Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Menyelinap


__ADS_3

Gloria tiba di taman belakang, rupanya Oxela sudah berada disana bersama Briel dan baby sitter. Mereka bahkan duduk disebuah kain yang dibentangkan seolah tengah melakukan piknik. Disisi lain sebuah tenda mainan berwarna pastel dengan ukuran sedang juga tampak sudah terpasang.


"Gloria, Jeff...!" Oxela menatap pada kedatangan Gloria yang membawa bayinya ikut serta dalam gendongan. "Tadi aku memanggil ke kamarmu, tapi tidak ada sahutan. Aku dan Briel mau mengajak Jeff ikut berkemah disini. Ya kan, Briel?" Oxela bicara dua arah, kepada Gloria kemudian menatap pada Bayinya--seolah bayi berpita itu tengah memahami pembicaraan mereka.


"Ah, mungkin saat kau memanggil aku masih memandikan Jeff di kamar mandi," jawab Gloria.


"Ya, ya! Ayo kemarlah! Duduk disini...." Oxela melambai-lambaikan tangan mengajak Gloria dan Jeff bergabung bersamanya dan Briel.


Gloria menuruti, ia ikut duduk di kain yang sudah dibentangkan. Tapi, pikirannya masih tertuju pada pembicaraan Jade di telepon tadi. Jade menyebut nama Sean kemudian menyebut nama Owen. Gloria sangat yakin jika dia tidak salah mendengar.


"Cuacanya sangat cerah, bagus sekali kita berkemah disini, kan?" celetuk Oxela yang dijawab Gloria hanya dengan deheman pelan.


Briel dan Jeff mulai memainkan beberapa mainan yang dibawa serta di perkemahan mini itu. Usia Jeff dan Briel terbilang tak terlalu jauh, hanya terpaut tiga bulan saja. Saat ini Jeff sudah berusia sembilan bulan dan Briel memasuki enam bulan. Jeff sudah mulai bisa berdiri menopang tubuh sesekali, namun sesekali berikutnya bayi gembul itu terduduk kembali. Sementara Briel baru mulai merangkak dan dalam tahap memasukkan semua mainan ke dalam mulutnya.


"Gloria, kau tampak pucat...." Oxela menatap Gloria lamat-lamat. "Apa kau sakit?" tanyanya lagi.


"Hah? Tidak," jawab Gloria apa adanya. Tapi, ia tak berterus terang pada Oxela mengenai apa yang sempat didengarnya dari mulut Jade.


"Atau.... ada yang kau pikirkan, ya?" selidik Oxela.


"Ti-tidak, tidak ada!"


Mereka kembali larut dengan aktifitas memperhatikan dan mengajak bermain para bayi yang ada diantara mereka. Tak berselang lama, Jade tiba-tiba muncul didepan Oxela dan Gloria.


"Sayang, aku harus pergi." Jade menatap Oxela dengan senyuman tipis.


Mendengar Jade hendak pergi, Gloria menjadi terpikir apakah Jade akan menemui seseorang yang diteleponnya tadi? Sebab tadi Gloria sempat mendengar jika Jade mengatakan akan ikut.


"Ya Tuhan, Sayang! Ini weekend, kau bilang mau menemani kami berkemah disini!" Oxela berdecak tak senang dengan niat kepergian Jade.


"Ada urusan mendadak. Urgent!" sahut Jade sambil menyengir, tidak mau Oxela merajuk.


"Tetap saja kau tidak asyik!" gerutu Oxela.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan marah begitu. Lain kali aku akan ikut piknik dan berkemah dengan para bayi. Lagipula aku kan sudah membantu memasang tenda tadi." Jade berjongkok didepan Oxela dan mencubit pipi istrinya itu.


"Ehm, maaf.... Oxela bisakah aku titip Jeff sebentar, aku mau ke kamar kecil." Gloria menyela pembicaraan Jade dan Oxela, sebab ia terpikir dengan sebuah ide gila yang tiba-tiba saja melintas dikepalanya.


"Oke," sahut Oxela.


Mendengar itu, Gloria segera berjalan cepat menuju sisi lain. Bukan menuju kamar kecil seperti ujarannya pada Oxela, melainkan mengendap-ngendap ke pekarangan dimana mobil Jade sudah terparkir.


Dari posisinya, Gloria sudah dapat melihat mobil itu tampak sedang dipanaskan mesinnya oleh seorang sopir yang biasa mengantarkan mereka.


Kesempatan itu diambil Gloria untuk menyelinap masuk ke dalam jok paling belakang. Entah bagaimana caranya, ia berhasil masuk kesana bahkan sopir pun tidak mengetahuinya sebab sang sopir sibuk memainkan ponselnya diluar mobil yang memang menyala tapi belum berjalan itu.


Dilain sisi, Jade yang sudah mendapat izin setelah meluluhkan hati Oxela, berjalan keluar dari Mansion menuju pekarangan. Ia bersiul santai sambil mengenakan kacamata hitamnya. Disapanya sopir yang setia menunggu disana.


"Aku akan menyetir sendiri hari ini, Simon...." kata Jade pada sang sopir.


"Baiklah, Tuan!"


Mobil mulai berjalan meninggalkan pekarangan kediaman Jade. Gloria tidak tahu kemana mobil ini akan dikendarai, ia pasrah mengikuti kemanapun arah membawanya pergi.


Gloria sebenarnya bimbang harus meninggalkan Jeff, tapi kali ini dia harus menuntaskan rasa penasarannya, sebab sudah terlalu banyak hal yang tak terjawab dalam kehidupannya belakangan ini. Lagipula Jeff akan tetap aman bersama Oxela dan baby sitter disana, begitulah pemikiran Gloria.


"Ya, aku hampir tiba. Apa Jared sudah disana?"


Hampir dua puluh lima menit diperjalanan, Jade kembali menerima panggilan, yang kali ini tentu kembali didengarkan Gloria bahkan disimaknya dengan baik. Gloria berusaha mencerna semua yang tengah Jade perbincangkan.


"Baiklah, kami tunggu kedatanganmu dan Sean disana." Jade mengakhiri panggilan. Dilain sisi Gloria mulai menebak dengan siapa Jade berbicara.


Tidak, tidak mungkin Jade sedang berbicara dengan Owen? Apa selama ini Jade mengetahui sesuatu dan mencoba menutupinya darinya maupun Oxela?


Memang saat di Mansion tadi Gloria sempat mendengar Jade menyebut nama Owen, tapi ia masih tidak yakin jika Owen yang dimaksud Jade dalam sambungan telepon itu adalah Owen-- suaminya. Sama halnya saat ia mendengar nama Sean disebut


Tapi sekarang? Pikiran Gloria jadi menebak-nebak jika yang dihubungi Jade benar-benar sang suami.

__ADS_1


Gloria membekap mulutnya dengan kedua tangan.


"Ya Tuhan, apa benar suamiku masih hidup? Jika memang begitu, apakah dia adalah Nico? Jika memang iya, kenapa dia bersikap tidak mengenaliku waktu itu? Lalu, kenapa Jade merahasiakan ini? Sebenarnya apa yang mereka rencanakan?" batin Gloria.


Tak berselang lama dari itu, mobil yang Jade kendarai mulai melambat. Entah dimana posisi Gloria saat ini, yang jelas begitu banyak pertanyaan dalam kepalanya sekarang.


Tin ...


Tin ...


Terdengar jika Jade menyalakan klakson dua kali, sampai akhirnya mobil kembali melaju pelan saat pintu dibukakan dari dalam. Kemudian mobil itu benar-benar berhenti setelah memasuki sebuah garasi atau semacam ruangan.


Gloria memindai keadaan sekitar melalui jendela mobil karena menyadari keadaan menjadi berubah gelap. Ya, mereka pasti berada dalam ruangan sekarang, tapi dimana? terka Gloria dalam hati.


Jade keluar dari mobil, masih berdiri didepan pintu mobil yang tidak dia tutup sambil bercakap-cakap dengan Jared. Mereka menunggu Owen dan Sean tiba disana sebentar lagi. Tapi, Jade dan Jared tidak boleh sampai dilihat oleh Sean, mereka hanya bertugas untuk berjaga-jaga sebab ingin menyaksikan kematian Richard didepan mata mereka.


Gloria kembali menyelinap keluar dari mobil, ruangan yang remang-remang nyaris gelap membuat kehadiran Gloria tersamarkan.


"Tuan Jade, kenapa pintu belakang mobilmu terbuka?" tanya Jared yang menyadari sesuatu yang janggal.


Jade menoleh, melihat kepada apa yang dimaksudkan oleh Jared.


"Kenapa pintunya bisa terbuka? Perasaan tadi tertutup. Siapa yang membukanya?" gumam Jade keheranan.


Sementara itu, Gloria sudah berada di sisi lain ruangan sambil mengurut dada sendiri seakan baru saja menguji adrenalin sebab telah berhasil keluar dari dalam mobil Jade tanpa sepengetahuan dua orang pria itu.


Sekarang, saatnya Gloria ingin tahu segalanya. Ia tak mau terlewatkan lagi apapun yang telah disembunyikan Jade dan Jared selama ini.


"Atau jangan-jangan mereka berdua bekerja sama dengan musuh?" batin Gloria mendadak kalut. Tapi, pantang baginya untuk mundur, karena ia sudah terlanjur melangkah jauh sampai ditempat ini.


"Baiklah Gloria, apapun resikonya kau sudah memilih jalan ini dan harus berani menanggungnya!" tekad Gloria dalam hati.


*****

__ADS_1


__ADS_2