


Tapi, apa Sean yang dimaksud Jade adalah Sean yang sama? Berapa banyak spesifikasi orang bernama Sean di dunia ini? Atau ini Sean yang lain? Ya, mungkin ini Sean yang lain, begitu batin Gloria mencoba menenangkan pikirannya sendiri.


Baru saja Gloria hendak berbalik pergi karena menurutnya mencuri dengar pembicaraan orang lain adalah sikap tak sopan. Tapi, ucapan Jade selanjutnya membuat Gloria terbelalak.


"Baiklah, aku akan ikut kesana. Tapi pastikan juga keselamatanmu, Owen."


Sekali lagi jantung Gloria berdentum cepat, kali ini saliva tertelan dengan sangat cepat menyebabkannya hampir tersedak ludahnya sendiri. Sekarang menimbulkan efek yang sakit ditenggorokan karena Gloria meredam suara agar Jade tak menyadari bahwa ia tengah menguping disana.


Tepukan Jeff yang pelan mendarat didekat hidung Gloria, disusul tawa bayi itu, membuat lamunan Gloria buyar seketika. Saat itu juga, Gloria memutuskan undur diri karena Jeff juga sudah tampak gelisah.

__ADS_1


"Oke kita ke taman sekarang." Gloria berbisik seolah Jeff paham akan maksudnya. Ia tetap tak mungkin mengeluarkan suara kencang sebab tak ingin dipergoki Jade.


*****


__ADS_2